close

10 Film Found Footage Terbaik

10 Film Found Footage

10 Film Found Footage

Awalnya, found footage lebih dikenal sebagai istilah teknis dalam pembuatan film. Potongan rekaman asli digunakan untuk memberikan penjelasan lebih atas substansi yang ingin disampaikan. Biasanya, teknik found footage digunakan dalam film-film dokumenter. Walaupun sejatinya, para pegiat gerakan surealisme sudah sering menggunakan teknik ini untuk membuat kolase film eksperimental sejak tahun 1930-an.

Pergeseran makna found footage sebagai genre film tersendiri bisa ditelusuri dari tahun 1980 dengan dirilisnya Cannibal Holocaust. Hampir dua dekade setelahnya, The Blair Witch Project memantapkan popularitas found footage di arus utama. Sleeper hit jebolan Sundance Film Festival menjadi sensasi dalam semalam, merengkuh hampir 250 juta dollar saat dirilis luas. Berkali-kali lipat dari budget 25 ribu Dollar yang dialokasikan untuk produksinya.

Tren film found footage semakin menjamur di abad 21, terlebih setelah kesuksesan Paranormal Activity. Budget produksi rendah menjadi daya tarik tambahan bagi banyak sineas untuk menggarap film found footage, terutama yang berstatus amatir atau masih merintis. Perkembangan teknologi yang semakin mudah diakses juga ikut berperan besar, ambil contoh Unfriended, yang menuturkan keseluruhan ceritanya lewat video chat dalam satu layar laptop.

Ada pula sebagian orang yang menempatkan found footage di bawah payung besar genre horror. Pernyataan yang mudah dibantah Chronicle, Cloverfield, atau Exhibit A. Sama dengan gaya naratif pada umumnya, found footage dapat dipakai dalam beragam genre. Mulai dari horror, sci-fi, hingga drama dan komedi. Berbeda dengan gaya naratif pada umumnya, found footage banyak menuai respon negatif, dinilai sebagai gimmick murahah dan tidak menawarkan nilai produksi yang mumpuni.

Salah besar. Found footage adalah antitesis dari kaidah-kaidah sinematik yang serba cantik dan terencana. Menukarnya dengan sudut pandang kamera amatir yang kasar dan frontal untuk menyajikan kedalaman perspektif yang tidak bisa dicapai oleh teknik sinematografi konvensional. Saat kerumunan zombie sedang mencabik-cabik mangsa, sang juru kamera tidak mampu mengabadikannya dalam crane shot mulus. Penonton tidak diperlakukan sebagai orang ketiga yang diberkahi kemampuan untuk berpindah tempat dan waktu melalui cutting dan transisi.

Keterbatasan sudut pandang ini memperkuat ilusi bahwa seluruh teror dan kengerian terjadi dalam jarak yang relatif dekat, tanpa jalan keluar. Beberapa film di bawah menempatkan penonton pada daerah abu-abu, kesulitan untuk mengagumi atau mencerna gambar secara estetik, namun tidak bisa terlepas dari perasaan disorientasi yang terus membanjiri pikiran.

10.  Manson Family Movies (John Aes-Nihil, 1984)

Manson Family

Selain membantai orang, dengar-dengar Charles Manson dan pengikutnya juga gemar membuat film snuff untuk koleksi pribadi. Sayangnya, tidak ada bukti fisik yang memperkuat gosip barusan. Tapi, sia-sia saja untuk membantahnya, mengingat kita bicara tentang Keluarga Manson.

Kita bicara tentang kultus yang tidak segan membunuh Sharon Tate dua minggu sebelum melahirkan anak pertamanya. Pembenaran mereka, akan datangnya perang ras besar-besaran, sebagaimana yang diramalkan dalam lagu-lagu The Beatles. Ya, kaum hippies tidak melulu bicara besar mengenai perdamaian dunia dan pengalaman transendental melalui konsumsi LSD.

