close

10 Album Indonesia Terbaik 2017

album indo 1

10. Mooner – Tabiat

Kita tahu bahwa band-band lokal terbaik yang membawakan musik ala Black Sabbath semuanya ada di Bandung. Ya beginilah pengaruh tongkrongan. Lantas, bagaimana jika masing-masing dari band itu mengirimkan perwakilannya untuk membentuk supergrup? Untungnya Tabiat lebih dari sekadar campuran musik Sigmun, The Slave, dan The S.I.G.I.T (sayang, kurang satu lagi biar komplet, Komunal!). Variasi paling eksplisit adalah penggunaan vokal wanita (Marshella Safira) dan instrumen musik Melayu. Terdengar sepele saja, namun faktanya itu cukup memberikan perbedaan yang tetap bisa memuaskan pendengar loyal band lama dari tiap personel. Oiya, album ini juga menuntaskan rasa penasaran akan sisi lain Rekti Yoewono yang selama ini terlanjur superior dengan lirik berbahasa Inggris dan musik rock yang amat berkiblat ke barat.

 

9. Maliq & d’Essentials – Senandung Senandika

Hasil gambar untuk maliq d essentials senandung

Sejak memandang artwork kover beraliran ekspresionisme dan mendengar bunyi synth plus qin–instrumen musik khas Tiongkok, menyerupai kecapi–berkumandang di intro “Sayap”, kita tahu Maliq & d’Éssential siap melanjutkan petualangan musikalnya di Setapak Sriwedari (2013) dan Musik Pop (2014). Bahkan, kini cenderung lebih eksploratif lagi, terutama pada nomor “Maya” yang didampingi iringan kasidahan dan selipan dendangan “magadiiir”. Beberapa lagu lainnya, dengan komposisi yang bisa dikatakan berada di zona wajar Maliq & d’Essentials pun tetap punya detail-detail aransemen yang serius. Sungguh, musik pop Indonesia akan lebih membuat antusias jika pegiat-pegiatnya punya ikhtiar serupa dengan Senandung Senandika.

8. Rand Slam – Rimajinasi

Apa yang ironis dari enaknya kita mempergunjingkan kelakuan Young Lex dan lagu-lagu hip hop jelek dari konco-konco Youtuber-nya adalah bahwa faktanya memang tak banyak–jika bisa disebut tak ada–rapper lokal yang benar-benar punya rilisan bagus kala itu. Akhirnya banyak orang yang malah menarik kesimpulan bahwa musik hip hop memang tidak cocok dibawakan dengan bahasa Indonesia. Oke, sembari memantau lebih jauh lagi Joe Million, Rand Slam bisa kita jadikan pegangan tahun ini. Materi dalam Rimajinasi memeragakan teknik rangkai rima dan flow yang canggih. Selain itu, tiap aksi kolaborasi di album ini juga tak pernah sia-sia karena selalu menghasilkan kesan kuat, terutama “Tak Terpenjara (feat Matter Mos)” yang mencuri komposisi “Hey Hey, My My (Into The Black)” dari Neil Young dan dayaguna sample lagu Gerap Gurita dalam “Malam Minggu (ft Senartogok)”.

 

7. Adrian Yunan – Sintas

Bagi pendengar setia Efek Rumah Kaca, Sintas penuh dengan melodi-melodi yang familier, namun dibungkus dengan gaya musikal yang hampir tidak pernah disentuh oleh trio itu sebelumnya. Adrian juga sengaja memungut tema-tema personal di luar ranah kritik sosial yang sudah menjadi makanan pokok Efek Rumah Kaca, meski wajib digarisbawahi bahwa ‘personal’ di sini jauh lebih bergizi dari sekadar curahan hati. Absennya satu indra membuat Adrian justru mampu memahami lebih jauh hal-hal di sekitarnya sampai di tataran filosofi, contohnya bagaimana ia memaknai peran mainan bagi anaknya: “menghidupkan karakternya / menyematkan jiwa / dan menitipkan rindu”. Latar belakang dan proses kreatif di balik Sintas memang pilu, namun tak lantas diekspresikan secara gelap. Justru Sintas menghadirkan emosi seseorang yang lapang bertekun mengarungi kehidupan bersama apapun muskil yang mengepung. Kita tidak diajak meratapi, melainkan wawas dan lebih perseptif.

 

6. Scaller – Senses

Dirilis tepat 1 Januari, Senses akhirnya tidak terkalahkan sepanjang tahun 2017 sebagai rilisan paling keren di belantara musik rock lokal. Mereka berhasil bertahan tanpa perlu sanjungan semacam “bla bla bla yang mengundang sing-a-long“, karena yang terjadi justru sebaliknya. Scaller lebih keranjingan memasukkan komposisi-komposisi yang ganjil. Jika kita amati, ada gelagat-gelagat melodi di lagu-lagu mereka yang hampir menjadi generik jika ‘asal sikat’ begitu saja, tetapi terhindar karena dikawal pola irama yang dinamis dan gemar berubah warna. Tidak selalu berhasil memang, tapi manuver-manuver ingar bingar di “Move In Silence” atau “The Youth” yang perkasa itu jempolan. Senses agaknya digarap penuh dengan keseriusan dan kehati-hatian. Belum siap menjadi klasik, namun menjanjikan untuk menjaga gairah musik rock kita yang mulai loyo ini.

