close

The Real Joy Of Ukulele

avatars-000036647786-xbuhzr-crop

Dari duo menjadi trio ukulele. Answer Sheet adalah sebuah band dari Yogyakarta yang masih setia mendemonstrasikan ukulele dalam setiap karya musikal mereka. Tak lama setelah Abi masuk, Chapter 1: Istas Promenade pun dirilis. Full album pertama Answer Sheet setelah lelah bergumul dengan EP dan beragam lagu cover. Disini kami menggali beragam informasi, mulai dari makna ukulele bagi mereka, hingga Istas Promenade. Berikut wawancara kami bersama ketiga personil Answer Sheet,Wafiq Giotama (Ogi), Abdullah Haq (Abi) and Mas Gilang Karebet (Rebet):

Halo Answer Sheet, tolong perkenalkan diri

Ogi: ‘Saya Ogi, kalau di twitter saya dipanggil Mi Instan.’

Abi: ‘Halo saya Abi, saya pegang bass.’

Rebet: ‘Saya Rebet. Main Keyboard dan Ukulele’

Kalian sebut apa musik Answer Sheet?

Ogi: “Mm… Any music with ukulele? Saya gak suka pake genre sebenernya. Takut rancu :p”

Rebet: “Pop ambient folk, idk.musik kami adalah cabang dari cabang beragam akar musik lainnya.”

Abi: “Pop situasional”

Mengapa Answer Sheet? Pernah ada yang salah menulis/membaca menjadi Answer Shit? Hehe

Rebet: “Karena waktu itu kami masih sekolah dan kata Answer Sheet ini cukup dekat dengan kehidupan sekolah kami. Sementara ini sepertinya belum pernah ada, kami selalu mencoba melafalkan nama kami dengan benar dihadapan penonton. Mungkin itu bisa menjadi sebutan haters kami, who knows..

Ogi: “Tapi pernah jadi Answer Sweet! Saya menyebutnya dengan Encer Nyit. Akan tetapi saya (mungkin teman – teman lainnya juga) cukup suka dengan sebutan ASu, Answer Sheet ukulele. Jadi kalau ada orang sedang misuh, secara tidak sengaja turut serta mem-viral-kan band ini xD”

Kapan dan bagaimana kalian mulai menyadari bahwa alat musik sesimpel ukulele memiliki kekuatan besar untuk menjadi senjata utama musik kalian?

Rebet: ‘Ketika SMA saya merasa bosan bermain gitar. Karena banyak yang lebih jago. Saya selalu ingin terlihat orang.’

Ogi: “Kalau saya ya sejak pertama pegang ukulele. Sama kaya Rebet, saya ga terlalu bisa main gitar, tapi saya sudah kelihatan karena dulu kepala saya ‘kinclong’ *cling*. Banyak sekali power-nya, satu yang utama adalah bertemu kawan – kawan baru, termasuk WarningMagz ini *cipok*.”

Abi: “Sejak tahu Bang Elpis Presli pake, apa lagi kalo liat Tom & Jerry sama Lilo & Stitch , mereka maennya seru gitu :D”

Ukulele merupakan alat musik dari Hawaii, beberapa sumber juga menyebutkan ukulele sebagai salah satu alat musik tradisional Maluku.Sepeduli apa Answer sheet dengan musik daerah dan tradisional Indonesia?

Rebet: “Sepeduli ketika kami harus ikut aktif dalam kegiatan pelestarian budaya (dalam hal ini alat musik tradisional Indonesia) kami pasti akan ikut berpartisipasi. Seperti hal-nya ketika isu lokananta kemarin, kami juga cukup aktif berpartisipasi didalamnya meski baru skala lokal.”

Abi: ‘Ukulele kalo di luar sana lahirnya emang dikenal lahir di Hawaii, kalopun di Maluku juga ada, itu mungkin karena ada kesamaan budaya. Sama-sama memiliki kebudayaan Kepulauan Tropis’

Ogi: “Satu alat musik daerah yang ingin saya pelajari (walau belum sempat) adalah Cuk dan Cak (ukulele keroncong). Keduanya, Cak Cuk dan Ukulele Hawaii, sama – sama ter-influence oleh bangsa Portugis. Wajar juga kalau ada varian ukulele lain di Maluku. Saya pernah dengar ukulele Maluku, keren!”