John Aes-Nihil merekonstruksi salah satu tragedi terbesar yang melanda Amerika Serikat di akhir dekade 60-an ini dengan minim kompromi. Tidak ada dialog, hanya sekumpulan musik dan suara elektronik menyayat telinga yang menemani rekaman stok film 8 mm kualitas rendah. Hasilnya, Manson Family Movies cukup sulit untuk dijelaskan, atau bahkan ditonton.

Kita bisa melihat sisi gelap pergerakan Summer of Love di Haight-Ashbury dan bejatnya keseharian Keluarga Manson, lengkap dengan seks massal dan ritual tari-tarian menggetarkan iman. John Aes-Nihil menggunakan tempat kejadian perkara asli sebagai lokasi shooting dan turut melibatkan kerabat dekat Keluarga Manson. Bagi mereka yang mengikuti sepak terjang Charles Manson atau meninggikannya sebagai panutan, adegan pembantaian yang direka ulang dengan cermat menjadi hadiah spesial. Sempat hilang dari peredaran akibat jalur distribusi yang berantakan, Manson Family Movies kembali muncul di permukaan setelah dirilis dalam format DVD di tahun 2005.

9. Paranormal Activity (Oren Peli, 2007)

Paranormal Activity

Jujur, kalau tidak sempat mencari jawaban di internet, saya tidak akan ingat berapa banyak sequel Paranormal Activity yang sudah dibuat. Ini adalah judul paling bertanggungjawab atas citra lacur film found footage di abad 21. Tapi perlu diakui, film pertamanya sempat meninggalkan trauma mendalam yang tak segera pudar.

Xenomorph keluar dari dada Kane di Alien dan Regan MacNeil memelintir lehernya hingga ke belakang sambil masturbasi menggunakan salib dalam The Exorcist. Dua adegan ini merupakan sedikit contoh dari sekian banyak momen paling menyeramkan dalam sejarah perfilman. Sementara itu, Paranormal Activity hanya butuh menampilkan pintu yang bergerak dengan sendirinya untuk membuat penonton terperanjat setengah mati.

Kesan tak berdaya semakin diperkuat lantaran banyak kejadian paranormal terjadi saat kedua karakter utamanya lelap tertidur. Semua aspek dalam Paranormal Activity dibuat agar terlihat natural, sehingga sulit untuk menyangkal atau mencari rasionalisasi saat makhluk halus mulai mengganggu.

Katie Featherson dan Micah Sloat tidak perlu menampilkan akting kaliber Oscar untuk meyakinkan penonton. Untuk apa? Oren Peli saja tidak menyibukkan diri sendiri dengan mencari nama lain untuk karakter yang mereka perankan. Paranormal Activity bisa menghantui pikiran Anda lama setelah film usai dengan bergantung pada kesederhanaan premisnya, bahwa bisa saja ini terjadi saat Anda tertidur pulas.

8. Exhibit A (Dom Rotheroe, 2007)

Exhibit A

Di permulaan Exhibit A, terdapat title screen yang menjelaskan kalau rekaman yang akan Anda saksikan merupakan bukti terkait sebuah kasus pembunuhan. Sehingga tidak ada kejutan yang menanti di penghujung film. Sebagai gantinya, penonton terperangkap dalam posisi mutlak, hanya bisa gelisah menunggu sambil melewati segala siksaan mental yang disiapkan Dom Rotheroe. Disharmoni keluarga King diceritakan melalui detail-detail kecil yang semakin menyayat hati jika diperhatikan lebih dalam. Semua kejadian direkam melalui kamera yang dihadiahkan Andy King kepada putrinya, Judith.

Keempat karakter dalam keluarga King berhasil menumbuhkan empati, menambah rasa pilu ketika mengingat tragedi yang akan segera mereka alami. Tidak ada yang spesial dari keluarga King sendiri, tipikal keluarga kelas menengah dengan masa depan finansial yang terlihat menjanjikan. Namun, krisis yang tiba-tiba datang mulai memicu pertengkaran internal. Rahasia gelap dalam keluarga King perlahan terungkap.