 

5. Bottlesmoker – Parakosmos

“Sebenarnya enggak ada tradisi sama sekali dari segi sound. Cuma kalau teman-teman musik tahu, mungkin ada pola-pola tertentu seperti beat-nya yang diambil dari beat kendang. Kami percaya kalau budaya aural atau audio itu punya psikologi yang sangat dekat dengan manusia,” sahut Angkuy kepada WARN!NG, perihal sejauh mana adaptasi musik ritual etnis-etnis Nusantara itu dilakukan di Parakosmos. Sebuah langkah eksplorasi menarik yang didukung kerjasama dengan proyek rekaman non studio (field recording) bernama Aural Archipelago. Kita yang kebanyakan tidak kenal mendalam musik etnik memang akhirnya tidak punya bekal untuk mengidentifikasi adaptasi beat-beat yang dimaksud. Sehingga beberapa bagian akhirnya masih terdengar tempelan belaka. Namun, ini adalah satu dari sedikit album musik elektronik lokal yang enak didengar sekaligus punya nilai lebih dari sekadar coba-coba instrumen.

 

 

4. Danilla – Lintasan Waktu

Urusan vokal, Danilla sudah tercentang biru karena punya ciri bas dan vibrasi yang mudah dikenal pendengar. Aset itu kemudian menemukan tempat yang lebih baik di Lintasan Waktu, dibanding pada Telisik (2014). Jika di album perdananya tersebut ia terdengar sebatas penyanyi pub atau lounge bintang lima yang kesepian, maka Lintasan Waktu memberikan ruang imajiner lebih luas. Produksi tata suara di album ini memang terbaik. Bening, mahal, dan menggetarkan. Sukses mengakomodir aransemen yang lebih apik, bebunyian synthetizer yang lebih dominan, dan olah ambience dengan resonansi pas. Merintis atmosfir berawang-awang, senapas dengan rasa buncah dalam lirik-liriknya. Gawat, para lelaki akan lebih sering termengung, dan ada Danilla di sana.

 

3. Jason Ranti – Akibat Pergaulan Blues

Gitar kopong + harmonika + vokal slengean + lirik storytelling: rumus paling mudah untuk menjadi waris Bob Dylan. Tentu, yang paling membutuhkan talenta lebih adalah syarat yang terakhir, dan ternyata Jason Ranti punya. Meski lagu-lagu di Akibat Pergaulan Blues seakan eksentrik asal-asalan tapi sejatinya ada keseriusan dalam membangun logika bercerita yang baik di baliknya. Misalkan, bagaimana lirik di bait pertama hampir selalu punya daya sentak lebih kuat dari bait lain. Begitu juga penggunaan sudut pandang orang ketiga dalam beberapa lagu yang bengal tapi rapi, seperti dalam “Stephanie Anak Seni”: “Stephanie coba jadi artis / Begitu banyak cat dipunggungnya / Satu dirambut, satu dikuku, satu dialis, satu dibetis, satu di tangan yang lain di punggung / Ia seperti pameran berjalan”. Jason Ranti tidak sekadar menyanyikan lirik. Liriknya sendiri berkembang bersama dengan nyanyian dan lisannya. Ada presisi dalam struktur kalimat yang ia susun untuk menghasilkan kesan resepsi tertentu di tiap bagian yang dilafalkan. Misalnya, “Sungguh tak  penting, aku tak ingin, rasa strowberry, lipstick warna pink / Sungguh tak penting, aku tak ingin, yang aku ingin, ia telanjang”. Itu tadi kita baru bicara bentuk, belum sampai ke isi. Kita mudah terkekeh akan larik-lariknya yang kocak, padahal ada banyak amatan sekitar yang patut kita respons secara serius di dalamnya. Jangan terlena, siapa tahu diam-diam kita dibuat menertawakan diri kita sendiri.

