close

10 Drugs Related Movies You Need to See!

DRUG MOVIES

 

drugs movies
drugs movies

Sebagian orang mengonsumsi narkoba sebagai bentuk pelepasan dari masalah duniawi, seperti masalah keluarga, pertemanan atau sejenisnya. Mereka akan bercerita tentang beban hidup yang tak terkira sebagai pembenaran akan kebiasaan sia-sia tersebut. Tapi semua itu sekedar omong kosong untuk menutupi fakta akan lemah dan cengengnya diri mereka. Sementara orang bodoh akan berkampanye untuk melumrahkan konsumsi narkoba sebagai bentuk ekspansi pikiran, membantu proses kreatif, bahkan pengalaman spiritual. Tanpa sadar kalau mereka adalah bagian dari generasi lumpuh, disesatkan asumsi fatal, menyentil perkataan Hunter S. Thompson dalam Fear and Loathing in Las Vegas.

Prospek untuk terjun ke bisnis narkoba juga begitu menggiurkan. Pablo Escobar, di masa emasnya, harus mengeluarkan $2.500 setiap bulan untuk membeli karet gelang, untuk mengikat seluruh uangnya! Bahkan Hartono bersaudara tidak pernah melakukan hal itu. Berbeda dengan Hartono bersaudara, Pablo Escobar menghabiskan sebagian akhir hidupnya dikejar-kejar Search Bloc.

Para pengguna narkoba memang tidak erat dengan label jujur dan baik. Tapi jika ada satu hal yang mereka katakan dengan jujur, itu pasti tentang seberapa nikmatnya memakai narkoba, seringnya. Asalkan tidak sampai memotong tangan lantaran berubah menjadi naga, atau kedatangan Budi Waseso tanpa diundang. Overdosis masih lebih baik, karena jika Anda menggunakan narkoba untuk lari dari masalah, maka Anda berhasil mencapai tujuan, Selamat!

Bagaimanapun, narkoba telah banyak mempengaruhi berbagai elemen sosial dan membangun subkultur yang sulit diabaikan. Wajar saja kalau tema ini banyak diangkat ke dalam medium film. Sama seperti narkoba, film yang bergumul dengan wacana ini bisa jadi konyol seperti sederet film Cheech and Chong. Sementara Requiem for a Dream menyusuri gelapnya konsekuensi dari konsumsi narkoba. Jadi, simak daftar berikut dengan sadar, atau jangan, terserah Anda.

10. Fear and Loathing in Las Vegas (1998)

Terry Gilliam

Cast: Johnny Depp,  Benicio del Toro, Tobey Maguire, Cameron Diaz

fear-and-loathing
fear-and-loathing

Di tangan Hunter S. Thompson, sebuah tugas photo caption untuk event Mint 400 di Las Vegas bisa berakhir menjadi naskah sepanjang 2,500 kata. Naskah tersbut ditolak dengan “kasar” oleh Sports Illustrated. Namun, Jann S. Wenner dari Rollingstone justru mengirim kembali si wartawan biadab ke Las Vegas untuk menuntaskan tulisan tersebut dan dipublikasikan dalam dua edisi Rollingstone. Setahun setelahnya, di tahun 1972, eksperimentasi gagal jurnalisme Gonzo tersebut diterbitkan dalam bentuk novel. Adaptasi filmnya harus menunggu waktu lama dan menemui banyak kendala. Hingga akhirnya Terry Gilliam mengambil alih dan menunjuk Johnny Depp dan Benicio del Toro sebagai aktor.

Setia dengan materi aslinya, Fear and Loathing in Las Vegas merupakan petualangan liar Raoul Duke, yang tak lain adalah nom de plume dari Hunter S. Thompson sendiri. Mulai dari tanah tandus di luar Barstow hingga Pristine Suite Hotel Flamingo, Raoul mengupas obsesi pribadinya, American dream, dan kegagalan counterculture tahun 60-an. Hedonisme Las Vegas diobservasi secara seksama di bawah pengaruh bermacam narkoba. Hasilnya, sama seperti alur ceritanya, begitu absurd. Totalitas akting Johnny Depp terkadang begitu menghibur dan lucu, namun sesaat kemudian terasa begitu mengerikan atau kontemplatif.

