close

[Movie Review] La La Land

La La Land Poster

Sutradara: Damien Chazelle

Pemain: Emma Stone, Ryan Gosling, John Legend, J. K. Simmons, Sonoya Mizuno

Durasi: 128 menit

Studio: Gilbert Films, Impostor Pictures, Marc Platt Productions (2016)

 

Selain menjadi penguasa galaksi atau berkarir sebagai gentleman thief macam Danny Ocean, cita-cita besar lain saya adalah hidup dalam dunia musikal. Meski tidak punya sedikitpun bakat tarik suara, saya sering mencoba merealisasikan mimpi ini saat sedang berdesak-desakan di KRL bersama para kaum pekerja Ibukota. Awalnya, saya akan mengenakan headset dan mulai bersenandung kecil, berharap ada orang lain yang turut terinfeksi hingga bergantian mengisi lirik yang langsung terluap dari dalam hati.

Suasana dalam gerbong semakin menggila, seluruh penumpang menari kegirangan. Kecuali seorang gadis yang termenung lesu di pojok kereta. Melihat ini, saya dengan penuh percaya diri menjulurkan tangan kepadanya. Lalu kami mulai berdansa waltz, atau cha-cha, atau apapun, sambil terkekeh-kekeh menertawai keahlian masing-masing yang seadanya.

Pada titik ini biasanya ilusi sepenuhnya buyar. Bukannya larut dalam ekstase musik dan dansa, sang gadis justru menampar keras pipi saya. Disusul segerombolan bapak-bapak yang mengenakan atribut militer imitasi. Ya, mau bagaimana lagi? Jangankan untuk memulai nomor musikal cantik seperti itu, masuk kereta melewati gerbong khusus wanita saja sudah dikira punya intensi cabul.

Untungnya, tersedia banyak pengobatan untuk menangani fantasi impoten semacam ini. Beberapa merek yang ditawarkan antaranya Chicago, Cabaret, Singing in the Rain, dan tentunya The Rocky Horror Picture Show bagi anda yang sedikit nyentrik. Entah berlatar di Inggris era Edwardian atau West Side Manhattan tahun 50-an, film musikal memberi satu kepastian, bahwa tidak ada emosi yang terlalu kompleks untuk disampaikan melalui musik dan tari. Tak heran kalau Uni Soviet juga banyak mengandalkan musikal untuk mempermulus propaganda dan kontrol sosialnya.

La La Land banyak bergantung pada formula ini untuk menyajikan pengalaman sinematik paling murni sepanjang tahun. Satu semangat dengan fantasi KRL saya, La La Land dimulai dengan ansambel catchy “Another Day of Sun” di tengah hiruk-pikuk kemacetan Los Angeles. Namun, kurang dari lima menit menonton, jelas terasa kalau film ini berada di ruang-waktu yang berbeda. Kurang dari lima menit pula, anda dijamin tenggelam dalam ruang-waktu tersebut.

Long-take sering diandalkan sinematografer Linus Sandgren untuk mengimbangi tempo jazz garapan Justin Hurwitz yang sudah familiar melalui Whiplash. Sensasi art-house La La Land merupakan sebuah pencapaian teknis. Puncaknya adalah sebuah adegan pesta besar-besaran yang diiringi hentakan megah “Someone in the Crowd”. Seluruh sistem penginderaan akan habis dibanjiri kekayaan warna technicolor yang mendobrak kemustahilan.

Sejujurnya, saya sudah tidak tahu harus bicara apa lagi. Tulisan ini bakal penuh dengan lanturan puja-puji. Perasaan merinding dan titisan air mata bahagia menjelma jadi kata-kata. Terdengar berlebihan memang, tapi anda sudah diperingatkan sebelumnya. Tunggu saja sampai La La Land mendapat banyak penghargaan dan membangun sensasi luar biasa hingga konglomerat bioskop Indonesia terpaksa untuk memutarnya.

Di balik riuh gempitanya, jantung perasaan La La Land terletak pada Mia, aktris muda penuh bakat dengan mimpi besar untuk sukses di Hollywood. Sembari mengikut sekian banyak kasting hanya untuk dipermalukan habis-habisan, Mia menyambung hidup dengan bekerja sebagai barista di Warner Brothers Studio. Suatu malam ia berjalan melewati klub jazz dan mendengar alunan piano Sebastian, seorang musisi jazz garis keras yang berambisi untuk membuka klub sendiri.

Mulai dari simpulan nasib ini, Mia dan Sebastian semakin dekat dan yang tak terhindari akhirnya terjadi, mereka jatuh cinta. Namun, di Los Angeles lamunan indah bisa berubah menjadi mimpi buruk ala Mulholland Drive dalam sekejap. Tidak, Mia tidak berencana untuk membunuh Sebastian setelah ditinggal pergi, begitupun sebaliknya. Intinya, bukan tanpa alasan film ini berjudul La La Land, dimana semuanya serba khayali dan dibuat-buat sebagai pelarian dari kejamnya kenyataan.

Pola naratif yang berubah di pertengahan film tak kalah efektif untuk menggerakkan jiwa dan bersimpati dengan keluh kesah karakternya. Saat Mia dan Sebastian mulai membangun sukses dalam karirnya masing-masing, kenyataan menghajar keras angan-angan mereka yang penuh pretensi. Memang tidak terlalu membahagiakan atau seindah semula.

Pukulan telak datang lewat sebuah adegan pertengkaran intens antara Mia dan Sebastian. Bahkan dalam salah satu adegan paling memilukan, La La Land tidak meninggalkan gemerlap dunianya. Hanya saja, kali ini warna-warni itu memberi efek yang lebih personal. Teknik yang sama digunakan untuk menyulut reaksi berbeda saat mereka riang berdansa di bawah syahdunya magic hour.

Mia dan Sebastian secara harfiah dapat mengambang lepas di antara bintang dalam planetarium. Sekalipun begitu, nuansa naskah Damien Chazelle memberikan perbedaan signifikan untuk menjaga mereka tetap mengakar pada realitas. Kecocokan Emma Stone dan Ryan Gosling yang memang bukan pertama kali berperan sebagai sepasang kekasih juga semakin menghidupkan naskah ini. Khususnya bagi Emma Stone, yang memberikan performa terbaik sepanjang karirnya sebagai Mia.

La La Land tak hentinya bermain-main antara ilusi dan realitas untuk menghanyutkan penonton dalam jatuh bangun kisah Mia dan Sebastian. Menjelang ujung durasi, Damien Chazelle masih yakin kalau realitas memang harus selalu bertalian dengan ilusinya agar tak begitu saja lenyap menjadi memori. Film ini tidak bisa dimaknai dengan membongkar habis khayalannya. Semua telah terintegrasi dalam buaian ilusi itu sendiri, disampaikan secara eksplosif melalui koreografi mulus dan sederet nomor instant classic.

Inspirasi musikal era Classic Hollywood kental terasa, namun La La Land tidak sekedar menjadi pastiche. Jauh dari kesan itu, Damien Chazelle layak mendapatkan tempat tersendiri karena berhasil memadukan skala spektakuler musikal dengan gravitas karakter simpatik. La La Land adalah film bagi mereka yang mencintai keajaiban sinema, bagi mereka yang beriman kepada mimpi-mimpinya dan tidak ragu untuk merayakannya. [WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

1 Comment

Leave a Response