close

[Album Review] V/A Bali Bergerak

index
Bali Bergerak !!!
Bali Bergerak !!!

V/A Bali Bergerak

ForBali

Watchful shot: “Serenada”, “Bali Tolak Reklamasi”, “Endonesya Katanya”,

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Musik adalah senjata, senjata dalam ‘jor-joran’ dengan kawan maupun dalam ‘dor-doran’ dengan lawan” – Njoto (Seniman / Pimpinan Redaksi Harian Rakjat)

Tepat satu tahun yang lalu, kompilasi bertajuk Bali Bergerak!!! ini dirilis. Sebuah kompilasi sarat pesan yang diinisasi dari seniman-seniman Bali dalam upayanya menolak reklamasi teluk Benoa. Kompilasi lintas genre ini berisi empat belas band, mulai nama tenar macam Superman Is Dead, Navicula hingga ke band-band bawah tanah macam Ugly Bastard.

Gubahan lagu Iwan Fals, “Serenada” didapuk sebagai pembuka. Dibalut dengan musik punk rock, “Serenada” yang sudah kuat sejak dalam liriknya, menguatkan fungsi musik—meminjam kata-kata Njoto—sebagai senjata jor-joran bersama kawan-kawan yang berjuang.

Tetap dengan punk rock, tensi semakin dinaikan di lagu kedua. The Dissland dengan penuh amarah, mencaci pembangunan-pembangunan yang merusak lingkungan lewat lagu “Kayu Besi Tanah Air Ibu Pertiwi”.

Di lagu keenam, The Hydrant mencuri perhatian lewat “Proyek”. Seperti mendengar pengamen jalanan yang muak melihat keadaan disekitarnya. Dengan diksi yang sangat sederhana, simak baris Hati-hati ada proyek, maaf perjalanan bapak terganggu. Di sepanjang jalan Legian – Kuta proyek itu selalu ada / Para turis juga jadi proyek. Hutan mangrove juga jadi proyek./ hati-hati ada proyek.” Terasa mewakili kemuakan pemuda lokal doyan nongkrong yang resah kampung halamannya berhenti nyaman.

Lirik-lirik berbahaya di album ini datang dari Nosstress dan Made Mawut. “Endonesya, Begitu Katanya” membuktikan tak perlu distorsi untuk menghasilkan lagu dengan daya ledak tinggi. Lewat folk yang ceria, Nosstress mempreteli satu-satu sesat tafsir dari nilai-nilai Pancasila dengan analisis yang kritis tanpa mengabsenkan humor. Pun begitu dengan nomor blues “Krisis Pangan” mengingatkan kembali bagi kita yang ahistoris bahwa bangsa ini—selain, ya pernah dijajah bangsa asing—punya alam yang kaya, baik di laut dan tani. Made mawut juga menunjukan kekesalannya melihat lahan-lahan yang berubah jadi toserba dan pangan yang diimpor.

Lalu ada dua nomor populer, “Water Not War” dari Superman Is Dead dan “Mafia Hukum” dari Navicula. Bukan lagunya yang mencuri perhatian saya—kedua nomor tadi sudah terlanjur tenar—namun bagaimana dua musisi besar ini mengambil bagian dalam gerakan ini. Tentu menarik, mengingat posisi mereka yang sudah berada zona nyaman, tapi masih berperan di gerakan seperti ini. Diakui atau tidak, band-band dengan basis pendengar yang banyak, memegang peran penting dalam persebaran sebuah pesan yang dibungkus lewat musik. Oh, andai ada lebih banyak lagi musisi-musisi populer seperti ini.

Nomor pamungkasnya ada di lagu terakhir bertajuk “Bali Tolak Reklamasi”. Entah mengapa lagu ini tak masuk dalam daftar lagu di album kompilasi. Dibawakan oleh musisi yang tergabung dalam Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBali), sebuah anthem yang telah berperan membakar semangat saat aksi-aksi tolak reklamasi berlangsung baik di jalanan maupun dari panggung ke panggung. Bagi yang belum familiar, simak lirik bernas karya Nosstress dan Agung Alit berikut:

Bangun Bali subsidi petani, kita semua makan nasi, bukannya butuh reklamasi / keputusan bau konspirasi, penguasa pengusaha bagi komisi, konservasi dikhianati / bangun bali, tolak reklamasi, sayang bali tolak reklamasi / bangung bali tolak dibohongi, rusak bumi dan anak negeri

Yang terpenting dari kompilasi ini tentu selebaran yang ada didalamnya. Sebuah manifesto Bali Bergerak. Pernyataan sikap musisi-musisi yang tergabung dalam ForBali. Di lembaran ini juga dipaparkan tiga belas alasan yang sangat logis mengapa kita harus menolak reklamasi teluk Benoa.

Musik mungkin tidak secara langsung menghentikan reklamasi, tapi tidak bisa tidak, kompilasi Bali Bergerak!!! adalah sebuah ikhtiar bernas dalam rangka persebaran pesan seluas-luasnya, apalagi belakangan ini kaum muda—mungkin juga yang tua— penikmat musik indonesia sedang memposisikan rilisan fisik di tempat yang agung. Dan jika pesan sudah sampai seluas-luasnya, tinggal tunggu waktu untuk melihat kemenangan di hari-hari esok. [WARN!NG/ Tomi Wibisono]

 

 

 

13 alasan menolak reklamasi teluk benoa
13 alasan menolak reklamasi teluk benoa

 

Tags : album reviewbali tolak reklamasi
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response