close

AJI Yogyakarta Peringati 20 Tahun Kasus Udin

AJI Udin2
20 tahun Udin
20 tahun Udin

 

Dua puluh tahun lalu, 14 Agustus 1996, Fuad Muhammad Syafrudin alias Udin dianiaya orang tak dikenal. Wartawan Harian Bernas tersebut tak tertolong nyawanya dan meninggal dunia dua hari berselang, 16 Agustus 1996, pada pukul 16.58 WIB. Udin diduga terbunuh karena menulis berita kritis tentang kebijakan Orde Baru dan Bupati Bantul saat itu, Kolonel Art Sri Roso Sudarmo. Kasus Udin adalah sebuah preseden kelam dunia pers Indonesia. Seorang wartawan yang menyuarakan kritik harus terenggut nyawanya. Pengungkapan kasus Udin berlarut-larut dan tak pernah usai. Bahkan kini hingga tahun ke-20.

Pagi itu, Minggu, 14 Agustus 2016, beberapa orang berkumpul di areal Tugu Pal Putih Yogyakarta. Cuaca yang mendung tak menghalangi semangat mereka pagi itu. Di antara mereka ada yang membagikan balon kepada orang-orang atau pesepeda yang lewat. Ada juga yang memampangkan banner di dekat Tugu Pal Putih. Sebagian lagi mengajak masyarakat berfoto di depan photo booth. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta. Mereka adalah sekumpulan orang yang masih peduli dengan kematian Udin yang hingga kini, tahun ke-20, tak pernah terungkap siapa pelakunya. Tak hanya kasus Udin yang disuarakan pada pagi itu, tetapi juga kasus tujuh jurnalis lain. Jurnalis tersebut antara lain adalah Naimullah, Agus Mulyawan. Muhammad Jamaluddin, Ersa Siregar, Herliyanto, Ardiansyah Matra’is Wibisono, Alfred Mirulewan.

Pada peringatan 20 tahun kasus Udin ini, AJI Yogyakarta berusaha mengampanyekan kasus kematian para jurnalis dengan cara sederhana. Cara ini cukup berbeda dengan yang dilakukan dari tahun sebelumnya. Jika tahun lalu diselenggarakan pameran seni, sekarang kampanye dilakukan dengan sederhana. “Sebenarnya kami ingin mengampanyekan kasus ini dengan cara paling sederhana dan bisa diterima masyarakat,” terang Hendrawan Setiawan, Ketua AJI Yogyaarta. Kampanye dilakukan dengan membagi balon bertulis “Rawat Kebebasan, Tolak Kekerasan” dan berfoto bersama di photo booth.

Menurut Hendrawan, kampanye tersebut adalah sebuah investasi kesadaran. Ia paham bahwa balon tidak cukup untuk menggambarkan kasus kematian Udin dan jurnalis lain. Namun, dengan kampanye sederhana tersebut, Hendrawan berharap kesadaran masyarakat dapat terpupuk. “Pendidikan itu kan sebenarnya bagian dari edukasi yang terus-menerus. Mungkin hari ini mereka tidak mengerti. Besok ada aksi lagi semacam ini, pengetahuan mereka bertambah dan bertambah,” tutur Hendrawan. Antusiasme masyarakat dinilai cukup tinggi. Acara yang dimulai pukul enam pagi tersebut cukup menarik perhatian masyarakat sekitar maupun pelancong yang sedang berada di sekitar Tugu. “Kalau seandainya dihitung person-to-person itu seratus lebih sudah ada,” jelas Tommy Apriando, Koordinator Divisi Advokasi AJI Yogyakarta.

20 tahun Udin
20 tahun Udin

Aksi kampanye yang dilakukan AJI Yogyakarta pagi itu mengusung tema “Kebebasan Pers dan Kebebasan Berekspresi”. Menurut Tommy, kebebasan pers dan kebebasan berekspresi di Yogyakarta masih rendah. “Kami melihat kebebasan pers di Yogyakarta masih banyak problem, terutama dari teman-teman persma (pers mahasiswa),” jelas Tommy. Ia kemudian memberi contoh beberapa kasus pembredelan pers mahasiswa yang terjadi di Yogyakarta sepanjang tahun 2016. Tercatat ada beberapa kasus pembredelan pers mahasiswa, seperti yang terjadi pada LPM Poros Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan LPM Pendapa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). Hal tersebut ditambah dengan tindak represif terhadap kebebasan berekspresi. “Teman-teman Papua yang hanya ingin melakukan aksi damai terus direpresi. Mereka terdiskriminasi di Yogyakarta,” terang Tommy.

Dengan semakin menuanya kasus Udin dan jurnalis lain, AJI Yogyakarta tetap mengerahkan tenaga untuk terus menyuarakan penuntasan kasus tersebut. “Kalau Milan Kundera itu kan ngomong, “perjuangan adalah perjuangan melawan lupa” Bukan mengingat kesedihannya, tapi kami mengingatkan jangan sampai kasus-kasus serupa terulang kembali.” papar Hendrawan. Suwarjono, Ketua Umum AJI Pusat, yang juga menghadiri peringatan kasus Udin di Yogyakarta, juga mengatakan bahwa kasus Udin akan menjadi preseden buruk kalau tidak diungkap tuntas. Jika kasus-kasus tersebut tidak diselesaikan, Suwarjono khawatir kemungkinan terbunuhnya jurnalis-jurnalis lain dapat terjadi kembali. ”Isu besarnya adalah kebebasan pers kalau ini tidak terungkap, karena akan menjadi catatan buruk,” ujar Suwarjono. Kasus semacam Udin, menurut Suwarjono, adalah penyebab besar menurunnya indeks kebebasan pers di Indonesia. “Bagi kami, sampai kapanpun harus diusut tuntas. Harus dicari pelakunya. Tidak ada yang tidak mungkin,” jelas Suwarjono. [WARN!NG/Unies Ananda Raja]

photo by: Unies Ananda Raja

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.