Mungkin Anda pernah mendapatkan rekomendasi film ini dari teman-teman penggemar narkoba. Tapi pecayalah, mereka pasti merekomendasikannya dengan dasar seberapa serunya berpesta-pora mengonsumsi narkoba di Las Vegas. Wajar saja, kita, para penduduk dunia ketiga memang jauh dari duduk masalah yang berusaha dijabarkan dalam film ini.

Padahal, jika ditelusuri sedikit lebih dalam, terdapat sebuah kesimpulan yang begitu pesimistis, dan dalam derajat tertentu dapat direlasikan dengan budaya bernarkoba dewasa ini. Bahwa sekiranya tidak ada yang bisa “dibanggakan” dari penggunaan narkoba. Hanya cara bagi orang lemah untuk kabur, dari kenyataan yang tidak menawarkan apa-apa, selain horror dan kekecewaan.

 

9. Inherent Vice (2014)

Paul Thomas Anderson

Cast: Joaquin Phoenix, Josh Brolin, Catherine Waterson

inherent-vice
inherent-vice

 

Setelah bukunya diterbitkan lebih dari 50 tahun lalu, Thomas Pynchon akhirnya memperbolehkan novelnya diadaptasi ke medium film. Inherent Vice berkisah tentang seorang detektif swasta bernama Larry “Doc” Sportello yang selama durasi film hampir tidak pernah terlihat tidak teler. Dengan rambut lepek, baju kusut dan cara bicaranya yang menggumam, dia sebenarnya adalah tipe pria yang bahkan tidak akan tega membunuh lalat sekalipun. Kecuali lalat itu datang dan meminta sebatang marijuana miliknya.

Film ini berjalan, sungguh, tanpa memiliki kerangka naratif; sepenuhnya otot, tendon dan urat daging. Dengan kata lain, film ini murni tekstur. Merupakan usaha yang mubazir untuk menguraikan jalan ceritanya. Mungkin Inherent Vice memang merupakan film yang tidak penting apakah ceritanya utuh atau tidak. Yang jelas hal itu terasa intensional, dan merupakan bagian dari mood yang ingin diciptakan. Mungkin. Seperti tokoh sentralnya, film ini pun teler. Tidak pernah sadar sudah sampai mana atau sedang melakukan apa, banyak gambar dan situasi yang diulang. Kadang film ini menginformasikan hal yang penonton sudah tahu, atau merujukkan pada sesuatu yang telah disinggung berulang kali.

Banyak menyerap referensi dari film yang digerakkan oleh karakter dan atmosfer Los Angeles 70-an yang santai macam The Long Goodbye, film ini merupakan komedi tentang orang-orang eksentrik, yang menuruti hawa nafsu mereka tanpa mengindahkan efeknya pada orang lain. Kaya, dalam, manis dan sangat, sangat lucu. Karakter yang ditampilkan tak ubahnya seperti segerombolan tokoh karikatur pada sebuah rubrik kritik politik di surat kabar mingguan.

Mungkin Doc memang tengah dalam usaha memecahkan kasus yang ditugaskan padanya, namun misteri dari cinta Doc yang hilang jauh lebih menarik karena memberi hembusan energi yang aneh sekaligus kelembutan di layar. Dibalik humor dan segala penyimpangan gilanya, film ini menyimpan sebuah kesunyian mendalam dan kesedihan akan rasa kehilangan yang tak terdefinisikan.

 

8. Traffic (2000)

Steven Soderbergh

Cast: Benicio del Toro, Michael Douglas, Catherine Zeta-Jones, Don Cheadle

 

