close

10 Film Internasional Terbaik 2017

film intr terbaik

10. Antiporno – Sion Sono

Jepang adalah tempat di mana isu feminisme ditampilkan ke ruang publik secara absurd. Beberapa filmmaker yang kerap mewujudkannya adalah: Naomi Kawase, Shunji Iwai, Takashi Miike, Tetsuya Nakashima, dan tak terkecuali Sion Sono. Gaya yang ditampilkan berbeda namun menemui pola yang sama: menembus norma-norma sosial hingga ke lapisan yang sulit dideteksi dari kulitnya saja. Ditampilkannya sosok perempuan yang mengalami konflik intrapersonal, interpersonal, sampai yang paling besar adalah kontestasi eksistensi wanita dalam sistem sosial patriarkis. Sedikit problematis memang ketika beberapa di antara estetikanya sengaja menampilkan peran wanita sebagai sosok antagonis, dan “Antiporno” adalah salah satu yang bicara dengan cara itu. Menyoal eksploitasi tenaga kerja dalam industri pornografi, tersubordinasinya wanita dalam dominasi pria di masyarakat, dan sedikit dari apa yang dibahas Marx dalam teori ekonomi-politik-nya. Audiens disuguhi potongan-potongan dan kelumit narasi atas konsep seks dalam industri pornografi a la Sion Sono lewat shot-shot yang mungkin akan dirasa janggal jika kita awam dengan film-film absurd khas Jepang.

 

9. Okja – Bong Joon Ho

Aktivis anti-kekerasan dan kekejaman pada hewan atau siapapun yang sadar penuh akan adanya proses biadab di balik industri fast-food dan animal product raksasa harus berterima kasih pada Netflix sebagai unsung hero dalam distribusi film-film yang menukil narasi ini. Puluhan film tercatat dan semakin bertambah dengan “Okja” sebagai salah satunya. Metafor dari pengalaman personal Joon-ho setelah mengunjungi rumah pemotongan hewan yang mewujud heart-warming story akan relasi seorang anak dan binatang hasil modifikasi genetik peliharannya dengan bumbu cerita-cerita pembebasan dari ALF (Animal Liberation Front) dan rakusnya korporasi sebagai pihak antagonis. “Okja” menawarkan pendekatan dan estetika baru dalam menarasikan isu veganisme ketika film-film lain dengan isu sama biasa membeberkan data kesehatan atau yang paling sering secara eksplisit menunjukkan gambar-gambar mengerikan penyiksaan hewan, ia dengan caranya lebih berhasil menyasar audiens yang lebih luas, dan yang jelas tanpa trauma setelah menontonnya.

 

 8. The Shape of Water – Guillermo del Toro

Film ini dapat diringkas sebagai kisah cinta antara seorang petugas kebersihan bisu yang terpinggirkan dan sepupu jauh Abe Sapien. Meski sinopsisnya terasa konyol atau terlalu menyederhanakan, “The Shape of Water” bisa jadi merupakan film paling lurus hati sepanjang tahun 2017. Berlatar paranoia Perang Dingin yang penuh prasangka, perpaduan aneh antara atmosfir gothic dan imajinasi yang terkadang kelewatan justru menjadi sumber kehangatan emosional. Atmosfir fantastis ini tidak hanya dijadikan medium eskapisme belaka, tapi juga sebagai alat bedah yang mampu menyingkap kompleksitas karakter hingga ke sisi gelapnya. Hanya sentuhan magis Guillermo del Toro yang mampu memberi sensibilitas ke dalam film yang pada dasarnya adalah versi melodrama dari “Creature from the Black Lagoon”.

 

7. The Young Karl Marx – Raoul Peck

Biopik karya Raoul Peck ini menggambarkan masa muda seorang filsuf, ekonom, sejarawan—yang tidak cukup  ditulis semua predikatnya di sini—bernama Karl Marx. Bagaimana persahabatannya dengan Friedrich Engels, pergulatannya dengan kemiskinan dan teori-teori, hingga kontribusi mengubah dunia lewat terbitnya sebuah Communist Manifesto tersaji di film ini. Sutradara asal Haiti ini sukses menggambarkan Marx muda. Bagi yang sudah membaca biografi Marx, tidak akan kecewa melihat watak Marx ditampilkan di sini. Bagaimana dialog-dialog—yang sering dikutip banyak orang itu—secara akurat tersaji. Secara menarik pula film ini menunjukan relasi marx dengan pemikir-pemikir sosialis lainnya, dan tentunya juga pertentangan-pertentangannya. Kita bisa melihat dialektika Marx disuguhkan di film ini, yang akan membuat kita kagum. Banyaknya hal menarik yang bisa ditampilkan, bahkan setelah difokuskan hanya untuk masa mudanya Marx, membuat dua jam kurang dua menit dirasa kurang panjang. Kelemahannya adalah sosok Marx yang sudah kharismatik, heroik pula ini akan membuat penonton yang asing dengan karya Marx berpikir “Oh tidak mungkin ada orang seperti ini.”

