close

10 Lagu Internasional Terbaik 2017

lagu terbaik inter 1

 10. Japandroid – Near To The Wild Heart of Life

Judul dan narasi lagu ini diadaptasi dari novel perdana penulis legendaris Irlandia, James Joyce yang bertajuk A Portrait Of The Artist As A Young Man (1916). Brian King (vokal/gitar) menuturkan pertempuran hatinya untuk nekat angkat kaki dari Vancouver ke Toronto, sama seperti tokoh Daedalus (alter ego James Joyce) yang meninggalkan kampung halamannya yang sarat kekangan Katolik untuk mencapai apa yang disebut “kebebasan artistik”. Didukung efek overdub dan synthesizer, lagu ini kian berkobar-kobar siap mendobrak apapun yang mengekang.

 

 

9. Drake – Passionfruit

Bagaimana jika kamu tiba-tiba terjerembab dalam hubungan LDR? Padahal selama ini mengusung gaya pacaran dengan frekuensi bertemu yang lebih taat dibanding shalat 5 waktu? (“Listen / Seein’ you got ritualistic / Cleansin’ my soul of addiction for now /’Cause I’m fallin’ apart, yeah”). Entah ujungnya indah atau tidak, bumbu-bumbu konflik dalam pacaran jarak jauh selalu menghasilkan ombang-ambing antara situasi pesimistis dan optimistis.”Passionfruit” adalah nomor yang cocok untuk menikmati itu, merenungi kepercayaan yang runtuh sedikit demi sedikit bersama iringan dance pop bernuansa tropis.

 

 

8. Courtney Barnett ft Kurt Vile – Continental Breakfast

Ini yang akan membuat mbak-mbak indie pemuja totebag rupa-rupa dan musik-musik aneh itu bersorak artsy. Dua figur publiknya, Kurt Vile dan Courtney Barnett berkolaborasi menyanyikan sebuah lagu enak yang memenuhi syarat absurditas untuk dijagokan menjadi cult. Mendengar “Continental Breakfast” membuat kita seakan diajak sarapan bagel, waffle, sereal, atau muffin, beriring gitar akustik dan clean yang rileks bersawala, plus bercandaan internal yang kadang-kadang membuat kita tertawa kecil meski tidak tahu lucunya di mana.

 

7. The XX – On Hold

Jamie XX (DJ) mengatakan bahwa album solonya yang bertajuk In Colour(2015) bisa dilihat sebagai sketsa dari konsep album The XX selanjutnya. Salah satu pemenuhan janjinya adalah inisiatif penggunaan sample vokal pertama kalinya oleh band tersebut. Dan memilih lagu “I Can’t Go For That (No Can Do)” dari Hall and Oates adalah keputusan musikal yang brilian. Potongan lagu itu dialih bentuk dari nada R&B yang semi-funky menjadi kejutan lantai dansa yang bertimba karang.

 

 6. Future – Mask Off

Intro lagu perjuangan hak sipil dari Tommy Butler dan Carlton Willams, “Prison Songs” menemani Future melafalkan nama “percocets” dan “molly” berulang-ulang. Dua-duanya merupakan nama narkotik. Dari dua barang itulah Future tumbuh besar, lebih bernafsu mengejar uang daripada wanita, lalu kini menciptakan lagu yang paling laku sejauh kariernya.

 

5. Dua Lipa – New Rules

“Satu, jangan angkat teleponnya. Kau tahu ia hanya menelepon karena mabuk atau kesepian. Dua, jangan menerimanya lagi karena kelak kau harus mengusirnya kembali. Tiga, jangan pula menjadikannya teman. Kau tahu itu bisa membuatmu tiba-tiba terbangun di kamarnya di suatu pagi.”

– Aturan terbaru dari solidaritas kaum wanita untuk para bajingan di luar sana.

 

4. St Vincent – Los Ageless 

In Los Ageless / the mothers milk their young,” larik menarik dari St Vincent tentang Los Angeles sebagai kota pusat dunia hiburan, eksploitasi remaja, orangtua yang mengharap anaknya menjadi bintang televisi, L.A Sunset Trips, gadis-gadis penjual tampang bakat. Eksistensi berarti gol, nihil karya berarti terlupakan, membangun sesuatu untuk kemudian kehilangan kontrol atasnya. Tempat di mana kita bisa meraih sesuatu namun harus siap kehilangan sesuatu juga, termasuk kewarasan. Yang terakhir tadi terdengar sangat St Vincent bukan? Apalagi melodi gitar nyentrik yang menggelincir itu. Cuma ia yang tahu caranya.

