close

10 Most Influential LGBT Musicians

LGBT MUSICIANS
lbgt musician
lbgt musician

Setelah dilarang masuk kampus oleh Menristek, dikecam oleh Mendikbud, dibuatkan Rancangan Undang-Undang anti LGBT oleh DPR, Februari lalu aksi pro-demokrasi yang ingin menandingi aksi organisasi fasis di Jogja juga ditahan aparat. Menambah daftar panjang sejarah aksi diskriminatif di Indonesia terhadap kalangan-kalangan minoritas, kalangan yang sebenarnya menjadi mayoritas dalam skema kependudukan masyarakat Indonesia sendiri.

Sementara itu, reaksi-reaksi berlebihan terhadap isu Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) diikuti dengan kebijakan di lapangan yang semakin mematikan kebebasan untuk berpikiran terbuka, seperti penyensoran dan pemblokiran salah satu situs blogging populer. Konyol sekali misalnya ketika melihat gambar animasi disensor dan kearifan lokal yang ditampilkan lewat kebaya diblur oleh KPI. Dianggap sebagai bagian dari propaganda pro-LGBT katanya. Hei, Tuan dan Nyonya belajar logika sudah sampai mana? (lirik lagu “Pidato Retak” – Sisir Tanah, red).

Entah apa yang ada di kepala orang-orang tersebut. Atau melihat sejarah panjangnya, mungkinkah diskriminasi memang hobi yang dimiliki Indonesia? Jika memang hobi, tidak adakah yang mau berganti hobi untuk lebih memberikan perhatian saja pada karya apa yang sudah dihasilkan seseorang ketimbang latar belakang, warna kulit, tuhan mana yang ia sembah atau apa jenis kelamin orang yang ia cintai?

Kalau doktrin yang mengarah ke fanatisme buta terhadap agama, politik, hukum, moral atau apapun sudah sanggup mengalahkan kemanusiaan, selamat datang di jaman edan.

WARN!NG dengan senarai ini, ingin ikut meramaikan edukasi publik tentang pentingnya memelihara nalar untuk mempertahankan kemanusiaan dan kreatifitas. Nama-nama di bawah ini membuktikan bahwa latar belakang, termasuk orientasi seksual, tidak menghalangi mereka untuk punya karya-karya terdepan yang tidak hanya populer, tapi juga menginspirasi dunia. Jika Dorce Galamama punya band dan menggarap album-album musik secara serius, saya tidak akan ragu memasukkannya di daftar ini. Tapi sementara ini, mari kita hormati beliau sebagai salah satu ikon transgender Indonesia yang berani terbuka dan memperjuangkan identitasnya.

Silakan disimak, semoga tidak lalu menghapus lagu-lagu mereka dari playlist kalian.

 

Melissa Etheridge
Melissa Etheridge

10. Melissa Etheridge

Ikon rockstar perempuan tahun 1990’an ini ternyata juga adalah ikon lesbian di dekade yang sama. Karier musiknya sebagai rockstar sendiri meroket sejak album Yes, I Am yang dirilis tahun 1993. Ia kemudian memenangkan dua piala Grammy. Pernyataan terbuka tentang orientasi seksualnya cukup menghebohkan pasalnya dilakukan di panggung perayaan pertama Presiden Clinton, “I remember walking up and on the microphone, with thousands of people going, well, you know, I’m proud to have been a lesbian all my life,” ujarnya pada CNN.

 

ricky martin
ricky martin

9. Ricky Martin

Penyanyi asal Puerto Rico ini membuka seluruh pengakuan tentang orientasi seksualnya dalam sebuah buku berjudul Me yang diterbitkan tahun 2010. Pelantun lagu “Livin La Vida Loca” ini sebelumnya menutupi identitasnya demi alasan kelancaran karier. Kariernya di industri musik memang mulus, tapi ternyata tidak sanggup menutupi siapa dirinya yang sebenarnya. “If I’d known how good it was going to feel, I would have done it 10 years ago,” ungkapnya. Saat ini Ricky Martin punya dua anak kembar, Matteo and Valentino yang dilahirkan lewat ibu pengganti. Ia juga membuat Ricky Martin Foundation, sebuah yayasan advokasi yang fokus pada jaminan kesejahteraan anak=anak.