6. The Big Sick – Michael Showalter

Komedi romantis (buatan Amerika Serikat) lumrahnya diracik dari formula yang itu-itu saja. Buat pemirsa dari negara dunia ketiga tentu tidak mudah menyamakan frekuensi dengan guyonan dan alur romansanya—meski asupan komedi romantis yang sering dikonsumsi diimpor dari sana (selain Korea Selatan tentunya, duh?). Persoalan tersebut diselesaikan tuntas oleh Kumail Nanjiani. Komika keturunan Pakistan ini memfilmkan kisah cintanya dengan Emily Gordon yang kini jadi istrinya. Perbedaan kultural antara Kumail dan Emily jadi basis kuat. Kumail yang berasal dari keluarga religius taat harus berpikir keras menyeimbangkan antara menjadi diri sendiri atau melanjutkan nilai turun-temurun. Hidup Kumail kemudian makin rumit setelah bertemu Emily dan sial keduanya pun saling jatuh cinta. Di lain sisi, sebagai orang luar tentu nilai kepercayaan, budaya, dan ritual Kumail sungguh alien bagi Emily. Mungkin buatnya perjodohan adalah praktik kuno yang mestinya sudah dikubur bersama dengan perbudakan. Humor-humor “The Big Sick” terasa segar selain karena faktor kedekatan kultural, duet skrip dari Kumail dan Emily juga tangkas mengolah tragedi-tragedi dalam hidup keduanya jadi sesuatu yang nyaman ditertawakan. Adegan paling berkesan? Tentu ketika bapak Kumail mendamprat anaknya yang ketahuan memacari kafir dan tidak lagi beribadah lima waktu: “You don’t believe in Allah?

 

5. Get Out – Jordan Peele

Berita baik bagi penikmat genre hibrid komedi dan thriller. Anda tidak lagi dipaksa berpuas diri dengan eksekusi slapstick nan serampangan, plot mudah ditebak dengan karakter cewek pirang yang pasti mati duluan. Jordan Peele mengarahkan dan menggarap naskahnya sendiri, menyajikan “Get Out” sebagai jenis film yang menghibur namun juga menjejak pada konteks sosial masyarakat Amerika Serikat. Dalam film “Django Unchained” tokoh rekaan Calvin Candie, seorang rasis pengoleksi budak yang diperankan Di Caprio, berteori bahwa orang-orang Afrika memang sudah kodratnya punya tuan. Struktur tengkorak orang Afrika mengindikasikan bahwa mereka bisa dijinakkan dengan daya lawan rendah. Tentu itu bukan teori yang tahan uji, ilmu phrenology yang jadi muasal premis ngawur tersebut kini dilabeli pseudoscience. Naskah Peele sedikit banyak berangkat dari salah kaprah rasial tadi, orang-orang keturunan Afrika dianggap kuat secara fisik namun ‘tercipta untuk melayani spesies yang lebih superior’: jadilah 104 menit yang meneror. Peele bicara banyak tentang persoalan rasisme yang tidak henti-hentinya dialami oleh masyarakat Afrika-Amerika. Isu kebrutalan polisi dituangkannya dalam skenario alternatif penutup “Get Out” yang disertakan dalam rilisan DVD dan Blu-ray. Karena dunia sudah kelewat kejam, mari beramai-ramai mengamini skenario aslinya saja.

 

4. Three Billboards Outside Ebbing, Missouri – Martin McDonagh

Intensitas Frances McDormand berhasil menghidupkan karakter Mildred hayes, seorang ibu yang mencari keadilan untuk putrinya yang mati diperkosa. Tapi, jangan kira ia meminta simpati dan belas kasihan. Mildred adalah inkarnasi modern Josey Wales, tidak mengenal kompromi dan tidak terhentikan. Bedanya, ia hanya bersenjatakan tiga papan iklan dan mulut kasar yang mengubah setiap kalimat menjadi lirik hip-hop oktaf tinggi. “Three Billboards” bisa saja mengambil jalan khotbah tak berkesudahan yang biasa dilakukan orang-orang “bermoral” atau menjadi eksibisi kesengsaraan. Tapi Martin McDonagh lebih pintar dalam meleburkan kelakar tanpa saringan dan kekerasan slapstick dengan isu sensitif mengenai pelecehan seksual dan impotensi pihak kepolisian.

