close

10 Film Produksi 2015 Yang Luput Dari Perhatian

Film Produksi Tahun 2015

Film Produksi Tahun 2015

Tidak mungkin rasanya menonton ribuan film yang rilis tiap tahunnya. Bahkan jika Anda tinggal di bioskop. Apalagi kalau Anda tidak tinggal di bioskop. Bukan rumor pula kalau pemirsa juga makin berhati-hati memilih film yang akan ditonton. Faktor utama bisa jadi berasal dari tingginya harga tiket bioskop.

Tenang, mumpung tinggal di negara dunia ketiga, janganlah kehabisan akal memanfaatkan celah dari tatanan hukum yang masih bercela. Boleh tunggu beberapa bulan lantas unduh dari situs-situs kesayangan, atau bisa langsung jalin transaksi gelap bermodal harddisk sekian terabyte. Meski sudah mudah pun murah, tapi jangan keburu gegabah menguras kapasitas memori. Baiknya Anda mulai simak kurasi film berikut ini yang lagi-lagi perlu diantisipasi. Tahun 2015 nyatanya masih menyimpan deretan film layak tonton namun tersembunyi. Rasanya kurang adil jika memaknai ingar bingar perfilman setahun lalu cuma dengan euforia drama erotis 50 Shades of Grey.

Dari karya stop-motion garapan sutradara yang dikenal dengan skrip-skrip ajaibnya macam Charlie Kauffman, hingga kombinasi unik genre komedi-romantis-gore yang memberikan pengalaman kompleks dari menonton film yang seharusnya cukup jadi kegiatan remeh di kala bosan—list ini adalah bentuk apreasiasi sekalian panduan menonton yang perlu disyukuri adanya.

Akhir kata, silakan simak sederet film yang kurang mendapat sorotan di tahun 2015. Film-film yang Anda tunggu di bioskop namun tak kunjung diputar. Film yang sudah Anda unduh sejak Maret tahun lalu, tapi tak kunjung ditonton pula hingga Maret tahun ini.

10. Heaven Knows What

heaven knows

Director                : Josh dan Benny Safdie

Cast                       : Arielle Holmes, Caleb Landry Jones, Buddy Duress, Eleonore Hendricks

Lagi-lagi film mengenai pecandu narkoba. Sudah terlalu sering tema ini diangkat sampai kita bisa menentukan sepuluh terbaik di antaranya. Sulit rasanya untuk melihat sudut pandang baru dari dunia pecandu narkoba. Tapi Josh dan Benny Safdie puny acara untuk mengatasinya. Mereka meluangkan obsesi berlebih terhadap sisi naturalistik Heaven Knows What. Mudah saja untuk melihat hal ini. Mengingat Arielle Holmes, aktor utamanya, adalah seorang pecandu heroin.

Holmes memerankan tokoh Harley, yang tak lain adalah dirinya sendiri, menjalankan narasi yang tak lain adalah memoir kehidupannya sebagai pecandu heroin di New York. Kesamaan dengan kehidupan aslinya tidak sampai disitu. Aktor pendukung dalam Heaven Knows What juga berasal dari lingkaran sosial Holmes.

Heaven Knows What terasa begitu nyata karena memang melibatkan elemen-elemen asli dari pengalaman Arielle Holmes. Untuk menilai Heaven Knows What sebagai film yang baik berdasarkan hal ini semata hampir terasa seperti kecurangan. Mengapa tidak sekaligus menggarapnya sebagai film dokumenter?

9. Truth

truth

Director                : James Vanderbilt

Cast                       : Cate Blanchett, Robert Redford, Topher Grace, Elisabeth Moss

Spotlight memang pantas mendapatkan banyak pujian. Tapi hal itu tidak semata menjadi alasan untuk melupakan Truth, newsroom drama lain yang sama-sama mengangkat isu penting. Truth mengisahkan skandal yang menimpa CBS di tahun 2004. Di tengah masa kampanye presiden Amerika Serikat, muncul isu tentang pemalsuan dokumen militer George W. Bush. Mary Mapes terjerat di tengah isu tersebut dan menjadi bahan hujatan para aktivis sayap kanan.

Tepat rasanya untuk memberi kredit lebih terhadap akting Cate Blanchett dalam film ini. Bersama Robert Redford, determinasi kedua karakter ini menjadi nilai lebih dari Truth. Membayar kebosanan yang sering kali terasa sepanjang filmnya. Truth adalah antitesis yang menyoroti kebenaran pahit. Bahwa sejatinya, para pelaku media tidak selalu berpegang pada kebenaran. Terkadang, atau seringnya, agenda-agenda politik menjadi tujuan utama dalam sebuah berita. Tinggal tugas mereka untuk mencari, atau membuat, bukti untuk mendukungnya.

