close
IMG_0386
Rabu  © Warningmagz
Rabu © Warningmagz

Bersama aroma bebungaan yang ditaburkan di lantai dan penampilan di bawah sorot lampu temaram, musik Rabu meruangkan aura mistis. Merubah gelap menjadi kata kerja yang menenggelamkan kita dalam petikan gitar Judha Herdanta dan suara bariton Wednes Mandra. Singup!

Setelah berkelana menyuarakan Renjana di 6 kota, Rabu memungkasi tur mereka di rumah sendiri, Jogjakarta. Konser tur untuk merayakan rilis album perdana duo neo-folk ini menempati auditorium IFI-LIP –syukurlah mereka tidak memilih venue di kuburan. Atmosfir mistis yang kadung akrab di musik Rabu menguar nyata malam itu (26/06).

Album Renjana yang berisi 8 nomor sebenarnya sudah dirilis di netlabel YesNoWave Desember 2013 lalu, tapi hal ini tidak menyurutkan antusias penonton untuk menyaksikan rilis fisik album mereka. Terbukti, tiket konser malam itu sold out. Sekitar pukul 8, penonton diperbolehkan memasuki ruangan setelah sebelumnya melakukan syukuran sederhana khas kejawen di teras IFI-LIP.  Pribumi dan Sulfur adalah 2 band yang didaulat mengawali pertunjukan malam itu.

Tampil di awal, Pribumi bermain intens hanya dengan 3 alat musik dan tata visual yang apik. Band yang beranggotakan Soni Irawan, Handoyo Purwowijoyo dan Aan Dwirima ini naik membawakan 7 nomor rock eksperimental, diantaranya adalah “Masa Depan”, “Maha Pengampun”, “Pusaran” dan “Tuan Bercinta”. Pribumi yang beberapa waktu lalu merilis album bertajuk Jalang menutup penampilan mereka dengan nomor “Rokokku”. Lalu tampil Sulfur yang tanpa basa-basi menyibak telinga penonton dengan bebunyian noise selama kurang lebih 15 menit.

Venue kemudian gelap dan kru mulai menyiapkan set pertunjukan untuk tokoh utama malam itu. Tidak seperti Pribumi dan Sulfur yang tampil di atas panggung, set Rabu diletakkan hampir di tengah ruangan, rapat dengan barisan penonton. Kecuali taburan bunga yang harumnya menguar hawa mistis di bulu roma, kombinasi suara bariton misterius dan paduan petik gitar yang saling berkelindan indah oleh Wednes dan Judha, tidak ada yang berlebihan malam itu.

Nomor instrumental  gloomy, “Dru” dimainkan di awal, dilanjutkan dengan kisah lolong sang “Baung” yang memanggil malam. “Semayam” dan “Dalam Tidur” dimainkan setelah itu. Tabik untuk vokal Wednes yang menggaung menyelimuti bebunyian gitar yang terasa lebih lincah di bawahnya. Rabu memang kelam, tapi juga menyenangkan.

“Oh tolonglah wahai Tuhanku, kami barisan yang sia-sia, hidup di hitam kelamnya dunia, memohonkan jalan terang”, sepenggal lirik dari nomor “Doa Renjana” lalu dirapalkan. “Doa Renjana” adalah salah satu lagu yang tidak ada di album digital download mereka. Dengung kegelapan semakin merasuk di nomor “Kereta Terakhir”, “Kemarau, Bunda dan Iblis” dan “Lingkar”.

Satu lagi lagu yang hanya ada di versi fisik adalah “Kisah Penyusup”. Sebelum mulai Wednes bercerita bahwa lagu ini adalah kisah tentang anak raja kegelapan yang durhaka, sebuah dongeng sedih karena berakhir dengan kematian sang tokoh utama. Nomor berlirik naratif ini dibawakan sebelum lagu terakhir  “Telaga Kasih” yang resah dimainkan.

Sayang sekali interaksi Rabu yang terlihat santai dengan penonton kadang malah mengacaukan atmosfir misterius yang sudah diekspektasikan penonton sejak awal. Pun begitu, Rabu tetap layak mendapatkan sorotan atas pencapaian tur 7 kota dan karya yang sangat orisinal. Album fisik Rabu Renjana sendiri dihadirkan dalam besek –wadah dari anyaman bambu, dengan bonus kemenyan, bebungaan dan satu rokok klobot –kulit jagung.

Maka setelah malam itu, Renjana resmi dirilis dan bebas merasuki jiwa-jiwa manusia dengan rohnya yang gelap menjelma nada. Rabu tak perlu hadir di hari Rabu untuk menegaskan musiknya, tak juga perlu di hari Jumat untuk mensakralkan kesederhanaannya yang misterius, Rabu hanya perlu hadir di telinga kita untuk menyebarkan kegelapan yang menerangkan bahwa gelap tidak sesederhana mati lampu, ia kata kerja.  [WARN!NG/ Titah Asmaning]

Rabu  © Warningmagz
Rabu © Warningmagz

Event By: Kongsi Jahat

Date: 26 Juni 2014

Venue: Auditorium IFI-LIP, Sagan

Man of The Match: kegelapan musik Rabu yang menggaung indah

Warning Level: !!!.

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.