close

Agoni: Melenturkan Asa, Meraih Imaji

PicsArt_1477394923528
Agoni

 

Lengkingan pergerakan nyatanya tak harus keluar dari corong berukuran besar. Ia dapat tersalurkan meski cuma bertumpu perantara kecil; medium klasik berupa kesederhanaan dan tentunya hal-hal esensial yang ditemukan di rutinitas sehari-hari. Jika Anda berpikir suara pembaharuan hanya didengungkan melalui konstruksi mahadahsyat, segera ralat pernyataan tersebut. Terlihat minimalis bukan berarti nihil menyajikan aksi bombastis. Kira-kira seperti itu kesan awal yang diperoleh jika mengetahui trio pop-folk asal Yogyakarta bernama Agoni. Digawangi Erda (gitar), Fafa (vokal), dan Dimas (drum), mereka senantiasa konsisten mengejawantahkan narasi kehidupan yang termaktub lewat teks bersyair penegasan.

Cerita mula pembentukan Agoni berawal dari karir bermusik Erda dan Fafa yang sebelumnya sudah meniti jalan terlebih dahulu bersama Ilalang Zaman. Akan tetapi, keberlangsungan Ilalang Zaman tinggal nama belaka saat di tahun 2015 memutuskan untuk membubarkan diri. Karena masih menyimpan hasrat serta motivasi yang meletup, baik Erda maupun Fafa mengambil pilihan membentuk kembali sebuah kolektif seni dengan tambahan Dimas, personil baru yang memegang posisi drum. “Sekitar bulan Maret atau April, kami berniat untuk merekam beberapa  materi lagu ciptaan Fafa yang aransemennya sudah jadi sebelum band kami tadi bubar. Maka dari itu, kami berpikiran untuk mencari seorang drummer yang bertugas menggawangi track drum pada lagu–lagu yang akan direkam tadi. Karena sering main dalam satu panggung dan suka gaya permainannya, kami memilih Dimas untuk mengisi track drum tersebut dan Dimas pun menyanggupi. Setelah melewati beberapa proses latihan dan rekaman, kami merasa makin cocok secara musikal dengan Dimas sampai akhirnya kami mengajaknya bergabung dan Dimas lagi-lagi menyanggupi”, papar Erda.

Penahbisan entitas Agoni pun bukan tanpa pertimbangan dan pencarian menyeluruh. Selain dianggap mewakili proses berkarya yang sedang digeluti, nama Agoni sendiri dicomot dari kata dasar Agonia di salah satu tulisan S.T. Sunardi berjudul Suara Sang Kala di Tepi Sungai Gajahwong dalam kumpulan esai Vodka dan Birahi Seorang Nabi. “Dalam tulisan itu Pak Nardi menarik karya-karya Affandi ke dalam konteks tiga fase berkesenian: Agonia, Ekstase, dan Joy. Agonia, sepengkapan kami, dimaknai sebagai fase dimana seniman (atau dalam konteks tulisan, Affandi) masih luar biasa gelisah sehingga belum mampu menuangkan keresahannya ke dalam karya. Kami merasa karya-karya di band kami banyak bicara soal kegelisahan. Kegelisahan yang akhirnya, saking menyakitkannya, mesti kami tuangkan ke dalam lagu. Konsep Agonia dalam tulisan itu akhirnya kami ambil jadi nama band”, ungkap Fafa.

Agoni bukan tipikal band yang menghidupi banyak perangkat. Mengusung format trio pun dianggap mencerminkan identitas perekat. Meski demikian, muncul tantangan tatkala menjalankan kreasi dengan format semacam ini; timbulnya celah nada yang kosong, kebakuan instrumen, hingga reaksi aransemen yang terkadang kentara sumbang. Namun tiap personil sepakat akan satu hal; membaurkan suasana agar ruang sekat yang ditinggal meleburkan warna keterpaduan. Maka konsesi itu pula yang membawa Agoni mengenal patron khusus; membiarkan tubuh melagu, merasa atas suara.

Sejauh ini, proses pembuatan EP perdana sudah berjalan di jalur yang benar. Menurut kabar yang diterima WARN!NG, total terdapat 6 (enam) buah lagu yang dituliskan secara terpadu. Tema pembahasan tak jauh dari konflik politik, kondisi Yogyakarta terkini, sampai relasi antar manusia yang menggurat emosi lara, suka, dan cita.

Tiap balada mempunyai nafas dan karakternya masing-masing, di samping juga melantunkan pesan krusial bagi para penikmat. Seperti “Budi” yang bertutur kata perihal mengesalkannya seseorang laiknya pejabat masa kini. Atau “Jurnalis Palsu” yang terlampau eksplisit mengkritik budaya juru tinta dan aksi kepentingan korporasi. Lalu “Merajut Badai” yang melafalkan impian perjuangan masyarakat, “Jantung Kota yang Berlubang” dengan subyek kota sebagai dinamika yang terus bermasturbasi, “Denyut Cahaya” yang berupaya menyebarkan harapan di tengah jerami perpisahan, dan “Aku Harap Laguku” yang menganalogikan simbol pengandaian perputaran roda.

Getir keresahan yang melumat fenomena sekitar dibungkus Agoni dalam kaidah dan ayat lelaku kunci. Mereka berdua adalah simbiosis yang mengawinkan mutualisme; berkawan, bergerak beriringan, kemudian meneriakannya selantang mungkin. “Sejauh ini lagu-lagu Agoni lahir dari keresahan yang begitu kuat menggangguku. Jadi, inspirasinya dari apa saja yang bisa memberikan keresahan yang sedemikian rupa. Lagu-lagu itu kemudian direspon oleh personel lain sesuai dengan apa yang mereka rasakan atas lagu itu. Inspirasi dari aransemen itu mungkin bisa diceritakan sendiri oleh Erda atau Dimas. Jadi kita memang tidak pernah merumuskan secara verbal musik Agoni itu mau dibuat seperti apa warnanya. Lebih tepat kalau dibilang: musik Agoni itu kita lakukan, bukan kita rumuskan”, tutup Fafa dengan yakin. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response