close

10 Film Indonesia Terbaik 2017

film indo terbaik

10. Balada Bala Sinema – Yuda Kurniawan

Adalah garapan Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga, rumah bagi filmmaker muda berprestasi dan Festival Film Purbalingga (FFP). “Balada Bala Sinema” tidak sekadar membahas permukaan dari apa yang selama ini telah mereka tanam dan kerjakan, ada gairah semangat militansi nyata untuk menyajikan yang terbaik bagi sinema Indonesia lewat cara yang jauh dari kata mewah maupun ingar-bingar industri film ibukota. Budaya open air cinema atau yang lebih akrab sebagai layar tancap dihidupkan dari desa ke desa lewat adegan yang membuat kita bergumam: ‘iki wong-wong e edan tenan!’. Sepanjang film, ia menampilkan anti-tesis dari budaya menonton kelas menengah ke atas kita sekarang, ia mengembalikan budaya sinema yang lahir dari komunitas dengan semangat saling-berbagi yang tulus menyertai.

9. Tarling is Darling – Ismail Fahmi Lubish

Film ini memperkuat tuntutan bahwa makin ke sini, penggarapan film dokumenter harus makin inovatif. Film ini menyuguhkan cara bertutur seolah fiksi, bahkan ada bagian adegan ala video klip dengan estetika kelas dua yang bergelora. Usaha yang bagus, mengingat sebenarnya Ismail Fahmi Lubish bisa cukup berpangku pada isunya yang sudah eksotik dan kaya. Penonton akan dibawa mengikuti hidup Kang Jaham, sang scenester Tarling di Pantura. Raja skena yang lewat peran kesehariannya, menunjukkan pada kita berbagai kontradiksi di industri Tarling itu sendiri. Soal raja dangdut yang sudah kehilangan masa jaya vs perjuangan idola-idola tarling masa kini. Soal erotisme panggung dan citra islami Tarling yang coba dibangun kembali. Soal muatan lirik miskin moral vs ayat-ayat Tuhan yang didendangkan. Bahkan soal suami yang harus menjaga perasaan istri setia vs produser musik Tarling yang sepanjang waktu dikelilingi gadis-gadis bohay yang menggoda.

8. The Gift – Hanung Bramantyo

Di sesi diskusi paska premiere film ini di JAFF 2018, sang sutradara mengaku, setelah belasan film komersil berorientasi pasar, ini adalah film pertama dimana ia tak harus memperhitungkan untung-rugi dan hal-hal industrial lainnya. Hasilnya, drama romantis yang mengalir enak, dengan plot dan karakter yang tepat guna. Harus diakui kekuatan film ini ada pada karakter yang diperankan Reza Rahardian dan Ayushita. Pertemuan seorang mantan anak nakal yang setelah kecelakaan jadi buta emosional dengan seorang penulis perempuan muda dengan masa kecil yang suram. Adegan Ayushita kecil yang melihat tubuh ibunya menggantung dengan tali di leher sungguh membekas sampai sekarang. Pembangunan karakter yang begitu kuat ini bahkan membuat saya memaklumi latar film ini yang repot-repot menggunakan latar di luar negeri. Selain drama dan romantisme yang menguras perasaan, film ini menunjukkan bahwa di tengah dunia yang makin diusahakna menjadi penuh warna, ada beberapa orang yang menemukan rasa aman dalam hitam, suram, hitam.

7. AWAL: Nasib Manusia – Gilang Bayu Santoso

Puluhan film sudah bicara tentang apa yang terjadi pada gonjang-ganjing 1965, sebuah tragedi yang hingga kini masih diceritakan dalam banyak versi. Dari yang sudah sedari lama jadi rujukan negara: Pengkhianatan G30S/PKI (1984) dalam melanggengkan ketakutan sejak Orde Baru, dua karya monumental Joshua Oppenheimer: Jagal (2012) dan Senyap (2014) yang membuka tabir baru dari sisi penyintas, hingga Surat dari Praha (2016) tentang eksil politik di Praha yang muncul lebih halus dan pop untuk menembus audiens yang lebih luas. “AWAL: Nasib Manusia” masuk dalam ceruk yang lebih emosional dan sentimentil tanpa mengeksploitasi Awal Uzhara, subjek utama seorang pelajar di VGIK (The Gerasimove Institue of Cinematography) pasca tragedi 1965. Cerita tentang ‘kekerasan non-fisik’ negara terhadap eksil, keterpisahan Awal dengan tanah airnya, dan narasi ‘pulang’ yang selalu berhasil menyentuh secara personal. Dalam treatment untuk menggiring ke isu yang lebih besar, ada usaha rekonsiliasi yang perlu diapresiasi lebih di sini ketika nukilan fakta-fakta kecil dimunculkan ke permukaan, tentang manusia dan kekuatan lebih besar di atasnya; yakni negara.