Dari sisi tertentu, film ini bisa dijadikan gambaran ekstrem atas konsekuensi keluarga modern yang tenggelam dalam budaya konsumerisme. Tanpa menampilkan kiasan-kiasan klasik film horror, Exhibit A lebih terasa seperti psychodrama getir bertempo pelan. Dom Rotheroe membuktikan kalau hal paling menyeramkan tidak selalu datang dari dunia asing atau dari hutan angker. Terkadang, iblis terkejam sabar menanti motivasi yang tepat untuk muncul dari balik wajah-wajah familiar.

7. The Visit (M. Night Shyamalan, 2015)

The Visit

Menonton film M. Night Shyamalan tak ubahnya dengan berhubungan seks. Ketika memuaskan, Anda ingin terus mengulanginya semalam suntuk. Tapi ketika buruk, rasanya ingin segera meringkuk di bawah pancuran air panas, sambil secara obsesif menggosok noda yang tak akan pernah hilang dari badan. Berangkat dari perumpamaan itu, maka bersiaplah menjarah toko obat kuat karena Anda membutuhkan pasokan viagra majasi dalam jumlah signifikan untuk menikmati The Visit. Mumpung sedang berbelanja obat-obatan, jangan lupa juga untuk membeli Lopressor atau obat sejenis, barangkali saja Anda terkena serangan jantung di tengah film.

Saat sang ibu pergi berlibur bersama pacar barunya, Becca dan Tyler menghabiskan lima hari bersama Nana dan Pop Pop, eyang yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Berbekal kompetensinya dalam membuat film, Becca menggunakan kesempatan ini untuk mencari eliksir dengan tujuan mengakurkan kembali hubungan antara sang ibu dengan Nana dan Pop Pop. Becca dan Tyler sendiri menghadapi isu mendalam terhadap sosok ayah yang meninggalkan mereka demi wanita lain.

Di siang hari, Nana dan Pop Pop adalah sepasang eyang idaman semua cucu. Beda cerita setelah matahari terbenam. Sebaiknya jangan banyak-banyak menceritakan sinopsisnya. The Visit adalah film yang harus ditonton dan bukan diceritakan. Mengingat film ini disutradarai M. Night Shyalaman, Anda tahu akan ada plot twist yang menanti di babak akhir.

6. Noroi (Koji Shiraishi, 2005)

Noroi

J-Horror selalu menjadi alternatif pertama bilamana Anda mulai merasa jenuh dan kebas terhadap film-film horror kebanyakan. Entah dari dunia maya, telepon tak terjawab, atau gedung sekolah lama, di Jepang, kengerian bisa datang dari manapun, dalam bentuk apapun. Jika masih belum cukup, entitas mistis bisa merangkak keluar dari televisi, menyorot mata hingga jantung Anda pecah dari dalam.

Status Noroi sebagai film horror Jepang terbaik memang terbuka bebas untuk diperdebatkan. Tapi yang jelas, karya Koji Shiraishi ini merupakan salah satu yang paling berbeda di akhir masa keemasan J-Horror. Ditampilkan sebagai pseudo-dokumenter setengah matang yang dibawakan Kobayashi, seorang investigator paranormal ternama, Noroi menghabiskan hampir satu jam pertama durasi filmnya untuk menyusun misteri pelik.

Remah jejak dan petunjuk misteri itu bercampur aduk dalam rekaman mentah Kobayashi dan potongan beragam acara televisi. Belasan karakter nyentrik ditampilkan sebagai elemen vital dari ceritanya. Contohnya Mitsuo, si cenayang lapis logam, atau Junko, ibu rumah tangga temperamental dengan raut wajah bengis.

Koji Shiraishi tidak ingin menyuapi plot yang lurus-lurus saja, maka terkadang Noroi hampir tumbang karena bebannya sendiri. Tapi Anda tidak akan dibiarkan terlantar di tengah lika-liku misteri. Cukup berpasrah dan menenggelamkan diri pada suramnya investigasi dan temukan temaram jawaban depresif di penghujung Noroi.