traffic
traffic

Mengurai lalu lintas peredaran drugs di Amerika mulai dari level terendah hingga kepala rantai pengedar, film ini menceritakan beberapa cerita paralel yang berjalan sendiri-sendiri namun sesekali saling terkait. Masing-masing plot diberi filter warna yang berbeda. Fungsinya, selain sebagai alat bantu diferensiasi plot, juga untuk menciptakan mood dan mempertegas nuansa. Hasilnya, meskipun semua karakter disentuh oleh isu serupa, amati bagaimana lingkungan menjadi faktor penting yang memengaruhi orang-orang didalamnya bertindak. Plot yang bercabang ini otomatis akan mempertemukan kita dengan beragam karakter pula: dua agen DEA San Diego, importir kelas menengah asal Meksiko, suplier kelas atas dalam wujud pebisnis terhormat. Satu hal yang secara gamblang dipaparkan dalam film ini adalah kenyataan bahwa jika ada bisnis yang lebih menggiurkan dibanding bisnis zat adiktif yang bersifat legal (rokok, alkohol), tak lain adalah bisnis zat adiktif yang ilegal. Karena suppliers tidak akan bersentuhan dengan pajak atau harus memusingkan biaya promosi, pengemasan, asuransi, maupun jaminan kesejahteraan pegawai. Harga yang dibebankan pada pemakai dijaga agar tetap terjangkau untuk memicu kecanduan. Film ini menggunakan pendekatan level-headed; mengeksplorasi dan tidak melakukan banyak editorialisasi. Cerita ini, dengan naskah yang ditulis oleh Stephen Gaghan, bergerak dari satu karakter ke karakter lain dengan mulusnya hingga skenario yang sebenarnya kompleks bisa mengalir jelas dan tetap terjaga tensinya. Di atas itu semua, yang membuat Traffic begitu menarik adalah sesederhana bagaimana film ini memperlihatkan sebuah proses bekerja; bagaimana drugs dijual dan bagaimana mudahnya hukum dilanggar.

 

7. Maria Full of Grace (2004)

Joshua Marston

Cast: Catalina Sandina Moreno, Patricia Rae, Wilson Guerrero

 

maria-full-of-grace
maria-full-of-grace

Maria, tokoh sentral dalam film ini, adalah korban dari tekanan ekonomi. Tapi Maria tidak pernah bertindak dan berpikir layaknya korban. Dia cerdas, berdaya juang tinggi dan bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Dengan bijak film ini menghindari kisah klise sindikat narkoba dan justru menyuguhkan kisah operasi penyelundupan yang secara teori terencana dengan rapi namun memiliki resiko yang tinggi. Maria Full of Grace adalah drug movie tanpa satu pun penampakan senapan mesin maupun kejar-kejaran. Film ini lebih tertarik untuk fokus pada cerita manusia-manusia di dalamnya, dan Catalina Sandino Moreno berhasil menciptakan sosok Maria yang karismatik dan mencuri simpati.

Marston membuat film yang memahami dan menyikapi kemiskinan tanpa merasa adanya urgensi untuk meromantisir. Pun, dengan jelinya Marston memahami bahwa banyak tindak kriminal yang terjadi disebabkan karena sistem ekonomi, bukan karena orang jahat yang semata-mata berperingai keji. Hollywood kerap kali melakukan simplifikasi dengan berpura-pura bahwa kejahatan dilakukan oleh individu, bukannya institusi; bunuh penjahatnya, maka masalah selesai dan dunia kembali damai. Not that simple, my friend. Kesegaran film ini terletak pada kuatnya impresi yang tercipta bahwa kejadian yang ditampilkan di dalamnya benar-benar tengah terjadi di dunia nyata, saat ini juga, di suatu tempat sana. Rasa bahwa cerita ini digiring oleh plot yang ditulis dalam lembaran naskah amatlah minim. Menyaksikan Maria di film ini seperti mengikuti langsung kisah gadis muda yang kita kenal menghadapi dunia dengan akal sehat dan insting bertahan hidupnya. Dalam satu scene yang ditulis dan dimainkan dengan sangat apik, ibunya berkata bahwa sebagai seorang wanita yang berasal dari desa Maria tidak bisa jadi apa-apa lebih dari pekerja pabrik. Lihat bagaimana Maria bereaksi.

