close

 Sigmun Goes To SXSW

Sigmun

Sigmun

Empat lembar uang 50 ribuan mengitari warna merah ‘mengundang’ dari selembar uang 100 ribu yang tergeletak pasrah dalam sebuah hardcase gitar dengan tempelan kertas bertuliskan ‘kotak donasi sigmun goes to sxsw’ . Latar belakangnya jelas dalam kalimat itu. Sigmun hendak berangkat unjuk tampil ke Texas dalam festival seni dan budaya yang digelar tiap musim semi di negeri Paman Sam sejak 1987, South by Southwest (SXSW), dan mereka sedang membutuhkan donor finansial untuk benar-benar merealisasikannya.

Maka demi alasan itulah layaknya berbondong-bondong orang hadir pada Kamis (27/2) di Rolling Stone Cafe, Jakarta dalam rangkaian pentas musik reguler Chapter Night naungan Rolling Stone Indonesia yang kali ini dimanfaatkan Sigmun untuk mengagendakan aksi crowdfunding.

Berita baik kepastian tercantumnya nama Sigmun sebagai pengisi SXSW yang mereka terima sejak 16 November 2013 disambut dengan langkah putar otak. Diluar kepedihan hardcase gitar itu, mereka berhasil melelang keping terakhir dari hanya 25 vinyl EP Cerebro di dunia dengan tawaran 1 juta rupiah, ditambah 1 juta lima puluh ribu rupiah untuk artwork kanvas album demo pertama mereka, Land of the Living Dead hasil olah tangan sang bassist, Mirfak Prabowo.

Sejumlah dana  itu sepertinya telah cukup membekali secara materi, namun dukungan dari sesama musisi juga tak dapat diindahkan. Misalnya dari Marsh Kid yang membuka penampilan mereka malam itu. Dikomandoi Ade Paloh, warna Sore begitu merambat di sekujur nuansa bebunyian mereka. Ibarat Sore adalah jingga saat matahari beranjak melandai di peredaan senja , maka Marsh Kid ialah momen akhir pudarnya jejak sang surya oleh kepekatan malam.

Band yang berdiri sejak 2003 namun baru hendak merilis album pertama pada 11 Maret mendatang, Marche La Void, juga turut mengantarkan kepergian Sigmun dengan performa 3 lagu penuh aroma post rock-psychedelic, yakni “Display Of Power”, “For A Moment, Silence” dan satu lagu baru bernilai 10 tahun yang  diperkenalkan gitaris Wahyu Nugraha saat pipa rokok sedang tidak tersempil dalam bibirnya, “Lagu berikut ini lagu baru dan belum selesai, kalau jelek ya udah.”

Tentunya Sigmun tampil terakhir, dan sebagai balas budi atas partisipasi pengunjung, band asal Bandung itu mempersilahkan seluruh penghuni ruang kafe itu untuk berkelana dalam dunia Sigmun, dimana distorsi adalah udara yang dihirup dan gebukan drum adalah detak jantung yang terus memburu. Sekali masuk, tak mudah untuk keluar. Gaung vokal Haikal ala “Tom Sawyer” feat Robert Plant saja laksana lolongan yang gelisah mencari jalan keluar namun justru terus bergentayang di kepala.

Usai 4 lagu, Sigmun mencoba membawakan lagu cover. Pilihannya jelas, Black Sabbath atau Led Zeppelin. Yang istimewa adalah kehadiran sosok Doddi Hamson, vokalis Komunal. Dengan  secarik contekan lirik berjudul “Sweet Leaf”, Doddi  tetap gahar menghabisi vokal lagu Black Sabbath yang memuja mariyuana dan dimuliakan oleh stoner metal tersebut.

Pemuka umat Zeppelin dan Sabbath lain, Rekti The SIGIT juga tak segan menjerumuskan diri dalam dunia Sigmun. Berkolaborasi dalam set penutup, nomor “The Long Haul” benar-benar menjelma menjadi kepengangan panjang yang sesak oleh pekikan, gema, atau rasa gamang dari distorsi dan efek-efek eksperimental yang mampu membuat kesadaran bergeming sepanjang 20 menit akhir.

Adalah harapan para korban Sigmun malam itu, bahwa hari kedua SXSW, 12 Maret mendatang,  khalayak barat akan mendapat pengalaman yang serupa . Bersamaan dengan kedermawanan tangan-tangan mereka yang memperiah lembaran uang dalam hardcase ‘sigmun goes to sxsw’ tersebut , benak mereka berucap, “Orang—orang ini memang harus diberangkatkan”. [WARN!NG /Soni Triantoro]

 

Event by: Sigmun

Date: 27 Februari 2014,

Venue: Rolling Stone Cafe, Jakarta

Man of The Match: “The Long Haul”

Warning level: •••

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response