5. Man Bites Dog (Remy Belvaux, Andre Bonzel, dan Benoit Poelvoorde, 1992)

Man Bites Dog

Man Bites Dog mungkin lebih sering digolongkan sebagai film mockumentary ketimbang found footage. Perbedaan yang sering dikemukakan antara kedua suku ini berkaitan pada perilaku individu di balik kamera. Dalam film found footage, si juru rekam biasanya secara langsung terlibat dan memberi dampak naratif, sementara pendekatan “fly-on-the-wall” lebih diandalkan dalam mockumentary. Pada akhirnya, berpegangan pada asas-asas teknis seperti ini akan sendirinya meruntuhkan dikotomi yang dirumuskan. Agar tidak kebingungan, aman saja untuk menganggap film mockumentary dan found footage sebagai peranakan satu induk.

Judulnya diambil dari ungkapan jurnalistik, mengacu pada kecenderungan media untuk memberitakan kejadian sensasional, seperti orang yang menggigit anjing. Man Bites Dog mengeksploitir Ben, psikopat karismatik yang sehari-hari mencari hiburan dengan membunuh dan melakukan bermacam kekerasan. Beda dengan Buffalo Bill atau Jack the Ripper, Ben tidak memiliki profil khusus untuk menentukan korban, namun terkadang wanita dan kaum minoritas menjadi prioritas.

Dengan girang Ben memberikan tutorial untuk menenggelamkan mayat di sungai, secara rinci memperhitungkan jumlah pemberat yang dibutuhkan tergantung umur dan berat badan agar tidak mengapung. Sangat menghibur sekaligus informatif. Pada adegan lain, Ben mendatangi seorang nenek dan menakut-nakutinya hingga terkena serangan jantung. Lalu membuang obat dan mencabut peralatan medis si nenek dan membiarkannya mati perlahan. Dengan santai, ia membenarkan perbuatannya sebagai penghematan peluru.

Ben tidak canggung melakukan aksinya di depan kamera, seperti seorang seniman postmodern yang mengira setiap jengkal hidupnya adalah karya seni. Ia adalah seorang nihilis murni, dibingkai oleh perspektif “Meursault-esque” para kru yang sedikit demi sedikit semakin berkontribusi dalam petualangan sadistik Ben. Tidak adil untuk melihat Ben cuma sebagai pribadi kejam yang pantas dibinasakan. Sebaliknya, ia adalah sosok inspiratif,hanya saja kebanyakan orang “bermoral” terlalu munafik untuk mengakuinya.

4. Cloverfield (Matt Reeves, 2008)

Cloverfield

Hingga sekarang, belum ada yang bisa memberikan pengalaman sinematik setara Cloverfield. Penggunaan ekstensif efek visual dan CGI tidak mengurangi eloknya kesederhanan film ini. Justru memperkuat ilusi atas kekacauan yang sedang berlangsung di depan mata. Walaupun tidak terlalu keliru, nyatanya terlalu gampang untuk menyederhanakan Cloverfield sebagai amukan Godzilla dalam rekaman found footage.

Kaum necis perkotaan sedang menggelar pesta perpisahan bagi seorang kawan yang baru dapat pekerjaan di Jepang. Sentakan besar tiba-tiba menggetarkan seisi gedung, disusul suara ledakan yang terdengar dari jauh. Para tamu berlarian histeris, menghindari hujan meteorit dari bongkahan material yang berterbangan. Kepala Patung Liberty menggelinding layaknya bola bowling, debu dan puing reruntuhan gedung pencakar langit yang mengombak deras di jalanan. Seekor monster setinggi puluhan meter merangkak liar, meluluhlantakkan hutan beton Manhattan tanpa hambatan. Kabut trauma pasca tragedi 9/11 praktis mengacaukan semua rencana untuk bertindak rasional.

Serangan teroris tidak hanya dinilai sukses dari jumlah korban yang berjatuhan, tapi juga dari berapa banyak orang yang cuma bisa tertegun tanpa penjelasan. Matt Reeves paham benar prinsip ini. Saat fungsi otak direduksi ke dalam mode bertahan hidup, tidak ada waktu untuk menelusuri asal-muasal si monster atau parasit-parasit beracun yang ia bawa. Tanpa editing metris yang menjaga komposisi film, Cloverfield secara konstan mengalirkan teror.

