close

6th Music Gallery: Warna-warni Atmosfer Musik Berkualitas

The Adams (4)

Seru, riang, dan sedikit menggemakan di selatan Jakarta!

Last Dinosaurs
Last Dinosaurs

Identik macet, ribut, dan mekanis, Jakarta bagian selatan, Sabtu (12/3) lalu pantas menerima waktu istirahatnya. Adalah Music Gallery (Mugal) di umur keenamnya yang dijadikan kursi santai sambil menikmati sajian musik-musik bernas. Menyebut dirinya sebagai ‘biggest international indie music festival in the country’, kuantitas musikus internasional ditambah. Last Dinosaurs dan Panama asal negeri Kanguru menjadi sorotan.

Tak cukup lama bagi Odds Band, Low Pink, dan Kaveman membuka dua panggung—jadi bumbu yang tampaknya masih sulit untuk dicerna. Baru kemudian Dried Cassava yang bermain di Intimate Stage mulai memanaskan mesin. DIbuka dengan “Morpheus” dari album Sensitive Explosive, arak-arakan penonton mulai merapat. Lalu ada “Chumbawombi”, “Paradox”, “Nobody Owens”, dan “Hellblazer”.

Sementara itu Sentimental Moods beraksi di panggung yang lain—Flourescent Stage, dan memainkan “Imperial March”, “Selatan Senja”, dan ditutup “Skanarchy”. Tentu penonton yang sedari tadi terlihat pasif langsung bergetar ketika permainan trombone dan trumpet bersatu padu dengan bass dan drum. Di panggung lainnya, ketika nama Kelompok Penerbang Roket disebutkan, penonton langsung bersorak. Energi baik yang dipancarkan penonton untuk grup musik yang satu ini. Terlebih ketika John Paul Patton (Coki) telah menghadap mic. Trio rock asal Jakarta langsung menghentak ketika “Led Jeplin-Intro”, yang saya kira diambil dari intro “Black Dog” garapan di album Led Zeppelin IV di tahun 1971. Kemudian menyambung “Anjing Jalanan” yang membuat penonton dari segala arah moshing, crowd surfing, dan bernyanyi menggelora. Sebentuk perpaduan yang pas antara rock ugal-ugalan, panggung di tempat parkir, dan penonton yang berkeringat. Kemudian ada “Di mana Merdeka”, “Bimbang dan Ragu”, “Cekipe” yang juga diimprovisasi oleh Viki Vikranta, dan ditutup oleh “Mati Muda”. KPR sore itu tampil luar biasa.

Kelompok Penerbang Roket
Kelompok Penerbang Roket
Elephant Kind
Elephant Kind

Kembali ke panggung utama, sudah ada Elephant Kind yang membuka dengan “Ocean”. Tak lama berselang, nomor “Scenario III” dan “Here in the Shade” dimainkan. Beat yang agak cepat kali ini, membuat penonton mulai mengangguk-angguk, selebihnya ikut bernyanyi bersama. Selepas “Why Did You Have To Go”, adil rasanya untuk menengok stage sebelah. Ada Tigapagi yang sedang mengokupasi panggung dengan nomor “Tangan Hampa Kaki Telanjang”. Perbedaan ekstrem cukup dirasakan, mengingat sebelumnya ada KPR, kini penonton duduk khusyuk menikmati repertoar panjang. Tak seperti dalam albumnya, Tigapagi memilih untuk memainkan nomor pernomor dengan jeda. Selanjutnya menyambung “Batu Tua” dan “Alang-alang”. Sudah menunjukkan pukul 18.00, Eko Sakti, dkk sedikit bercanda, “Sudah waktunya jeda adzan maghrib, pokoknya ini salah panitia kalau kami main terus.” Menyambung, nomor baru, “Sembojan”, digaungkan. Sebelumnya, mereka juga menyinggung perlakuan tak adil terhadap penyelenggaraan Belok Kiri.Fest beberapa waktu lalu yang dilarang.