8. The Final Girls

final girls

Director                : Todd Strauss-Schulson

Cast                       : Taissa Farmiga, Malin Akerman, Nina Dobrev, Alia Shawkat

Film seperti The Final Girls memang sering dipandang sebelah mata. Jika ingin sedikit serius dan terkesan intelektual, kita bisa saja mengaitkan film macam ini dengan isu seksualitas dan feminisme dalam film. Tapi buat apa? Walaupun secara sadar mengangkat banyak klise tersebut, The Final Girls sendiri menolak berkomentar, terlebih lagi mengkritisi isu tersebut.

The Final Girls mengisahkan Max, seorang gadis SMA yang dilanda duka lantaran kematian ibunya, Amanda. Dengan berat hati, Max menerima ajakan temannya untuk datang ke pemutaran Camp Bloodbath, film slasher klasik yang dibintangi ibunya. Dalam Camp Bloodbath, Amanda mengambil peran “scream queen” yang harus meregang nyawa di tangan Billy Murphy ketika melepas keperawanan. Kebakaran besar menghambat pemutaran film. Entah bagaimana bisa dijelaskan, Max dan keempat temannya justru berpindah alam ke dalam film Camp Bloodbath ketika berusaha menyelamatkan diri. Lewat kejadian itulah Max mendapat kesempatan bertemu kembali dengan sosok fiksi ibunya.

Sebagaimana Max dan karakter lainnya, The Final Girls sadar akan keberadaannya. Dengan begitu, The Final Girls bisa terlepas dari tanggung jawabnya sebagai karya seni. The Final Girls memberi bukti kalau film yang baik tidak selalu ditakar dengan dasar-dasar estetika atau studi kritis mengenai substansinya. Memang terserah kalau ada orang sok pintar yang ingin membedahnya dengan cara seperti itu. Tapi tidak ada yang bisa membantah kalau film yang baik adalah yang cukup dekat untuk menyulut sentimen penontonnya.

7. Queen of Earth

queen of earth

Director                : Alex Ross Perry

Cast                       : Elisabeth Moss, Katherine Waterson, Patrick Fugit, Kate Lyn Sheil

Konflik internal yang diangkat dalam Queen of Earth sudah begitu menguras emosi sejak film dimulai. Mulai dari close-up wajah Catherine, yang diperankan Elisabeth Moss, kita dijanjikan sebuah kisah yang jauh dari kata nyaman. Queen of Earth menempatkan karakter Catherine tepat di batas kewarasan dan menghabiskan durasi untuk menggoyahkan keyakinannya.

Awalnya, Catherine, yang masih berduka atas kematian ayahnya, semakin depresi setelah ditinggal pacarnya untuk wanita lain. Alex Ross Perry tidak kenal kata maaf. Seberkas harapan Catherine datang dari temannya, Virginia. Tapi, tidak butuh waktu lama untuk mengerti kalau sosok Virginia juga bukanlah akhir derita Catherine.

Selayaknya pikiran yang resah, Queen of Earth tidak tertarik untuk memberikan resolusi. Hanya ada argumentasi, bahwa tekanan emosional adalah yang begitu mengerikan. Tidak ada cara untuk menuntaskannya. Hanya ada pembenaran sesaat yang akan segera dipatahkan. Kehadiran orang lain juga cuma memperburuk keadaan. Adu akting Elisabeth Moss dan Katherine Waterson sangat membantu kita untuk memahami kengerian tersebut.

6. Our Little Sister

little sister

Director                : Hirokazu Koreeda

Cast                       : Haruka Ayase, Masami Nagasawa, Kaho, Suzu Hirose

Hirokazu Koreeda belum bosan membahas anak-anak bermasalah. Dalam Our Little Sister, Sachi, Yoshino, dan Chika bertemu dengan Suzu, saudara tiri hasil pernikahan bapaknya dengan istri kedua. Mulai dari pertemuan itu, masa kecil mereka yang bermasalah kembali direfleksikan. Penyesalan mereka atas hal tersebut dan harapan atas masa kecil yang lebih bahagia mulai muncul.

Dinamika keluarga yang dibayangkan Koreeda direalisasikan lewat peran ketiga aktornya, terutama Haruka Ayase. Sebagai Sachi, ia menjaga Yoshino dan Chika sekaligus mengisi kekosongan yang ada pasca orang tuanya bercerai. Penonton mungkin kesulitan untuk memahami luka mental yang dialaminya.