2. Melancholic Bitch – NKKBS Bagian Pertama

Dasar sial! Jika harus ada album yang tidak beres mixing-nyakenapa itu harus album Melbi? Sound terlalu benderang, terkadang garing, dan tidak impresif, jauh dari kesan sinematik di Balada Joni dan Susi (2009). Awalnya problematis untuk menempatkan NKKBS Bagian Pertama di daftar ini. Ingin tetap mengagungkannya, sama saja mengerdilkan pentingnya perfeksi proses rekaman. Tapi jika mengabaikan substansi konten lirikal di dalamnya yang sedemikian bernas hanya gara-gara faktor teknis, berhenti saja menjadi manusia. Kenikmatan utama dari album ini justru pada ruang interpretasi atas barisan lirik di dalamnya, bagai memecahkan teka-teki. Lebih kompleks dari materi di dua album sebelumnya, sepuluh dari sebelas lagu di NKKBS Bagian Pertama mengelaborasikan masing-masing dua isu berbeda yang berujung pada satu inti konflik yang ternyata serupa. Semuanya adalah pembacaan terhadap propaganda dan hegemoni suharto yang merangsek sampai di unit terkecil masyarakat, yakni keluarga. Di era Orde Baru, keluarga kita sesungguhnya adalah negara, dan suharto berperan sebagai kepala keluarga. Beliau bapak kita semua! Dari urusan ranjang, kepemimpinan itu menjalar hingga konstruksi televisi, apa yang dianggap ilmiah di sekolah, pola pikir mahasiswa, pilihan benih yang harus ditanam petani, rujukan moral, kehidupan bertetangga, jam bertamu, relasi dengan Tuhan, balik lagi ke hasrat ngentot, dan…   sisanya, mari kita tafsirkan sama-sama. Album ini akan tetap penting justru selama pemaknaan kita akan teks di dalamnya belum memuaskan.

 

1. Sisir Tanah – Woh

Ada yang lain dari musik Sisir Tanah dibanding musik-musik pengiring pergerakan sosial lainnya.

Mayoritas musik politis memang digarap sebagai persuasi, atau setidaknya upaya meningkatkan kesadaran akan isu atau gagasan tertentu. Dalam relasinya dengan pendengar, lirik-lirik itu dihidupkan untuk memberitakan, menyindir, mengedukasi, berbagi pengalaman, hingga melayangkan teguran. Ini yang umumnya dilakukan oleh Homicide, Melancholic Bitch, hingga Efek Rumah Kaca.

Karya Sisir Tanah mengambil fungsi lain. Lagu-lagunya tidak dengan gamblang mengajak pendengar untuk peduli terhadap persoalan tertentu. Lagu-lagunya tidak cukup mandiri mengemban misi mengundang para mahasiswa bertarget lulus lima tahun untuk turun membuat pagar hidup melindungi rumah warga dari alat berat. Bukan itu jalan yang ditempuh. Lagu-lagu Sisir Tanah adalah suara yang seakan lebih ditujukan untuk petani dan aktivis yang berjuang langsung.

Hampir semua lagu dalam Woh menyinggung kata “tanah”, “alam”, dan “air”, namun tidak pernah memberikan konteks isu yang jelas. Pun hanya ada satu kata “petani” terucap di materi Woh, tepatnya di nomor “Konservasi Konflik” yang punya pendekatan lirik paling berbedaPendengar seakan memang diposisikan sebagai petani itu sendiri. Relasi antara narator lagu dengan korban penindasan adalah “aku”, “kamu”, dan “kita”. Intim dan personal. Itulah kenapa puitisasi liriknya tidak melibatkan referensi yang muluk. Mulai dari “Lagu Hidup” yang lugas,”Dan harus berani, harus berani / jika orang-orang serakah datang/ harus dihadang“. Sisir Tanah  menyatakan simpati, melipur, atau mengingatkan para pejuang ini untuk tidak menyerah. Woh bukan karya yang kuat untuk melakukan penyebaran isu, melainkan adalah semangat baik bagi mereka yang sudah terlibat di dalam isu tersebut. Memperingatkan bahwa dunia tidak baik-baik saja, namun senantiasa tersisa harapan di antaranya. Contoh terbaik lainnya adalah “Lagu Baik”. “Seumpama sedih, hidup memang tugas manusia. Dan jangan ada: benar tak akan pernah ada tempat yang sungguh merdeka,” intimidasi tiada henti, teman seperjuangan semakin sedikit, asa datang dan pergi, namun nyali tak boleh mati, “Panjang umur keberanian, mati kau kecemasan dan ketakutan.”

Tidak berarti peran yang diambil Woh ini lebih baik dari peran yang lain. Namun, menjadi penting karena tak banyak yang menyusuri setapak yang sama. Tak banyak album bagus yang mengambil perspektif dari internal perjuangan yang disuarakannya. Woh mengisi kekosongan. Dan mungkin ini bisa terjadi hanya karena Bagus Dwi Danto, sosok di balik Sisir Tanah juga tidak jauh berjarak dengan isu terkait. Ia adalah saksi kebengisan konflik agraria yang aktif bergerak dari satu panggung ke panggung lain, aktivisme, konser amal, konser solidaritas, hingga panggung seni biasa. Perlahan-lahan, lagu-lagunya ikut tumbuh menjadi materi yang memang terbentuk kukuh sebagai pengawal pergerakan sosial. Dan bukankah setiap pergerakan butuh keberanian, literasi, jejaring, dan kadang-kadang musik bagus?

 

Simak juga:

  1. lis 10 Lagu Internasional Terbaik 2017 dari WARN!NG!
  2. lis 10 Album Internasional Terbaik 2017 dari WARN!NG!
  3. lis 10 Lagu Indonesia Terbaik 2017 dari WARN!NG!
Tags : album indonesia 2017album indonesia terbaikalbum terbaik 2017sisir tanah woh
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response