Ukulele sempat dipopulerkan di ranah mainstream oleh salah satu kontestan ajang pencarian bakat di Indonesia, bagaimana tanggapannya?

Abi: ‘Ya itu bagus untuk memperkenalkan ukulele sebagai alat, tapi tetep aja pandangan orang sekarang juga masih nganggap kalo ukulele itu alat musik khusus untuk pengamen jalanan. Tapi, hei! Ukulele itu yang penting bisa menghibur dan itu menyenangkan :)’

Rebet: “Saya belum pernah dengar.”

Ogi: “Saya ingat siapa musisi yang dimaksud, namun selagi tidak minus one atau lipsync, ga masalah bukan? Apa kita mau disuguhi the joy of ukulele yang palsu, seperti suguhan penyanyi-budi-yang-belakangnya-pakai-tangga-nada-dasar itu? Ia main guitalele tanpa pickup (colokan kabel) maupun mic. Terus darimana tuh suara ukulelenya? Ah pasti suaranya keluar via santet Eyang Subur :p”

Untuk Ogik sendiri, bagaimana dengan Indonesia Ukulele Community? masih berjalankah?

Ogi: ‘Masih berjalan dan berkembang walau santai, seperti ukulele. Memang tidak bergaung karena cenderung berbasis online, tapi masih menelurkan member baru (sekarang 1000 lebih) dan komunitas baru. Sejak tahun lalu di Jakarta ada Jakarta Ukulele dan di Bandung baru aja ada UKEBA (Ukulele Bandung), dan ini sesuai dengan misi utama IUC: setiap kota punya komunitas sendiri. Kalau Jogja sih selo hahaha. Secepatnya bakal punya nama sendiri.”

Dengan musik yang “out of the box’, Menurut kalian seperti apakah karakteristik mayoritas pendengar music Answer Sheet?

Abi: ‘Biasanya pendengarnya pun juga pendengar unik dan tidak biasa :D’

Rebet: “Kalangan pelajar sampai mahasiswa, mungkin orang kerja, ya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar dibanding dengan kebut kebutan dijalan.”

Ogi: ‘Orang tua, kawan – kawan dan kerabat. Mungkin selebihnya kimcil dan kimcol xD’

Oke, kita masuk ke Album baru kalian. Bisa ceritakan proses pengerjaannya? Singkat saja

Rebet: “Sebenarnya kami memulai record album ini akhir tahun 2011 hingga pertengahan tahun 2012. Satu hal, kami tidak mau pengerjaan album yang terlalu dipoles dan lebih baik apa adanya.”

Abi: “Saya baru bantu Ogik dan Rebet recording sekitar bulan April 2012. Mereka itu jenius dan berada di tempat recording yang tepat.’

Ogi: “Pengerjaan pun tidak terlalu melelahkan karena suasananya selo. Sambil bikin materi juga. Secara alat juga tidak terlalu muluk – muluk.”

Kalian membuat satu tokoh imajiner sebagai benang merah penulisan lirik lagu kalian, darimana muncul ide ini? Ada alasan khusus?

Abi: ‘Ide awalnya sih muncul waktu proses recordingnya, tapi saya pikir Rebet dan Ogi bisa menjelaskan lebih jauh’

Rebet: “Waktu itu saya dan ogi memikirkan nama apa yang cocok untuk album kami, dan saya mau nama album ini mereprentasikan tempat imajiner dan munculah kata promenade ini sayangnya ide dari kata promenade ini sudah diambil oleh musisi lain (bahkan konsepnya hampir sama waktu itu). Alih alih menggunakan nama lainnya lagi akhirnya kami sepakat menambah kata Istas di depan promenade.”

Ogi: “Istas sendiri dinobatkan sebagai karakter utama album ini secara spontan. Secara nuansa pun juga cukup masuk, naik dan turun. By the way, musisi tersebut adalah…. *drumroll*… silakan kepo sendiri. Tapi album Promenade (1994) itu sangat asik untuk didengarkan.

Nama-nama seperti Istas, Promenade,Promedealm..bahasa apakah itu ?