Tapi justru itu yang membuat karakter Sachi semakin terasa nyata. Sachi terus menutupi tekanan yang ia rasakan, hingga ia sendiri percaya kalau dirinya baik-baik saja. Lewat perlakuannya terhadap Suzu baru kita bisa mengintip efek dari tekanan tersebut. Sachi mengubah trauma masa kecilnya menjadi bentuk empati yang menghidupi Our Little Sister.

5. The Gift

the gift

Director                : Joel Edgerton

Cast                       : Jason Bateman, Rebecca Hall, Joel Edgerton

Jujur, siapa yang pernah membayangkan Joel Edgerton sebagai seorang sutradara? Terlebih lagi sebagai seorang sutradara yang mampu menggarap film sehebat The Gift. Film ini merupakan kejutan manis tahun lalu.

Rumah tangga Robyn dan Simon berjalan mulus sampai suatu hari Gordo, teman SMA Simon, datang dan mulai mengusik ketentraman mereka. Setidaknya dari sudut pandang Simon. Tidak pernah jelas apa sebenarnya yang melatarbelakangi tindakan Gordo. Bukan karena Gordo adalah seorang psikopat yang mengusik hidup orang untuk mendapatkan sensasinya. Ya, kita tahu ada masa lalu kelam antara Simon dan Gordo. Tapi bahkan hal itu tidak bisa diyakinkan kebenarannya oleh siapapun. Hal ini yang membuat The Gift semakin menyeramkan.

Joel Edgerton mengambil langkah gemilang untuk mengawali karirnya sebagai sutradara dengan film sekelas The Gift. Seperti rumah Simon dan Robin dengan jendela-jendelanya yang lebar, tidak ada tempat aman di The Gift. Tapi jendela-jendela itu lantas tidak menjadi jaminan atas kejelasan atau keterbukaan.

4. Taxi

taxi

Director                : Jafar Panahi

Cast                       : Jafar Panahi, Hana Saeidi

Cekalan yang datang langsung dari Negara tidak menghentikan Jafar Panahi untuk terus berkarya. Maka dari itu, selalu ada dorongan yang jelas di balik film yang ia buat. Tidak sekedar dorongan perlawanan, tapi sebuah kebutuhan. Hasilnya adalah This is Not a Film, yang dibuat dengan sumber daya seadanya. Tanpa perlu banyak bicara, This is Not a Film secara alamiah menggambarkan opresi itu sendiri. Begitu pula dengan Closed Curtain.

Tahun lalu, Jafar Panahi memasang beberapa kamera di sebuah taksi dan berkeliling Tehran, mengabadikan pembicaraan kecil dari setiap penumpang. Di dalam taksi itu, banyak wacana terlempar. Mulai dari masalah hukum di Iran hingga pujian dari penggemar. Tidak jelas apakah para penumpang tersebut terpilih secara acak atau memang telah dipersiapkan sebelumnya. Tapi kita tidak perlu tahu. Seharian berkendara bersama Jafar Panafi sudah cukup membuat frustrasi.

3. Nina Forever

NINA FOREVER, poster, Abigail Hardingham, 2015. © Epic Pictures Releasing

Director                : Ben dan Chris Blaine

Cast                       : Abigail Hardingham, Cian Barry, Fiona O’Shaughnessy

Ada yang bilang sebuah ide film gemilang datang dari pertanyaan sederhana. “Bagaimana jika sesuatu terjadi?” Sekarang, bagaimana jika seorang gadis yang tidak diterima dibilang lugu bertemu dengan seorang pemuda yang masih berduka atas kematian kekasihnya? Pikirkan sejenak, mungkin Anda akan mendapatkan sebuah kisah “Amour Fou” dengan akhir yang menghancurkan perasaan. Tapi tunggu! Mari kita tambahkan elemen lain. Sesuatu yang baru. Bagaimana jika almarhum kekasihnya muncul setiap kali mereka bercinta? Mungkin kini Anda mulai heran.

Tapi pengalaman itu dirasakan Holly di Nina Forever, yang mulai memupuk perasaan terhadap Rob. Kabar yang beredar, Rob mencoba bunuh diri setelah kecelakaan yang menewaskan kekasih sebelumnya bernama Nina. Holly tentunya kaget ketika Nina datang dari bawah kasur Rob, telanjang, masih dengan darah yang mengucur dan beberapa tulang yang remuk. Tapi hal ini tidak semata menghentikan Holly, yang justru menuai obsesi dan berusaha menerima hubungan ini dengan segala konsekuensinya.

