close

5 Local Directors Whose Films Either Enlighten or Irritate You

smallthumb_vidIdFC_28072011_180041-tile
xx
xx

Belakangan ini bahasan mengenai LGBT sedang ramai-ramainya diangkat di berbagai medium diskusi. Keriuhan ini pulalah yang agaknya mendatangkan asumsi bahwa LGBT adalah sebuah tren, seperti layaknya demam musik K-Pop, masyarakat yang kurang iman dan lengah bisa tiba-tiba tersambar arus suka sesama jenis. Sebagai respon, banyak kelompok yang kemudian merasa perlu menginstal pagar betis. Di bawah panji-panji melindungi moral dan ketahanan bangsa, prasangka yang berujung diskriminasi lantas dijadikan senjata.

Bertolak dari niatan untuk mengamankan generasi muda dari ‘paham’ LGBT, negara sampai ikut repot mengotori tangan yang justru makin membenarkan kekerasan struktural yang entah sejak kapan ditanggung korban. Sikap resistensi masyarakat terhadap kalangan ini bukannya membikin korban ‘sembuh’ pun ‘tobat’, tetapi hanya akan membuat mereka makin lihai menyembunyikan identitas diri. Kita bisa saja punya prinsip ekstrem buat enggan dekat-dekat dengan kalangan LGBT demi tidak terlular atau dipredatori, tapi siapa yang tahu kalau tetangga terdekat bahkan anggota keluarga punya orientasi seksual berseberangan? Seringkali, kebencian disulut oleh ketidaktahuan yang akhirnya memantik ketakutan tidak berdasar.

Sebagai kaum cis-gender dan cis-heteroseksual, seharusnya tidak sulit untuk memahami privilege kita, setidaknya tidak jadi bagian dari para lalim yang mengutuki korban. Di dunia sinema (arus-utama) Indonesia, pemunculan karakter dari kalangan LGBT bukan barang baru. Meski fungsinya seringkali terbatas sebagai peramai situasi dengan scene klasik: laki-laki yang kabur dikejar banci. Atau bubuhan sampingan berupa perempuan yang merasa tertipu karena pria taksirannya suka sesama pria. Nukilan kisah di atas tentu saja belum cukup untuk menjelaskan apa sebenarnya yang dilalui dan situasi psikologis dari kalangan LGBT yang hingga kini masih dipandang berjarak.

Alangkah baiknya—demi kemauan untuk belajar dan bersikap adil—kita mulai memberi perhatian pada sutradara-sutradara berikut karyanya yang tercantum pada list kali ini.

 

Teddy-Soeriaatmadja
Teddy-Soeriaatmadja

1.Teddy Soeriaatmadja

Tiga karya pamungkas Lovely Man (2011), Something in the Way (2013), About a Woman (2014) adalah pembuktian bahwa sebagai sutradara ia tidak takut membawa isu yang biasanya disembunyikan di bawah karpet. Eksplorasi atas tema seksualitas, hipokrisi, dan kaitannya dengan ranah religi di ketiga film tersebut membuatnya pilih jalur gerak secara independen.

Dari ketiga nomor di atas, Lovely Man (2011) adalah karya yang paling relevan dengan bahasan kali ini. Ceritanya bermula pada siswi lulusan SMA yang coba mencari bapaknya di Jakarta. Tak disangka, sosok ayah yang dicari menyulap diri setiap malam sebagai waria. Interaksi yang kikuk di antara keduanya tidak berlangsung lama, perlahan malam mengakrabkan mereka, dan terkuak semua rahasia yang semula tidak terencana untuk diucap.

Memenangi gelar di berbagai festival film ialah ganjaran yang setimpal atas kemampuan film ini untuk bercerita tanpa pretensi soal ragam manusia yang masih saja dinafikan masyarakat.

 

 

nia dinata
nia dinata

2.Nia Dinata

Menurutnya, masyarakat Indonesia bergerak lebih konservatif dari tahun ke tahun. Arisan! (2003) yang memuat penampilan kontroversial Tora Sudiro dan Surya Saputra sebagai pasangan homoseksual berhasil dianugerahi titel Film Bioskop Terbaik dari FFI, sedangkan ketika menjalankan roadshow ke kampus-kampus membawa film Berbagi Suami (2006), ia mulai dihujani tuntutan pesan moral oleh para audiens. Dari situ Nia merasa jika ada yang salah dengan keterbukaan pikir masyarakat kini.