Cloverfield membawakan klise-klise usang film monster dan menyampaikannya dalam sudut pandang baru, menempatkannya setara dengan Gojira atau Jaws. Senafas dengan strategi viral marketing yang dijalankan, Anda akan cepat menyadari kalau Cloverfield tidak menawarkan pemahaman yang lebih mendalam. Menelusuri motivasi karakter-karakter utamanya dalam bertindak juga hanya akan mengundang heran. Disampaikan dengan elegan dan sederhana, Cloverfield berfokus pada tujuannya, membombardir sensor indrawi dengan kehancuran skala besar, langsung dari sudut pandang pertama.

3. Cannibal Holocaust (Ruggero Deodato, 1980)

Cannibal Holocaust

Lebih mudah untuk mendeskripsikan dedengkot dari semua film yang tertulis dalam daftar ini lewat reaksi publik yang didapat. Sepuluh hari setelah pemutaran perdana Cannibal Holocaust di Milan, Ruggero Deodato diamankan oleh pihak berwajib. Total ada 53 negara yang melarang distribusi Cannibal Holocaust, beberapa di antaranya masih berlaku hingga saat ini.

Januari 1981, Deodato ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan beberapa aktor yang turut berperan dalam filmnya. Untuk beberapa waktu, Cannibal Holocaust dikira sebagai film snuff asli. Semua scene yang menggambarkan pembunuhan, pemerkosaan, dan kanibalisme secara eksplisit dalam Cannibal Holocaust digunakan sebagai bukti untuk memperkuat tuduhan tersebut.

Menghilangnya aktor yang digambarkan tewas dari sorotan publik juga tidak memperingan nasib buruk Ruggero Deodato. Akhirnya, resiko penjara dinilai terlalu kelewatan. Kontrak antara pihak aktor dan produser dipublikasikan sebagai bentuk klarifikasi. Di dalamnya, terdapat satu klausul yang melarang pihak aktor untuk tampil dalam film, iklan, atau media apapun sampai waktu yang telah ditentukan. Kebijakan yang sama tentunya tidak diterapkan kepada hewan lain yang benar-benar dibunuh di hadapan kamera.

Terlepas dari segala kontroversi yang melekat padanya, mahakarya Ruggero Deodato satu ini adalah contoh besar realisme sinematik. Cannibal Holocaust mengakar kuat pada tradisi film Mondo dan menampilkan imitasi terliar dari prinsip cinéma vérité. Tidak hanya layak dikreditkan sebagai pionir genre, menonton Cannibal Holocaust juga menjadi ritual suci, semacam pembaptisan bagi para penggemar film ultra-gore. Menjijikan, mengerikan, cabul, biadab, kejam, dan amoral tidak mampu menggambarkan film ini. Cannibal Holocaust adalah kata sifat sendiri, sinonim Salò dengan konotasi sedikit lebih sopan, jika tidak sama kasarnya.

2. REC (Jaume Balaguero dan Paco Plaza, 2007)

REC

Luis Bunuel akan selalu diingan dalam sejarah perfilman salah satunya karena adegan mengiris mata dalam Un Chien Andalou. Sejak tahun 1929, benih sinema horror Spanyol perlahan berkembang di bawah kediktatoran Francisco Franco. Sampai akhirnya di tahun 1972 gebrakan besar datang melalui La Noche Del Terror Ciego garapan Amando de Ossorio. Tumbuh di bawah opresi pemerintahan fasis mengharuskan sineas Spanyol terus mengasah imajinasinya untuk mengakali kebijakan sensor yang keras.

Entah, mungkin keadaan Spanyol pada saat itu pada dasarnya sudah cukup mengerikan. Sehingga alam bawah sadar orang-orang seperti Guillermo del Toro dipaksa membangun sebuah dunia yang indah bahkan ketika sedang bermimpi buruk sebagai pelarian. Alhasil, film horror Spanyol adalah petualangan liar dalam dunia fantastis sarat emosi. REC muncul puluhan tahun setelah rezim Franco dan masih mengemban semangat sama, memadukannya dengan kegilaan pandemi zombie ala 28 Days Later.

