Lintas Negara Satu Suara Dalam Obscene Extreme Asia

Obscene Extreme Fest Asia day 2

Belum puas dengan 20 band di hari pertama, Obscene Extreme Fest Asia dilanjutkan lagi pada 8 april 2013. Masih ditempat yang sama, di hari minggu ini OEF menampilkan 20 band berbahaya lintas negara.  Sayang, hujan meninggalkan bekas, lumpur yang basah. Di hari kedua ini, ada kebijakan yang kontroversi dari panitia, Mereka menggratiskan acara, setelah sebelumnya memasang harga sukarela. Alhasil, jumlah penonton meningkat jika dibandingkan hari pertama.

Diawali oleh Tyranny, unit grindcore dari Jakarta ini membuka OEF dengan musik yang cepat. Namun sayang, penonton belum berdatangan, situasi yang sama juga terjadi ketika 3 band setelahnya tampil, yakni Delirum Tremens, lalu unit thrashcore dari Malaysia, Sarjan Hassan dan band death metal Carnivored. Tetapi, belum datangnya penonton, tak menyurutkan semangat mereka untuk tetap bermain all out.

Selepas break pertama, Penonton mulai berdatangan. Kedatangan penonton ini disambut dengan munculnya unit grindcore berbahaya dari Vietnam, WUU. Nyaris semua lagu dibawakan dengan bahasa Vietnam.  Mungkin mereka percaya grindcore dengan sendirinya akan masuk ke telinga pendengar tanpa perlu mengerti artinya. Total 14 lagu dibawakan dengan ganas.

Bergeser ke Korea, Nahu hadir membawakan grindcore dengan penuh amarah. Bermodalkan dua personil, Nahu bisa menghasilkan musik yang padat dan cepat. Terutama Drummer mereka, yang bermain luar biasa cepat, yang di dua lagu terakhir terlihat kelelahan. Masih dengan nunasa grindcore, Compulsion To Kill memberikan sentuhan punk dan power violence pada musik mereka. Hasilnya, unit asal Malaysia ini sukses menarik penonton untuk mulai berdansa di moshpit.

OEF hari kedua mulai panas dengan munculnya Analdicktion. Kuartet asal Singapura ini menyuguhkan grindcore cepat dengan nuansa power violence yang kental . Aksi atraktif sang vokalis juga menjadi nilai plus band ini. Analdicktion menutup perform mereka dengan lagu “Mie Bakso” yang disambut applause dan tawa dari penonton. berdasarkan jadwal, perform mereka seharusnya dilanjutkan oleh Inlander. namun sayang, mereke berhalangan hadir.

Batalnya Inlander, secara mendadak digantikan oleh Tyranny yang tampil pertama di festival ini. Disini Tyranny banyak melakukan interaksi dengan penonton, sebuah penebusan atas minimnya penonton yang dataang saat mereka perform diawal. Walaupun terlihat kelelahan, mereka  tetap mencoba bermain dengan maksimal, protes-protes terhadap masalah agama menjadi kekuatan lirik band ini.

Sekarang giliran Rajasinga, Trio grindcore asal Bandung ini tampil tanpa set list lagu. Mereka banyak bertanya kepada penonton, untuk meminta lagu apa yang akan dimainkan. Dan tentu saja nomor-nomor seperti “Rajagnaruk”, “Angkasa Murka” dan “Dilarang Berbisa” direquest penonton.

Setelah break Ashar, ada momentum menarik, disini Kontra Sosial mengokupasi panggung. Sebelum naik ke panggung, mereka membagikan selebaran komunike mereka ke pononton. Setelah membawakan satu lagu, mereka mentransformasi panggung menjadii mimbar untuk sharing. Disini mereka menunjukan sikap politisnya untuk menolak bermain, dikarenakan OEF Asia berbeda dengan idealisme bermusik mereka. ”Kontra Sosial berada di barikade yang bertentangan dengan kapitalisme global dan korporasi.” Protes Kontra Sosial tadi ditanggapi oleh Mike, vokalis Marjinal dan salah seorang panitia.  “Ini salah satu cara kita untuk memperbesar ruang kemungkinan untuk melawan konsumerisme dan kapitalisme” ungkap gitaris Kontra Sosial. Mereka menutup mimbar tadi dengan seruan “grind is protest, grind is protest

Konser berlanjut, kini giliran band gindcore veteran Jakarta, Proletar yang mengisi panggung.  Dibuka dengan nomor “Grind For Better Life” yang diikuti lagu “Jargon Sampah Slogan Para Pecundang” serta sebuah lagu protes “Outsourcing”.  Trio grindcore dengan drummer yang juga mengisi vokal ini menutup performnya dengan nomor “Underground Bullshit” . Aksi Proletar dilanjutkan  oleh Tools Of The Trade. mereka menghentak OEF dengan sound-sound death metal yang cepat dan kasar. Kemudian ada Demisor, kuartet asal Singapura ini, menyuguhkan grindcore yang kental akan nuansa death metal.