Desakan order pesan moral oleh penonton bioskop dewasa ini tidak lantas menyurutkan komitmen Nia Dinata untuk terus produktif. Lewat Kalyana Shira Foundation, tekadnya untuk membuat, mendistribusi, serta mendukung karya audio-visual seputar kesetaraan gender, kemanusiaan, dan kehidupan kaum marjinal tetap bulat.

 

 

lucky_kuswandi
lucky_kuswandi

3.Lucky Kuswandi

Sutradara terbaik versi Piala Citra tahun 2014 ini bisa dibilang sangat peduli untuk mengangkat fokus isu marjinal dan minoritas ke layar lebar. Keterlibatannya dalam antologi Pertaruhan (2008) berwujud film pendek berjudul ‘Nona atau Nyonya’ cerita susahnya perempuan lajang Indonesia pergi ke ginekolog tanpa dibayangi prasangka adalah titik berangkat yang sempurna. Diikuti oleh Madame X (2010), sebuah komedi dengan protagonis seorang waria; Selamat Pagi, Malam (2014), drama berlatar Jakarta yang menyandingkan Marisa Anita dan Adinia Wirasti sebagai pasangan lesbian; juga film pendek The Fox Exploits The Tiger’s Might (2015) soal relasi kekuasaan dan seksualitas. Kiprah Lucky tentu tidak aman-aman saja, tahun lalu web series garapannya yang berjudul CONQ dipaksa hilang dari situs Youtube dan dilarang penanyangannya secara terbuka di internet. Siapa lagi kalau bukan polisi moral yang katanya wakil rakyat sana yang berulah.

Edward Gunawan
Edward Gunawan

4.Edward Gunawan

Lebih dikenal sebagai aktor oleh publik Indonesia, Edward ternyata punya kepedulian cukup serius pada perihal filmmaking. Dedikasinya bisa dilihat dari partisipasi dan prestasinya di berbagai festival film baik lintas genre maupun tema LGBT, sebagai sutradara hingga penulis skrip. Debut sebagai sutradara dimulai di film pendek Laundromat (2008), di filmnya ini, ia yang juga seorang gay tampaknya hendak menyampaikan kalau hubungan romantis meski dijalani oleh dua laki-laki masalahnya juga itu-itu saja. Emosinya juga sama, integritas, setia, kompromi, tidak cuma sifat istimewa kaum heteroseksual. Mereka juga punya.

Karya terbarunya, Dino (2013), masuk nominasi film pendek terbaik di FFI 2013. Kisah soal single mother penjual ensiklopedia yang berupaya beradaptasi dengan majunya teknologi yang kian mengancam profesinya dan eksistensinya sebagai seorang ibu ini juga patut diantisipasi.

 

 

Paul Agusta
Paul Agusta

5. Paul Agusta

Filmnya yang bertajuk Parts of the Hearts (2013) diputar perdana di International Film Festival Rotterdam 2013. Disebut karya personal karena berisi narasi soal kisahnya sendiri sebagai seorang gay yang dibawakan oleh sebuah karakter bernama Peter. Lewat karyanya ini, ia diakui sebagai sutradara dan penulis skenario terbaik tahun 2012 menurut Majalah Tempo. Parts of the Heart adalah omnibus yang berisi delapan segmen cerita, berisi bab-bab kehidupan Peter mulai dari usia 10 tahun, pengalaman seksual pertama hingga upaya bunuh diri diceritakan secara jujur. Paul mengaku jika film ini awalnya tidak didesain spesifik jadi gay movie, tapi baginya, Parts of the Hearts layaknya jurnal yang ingin ia kemukakan untuk membuat melek audiens soal bagaimana perjuangannya sebagai homoseksual menemukan cinta dan kebahagiaan di bawah tekanan beban sosial dan tuntutan moral masyarakat Jakarta.

[WARN!NG/Adya Nisita]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response