Film dimulai dengan Angela, seorang reporter televisi, dan juru kameranya yang sedang membuat liputan ringan di sebuah markas pemadam kebakaran. Tiba-tiba, keadaan darurat datang dari sebuah apartemen di tengah Kota Barcelona. Bukan kobaran api yang menunggu, melainkan infeksi virus yang mengubah inangnya menjadi mayat hidup pemakan daging. Protokol karantina diberlakukan untuk melokalisir penyebaran virus.

Tidak ada toleransi, penghuni yang berusaha keluar akan disambut oleh hangatnya peluru penembak jitu. Selamat tinggal opsi membangun peradaban baru dibalik tembok keselamatan. Suasana klaustrofobik semakin diperburuk lengkingan suara asing zombie yang menggema dari setiap sudut ruangan. REC menawarkan kesempatan untuk menyaksikan awalan hari kiamat, langsung dari baris terdepan tanpa gangguan.

1. The Blair Witch Project (Daniel Myrick dan Eduardo Sanchez, 1999)

Blair Witch Project

Jika cakupan daftar ini diperluas untuk membicarakan film horror terbaik sepanjang sejarah, hampir bisa dipastikan kalau The Blair Witch Project tetap berada di posisi puncak. Bahkan secara umum, The Blair Witch Project adalah salah satu film paling berpengaruh di abad 20. Di saat kemajuan teknologi perfilman digital bisa membawa kita ke palung tergelap dan ujung semesta yang tak berbatas, film ini menutuk ketakutan paling mendasar.

Heather, Mike, dan Josh datang di Burkittsville, Maryland, untuk membuat film dokumenter tentang legenda lokal, Blair Witch. Hutan Coffin Rock dijajal untuk mencari kebenaran tentang cerita rakyat tersebut. Keadaan menggila ketika peta menghilang dan stok makanan mulai menipis. Mereka sampai pada tempat yang sama kendati berjalan satu arah seharian. Suara anak kecil dan boneka-boneka kayu yang bergantungan di pohon cuma semakin memperkeruh suasana.

Hutan Coffin Rock di musim gugur tidak sekedar menjadi pemandangan mencekam, melainkan entitas dengan daya hidup, tidak bersahabat dan menyimpan rahasia gelap. The Blair Witch Project menyiratkan informasi tentang arwah penyihir yang mati digantung di abab 18, pendeta gila, dan pembunuh berantai. Pada akhirnya, kita tidak sempat melihat siapa yang mengganggu Heather, Mike, dan Josh. Namun, kita hanya bisa merasakan keberadaan kuatnya, selalu mengintai  dan siap menyerang dari kegelapan.

Sama seperti Cannibal Holocaust, rumor miring tentang The Blair Witch Project sempat beredar, diperparah oleh informasi trivial yang tersebar luas melalui internet. Myrick dan Sanchez memang mengeluarkan usaha lebih agar The Blair Witch Project tetap menginjakkan satu kaki pada fiksi dan realitas. Selama 7 hari, Heather, Mike, dan Josh ditinggal di tengah hutan dengan 35 halaman retroscript tanpa dialog, dua unit kamera, dan perbekalan seadanya. Ketiga aktor utama ini bahkan tidak tahu pasti apa yang akan mereka hadapi dalam sehari.

Freddy Krueger, Michael Myers, Jelangkung, atau debt collector. Sadar atau tidak, kita sengaja mengkondisikan diri untuk takut pada makhluk-makhluk ini. Karena berkat mereka, setidaknya ketakutan yang kita rasa dimanifestasikan dalam bentuk nyata. Lalu ada pula kegelapan hutan, udara dingin ketika duduk membelakangi pintu terbuka, dan sosok yang sepintas bergerak dari pojok pengelihatan. Perasaan takut datang secara naluriah saat menghadapi hal-hal tersebut, sebagai respon kimiawi untuk menghindarkan diri bahaya yang belum tentu ada.

Sinema horror dimulai 120 tahun lalu tatkala Georges Melies membuat Le Manoir du Diable, dan berakhir dengan The Blair Witch Porject. [WARNING/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response