close

Album Indonesia Terbaik 2018

Our Property Facilities (2)

5. Umar Haen – Gumam Sepertiga Malam

Hasil gambar untuk umar haen gumam

Musik folk dan desa adalah pasangan mesra. Hanya saja, hampir semua musisi folk kita hanya meminjam desa sebagai sebuah ruang yang liyan dari kota, secara visual adalah asri: pepohonan rindang, sawah terhampar, semilir angin, dan lain-lain. Desa menjadi karikatur dari semesta utopis sekaligus eksotis yang mudah membangkitkan imajinasi atas bunyi petikan gitar kopong dan lirik puitis.

Sementara itu, Umar Haen melihat desa sebagai ruang sosial. “Nasihat Kakek (Jangan Jual Tanahmu)” dan “Kisah Kampungku” yang menyinggung polemik agraria jelas bicara itu. Namun, yang tak kalah menarik adalah materi lain yang menunjukan kegugupannya sebagai anak muda perantau, misalnya “Di Jogja Kita Belajar” yang sungguh observatif, keterpukauan terhadap Go-food dan Tinder di “Tentang Generasi Kita”, atau kisah terbelit asmara hedonis dengan perempuan berselera Sushi Tei di “Tak Ada Nalar Menuju Rumah”. Berani taruhan bahwa mayoritas pendengar Gumam Sepertiga Malam adalah sosok seperti Umar sendiri, yakni mahasiswa perantau di kota besar yang berasal dari desa, entah itu Cilacap, Wonogiri, Jember, Tulungagung, dan banyak lainnya. Hanya saja Umar tidak berberat gengsi untuk mengekspresikan itu, sebuah soundtrack bagi orang-orang seperti sastrawan Mahfud Ikhwan, “… seperti para diaspora yang gagal. Manusia ulang alik. Saya orang desa yang ke kota, dan ketika pulang ke desa maka saya menemukan bahwa saya orang kota tapi tak pernah benar-benar menjadi orang kota”.

 

4. Theory of Discoustic – La Marupe

Image result for theory of discoustic la marupe

Nama Theory of Discoustic sejatinya sudah bergentayangan sejak lima tahun lalu sebagai eksponen bertalenta dari ujung Celebes. Bagi kami orang Jawa dan Kalimantan, nyanyian berarak musik tradisional Sulawesi Selatan, melodi melayu, dan lirik yang seperti ditulis dari puluhan tahun silam ini sudah jaminan menjadikannya segar. Pun jika serendah-rendahnya adalah eksotisme yang membuat kami terpikat, saya yakin hari ini pun sudah makin sukar kok meramu eksotisme yang terdengar eksotis tanpa mengada-ada di musik folk. Apalagi La Marupe memang mempersembahkan aransemen yang lebih kaya dibanding dua mini album sebelumnya. Sebagai album penuh, ada keseriusan dan kematangan lebih. Di sisi lain,  kesetiaan terhadap cerita rakyat pun harus disanjung. Di saat musik folk kian akrab dengan keluarga besar musik pop, Theory of Discoustic mengembalikannya ke folklore dan lirik-lirik naratif. Sementara kelemahan album ini adalah kekikirannya yang hanya memberi kita jatah perjalanan kurang dari 30 menit, padahal kita sanggup mendengar dua-tiga kali lipatnya.

 

3. Pangalo!- HURJE! Maka Merapallah Zarasutra

Senartogok melakukannya lagi. Setelah Joe Million dan Rand Slam, kini ia memamerkan Pangalo!. Sambutlah jebolan hip hop terbaik tahun ini. Benar, Anda boleh membantah sembari memutarkan album Swagton Nirohim dari Krowbar yang menuai pujian. Tapi saya jauh lebih menyukai Pangalo! lantaran jenuh dengan rap-rap yang mencecar musuh dengan perbehandaraan umpatan—meski itu tradisi hip hop sekalipun. Sementara bagi Pangalo!, musuh ada dua: negara dan dirinya sendiri, (“Kini ku sadar diri sendirilah musuhku“- “Badut” ). Dan memang keduanya kan musuh kita yang sebenarnya? Perhatikan, Pangalo! banyak menggunakan kata “kami” dan “kawan” dibanding “ngentot” atau “sampah”. Spiritnya lebih pada “menggalang” dibanding “menaklukan”.