 

6. Requiem For a Dream (2000)

Darren Aronofsky

Cast: Ellen Burstyn, Jared Leto, Jennifer Connelly, Marlon Wayans

 

requiem_for_a_dream
requiem_for_a_dream

Bagi Anda penganut gaya hidup sehat, pernahkah sesekali rasa penasaran menggelitik benak anda tentang bagaimana rasanya jadi seorang pecandu narkoba? Bukan seperti apa rasa narkobanya, melainkan bagaimana rasanya menjadi si pemakainya. Kampanye tentang bahaya narkoba sudah banyak bersliweran di berbagai media, namun pasti ada sesuatu yang sangat menyenangkan tentang narkoba sehingga hampir sekitar 900.000 anak muda Indonesia memakainya. Aronofsky tertarik dengan bagaimana kamera bisa dipakai untuk menimbulkan kesan tentang bagaimana para karakter melihat dan merasakan sesuatu. Di sini Aronofsky memakai banyak extreme close-up untuk menunjukkan bagaimana drugs bereaksi pada masing-masing karakter. Pertama kita melihat pil atau bubuk heroin memenuhi layar (karena hanya itulah yang ada dalam pikiran karakternya saat itu), kemudian proses injeksi, menelan, atau menghisap diikuti dengan pupil mata yang melebar. Semua terjadi diiringi dengan desain suara yang bold.

Sequence ini terjadi dalam fast-motion, untuk menunjukkan betapa cepatnya drugs bereaksi begitu masuk dalam tubuh, dan begitu cepat pula efeknya memudar. Aronofsky cuts back and forth antara karakter ibu – terpenjara di apartemennya sendiri, terobsesi dengan pil diet – dan tiga karakter lainnya. Film ini menjadi wahana bagi Aronofsky untuk bermain dengan berbagai gaya visual. Di paruh awal film dia memakai split screen, yang efektif memberi kesan karakternya yang saling mengalienasi meskipun mereka berada dalam satu dimensi ruang yang sama. Kemudian film diakhiri dengan sebuah sequence virtuoso di mana Aronofsky memperlihatkan keempat karakternya menyongsong muara takdirnya masing-masing.

 

5. Drugstore Cowboy (1989)

Gus Van Sant

Cast: Matt Dillon, Kelly Lynch, Heather Graham

 

Drugstore Cowboy
Drugstore Cowboy

Kisah sentral yang terjadi dalam Drugstore Cowboy melibatkan sekumpulan pelaku kriminal. Tapi pelaku kriminal tidak selamanya adalah orang jahat. Semua orang mempunyai kelemahan masing-masing, dan dalam film ini, kelemahan mereka adalah penyalahgunaan narkoba. Mereka pernah mengkonsumsi hampir semua jenisnya, tapi yang menjadi favorit adalah jenis-jenis drugs yang bisa didapat dengan resep dokter, dan mereka telah membangun metode yang mulus untuk mencurinya dari apotek-apotek.

Seks tidak berada tinggi di daftar antusiasme tokoh utama yang dimainkan oleh Matt Dillon. Seperti kebanyakan pecandu, dia lebih sering dibuat turn on oleh drugsexcitement sesaat menjelang pencurian, adrenalin ketika melakukan pencurian, dan imbalan yang dirasa ketika giting dari hasil curian – ketimbang seks. Ia melakukan semua rutinitas itu bersama kekasih masa SMA-nya (Kelly Lynch) yang ia nikahi dalam satu titik di tengah perjalanan mereka. Ditambah seorang sidekick (James Le Gros) dan kekasihnya, seorang remaja menyedihkan yang kabur dari rumah (Heather Graham), bersama, mereka adalah keluarga.

Anehnya, rasa ‘keluarga’ ini yang membuat Drugstore Cowboy terasa begitu memilukan dan efektif. Ini bukanlah film tentang orang-orang jahat yang melakukan hal buruk, melainkan tentang orang-orang yang sakit. Dinarasikan oleh Dillon dengan tone suara datar, mengindikasikan bahwa dia tahu ini kisah sedih, dia tahu beginilah kenyataannya, dan dia tidak mencoba mendramatisir keadaan. Hanya ingin mencoba mememahaminya.

Drugstore Cowboy diceritakan dengan pemahaman logika yang begitu runtut sehingga membuat kisah film ini sangat merasuk. Logika inilah yang sangat mengena dan akan mudah dipahami oleh mungkin semua pengguna narkoba. Kurang lebih seperti ini: saya merasa buruk, dan narkoba membuatku lebih baik, walaupun demikian, narkoba juga lah penyebab kenapa aku merasa buruk. Tapi karena narkoba membuatku merasa baik sekarang dan buruk kemudian, maka aku akan mengkhawatirkannya belakangan.