Rebet: “Promenade itu bahasa inggris, tapi asal katanya dari bahasa perancis artinya berjalan, berjalan – jalan, taman, yaa merepresentasikan sesuatu karena kami ingin mengexplore.”

Abi: “Istas diambil dari bahasa Amerika kuno, artinya salju. Promenadealm itu tempat dia bermukim, seperti di videogame Mortal Kombat dengan Earthealm-nya.”

Ogi: “Beberapa saat menjelang album ini rilis, salah satu teman saya bilang (kalau tidak salah) Promenade adalah istilah khusus dalam dunia ballroom dance mengisyaratkan sebuah dansa dengan gerakan tak berpola namun teratur. Jika dirasa memang album ini adalah proses kami bergerak secara acak, kemudian disusun secara teratur.”

“A Love Beach, Sadranan”, apakah pantai erat dengan sumber inspirasi proses kreatif kalian?

Rebet: “Kami suka pantai, apalagi berpasangan dengan ukulele. sepertinya ukulele sendiri sudah sangat erat hubunganya dengan pantai.”

Ogi: “Saya pribadi, Sadranan bisa jadi sumber inspirasi dan sumber penyesalan. Pada era ‘90 akhir – ‘00 awal, Sadranan pantai tenang dan menyenangkan. Sekarang-pun masih indah, tetapi terlalu ramai pengunjung. Di satu sisi senang karena turut sedikit mendorong Pariwisata lokal, di sisi lain menyesal karena terlalu ter-ekspos.”

Abi: “Entahlah, sewaktu Ogik dan Rebet bikin itu lagu, saya belum bergabung bersama mereka.”

Awalnya, kalian sangat gemar mengcover beberapa lagu mulai dari “Terbang Tenggelamnya” Netral hingga “Coffee and TV”, Blur ,lalu kenapa kini tak ada satupun lagu cover di Istas Promenade ini?

Rebet: “Waktu itu kami belum memiliki materi yang cukup untuk menggarap suatu EP, dan kami cukup haus ingin merekam sesuatu haha, alhasil kacau juga. ya kami seperti mencari jati diri ketika mengcover lagu orang lain Dan ketika album penuh ini kami lebih ingin memperlihatkan ‘kami’ ke pendengar.”

Ogi: “Huahahah, saya jadi flashback! Dulu saya sama Rebet rekam itu sambil ngantuk. Gampang sih jawabannya: siapa yang mau bayar hak cipta beserta royalty ke band – band tersebut?. Kedua, pengen menghilangkan image kalau grup akustik itu harus cover.

Abi: “Saya pikir cover itu adalah salah satu wujud ‘salut’ kami terhadap band-band yang kami cover, hanya saja untuk album memang dibutuhkan ciri khas agar kami bisa dikenal sebagai kami sesungguhnya, bukan kami yang dikenal sebagai band tribute”.

Siapa saja musisi yang mempengaruhi gaya bermusik Answer Sheet?

Rebet: “Answer Sheet cukup banyak dipengaruhi musisi musisi luar maupun dalam negeri, saya suka Blur, mungkin Two Door Cinema Club, baru baru ini saya suka Ed Sheeran.”

Abi: “Kalo saya suka Jubing Kristianto, Wada Kouji, Two Door Cinema Club dan berbagai hal yang berbau anime Jepang”

Ogi: “Maritime, Billie The Vision and The Dancers, Jake Shimabukuro, Wild Orchid Children, Jens Lekman, This Will Destroy You, Deer Leap dan lainnya yang lupa untuk disebutkan.”

Tolong deskripsikan Album terbaru kalian ini dalam 3 kata.

Rebet: “Mimpi, Lari, Proses.”

Ogi: “Mengambang, Menenangkan, Mendayu”

Abi: “Eksperimen, Jujur, Minimalis”

Thanks, panjang umur Answer Sheet! Ada pesan penutup?

Ogi: “Jangan fanatik, tetap organik. Makasih WarningMagz, maju terus juga!”

Abi: “Segera beli cd-nya , atau paling tidak cek soundcloud kami di soundcloud/answersheet :)”

Rebet: “Amin amin!”

 

[Warning/Tomi Wibisono]

© Warning/Noor
© Warning/Noor
© Warning/Noor
© Warning/Noor
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response