6. Pengabdi Setan – Joko Anwar

Setelah kiprahnya dengan “A Copy of My Mind” yang punya tendensi mengeksploitasi kemiskinan alih-alih menuturkan realitas di lapangan, Joko Anwar akhirnya berhasil tembus blockbuster Indonesia (tanpa harus ber-pretensius-ria). Memoles ulang cerita film lama, “Pengabdi Setan” versinya membawa warna di perbendaharaan film horor Indonesia yang kacau-balau. Karena ini digarap Joko Anwar, ada urgensi meluruskan makna moralitas (dan cameo dari Fahri Albar) serta sedikit-sedikit plot-twist. Sebagai film horor lokal, “Pengabdi Setan” digarap dengan sangat fashionable, melawan kebiasaan film horor yang terlalu gelap atau malah kelewat panas. Ada sisipan humor di sana-sini selaku penyeimbang yang cocok bersanding dengan unit-unit jump scare. Apabila di film aslinya, agama adalah kunci kehidupan, Joko Anwar justru membunuh sosok ustad. Teror-teror yang berasal dari teluh iblis dirasionalkan dengan keterlibatan kelompok kultus yang dirasa lebih masuk akal di kepala manusia modern abad ke-21. “Pengabdi Setan” membuktikan bahwa hal-hal yang bisa dinalar tidak melulu mengompensasi kesenangan.  

5. Posesif – Edwin

Ketika Edwin duduk di kursi sutradara, tentu sudah bisa diterka “Posesif” bakal jadi film remaja yang tidak biasa. Film ini unik di antara narasi romansa anak muda lainnya. Jika lazimnya narasi percintaan selalu membawa pendekatan me vs the world sebagai resolusi akhir, Edwin mementahkan romantisasi macam itu. “Posesif” membawa isu kekerasan dalam pacaran yang kerap diabaikan, dianggap tanda kasih atau penghargaan terhadap komitmen. Dengan berani Edwin mengilustrasikan skenario-skenario yang lumrahnya dianggap manis nan penuh kejutan jadi sesuatu yang perlu diwaspadai. Maka dari itu, film ini menghadirkan konsekuensinya tersendiri, “Posesif” bakal mempertanyakan kompas moral penontonnya. Sedihnya, masih banyak yang tidak lolos ujian, cekikikan beberapa pemirsa bioskop masih terdengar di beberapa adegan yang sebenarnya dimaksudkan untuk menggambarkan kekerasan. Ada beberapa catatan yang membuat film ini terkesan problematik pula. Di antaranya adalah kehadiran sosok ibu yang keras, ini menormalisasi tindakan Yudhis. Selain itu, pemilihan karakter usia SMA sedikit-banyak menimbulkan kerancuan bagi penonton—apakah kekerasan dalam pacaran hanyalah fase yang wajar dilalui anak bau kencur dan akan hilang pada masanya nanti? Semoga kita semua cukup dewasa untuk tahu jawabannya.

4. Night Bus – Emil Heradi

Dugaan bahwa “Night Bus” akan jadi road movie ala kadarnya ternyata harus ditepis ketika babak demi babak sepanjang film berhasil membawa penonton seolah jadi salah satu penumpang di bus itu. Dibumbui nuansa action yang kental, film ini mampu mempermainkan tensi dengan suguhan konflik demi konflik yang muncul tenggelam. Mengusung konflik separatisme di kota fiksi Sampar di antah berantah, penonton tidak bisa tidak menghubungkannya dengan kasus-kasus nyata di ujung barat dan timur Indonesia. Terlepas dari klisenya format ‘kemanusiaan di tengah perang’ yang banjir di film-film konflik, film ini tidak membosankan dan enak dinikmati. Pergolakan protagonis-antagonis, pilihan moral, keberpihakan dan intrik-intrik sepanjang film ditampilkan secara tegas. Sorotan kamera yang kadang bergerak cepat dalam ruang sempit memantik rasa panik yang cukup, tak perlu berlebihan menguras emosi dan air mata. Apresiasi juga patut diberikan pada desainer produksi film ini, mengingat jarangnya film action Indonesia yang mampu melibatkan darah, senjata tajam, dan perkakas perang dengan jitudan hebatnya tak terlihat konyol. Sayang sekali, dengan pencapaian seperti ini, film ini justru masuk dalam film underrated tahun ini. Sekali lagi, sayang sekali.

3. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak – Mouly Surya

Bukan hal biasa ketika perempuan digambarkan membunuh tanpa ujung-ujungnya disetankan. Kalaupun pernah membunuh demi alasan menuntut balik kehormatan diri, dilakukannya ketika sudah benar-benar berwujud setan. “Marlina” berkata lain, dibungkus dengan nuansa film koboi, narasi pembunuhan ini terasa heroik. Meski ada beberapa pertimbangan kultural yang dirasa janggal, film ini jadi angin segar membawa penokohan perempuan yang berdaya melawan. Solidaritas antar-perempuan dalam kisah Marlina dan keakuratannya menggambarkan tanggapan aparat saat menerima pelaporan tindak perkosaan beresonansi dengan pengalaman di dunia nyata. Melalui film “Marlina”, penonton diajak lebih jauh untuk menyaksikan perempuan ambil kontrol atas hidupnya sendiri. Perjuangan ini nyatanya bisa diklaim dari petak-petak bidang yang sudah dipesan khusus buat kaum hawa: dapur dan kasur. Dua tempat itu tidak melulu dijadikan sarana mengisahkan kepapaan perempuan, dapur dan kasur bisa jadi sumber petaka bagi laki-laki. Mouly Surya mencitrakan Marlina sebagai apa yang disebut bumerang, Marlina terlempar disingkirkan oleh sekelompok laki-laki itu untuk kembali dengan tebasan mematikan.

2. The Seen and the Unseen – Kamila Andini

Menurut sang sutradara, nyawa film ini berasal dari kepercayaan masyarakat Bali, sekala, niskala, ialah konsep soal yang kasat mata dan yang maya. Kamila menuangkan kelindan keduanya melalui interaksi antara sepasang bocah kembar Tantra dan Tantri ketika dihadapkan pada senyapnya duka kehilangan. Simbolisme lewat tari-tarian, senandung magis, dan musik latar yang menyihir, film ini berhasil menguarkan emosi frustrasi, rindu, dan sedih dengan cara paling elegan. Kisah disampaikan melalui mata Tantri, si kembar perempuan yang tengah beradaptasi dengan perubahan laku kebiasaan sejak separuh jiwanya, si kembar laki-laki Tantra, jatuh sakit. Selaku seorang penari, aktris pedatang baru Kasih memainkan perannya sangat apik. Ia berdialog dengan liukan tubuh sebagai bahasa tuturnya, menjiwai Tantri yang kerap berbincang dengan Tantra di dunia yang tidak kelihatan buat yang lainnya. Penampilan Ayu Laksmi juga perlu disoroti lebih, film ini memberikan ruang bagi eksplorasi beraktingnya menjadi ibu yang ditinggalkan si anak (tidak hanya berlaku hantu yang mengambil paksa anak bungsunya). Menonton “The Seen and the Unseen” adalah momen ketika segala indera dimanjakan, dengan sedikit kejutan tatkala bulir-bulir air mata jatuh tanpa dinyana.

1. Turah – Wicaksono Wisnu Legowo

Setelah Siti (2014), kali ini Fourcolours Film mengangkat narasi bertahan hidup dari pesisir utara. Judulnya diambil pula dari nama si protagonis, Turah, seorang pekerja serabutan yang lugu namun setia mengabdi pada si tuan tanah. Dari Bahasa Jawa, turah bisa diartikan sebagai sisa-sisa. Seperti yang digambarkan dalam cerita, penduduk di Kampung Tirang ialah orang-orang sisa yang kalah tersingkir dari sekitarnya. Mendiami tanah timbul di kawasan pelabuhan, mereka hidup menghamba kepada satu juragan bernama Darso. Meski jauh dari cukup, desa itu tenang-tenang saja sampai Jadag si pemabuk yang slebor mulai meracau soal ketidakadilan dan kebodohan warga yang mau-maunya diperas tenaganya dan dibayar sekenanya. Walau ocehan yang keluar dari mulutnya kerap disamakan dengan gonggongan anjing, Jadag nyatanya berhasil menggoyahkan singgasana juragan yang selama ini stabil ditopang para centeng. Film arahan Wicaksono Wisnu Legowo ini sederhana, tepat guna menyasar satu dari segudang masalah negeri yang belum selesai. Boro-boro dibereskan, kehadiran pemerintah bagi penduduk Kampung Tirang ya cuma kalau ada pendataan menjelang pemilu. “Turah” ialah kisah sebenar-benarnya dari orang kecil yang coba melawan raksasa, belum tentu menang, yang penting sudi melawan.

baca juga ⇒ 10 film internasional terbaik 2017

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response