Siapa bilang grindcore hanya untuk kaum Adam? Adalah Flagitious Idiosyncrasy In The Dilapidation, kuartet asal jepang ini digawangi oleh empat orang wanita. Tidak disangka, dibalik paras cantik tiap personilnya, F.I.D memainkan perpaduan grindcore dan death metal yang menyeramkan dengan growl-growl dari sang vokalis. Sedikit kekacauan terjadi ketika ada seorang penonton yang naik keatas panggung dan mengangkat sang vokalis. Perbedaan suara saat berinteraksi dan bernyanyi juga menjadi poin menarik dari band ini. Penonton pun mengapresiasi dengan ikut berdansa di moshpit dan teriakan “we want more” yang diiringi jeda Maghrib

Selepas break, giliran Marjinal yang mengguncang panggung. Band punk rock paling populer di Indonesia ini, membuka perform lewat lagu “Rencong Marencong”. Jika diperhatikan, Marjinal satu-satunya band yang memainkan musik ‘pelan’ di OEF ini. Paham, akan situasi, mereka memilih melanjutkan perform dengan memainkan nomor-nomor lama, yang notabene lebih cepat dan raw. Lagu lawas seperti “Siap Jendral”, “Sampit” tersaji disini. Mereka juga membawakan lagu perjuangan “Darah Juang”, terdengar jelas ada improvisasi pada drum mereka, lebih cepat dan bertenaga dari biasanya. Sayang perform mereka sedikit terganggu dengan banyaknya fans yang tidak mau turun dari stage, yang kemudian menimbulkan sedikit keributan.

Dari punk rock, sekarang kembali lagi ke grindcore. Adalah Wormrot, trio grindcore berbahaya dari Singapura. Publik Indonesia tentu sudah tak asing lagi dengan aksi mereka, dimana tahun lalu sempat mengadakan tour di negeri ini. Baru memainkan dua lagu, sangking ganasnya, drummer mereka mematahkan pedal. Band ini benar-benar berbahaya, dua, tiga kali sang drummer melakukan hal yang sama. Dengan kejadian tadi, bukanya cemohan yang mereka terima, namun applause. Hal ini direspon Wormrot dengna terus bermain liar walau hanya membawakan sekitar 7 lagu.

Dan, giliran maestro grindcore asal Swedia mengambil alih stage. Birdflesh. tetap konsisten dengan gimmick mereka, topeng-topeng dan pakaian yang khas. Dengan sedikit joke, Birdflesh langsung membakar panggung. Dilagu kedua, mereka membawakan lagu baru yang terdapat dalam kompilasi Obscene Extreme Fest Asia. Dengan sentuhan thrashcore, memaksa terciptnya circle pit, dan aksi stage diving terlihat sangat sering terjadi saat mereka perform.Hampir ditiap jeda lagu, mereka melemparkan joke yang tanpa permisi langsung disambung ke lagu-lagu mereka.

Circle Pit yang tercipta saat Birdflesh perform, diganti dengan headbang dari metealhead yang dikomando oleh Siksa Kubur. Unit Death Metal lawas ini membuka opera lewat lagu “Burung Bangkai” yang diikuti “Merah Hitam Hijau”. Total tujuh lagu dimainkan dengan hits “Memoar Sang Pengobar” yang didaulat menjadi encore. OEF Asia akhirnya ditutup oleh Agathocles. Setelah memainkan spesial set nya di hari pertama, Agathocles mengguncang panggung lagi dengan drum keras bak mesin. Trio ini menunjukan kelasnya sebagai band grindcore nomor wahid, walau sudah tampil dihari pertama, permainan di hari kedua ini tidak membuat penonton bosan, atraktifitas tiap personil yang dipadu dengan musik yang keras, merupakan perpaduan ideal untuk menutup OEF Asia ini. [Warning/Tommy]

 

Event by : Curby Production

date : 6-7 April 2013

Venue : Bumi Perkemahan Ragunan

Man Of The Match : Transformasi panggung menjadi mimbar diskusi oleh Kontra Sosial

Rating : ●●● 1/2

 

flagitious idiosyncrasy in the dilapidation– © Warning/Tommy

flagitious idiosyncrasy in the dilapidation– © Warning/Tommy

foto-foto konser ini bisa diakses disini

liputan hari pertama bisa dicek disini

Shortlink:

2 Responses to Lintas Negara Satu Suara Dalam Obscene Extreme Asia

  1. acara keren kecuali 20 menit membosankan dari kontra sosial.

  2. Acara keren! bawa edisi kedua curby!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>