close

[Movie Review] A Million Ways to Die in the West

million way to die in west
A Million Ways to Die in the West
A Million Ways to Die in the West

Director : Seth MacFarlane

Casts : Seth MacFarlane, Charlize Theron. Amanda Seyfried, Neil Patrick Harris

Runtime : 116 minutes

Beberapa tahun lalu, ranah perfilman Hollywood digegerkan dengan kemunculan boneka beruang kecil nan lucu—juga cabul bernama Ted. Keberadaannya menyegarkan dunia komedi saat itu. Perangainya yang blak-blakan menumbuhkan cinta kasih terhadapnya. Seth MacFarlane patut bertanggung jawab atas kericuhan yang ditimbulkan Ted. Tanpa MacFarlane, Ted hanya berwujud boneka tanpa jiwa humoris.

Kali ini Seth kembali ke habitatnya. Bukan dalam wujud Ted­­–meski Ted 2 akan tayang pada 2015 nanti, melainkan sebuah film komedi berjudul A Million Ways to Die in the West. Mengambil latar belakang Arizona di tahun 1882; adegan koboi menunggang kuda atau adu tembak dengan pistol berkaliber menjadi sudut dominasi jalan cerita.

Albert Stark (Seth MacFarlane), pemuda penggembala domba yang menghabiskan hari-harinya di lapangan peternakan. Pekerjaan ini membentuk opini publik berupa cercaan dan hinaan. Kenyataan pada masa itu berkata: penggembala domba bukanlah opsi pekerjaan yang keren. Namun, Albert tetap sabar sembari mengiba dalam perasaannya. Meski hidupnya tersudutkan dengan bulu lebat domba, namun untuk urusan percintaan, Albert patut berbangga hati. Louise (Amanda Seyfried) menjadi wanita pengisi hati Albert. Menawarkan jutaan bunga mawar yang siap tumbuh bersemi dalam dada.

Sayangnya, mawar tak mampu jadi obat penawar. Gara-gara Albert menolak beradu tembak, Louise dengan berat—atau bahkan ringan hati memutus hubungan asmara mereka. Tentu saja, hal ini berdampak depresi terhadap kehidupan Albert. Karena retaknya romansa, jalan hidupnya seolah binasa.

Kasus patah hati Albert hanya pembuka. Selebihnya, banyak prahara di dalamnya. Ada Ana (Charlize Theron) yang ingin melepaskan diri dari jerat perangai barbar bandit bahaya tepi barat—sekaligus suaminya, Clich Leatherwood (Liam Neeson). Ada pula Edward (Giovanni Ribisi) dan Ruth (Sarah Silverman), sepasang kekasih satir yang pantang berhubungan badan sebelum ikatan pernikahan sah didengungkan. Hal ini terlihat normal, tapi tahan opini Anda sebelum melihat ‘latar belakang’ kisah kasih mereka berdua. Tak ketinggalan pula tokoh Foy (Neil Patrick Harris), pacar baru Louise juga seorang juragan obat kumis yang penuh gumpalan kismis arogansi.

Namun, pada akhirnya kisah film akan bersua pada satu titik; ambisi Albert dan Ana. Albert menginginkan pembuktian, sedangkan Ana membutuhkan pelabuhan. Pada akhirnya, tujuan siapa yang tercapai hanya keberanian mereka jawabannya. Halangan dan rintangan cukup jadi pembuktian aksi.

MacFarlane menyuguhkan humor segar melalui plot cerita. Guyonan yang dilempar cukup ringan—sebagian besar kritikus menganggap terlalu ringan dan tanpa isi. Coba lihat awal mula kejadian perkelahian massal di bar saat–yang juga menjadi awal pertemuan Albert dan Ana. Atau simak percakapan Edward dan Ruth sesaat setelah Ruth ‘bekerja’. Begitu polos bahkan terdengar ironis. Tak cukup? Saksikan kekonyolan Albert ketika belajar menembak bersama Ana untuk mempersiapkan diri bertarung dengan Foy.

Dari semua itu dapat kita ketahui bahwa MacFarlane mengemas sisi humor A Million Ways to Die in the West apa adanya. Tanpa sekat dan lapisan. Tanpa standar ganda sehingga makna ambigu dapat ditekan. Memang, beberapa adegan dagelan di film ini terlihat begitu murahan. Namun, tak semua kesan murahan menjadi barang dominan.

Meski mendapat kritikan negatif, A Million Ways to Die in the West layak dinikmati. Apalagi jika Anda sedang berada dalam kondisi tak layak secara psikologis. Maka buah karya MacFarlane patut dijadikan pelampiasan. [Raditya Irfani]

Tags : #film #mancanegara #seth #macfarlane #ted
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response