Di jam berikutnya, ada head-to-head. Tak butuh banyak pertimbangan untuk memilih The Adams daripada Panama. Alasan paling rasional tentu The Adams lebih banyak memberikan memori dalam benak penonton. Tidak salah, penonton sudah berkerumun menunggu berjingkrak. Semacam berreuni dengan teman-teman SMA dulu. Ario Hendarwan dan Saleh bin Husein (Ale) mulai memandu pertunjukan dengan nomor lawas “Glorious Time”. Nomor ini menjadi pembuka yang manis, kesan reuni yang penuh tawa. Berturut-turut kemudian ada; “Pijakkan”, “Waiting”, “Suara”, dan “Hanya Kau”. Keempat nomor ini teriringi paduan suara penonton yang tak berhenti. Baru pada lagu berikutnya, suara mulai surut. Penyebabnya tentu lagu yang dibawakan adalah nomor baru; “Timur”. Penonton terdiam sambil menyimak; jangan sampai ada satu nada pun yang lolos dari pendengaran. Adalah “Konservatif”, yang patut menjadi bintang tamu petang itu. Nomor dari album The Adams (2005) ini juga menjadi pemanis yang pas dari film “Janji Joni”. Rasa-rasanya tak habis juga bercerita tentang masa lalu. Lalu mereka tutup dengan “Halo Beni”.

The Adams
The Adams

Sedangkan pencerita dosa asal Surabaya, Silampukau, datang dengan gagah. Membawakan beberapa nomor seperti; “Sang Juragan”, “Bola Raya”, dan “Puan Kelana”. Di Panggung Flourescent, Mondo Gascaro yang berkolaborasi dengan Danilla sedang membuai penonton. Mereka membawakan “Saturday Light”, “Buaian”, “Ada di Sana”, dan “Pergi tanpa Pesan”.

Penasaran dengan penampilan Last Dinosaurs, membuat saya rela untuk meninggalkan Mocca dan Float. Maliq & D’Essentials mengisi panggung utama, membawakan nomor-nomor seperti; “Sriwedari”, “Ketika”, “Terdiam”, dan “Himalaya”. Antusias penonton cukup tinggi, dibuktikan dengan sing a long dari lagu ke lagu.

Last Dinosaurs
Last Dinosaurs

Last Dinosaurs pun hadir setelah jeda cek perlengkapan yang memakan waktu cukup lama. Mereka membuka dengan “Evie”. Sorakan pun sontak menggema disusul choir yang menyaingi Sean Caskey. Kemudian ada “Karma” dan “Purist” dari album Wellness yang rilis 2015 lalu. Pada nomor “Wurl”, Michael Sloane melepas bass-nya dan mulai memainkan synthesizer. Suasana berubah sedikit gloomy, namun tetap enak untuk dinikmati sambil bergoyang. Kegirangan penonton berlanjut ketika “Andy” dimainkan. Intro yang memanjakan disambut departemen lirik yang ramah didengar, membuat area joget penonton semakin luas. Hal ini juga berlaku pada dua lagu terakhir; “Always” dan terlebih pada “Zoom”. Tepuk tangan membahana sebelum akhirnya meminta Last Dinosaurs untuk memainkan encore. Jadilah “I Can’t Help You” yang didaulat menutup keseluruhan acara.

Satu yang saya sayangkan adalah terlihatnya perbedaan kelas di antara dua panggung. Meski tak nampak cela lagi, penggunaan istilah ‘biggest international indie music festival in the country’ perlu benar-benar bijak. [WARN!NG/ Yesa Utomo]

Event by: BSO Band FE UI

Date: 12 Maret 2016

Venue: Kuningan City, Jakarta

Man of the Match: penasaran dengan Last Dinosaurs, tapi nampaknya ‘reuni’ The Adams lebih menjanjikan.

WARN!NG Level: [yasr_overall_rating size=”small”]

lihat galeri di sini dan di sini

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.