Nina Forever adalah perpaduan unik antara horror, komedi satir, dan sedikit erotisme. Ketiga hal ini yang biasanya menjadi bahan utama untuk film gore kelas dua. Tapi, Nina Forever jauh dari kategori tersebut. Bukan berarti kategori itu selalu diisi film buruk. Dengan kekuatan emosional dan romansa yang cukup meyakinkan untuk menyentuh perasaan, Nina Forever secara unik dan cerdas menyajikan kompleksitas manusia yang terbebani duka dan kehilangan.

2. Victoria

2. vc

Director                : Sebastian Schipper

Cast                       : Laia Costa, Frederick Lau, Max Mauff, Eike Schulz

Banyak film yang mengambil latar waktu dan tempat terbatas. Sehingga tagline One City, One Night,” yang tertulis untuk film ini bukanlah suatu hal mengejutkan. “One Take,” bagian ini yang semula menarik perhatian terhadap Victoria. Kita tidak berbicara sulap Lubeszki dalam Birdman yang mencari celah di antara pintu dan batasan-batasan ruang. Sebastian Schipper hanya mengulang pengambilan gambar beberapa kali dan mengambil hasil terbaik. Hebatnya, bukan pencapaian teknis ini yang menjadi poin terkuat dari Victoria. Masuk ke tengah film, aspek teknis gemilang ini menjadi sekedar trivia.

Laia Costa sebagai tokoh tituler menghabiskan satu malam di Berlin. Berawal di lantai dansa bawah tanah, Victoria bertemu Sonne dan teman-temannya. Belum juga malam usai, saya sudah menyiapkan mental untuk menonton cinta yang bersemi antara Victoria dan Sonne. Rupanya, bukan itu yang terjadi. Victoria tiba-tiba banting setir sementara Sonne dan ketiga temannya menjalankan tindakan kriminal yang terpaksa melibatkan si gadis dari Madrid.

Dua jam lebih durasi film adalah pengalaman tak terlupakan bagi Victoria yang tidak pernah absen dari bingkai gambar. Hingga akhirnya dia lelah, meninggalkan penonton dan kembali ke hidupnya. Beberapa bagian film memang terasa membosankan dan mudah terlupakan. Tapi begitulah pengalaman Victoria, tidak selalu berjalan mulus, dengan dampak tak terkira.

1. Anomalisa

1. anomalisa-poster

Director                : Charlie Kauffman dan Duke Johnson

Cast                       : David Thewlis, Jennifer Jason Leigh, Tom Noonan

Benar, film ini masuk nominasi film animasi terbaik dalam edisi Academy Awards kemarin. Tapi itu saja tidak cukup. Anomalisa membawa pembicaraan besar mengenai krisis eksistensial di abad 21. Klaim tersebut bukanlah sebuah hiperbola atas karya terbaru dari Charlie Kauffman. Anda yang familiar dengan naskahnya untuk Being John Malkovich, Adaptation, dan tentunya Synecdoche, New York, tidak akan sulit untuk memahami, atau setidaknya, menikmati pemikiran Charlie Kauffman yang otentik.

Begitu pula kasusnya dengan Anomalisa, yang ia sutradarai bersama Duke Johnson. Dengan kontribusinya, Anomalisa menguak sisi paling manusiawi dari seorang Michael Stone yang tak puas dengan hidupnya. Keterlibatan Duke Johnson pula yang membuat saya tak hentinya membangun kongruensi dengan salah satu episode Community yang animasinya juga ia tangani. Tidak ada sedikitpun kongruensi, Anomalisa adalah babak lain dari penderitaan manusia yang tak kunjung usai.

Dengan mengenakan kedok animasi stop-motion, Anomalisa melepaskan diri dari realita dan berusaha mengupasnya. Hasilnya adalah sebuah gambaran cantik sekaligus menyedihkan tentang pria berumur yang belum juga mendapatkan kebahagiaan, bahkan kepastian dalam hidup. Tanpa ada satupun “manusia” di dalamnya, wacana yang terkandung dalam Anomalisa tidak hanya mengendap di relung jiwa terdalam. Anomalisa meluapkan seluruh isinya, yang tak lain terdiri dari kesepian, kekecewaan, dan perasingan. Beruntung masih ada satu atau dua tawa kering untuk mengurangi rasa depresi ketika menyaksikan Anomalisa.

[WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response