 

4. Trainspotting (1996)

Danny Boyle

Cast: Ewan McGregor, Jonny Lee Miller, Kelly Macdonald, Irvine Welsh

 

Trainspotting
Trainspotting

Tidak ada satu orang pun yang bisa memahami bagaimana rasanya sakau, kecuali sesama pecandu narkoba. Maka ada humor, keputusasaan, dan rasa saling mengerti yang dibagi antar para sesama pecandu. Trainspotting memahami hal itu dan menjadikannya sebagai tulang penyangga cerita. Selama bertahun-tahun, film ini sering diserang karena dianggap pro-drugs, tapi bila dicermati lagi, sebenarnya film ini hanya ingin menceritakan hal yang pragmatis. Film ini sadar bahwa kecanduan mengarah pada rutinitas harian yang tak tertata, melelahkan dan tak nyaman bukan main. Film ini juga menyadari bahwa hanya dua hal yang bisa membuat pecandu melalui hari-hari melelahkan tersebut; ketersediaan narkoba untuk dikonsumsi dan rasa pengertian dari sesama pecandu lainnya.

Selama bertahun-tahun pula, Trainspotting – baik buku, pementasan drama maupun filmnya – telah membentuk pengikut cult di Inggris. Ketiga karya tersebut memuat vocabulary bahasa slang yang berwarna, mengandung energi yang menular, dan mampu mengangkat status tokohnya yang sebenarnya menyedihkan menjadi seorang ikon. Tapi di samping itu semua, apa lagi pengaruhnya? Apakah efeknya mengarah pada hal lain? Apakah film ini berbicara sesuatu? Tidak terlalu. Tapi itulah intinya. Pemakaian narkoba tidak bersifat linear, namun sirkular. Pemakaian narkoba tidak akan menghantarkan pemakainya kemana-mana dan akan terus membawanya kembali pada titik awal.

 

3. The French Connection (1971)

William Friedkin

Cast: Gene Hackman, Roy Scheider

 

The French Connection
The French Connection

Jalan cerita pemenang Film Terbaik Oscar 1971 ini tidak terlalu penting untuk diulas. Intinya, melibatkan aksi penyelundupan heroin seharga $32 juta dari Marseilles ke New York. Kesepakatan rumit dibuat antara beberapa orang Prancis, jutawan Amerika dan kelompok mafia. Yeah, kind of. Something like that. Yang lebih penting untuk disorot adalah adanya seorang karakter, dan bahwa hanya satu karakter itu, yang selama film berjalan, ikut berkembang dan menjadi pribadi tiga dimensional yang kompleks dan luar biasa menarik. Adalah Popeye Doyle (Gene Hackman), anggota kepolisian New York dengan reputasi yang tengah goyah. Doyle merupakan pribadi yang ganas, obsesif dan sedikit gila. Selain Doyle, tidak ada karakter lain yang menonjol. Karena, well, berbagai hal terjadi terlalu cepat dan tidak ada cukup waktu untuk memperhatikan karakter lain.

Doyle, si polisi tangguh yang kerap kali hanya menangkap pengedar narkoba kelas jalanan, butuh tangkapan besar untuk mempertahankan kariernya yang stagnan. Dia menangani kasus besar ini dan mengejar pelakunya dengan kegigihan dan jalan pikir sempit, terkadang amoral. Dia gigih mengejar pelaku ini bukan karena alasan si pelaku yang melakukan pelanggaran hukum, melainkan karena pengejaran ini perlahan-lahan telah mengambil alih akal sehat Doyle.

The French Connection kerap disandingkan dengan judul-judul seperti Diva dan Raiders of The Lost Ark dalam daftar film dengan adegan kejar-kejaran paling impresif. Chase scene dalam film ini melibatkan polisi yang harus memacu kendaraan di padatnya jalanan New York dengan kecepatan tinggi, untuk dapat mengimbangi laju kereta yang notabene berjalan pada jalur tanpa hambatan. Dengan demikian, rintangan yang dihadapi kedua pihak tidak seimbang. Dan ketika masinis dibunuh dan kereta tidak memiliki pengemudi, ketegangan meningkat dua kali lipat. Satu orang bermobil, harus melawan mesin besar berkecepatan tinggi tanpa pengemudi yang tidak mengenal resiko dan memahami bahaya. Keadaan ini membuat adegan pengejaran secara psikologis lebih menakutkan, sebagai tambahan dari semua keseruan yang nampak secara visual.

