close

10 Lagu Terbaik Dalam Filmografi Martin Scorsese

tumblr_inline_mnycjp9RhS1qz4rgp

Kini, setiap minggunya episode terbaru Vinyl terus dirilis di HBO. Martin Scorsese, dibantu Mick Jagger, Rich Cohen, dan Terence Winter, masih bisa memuaskan segala ekspektasi. Utamanya dalam pilihan lagu-lagu yang mengiringi perjalanan industri musik di era 70-an. Namun, kita tidak akan berbicara panjang tentang serial TV tersebut.

Vinyl sekedar mengingatkan kita dengan kecintaan Martin Scorsese terhadap musik, di samping film. Jangan lupakan pula Shine a Light, No Direction Home, dan tentunya The Last Waltz. Tiga dan beberapa judul rockumentary lain yang pernah digarapnya banyak dianggap sebagai yang terbaik.

Entah itu Soul, RnB, atau Rock and Roll, soundtrack selalu menjadi salah satu bagian paling mengesankan dari film-film Martin Scorsese. Sejak Mean Streets, penggunaan musik kontemporer telah menjadi salah satu keunikan tersendiri dari setiap filmnya. Wes Anderson dan Quentin Tarantino tentunya belajar banyak dari sang maestro untuk mencari dan memadukan lagu yang tepat untuk memberi penekanan dalam sebuah scene. Tanpa berpanjang-panjang, berikut beberapa contoh terbaik dalam filmografi Martin Scorsese.

Martin Scorsese
Martin Scorsese
  1. “Mercy, Mercy, Mercy” oleh Cannonball Adderley, The Wolf of Wall Street

Jordan Belfort baru saja berpijak di Wall Street dengan sejuta mimpi dan ambisi. Ia menerobos padatnya pusat perekonomian yang tak kenal ampun itu. “Mercy, Mercy, Mercy” melantun indah, memercik optimisme di hari pertama Jordan Belfort bekerja di Wall Street. Sekaligus menekankan kesan berkelas dari kawasan tersebut. Kendati tak lama terdengar, lagu ini sukses menguak sisa-sisa perasaan di tengah lebatnya hutan beton yang berdiri kokoh, dingin, dan tak berperasaan. “Mercy, Mercy, Mercy” di sisi lain juga menjadi kesaksian terakhir kenaifan Jordan Belfort yang perlahan, meski dari awal, keranjingan nafsu kapitalisme.

 

 

  1. “Pay to Cum” oleh Bad Brains, After Hours

Di luar Club Berlin, Paul Hackett (Griffin Dune) berusaha masuk untuk menemui dua kenalannya yang terlebih dulu tiba. Masalahnya cuma satu, rambut rapih Paul tidak sesuai dengan aturan “Mohawk Day,” tema malam itu. Setelah melucuti hampir seluruh uangnya, seorang bouncer akhirnya mengantar Paul masuk ke dalam. Paul justru digiring ke sekumpulan anak punk bersenjatakan mesin cukur. Paul meronta-ronta melindungi rambutnya yang telah dipapas sebagian. Scene ini, sebagaimana keseluruhan filmnya, harusnya terasa konyol. Namun tempo “Pay to Cum” yang tak kenal ampun membuatnya lebih terasa seperti video klip “Broken” milik Nine Inch Nails.

https://www.youtube.com/watch?v=wcVMQy95aM8

 

 

  1. “Meth Lab Zoso Sticker” oleh 7Horse, The Wolf of Wall Street

Dari semua nama dalam list ini, 7Horse bisa jadi merupakan yang paling kalah pamor. Tapi, jangan abaikan pengaruhnya di surat cinta Scorsese terhadap kapitalisme ini. Sejak dipakai di trailernya saja, “Meth Lab Zoso Stickers” dengan mulus melebur dengan tema besar The Wolf of Wall Street. Diawali ketukan drum statis namun tegas, “Meth Lab Zoso Stickers” dengan vulgar memancing bermacam nafsu duniawi bagi para pendengarnya. Contohnya saja bersenggama di atas tumpukkan uang sebelum menempelkannya ke badan seorang stripper untuk diselundupkan ke Swiss.

 

 

  1. “Let It Loose” oleh The Rolling Stones, The Departed

Sejatinya tidak ada korelasi langsung antara scene dengan lagu ini. Namun impresi yang ditinggalkan begitu kuat. Tensi kencang terbangun ketika Costigan, seorang polisi samaran akhirnya bertemu dengan target utamanya, Frank Costello. Mr. French mulai menyidak seluruh tubuh Costigan berdasarkan rasa tidak percaya, tak terkecuali tangannya yang baru saja diperban. Setelah itu siksaan fisik dan verbal mulai menghujani Costigan yang mati-matian berusaha mendapatkan kepercayaan. Anehnya, hal ini terasa wajar, layaknya seorang bapak yang sedang mengajari anaknya satu dua hal tentang hidup yang mengenaskan. Ironi mulai terasa mengingat dari sinilah relasi antara mereka berdua mulai tumbuh didasari rasa hormat dan percaya.