 

3. A Taxi Driver – Jang Hoon

Korea Selatan semakin mantab untuk keluar dari jurang pengekangan standar ‘layaknya’ sebuah film untuk beredar menurut birokrasi negara. Sejarah panjang kolonialisme Jepang awal abad ke-19 hingga pemerintahan militeristik semi-totalitarian yang berakhir pada 1987 membuat banyaknya film-film bertemakan luka lama represi negara, borok politik, permainan kuasa para oligarki, sampai busuknya pengendalian sistem oleh otoritas muncul secara masif rentang 2014 hingga kini. Isu-isu yang sebelumnya dihembuskan lewat festival-festival film side-stream semakin menapaki ranah komersil ketika kini demokrasi Korsel sedang pada taraf terbaiknya, menggeser drama keluarga penuh romansa yang sebelumnya mendominasi. Gwangju Uprising adalah satu dari sekian gerakan demokratisasi bersejarah di sana, puluhan dokumenter dan fiksi panjang termaktub narasi ini, dan “A Taxi Driver” adalah titik terbaiknya sementara. Sebuah sajian subtil nan populis yang berhasil membuat 23% populasi Korsel menonton penelanjangan sejarah kekejaman negaranya sendiri adalah pencapaian yang belum tentu bisa dialami oleh negara-negara lain.

 

2. Silence – Martin Scorsese

Adaptasi novel klasik Shusako Endo satu ini adalah hak lahir Martin Scorsese. Obsesinya yang terpendam selama 28 tahun berujung pada karya paling personal dari sang auteur. Nagasaki pada abad ke-17, yang dengan segala maksud dan tujuan adalah neraka bagi kaum Katolik, tak hentinya menguji ketegaran iman tanpa ampun atau keringanan. Saat Tuhan saja tidak bergeming menanggapi jeritan doa umatnya yang tersiksa, setiap persekusi dan siksaan akan menggerus habis setitik keimanan yang tersisa. “Silence” adalah puncak kegilaan dan keputusasaan Martin Scorsese yang sampai harus menjadi kafir hanya untuk mempertahankan keimanannya. Bagaimana bisa “Suicide Squad” mengantongi lebih banyak Piala Oscar ketimbang “Silence” akan selamanya menjadi misteri besar.

 

1. Blade Runner 2049 – Dennis Villeneuve

Denis Villeneuve sendiri mengakui kalau menggarap sekuel dari salah satu film sci-fi paling berpengaruh adalah misi bunuh diri. Tapi nyatanya, “Blade Runner 2049″ merupakan mahakarya yang mampu mengembangkan mitos dan misteri film pendahulunya secara organik. Sesuai tradisi besar film sci-fi berkelas, “Blade Runner 2049″ terus menuntut partisipasi serebral dari penontonnya. Jangan terlanjur gentar untuk mengupas setiap lapisan konsep di dalamnya lantaran durasi panjang dan tempo ekstra-lambat. Segala keputusan formal telah matang diperhitungkan sebagai metode hipnotik untuk menenggelamkan penonton ke lanskap distopia yang begitu brutal dan memikat. Adegan demi adegan adalah bagian integral yang secara subtil membangun pertanyaan-pertanyaan besar tanpa sekalipun memberikan jawaban mudah.

Apa yang tersisa dari pesisir barat Amerika Serikat pasca bencana global menjadi latar dari segala kegelisahan batin yang banyak dibicarakan di “Blade Runner 2049″. Di satu tingkat, K mengajak kita menelusuri permasalahan kontemporer tentang hasrat tak terbendung seorang manusia modern untuk mengisi kekosongan hidupnya dengan makna dan tujuan. Namun, ada pula Luv yang merupakan perwujudan tragedi fatalis dari pemrograman manusia dalam tahap paling mendasar. Hingar-bingar pencahayaan neon terasa ironis menerangi sudut-sudut gelap keadaan hidup yang tak lagi manusiawi. Denis Villeneuve seakan lebih menampilkan takdir yang tak terhindarkan ketimbang tebakan intelektual. Semua dilema diterjemahkan dengan jelas berkat tata bahasa visual Roger Deakins yang tidak sekedar menawarkan estetika superfisial. Lebih dari film, “Blade Runner 2049″ adalah mesin Voight-Kampff pamungkas yang mengukur seberapa banyak sisa kemanusiaan dalam peradaban yang semakin cepat dan tak punya perasaan.

 

baca juga ⇒ 10 film Indonesia terbaik 2017

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response