Film ini dipotret dengan nuansa keabu-abuan, memberikan efek New York seolah hidup tapi tak bernyawa. Lanskap yang ditampilkan berupa lahan-lahan tak terurus, gedung-gedung kosong dan tempat pembuangan. Penghuninya pun seolah bergerak karena kebiasaan dan rutinitas semata, tanpa ada perasaan. Dilihat dari standar umum, Doyle adalah polisi yang buruk; ia rasis, brutal, membahayakan warga sipil selama pengejaran. Tapi ia mampu bertahan. The French Connection adalah sebuah film yang keras, obsesif, menakutkan dan amoral seperti tokoh sentralnya.

 

2. City of God (2002)

Fernando Meireilles

Cast: Leandro Firmino, Alexandre Rodrigues, Phellipe Haagensen, Jonathan Haagensen

city of god
city of god

Film ini mengikuti perjalanan hidup karakter-karakternya dari rentang waktu akhir 60-an hingga awal 80-an. Dua tokoh sentralnya adalah teman sejak masa kecil: Rocket, yang kelak akan menjadi fotografer jurnalis, dan Lil’ Dice yang merintis karier dari bawah di salah satu geng penguasa jalanan. Film ini dibagi menjadi tiga bagian, tiap bagian lebih suram dan mengerikan dibandingkan bagian sebelumnya. Seiring cerita berjalan maju, narkoba yang terlibat pun makin berat (kokain, marijuana) dan senjata yang dipakai makin mematikan.

Bersetting di sebuah daerah kumuh sekitar Rio yang mengisolasi penduduknya dari pusat kota, membuat tokoh-tokoh dalam City of God tumbuh lekat beriringan dengan warna, musik, kehidupan jalanan, serta bahayanya kekerasan geng yang menguasai jalanan dan absennya kekuatan hukum. Dalam adegan pembuka yang menghipnotis, Fernando Meirelles membuat pernyataan tegas dan menyiagakan penontonnya bahwa City of God adalah film dengan unsur visual yang hidup. Sinematografer Cesar Charlone memakai quick-cutting dan kamera hand-held yang dinamis untuk memaksimalkan detail penceritaan dan menciptakan energi yang besar untuk mengimbangi cerita yang tak kalah berapi-api. Teknik ini pula yang berjasa menyediakan rasa keberadaan penonton di tempat itu, saat penonton bisa melihat hampir ke tiap sudut paling terpencil dan menyaksikan sendiri bahwa bahaya memang ada dimana-mana.

Kriminal dan sepak bola, bagi mereka, merupakan dua cara untuk keluar dari kemiskinan. Menarik bagaimana Meirelles memunculkan pilihan yang kedua diawal film, hanya untuk kemudian ia tepis sendiri. Saat sekumpulan anak bermain sepak bola di sebuah lapangan tandus, tiga tokoh berlari melintasi lapangan untuk mencari tempat berlindung dari kejaran polisi. Permainan pun bubar seketika. Maka begitulah, sepak bola – salah satu komoditas utama Brazil yang tak perlu diragukan lagi kesuperioritasannya – tak pernah sekali pun disinggung lagi.

Penguasaan Meirelles pada materi film ini tak hanya berupa pengadaptasian apik dari novel karya Paulo Lins semata, namun juga berupa hubungan langsung yang ia jalin dengan lingkungan ghetto. Memakai lebih dari 200 pemain non aktor dan pengambilan gambar yang dilakukan langsung di jalanan Rio (bukan set), berjasa menimbulkan kesan organik. Otentisitas tersebut akan memuncak manfaatnya saat adegan pesta yang berubah menjadi sebuah arena kekerasan dengan tensi super tinggi.

Film ini berusaha menggambarkan bagaimana kebutuhan untuk diakui melalui kekuasaan, merupakan siklus yang tak berujung. Momen paling heartbreaking sekaligus mengerikan ada ketika sekumpulan gangster generasi baru beranggotakan anak-anak pra remaja yang dengan entengnya memegang dan menudingkan senjata mereka pada salah satu tokoh, tanpa ada raut keraguan untuk menarik pelatuknya. City of God merupakan salah satu penggambaran terbrutal tentang bagaimana rasanya tumbuh beriringan dengan senjata dan drugs. Epik dalam jangkauan, kuat dalam konsep dan jenius dalam eksekusi.