 

 

  1. “Janie Jones” oleh The Clash, Bringing Out the Dead

Tidak hanya Travis Bickle, rupanya ada pengemudi sakit jiwa lain yang tinggal di Hell’s Kitchen. Namanya Frank Pierce, seorang pengemudi shift malam dengan cacat karakternya tersendiri. Dalam salah satu film Scorsese yang sering terlupakan ini, Nicolas Cage menggunakan trik andalannya untuk membuat kita bingung menempatkannya sebagai aktor hebat atau sekedar gila. “Janie Jones” tak hentinya berusaha mengimbangi cara berkendara Frank yang membuat para supir Metro Mini terlihat begitu santai. Aspal basah yang ia sikat dengan bernas semakin membuat kita ketagihan dengan pusing yang dihasilkan.

 

 

  1. “Werewolves of London” oleh Warren Zevon, The Color of Money

Warren Zevon adalah seorang ahli dalam urusan menggali emosi lewat lirik. Setiap lagunya mampu membuat hati kita renyuh, terkadang tertawa, atau sekedar berfantasi jauh. Dalam kasus The Color of Money, “Werewolves of London” membawa Tom Cruise menjadi raja di pinggir pool billiard. Layaknya Johnny Boy di Mean Streets, Vince adalah seorang pria yang mengira ia bisa menguasai dunia dengan kharismanya. Sebuah klaim yang ia buktikan dalam scene ini. Bola demi bola ia jebloskan dengan sombong, sambil memainkan pool cue layaknya sebuah katana. Ini merupakan salah satu momen dimana Tom Cruise mengeluarkan sisi konyolnya dengan menari gila tanpa ingat citra. Tapi tentunya belum sebanding dengan nomor dansanya di Tropic Thunder.

 

 

  1. “Layla” oleh Derek and the Dominos, Goodfellas

Dari lagu The Crystals hingga Cream, Goodfellas memang dipenuhi banyak soundtrack ikonik. Memilih beberapa di antaranya bukanlah keputusan yang gampang diambil. Bagaimanapun, coda “Layla” merupakan yang paling brilian sekaligus efektif. Komposisi gitar dan piano yang surgawi menjadi kontras dari mayat-mayat yang ditemukan di tumpukan sampah dan tergantung di dalam truk es. Dengan lagu ini pula Jimmy Conway bisa menenangkan diri setelah mengeksekusi kroco-kroconya yang kelewat batas dan tidak mengindahkan peringatannya. “Layla” memberikan penonton sebuah gambaran yang tak kalah jelas dibanding narasi Ray Liotta.

 

 

  1. “Jumpin’ Jack Flash” oleh The Rolling Stones, Mean Streets

Setelah menggoda seorang pegawai, Johnny Boy berjalan pelan, menggandeng Sarah Klein di lengan kirinya dan Heather Weintraub di sisi lain. Warna merah yang menerangi bar juga menonjolkan pribadinya yang lacur dan luwes. Di ujung bar, Charlie menunggu, menyembunyikan banyak khawatir terhadapnya. Riff gitar “Jumpin’ Jack Flash” selaras dengan gaya gual-gail Johnny Boy yang selalu membawa banyak masalah dan mau. Tanpa berpikir dua kali, ia siap untuk merepotkan orang di sekitarnya. Johnnya Boy adalah pengaruh buruk yang harus dijauhi. Tapi bagaimana bisa? Kedatangannya saja sudah begitu penuh pesona dalam scene ini.

 

 

  1. “Late for the Sky” oleh Jackson Browne, Taxi Driver

Karya Bernard Herrmann yang begitu menggoda dan bernoda dalam Taxi Driver merupakan salah satu komposisi musik terbaik untuk sebuah film. Tapi lagu Jackson Browne satu inilah yang secara sederhana merangkum kesepian batin Travis Bickle. Setelah mengklaim korban pertama dari aksi main hakimnya sendiri, Travis berkontemplasi di apartemennya. Dengan pikiran yang entah kemana, ia menodongkan pistolnya ke sekumpulan muda-mudi yang sedang berdansa pelan di acara TV American Bandstand. “Late fo the Sky” membawa Travis Bickle mengawang mencari pembenaran, sekaligus tetap terisolir pada satu ide banal. Scene ini pula yang turut mematenkan status Robert De Niro sebagai salah satu aktor terbaik di masanya.

 

 

 

  1. “Gimme Shelter” oleh The Rolling Stones, The Departed

Mungkin artikel berjudul “Sekian Lagu The Rolling Stones Terbaik Dalam Film Martin Scorsese” seharusnya dibuat sendiri. Kecintaannya terhadap Mick Jagger dan  kawan-kawan sudah menjadi rahasia umum, terutama pada nomor pembuka Let It Bleed. Tidak hanya The Departed, “Gimme Shelter” juga bisa didengar samar di Goodfellas dan Casino. Bedanya, pengaruh lagu ini dalam The  Departed lebih besar lantaran dipakai untuk mengiringi backstory sekaligus menyusun corak keseluruhan film. “Rape, murder, it’s just a shot away,” penggalan lirik itu bisa menjadi rangkuman pendek The Departed. Ya, memang secara eksplisit tidak ada pemerkosaan di film ini. Tapi raungan Mick Jagger dan suara Merry Clayton yang sampai pecah cukup untuk memperingatkan penonton pada banyaknya tindakan maksiat yang terjadi sepanjang The Departed.

 

[WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response