 

lady gaga
lady gaga

8. Lady Gaga

Lewat deretan lagunya, “Born This Way”, “Poker Face”, dan penampilan provokatifnya di berbagai kesempatan, Lady Gaga tidak pernah menutupi bahwa ia adalah biseksual. Saat tampil di Berghain Club, Jerman tahun 2009 ia menyatakan bahwa identitasnya itu bukan strategi marketing. “You know what? It’s not a lie that I am bisexual and I like women, and anyone that wants to twist this into ‘she says she’s bisexual for marketing,’ this is a fucking lie. This is who I am and who I have always been.”  Gaga juga kerap beraksi dalam kampanye-kampanye LGBT dan kesetaraan gender. Seperti turun dalam parade National Equality March di Washington tahun 2009, dan menggalang dukungan lewat twitter agar Senator New York menyetujui Undang-Undang tentang legalisasi pernikahan sesama jenis.

 

jonsi
jonsi

7. Jonsi Birgisson (Sigur Rós)

Jonsi biasanya dikenal sebagai frontman salah satu band post-rock paling influental sepanjang masa, Sigur Rós. Dengan vokal falset, permainan instrumen dan bahasa ‘Hopelandic’nya, Sigur Rós telah melahirkan album-album epik. Namun menarik juga melihat Jonsi sebagai individu, ia mengakui secara terbuka sejak awal bahwa ia adalah seorang gay. Jonsi bahkan telah merilis sejumlah karya dengan pasangannya Alex Somers. Tidak ada yang sensasional dari kisah mereka berdua. Seperti sepasang kekasih yang berkarya bersama, mereka membentuk kolaborasi seni bernama ‘Jonsi & Alex’ tahun 2003, menerbitkan sebuah buku, merilis sebuah album Riceboy Sleeps tahun 2009, membuat karya visual dan terus berduet sampai sekarang. Alex Somers sendiri sebelumnya kerap menggarap visual untuk album-album Sigur Rós. Fansnya pun tidak mempermasalahkan orientasi seksual Jonsi. Lagipula kalau ada yang perlu diurusi, ketimbang orientasi seksual Jonsi, rasanya mengulik lirik Sigur Rós dulu terasa lebih krusial. Itu saja kita merasa tidak perlu melakukan bukan?

 

Ma Rainey
Ma Rainey

6. Ma Rainey

‘Mother of Blues’, begitu Ma Rainey disebut. Jauh sebelum kampanye kesetaraan hak dan legalisasi pernikahan LBGT muncul, Ma Rainey telah membuat heboh dunia dengan aktivitas seksualnya yang terlalu vulgar tahun 1925. Ia mungkin bukan orang pertama yang memainkan musik blues, tapi ia telah diakui jadi orang yang membawa blues jadi sepopuler sekarang. Ia pernah membuat band bersama Louis Amstrong, Thomas Dorsey dan Coleman Hawkins.Tahun 1928, ia merilis “Prove it on Me Blues”, dengan lirik lugas tentang hasratnya pada sesama perempuan. “Went out last night with a crowd of my friends, They must have been women, ’cause I don’t like no men,” nyanyinya. Bersama pasangannya Bessie Smith, mereka kerap membuat aksi kontroversial, sampai ditahan polisi karena aksi seksual mereka yang terlalu vulgar.