 

3. Slowdive – Star Roving

Setelah turut berjasa memperkenalkan musik shoegaze di generasi X, Slowdive seketika menghilang lalu sekonyong-konyong datang lagi menjangkah dua dekade bagai penumpang mesin waktu dan membawa sebuah single yang bisa membuat generasi baru jatuh hati. Mereka bahkan belum pernah punya riff dreamy segagah ini. “Star Roving” benar-benar dikemas sebagai produk ideal yang sanggup menjerat hati pendengar yang bahkan asing dengan My Bloody Valentine atau entah dengan asal-usul nama shoegaze.

 

2. Lorde – Liability

Tentang ia yang baru saja tercampakkan dalam asmara karena dianggap sebagai beban, racun, borok pelanggar privasi, atau kanker yang terlampau jauh merongrong hidup orang lain. “So I guess I’ll go home, into the arms of the girl that I love/ The only love I haven’t screwed up/ She’s so hard to please, but she’s a forest fire.” Siapa gadis yang dimaksud? Ada jawaban menghunjam di belakang, “We slow dance in the living room, but all that a stranger would see/ Is one girl, swaying alone, stroking the cheek.” Menggetarkan, seakan ia akan lebur perlahan dengan kesepian. Sebuah lagu yang sanggup membuat kita ingin menolong dan mengulurkan tangan untuk sang naratornya. Dan bagi saya yang kadung jatuh cinta dengan warna suara Lorde, mendengarkannya bernyanyi hanya dengan iringan denting piano adalah karunia.

1. Kendrick Lamar – DNA

“Inilah kenapa saya mengatakan bahwa hip hop memberikan dampak lebih banyak ke anak muda African-American dibanding ke rasisme sendiri dalam beberapa tahun terakhir,” ucap reporter kawakan bernama Geraldo Rivera di Fox News, sebagai kritik untuk lirik lagu “Alright” dari Kendrick Lamar.

Apa yang dilakukan Lamar untuk membalasnya? Membuat lagu, sudah pasti. Namun, isinya bukan kumpulan kata “fuck“, sumpah serapah, atau slogan-slogan anti-rasisme. Lamar justru memberikan apa yang ingin didengar semua orang, termasuk apa yang ingin didengar Rivera. Ia menulis lagu yang menghadirkan banyak perspektif sekaligus, baik dari pribadi Lamar sendiri maupun orang-orang yang berseberangan dengannya. Ada glorifikasi, curhat, introspeksi, kritik. Ia mencaci bigot, industri musik, pemerintah, sesama kulit hitam, juga dirinya sendiri, Semua memberondong hingga kita tak lagi bisa ikut menyumbang komentar. Seperti diminta berdebat dengan senapan mesin.

Meski tiap lariknya seakan saling bersisalak satu sama lain, namun kita tahu ada amarah terpendam dengan sasaran yang jelas. Semua tersampaikan lewat teknik rap yang memukau dengan flow presisi dan susunan rima yang sangat catchy. “DNA” ialah lagu hip hop yang lebih membuatmu berhasrat menyanyikan bagian verse-nya dibanding chorus-chorus Katy Perry.

“I got, I got, I got, I got— / Loyalty, got royalty inside my DNA / Cocaine quarter piece, got war and peace inside my DNA / I got power, poison, pain and joy inside my DNA / I got hustle though, ambition flow inside my DNA”

Marah, cerdas, terkontrol.

Perihal takdir, identitas, dan komunitas terbayang. Lamar selalu selangkah lebih kritis–baik secara gagasan maupun estetika–untuk membicarakan wacana rasisme yang tak pernah sampai garis final ini. Biarlah berdedai-dedai musisi mencecar Trump, Lamar tetap fokus. Musuhnya adalah sistem.

Simak juga:

  1. lis 10 Album Internasional Terbaik 2017 dari WARN!NG!
  2. lis 10 Album Indonesia Terbaik 2017 dari WARN!NG!
  3. lis 10 Lagu Indonesia Terbaik 2017 dari WARN!NG!
Tags : kendrick lamar dnalagu internasional 2017lagu internasional terbaiklagu terbaik 2017
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response