 

1. Easy Rider (1969)

Dennis Hopper

Cast: Peter Fonda, Dennis Hopper, Jack Nicholson

 

easy rider
easy rider

Berperan sebagai Captain America dan Billy, Peter Fonda dan Dennis Hopper membintangi film yang menjadi titik penting pada peta budaya populer di akhir dekade 60an. Sebuah road movie/buddy movie, yang merayakan seks, rock ‘n’ roll, obat-obatan dan kebebasan. Meskipun dua tahun sebelumnya Hell’s Angels on Wheels lebih dulu muncul, namun Easy Rider lah yang berhasil merepresentasikan semangat zaman dan menghubungkan dua simbol pemberontakan terbesar pada masa itu: sepeda motor dan hippie counterculture. Film yang menjadi tonggak batas dari apa yang disebut sebagai era New Hollywood ini, juga merupakan titik puncak dari film-film yang mewakili pengalaman penonton dalam memandang American West melalui perangkat narasi berupa perjalanan.

Easy Rider mengikuti Captain America dan Billy yang setelah berhasil menjual sejumlah narkoba di Los Angeles, melakukan perjalanan menunggangi Harley Davidson menuju New Orleans. Sepanjang jalan, mereka akan bertemu dengan berbagai macam karakter yang, walaupun masing-masing hanya tampil sepintas, berhasil memunculkan kedalaman dari karakter Captain America dan Billy ketika mereka hanya berlaku sebagai observer sekalipun. Menonton Easy Rider sekarang, film ini seperti menggabungkan masa lalu dan masa sekarang, city dan country, gangster dan cowboy, melalui penggambaran karakter yang dimainkan Hopper dan Fonda. Peradaban dipersonifikasikan oleh karakter masyarakat kota dan sheriff, dan ditandai dengan cinta yang melembaga (rumah bordil) dan bahkan kematian yang melembaga (area pemakaman yang luas).

Sebagai sebuah santapan visual, Easy Rider diuntungkan oleh sinematografi memukau garapan László Kovacs, dan meskipun road movie yang menampilkan lanskap alam Amerika sudah tak terhitung lagi jumlahnya, jarang sekali yang didesain untuk terlihat semenakjubkan seperti yang tersaji di film ini. Shot yang menampilkan dua pengemudi motor membelah jalanan tak berujung di tengah hamparan gurun pasir, lembah dan hutan akan memberikan feel kebebasan pada sepanjang film. Kebebasan direpresentasikan oleh jalanan, meskipun demikian, seperti yang diilustrasikan dari ending film ini, bahkan kebebasan pun ada batasnya. Elemen yang tak kalah berjasa membangun nuansa magis film ini adalah jajaran soundtrack yang terdiri dari berbagai tembang rock klasik 60-an karya Jimi Hendrix, Bob Dylan, Steppenwolf dan lainnya, yang dikurasi oleh Hopper dari koleksi pribadi milik Fonda.

Sejujurnya, sulit untuk memutuskan akan mulai dari mana ketika membahas Easy Rider. Cerita seputar proses pembuatannya sendiri saja mungkin sudah cukup untuk dijadikan materi membuat tiga judul film dokumenter yang berbeda. Belum lagi bagaimana pengaruh film ini terhadap budaya kaum muda, terutama budaya sinema. Easy Rider merupakan film produksi independen pertama yang didistribusikan oleh studio besar, dan berhasil meraup keuntungan sepuluh kali lipat angka itu. Memetakan jatuh bangunnya pergerakan hippie, secara terbuka mengeksplorasi penggunaan drugs dan mendokumentasikan ketegangan antar kelas sosial yang, anehnya, masih terasa relevan hingga kini. Film ini menghancurkan hubungan pertemanan antara Peter Fonda dengan Dennis Hopper dan bertanggungjawab meluncurkan karier seorang aktor tak dikenal bernama Jack Nicholson menjadi salah satu bintang film paling gemilang di masanya.

 

Dikirim oleh kontributor: Catra Wardhana dan Kevin M. [WARN!NG]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response