 

lauren jane grace
lauren jane grace

5. Lauren Jane Grace (Againts Me!)

Keputusan Tom Gabel untuk jadi transgender dan mengubah namanya jadi Lauren Jane Grace mungkin harus dicatat dalam sejarah punk dunia. Pengumuman dan cerita hidup pelantun anthem punk “I Was a Teenage Anarchist” ini diungkap dalam Rolling Stone edisi Mei 2012. Saat itu, ia berumur 31 tahun dan mengaku menjalani sebagian besar hidupnya dalam gender dysphoria yang membuatnya frustasi. Istrinya Heater Hannoura menerima keputusan tersebut, walaupun akhirnya pada 2014 mengajukan cerai. Pengumuman yang tentu saja mengejutkan mengingat Tom Gabel sebelumnya telah jadi ikon genre musik yang dibangun dalam simbolisme maskulinitas ini. Beruntung, orang-orang, band, dan fansnya tidak seterkejut itu untuk berhenti mendukungnya. “Totally humbling how many people would be waiting out back — new fans and members of the LGBT community,” ujar Laura Jane Grace mengomentari suksenya tur Against Me! yang diadakan hanya seminggu setelah pengumuman itu dirilis.

Dengan tato yang masih memenuhi tubuh dan suaranya yang tetap gahar walaupun tengah menjalani terapi hormon, Laura Jane Grace melanjutkan karirnya. Tahun 2014, Against Me! meluncurkan album keenam mereka, Transgender Dystophia Blues yang kemudian jadi salah satu album punk-rock terbaik tahun 2014. Tentu saja album ini berisi statement dan keputusan fenomenalnya tersebut. Sepertinya, selain bergantinya istilah frontman menjadi frontwoman, Against Me! tidak kehilangan tajinya dalam meramu musik protes yang garang.

 

elton john
elton john

4. Elton John

Sebagai musisi, nama Elton John sudah tentu masuk dalam daftar musisi tersukses sepanjang masa. Namun ternyata butuh waktu yang setara dengan pembuatan 30 album musik sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengungkap identitasnya sebagai homoseksual. Sebelumnya, ketika ditanya tentang orientasi seksualnya, ia kerap mengeluarkan komentar-komentar ambigu. Beberapa bulan setelah album ke-30nya The Union dirilis, Elton John akhirnya terbuka terhadap publik dan menikahi kekasihnya David Furnish pada 21 Desember 2005, juga bersamaan dengan pengakuan pemerintah Inggris terhadap samesex civil partnerships. Ia juga mendirikan Elton John AIDS Foundation tahun 1992, dan telah mengalirkan jutaan dollar untuk aksi pencegahan atau perawatan pasien AIDS di seluruh dunia.

Paska keterbukaannya ke publik, kehidupannya dengan David Furnish tidak terlalu banyak terpengaruh. Bahkan mereka mengadopsi Zachary Jackson Levon Furnish-John dan Elijah Joseph Daniel Furnish-John tahun 2010.  Dua-duanya lahir dari ibu pengganti di California. Sampai saat ini mereka hidup rukun layaknya sebuah keluarga normal. Tampaknya bisa jadi referensi untuk mereka yang lebih sibuk mengurusi gawatnya punya dua ayah atau dua ibu ketimbang limpahan cinta orang tua dan kualitas pendidikan anak yang mumpuni.

 

freddie mercury
freddie mercury

3. Freddie Mercury (Queen)

Dirilis Queen sebagai single album Night at the Opera tahun 1975, “Bohemian Rhapsody” mungkin sudah bisa diamini sebagai salah satu lagu terpopuler sepanjang masa. Yang banyak orang belum tahu, “Bohemian Rhapsody” ditulis Freddie Mercury sebagai coming-out statement-nya ke publik sebagai seorang gay. Sebelumnya, selain melalui celana super ketat yang ia kenakan, Mercury lebih banyak bungkam tentang kehidupan seksualnya. Dengarkan lirik “Mama, I just killed a man… Put a gun against his head, pulled my trigger, now he’s dead” yang seolah menggambarkan Mercury yang tengah membunuh ‘versi lama’ dari dirinya, termasuk kehidupan heteroseksualnya. Sebuah laku musisi tulen yang mencurahkan seluruh hidupnya jadi sebuah hit, yang pantas saja jadi legenda.

