close

5th Music Gallery: Gemerlap Indie dari Selatan Jakarta

_MG_0805
TTATW © Warningmagz
TTATW © Warningmagz

Sebuah hajatan musik besar kembali hadir di tengah ributnya kota bernama Jakarta. Mengambil latar di Skenoo Hall Exibition Gandaria City yang terletak di belahan selatan, Music Gallery menjadi pewarna malam minggu muda-mudi metropolitan yang haus akan sajian festival independen. Menapaki umur kelima, Music Gallery—atau biasa disebut Mugal semakin berani dalam membuat acara yang mengutamakan dua hal; kualitas dan kuantitas. Terbukti tahun ini pihak panitia mengundang banyak band indie dibanding tahun kemarin. Nama-nama seperti SORE, Payung Teduh, Barasuara, Ramayana Soul, Naif sampai band impor asal negeri mode Prancis, Tahiti 80 diharapkan mampu memenuhi permintaan publik di fase kepuasan menyaksikan.

Pukul 17.35, audiens mulai memenuhi Pertamina Stage untuk menonton aksi panggung Barasuara. Dimotori Iga Massardi, sekumpulan anak eksperimental-rock ini membuka perjumpaan dengan “Nyala Suara”. Tak lama berselang, nomor “Tarintih” serta “Sendu Melagu” mengawang ke atas sudut venue selagi memaksa kepala untuk berayun ke sana kemari mengikuti alunan yang memabukkan.

Jeda menunggu SORE saya manfaatkan untuk melihat Ramayana Soul di Musik Asik Stage yang terletak di lantai bawah. Tak banyak kerumunan yang menonton kegilaan mereka. Sedikit dibumbui ramuan bawah sadar, jamuan psikadelik yang berbalut distorsi ala George Harrison wajib dinikmati bersama sebatang rokok, dalam keadaan sadar tentunya.

Kembali ke panggung utama, lantunan “Somos Libres” menyapa deretan penonton yang sudah berjejalan tanpa ampun. Sing a along yang menggema ke seluruh penjuru menambah daya pikat SORE tanpa tendensius berlebih. Sejurus kemudian mereka menyanyikan balada-balada familier seperti “Karolina”, “Setengah Lima”, “There Goes” dan menutup secara elegan dengan “Sssttt…” yang diikuti gegap romansa massal seisi Skenoo Hall.

Kebisingan menyeruak hadir lewat kehadiran The Trees And The Wild selepas performa SORE. Datang membawa perangkat noise yang sederhana, mereka mencoba menggambarkan sebuah purwarupa terbaru seperti yang akan terjadi di album kedua nanti. Pergeseran ideologi TTATW bisa dibilang cukup ekstrem; dari mengusung folk-alternative berubah ke arah post-rock dengan tambahan deru agresif mesin synth terbarukan. Alhasil, gempita penuh gejolak muncul selama pertunjukkan mereka dari perpaduan tata lampu menyilaukan bersama hingar-bingar eksperimental yang menghanyutkan.

Tahiti 80 © Warningmagz
Tahiti 80 © Warningmagz

Yang ditunggu akhirnya tiba juga. Unit impor dari Prancis bernama Tahiti 80 menjadi salah satu line up utama Mugal malam itu. Memakai setelan kasual yang sederhana, berturut-turut Xavier Boyer, Mederic Gontier, Sylvain Marchand, Pedro Resende, Raphael Leger, Julien Barbagallo menyapa keramaian Skeeno penuh kehangatan. Senyum ramah serta antusias keluar secara konsisten disertai peluh keringat dari tubuh masing-masing personil, yang sepertinya masih takjub dengan ketimpangan cuaca ibu kota. Tak banyak basa-basi yang terucap dari mulut Boyer selaku frontman kecuali, “apa kabar Jakarta?” dan “senang bermain di sini”. Selebihnya Tahiti 80 terus memacu nomor-nomor populer macam “Outer Space”, “Big Days”, “7 Seas”, “Crush!”, “Coldest Summer” dan “Heartbeat” demi kelangsungan gairah budaya yang timbul di antara sela-sela kehebohan barisan penonton.

Menarik adalah ketika (memilih) Naif menjadi aktor menutup festival Mugal 2015. Entah ada pertimbangan teknis atau mungkin idealis penyelenggara, jelas ini sebuah apresiasi terhadap musik lokal. Ah, mungkin saya terlalu berlebihan. Terpenting, Naif tetap mampu menciptakan koor massal yang sensual melalui serangkaian serangan tembang klasik dalam metamorfosa “Air dan Api”, “Jikalau”, serta “Benci Untuk Mencitaimu”.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pergantian hari. Itu tandanya gebyar Music Gallery juga musti berakhir. Kerumunan muda-mudi meninggalkan venue bersama raut wajah bahagia. Setidaknya malam minggu mereka berisi sajian pertunjukkan yang penuh kemeriaahan. Meski demikian, penempatan lokasi yang cukup jauh dari lantai atas ke bawah memberi noktah cela selama acara berlangsung. Tidak sedikit keluh kesah terucap sebagai bentuk ekspresi kekecewaan akibat minimnya fleksibilitas yang bisa dilakukan dari faktor penempatan tersebut. Selain itu, ketimpangan line up terjadi di antara Pertamina Stage dengan Musik Asik Stage. Dampaknya begitu jelas terlihat di Musik Asik Stage tatkala tak banyak yang menyaksikan Payung Teduh, Banda Neira juga Mondo Gascaro karena semua mata tertuju pada panggung utama di Skenoo Hall.

Kekurangan pasti ada dalam sebuah penyelenggaraan acara. Namun, pihak panitia sudah menutupnya dengan keberanian untuk membuat festival musik yang memprioritaskan kancah independen. Tak heran apabila suara dukungan membanjiri Music Gallery agar senantiasa hadir secara konsisten di tengah gemuruh modernitas Kota Jakarta. [WARN!NG/ Muhammad Faisal]

Event by: BSO Band FE UI

Date: 14 Maret 2015

Venue: Skenoo Hall, Gandaria City, Jakarta

Man of the Match: permainan rancak dan liar dari The Trees and The Wild

lihat galeri di sini

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response