Sayangnya, Freddie Mercury meninggal pada 24 November 1991, sehari setelah publik mengetahui bahwa ia mengidap virus AIDS. Setahun setelah itu, anggota Queen yang tersisa bersama dengan Robert Plant, Roger Daltrey, Elton John, Metallica, David Bowie, Guns N’ Roses dan U2 membuat konser The Freddie Mercury Tribute Concert for AIDS Awareness dan menggalang dana penyakit AIDS untuk seluruh dunia.

 

rob halford
rob halford

2. Rob Halford (Judas Priest)

Untuk seorang penganut heavy-metal, adalah sebuah tindakan ahistrois ketika anda sudah memakai jaket kulit, piercing, tato, aksesoris besi, sepatu boots, ikut headbang gila, meramaikan moshpit, scream sampai tenggorokan sakit tapi mengolok-olok LGBT. Rob Halford dan bandnya Judas Priest, jelas-jelas adalah salah satu sesepuh heavy metal dunia dan secara terbuka ia mengakui dirinya seorang gay!

Pernyataannya sang ‘Metal God’ di MTV tahun 1998 yang berbunyi “I think that most people know that I’ve been a gay man all of my life, and it’s only been in recent times it’s an issue I feel comfortable to address… and this is the moment to discuss it,” seolah menampar mentah-mentah anggapan bahwa musik metal dipenuhi homophobic yang mendewakan simbol-simbol kejantanan. Meskipun mengaku bahwa gaya fashionnya tidak dipengaruhi orientasi seksualnya, diakui atau tidak style Halford ini telah membentuk salah satu kultur metal di dunia. Vokalis yang sudah pernah memenangkan Grammy Award ini mengaku telah memasukkan banyak sekali metafor tentang LGBT dalam diskografi Judas Priest, ia juga terus mendukung agar skena heavy metal lebih terbuka terdahap orientasi seksual seseorang. Karena musik keras akan tetap keras walaupun dinyanyikan oleh seorang penyuka sesama jenis.

 

bowie
bowie

1. David Bowie

Bowie punya sejarah yang unik tentang orientasi seksualnya. Sebelum musisi lain berani terbuka ke publik, Bowie bahkan telah bergonta-ganti orientasi seksual secara gamblang. Pernah mengaku sebagai gay, lalu biseksual, lalu menikah dua kali dengan perempuan, dan punya anak. Sebuah track-record yang tidak terlalu jelas, dan memang dibiarkan Bowie begitu bahkan sampai kematiannya awal tahun 2016 lalu.

Di majalah Melody Maker tahun 1972, ia mengaku sebagai gay. Dalam buku The Biography Bowie yang ditulis Wendy Leigh, mantan istri Bowie bahkan mengaku pernah melihat Bowie dan Mick Jagger sedang bersama di ranjang. Empat tahun kemudian, 1976 di Playboy ia mengaku biseksual, “that fact very well. I suppose it’s the best thing that ever happened to me.” Beberapa tahun kemudian, ia mengaku ke Rolling Stone bahwa dia tidak pernah merasa benar-benar nyaman jadi biseksual. Tapi topik mengenai inkonsistensi orientasi seksual Bowie ini rasanya terlalu kecil jika dibandingkan dengan apa yang sudah ia lakukan melalui musiknya untuk dunia.

Sang Ziggy Stardust telah membuktikan bahwa dirinya adalah ikon, yang bebas dari kungkungan stereotype apapun. Style Bowie cenderung androginy, eksperimental, glamor dan berani. Bukan maskulin, bukan feminim, bukan rock, bukan pop, bukan metal, bukan homoseksual, bukan heteroseksual, ia adalah yang liyan. Ketidakjelasannya ini yang justru membebaskannya dalam berkarya, dalam mengambil sikap, sambil diam-diam berhasil masuk ke kepala orang-orang di seluruh dunia dan meninggalkan inspirasi di sana. Bowie, harus diakui, dalam satu konteks, telah membebaskan diri dari orientasi seksual dan identitas gender. Yang ia lakukan hanya membuat kerya bagus, lain tidak.

 

 [WARN!NG/Titah Asmaning]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response