Pangalo! bisa membawa konten intelektualisme politik ke gaya yang tidak ofensif namun tetap berbahaya. Jika mendengarkan Homicide membuat dunia terasa gelap, maka album ini membuat kita optimis laksana pelukan karib dari seorang sahabat. Ia menceritakan “Pemenang” yang personal (“Ayah mencoba kerja ini, kerja itu, banting ini, banting tulang dan bahu. Meniti karir dalam luka bersama ibu, tak akan sembuh luka itu bila kau ragu.“) hingga “Sekolah” yang tajam (“Kurikulum berbasis baris berbaris” dan “Inilah sebab kupotong terali jendela sekolah karena mengalienasi“). Keberaniannya memasang judul album dari tajuk karya literatur seorang pemikir besar ini untungnya dibuktikan dengan kapasitas menerjemahkannya dalam narasi-narasi yang lebih mudah diterima, tak cuma asal memasukkan dua-tiga nama tokoh intelektual hanya demi memenuhi rima. Jujur saja, Pangalo! tak punya rima-rima atau rangkai kata yang canggih, bahkan cenderung miskin diksi dibanding gacoan Senartogok lain. Tidak juga kontroversial, apalagi glamor dan meledak-ledak, tapi rapalan-rapalannya justru terasa jujur dan gelisah. Hip hop tidak harus benar-benar banyak bacot, Bung.

2. Morgue Vanguard x Doyz – Demi Masa

Image result for morgue vanguard demi masa

Usai berbagai gelombang rapper merangkak ke permukaan–baik yang cemerlang ataupun penghasil rima-rima yang membuat kita malu sendiri mendengarnya–kedua rapper terhormat ini turun gunung. Dua-duanya senior dan galak secara politis. Artinya, kita sudah familiar dengan flow mereka, kombinasi antara Morgue Vanguard yang mendegam-degam dan Doyz yang lebih terdengar empuk. Mereka mulai dengan mengajari cara membuat sampul album yang bagus. Potret seorang bocah melakukan tari kejang di kawasan Kebayoran Baru di 1984 ini sungguh asyik. Isinya? “durma resonansi azimat penyair yaumudin / rima nekromansi hasrat Munir dan Udin/ kohesi integral dua unsur optima/ kompresi koronal kawah pemancur bisa/ konsorsium kontradiksi kumur pagebluk” Diksi-diksi premium nan progresif bertebaran bagai ranjau. Sementara single “CSDB FM” dan “Buckshot Funk” (“kami fatbeats kolesterol, kalian hiphop akarin/ kami graffity Bansky, kalian Instagram Awkarin/ kami kaji kamikaze sampai kami tak bisa mati”) mungkin bakal masuk daftar lagu paling catchy di diskografi keduanya.

Perkara departemen lirik memang sudah tak perlu diragukan dan siap dibedah habis-habisan, namun sisi kejut dari Demi Masa sebenarnya adalah garapan musiknya. Semburan boombap dan bebunyian funky pilihan dihantamkan lewat sound rekaman yang benar-benar jempolan, selisihnya nyata dibanding rilisan rapper-rapper kita lainnya yang bertalenta namun tak terdukung oleh kualitas produksi sound mumpuni. Di saat kebaruan-kebaruan muncul dari rapper-rapper muda di berbagai pelosok Nusantara, Demi Masa diharapkan menetapkan benchmark yang lebih tinggi untuk rilisan hip hop lokal dalam sisi fundamen teknis penulisan lirik dan komposisi musik.

 

1. Kunto Aji – Mantra Mantra

Image result for kunto aji mantra mantra

Di album Generation Y yang melagukan jomblo akut dan kisah kepahlawanan Indomie (Apalagi? Masa Supermie?), kita sudah sempat berpikir, ”penyanyi satu ini agak ‘geser’ juga otaknya kayaknya”. Begitu masuk ke album ini, liriknya justru lebih santun, namun musiknya membuat kita kian yakin ada yang tersempil dalam kepalanya. Mantra-Mantra begitu cerdas. Progresivitas album ini membuat saya curiga bahwa Kunto Aji merupakan pengikut dan pendengar musik-musik bagus zaman sekarang. Struktur lagu-lagunya tak lumrah, sementara eksplorasi sound dan aransemennya juga menjalar-jalar. Misalnya, kuping kita kadang tak langsung cekatan menangkap bagian mana chorus dan mana verse dalam beberapa lagu, namun terdengar nikmat saja secara utuh, “Rehat” misalnya.

Konsep narasi di Mantra-Mantra adalah overthinker, isu kesehatan mental yang membuat seseorang mudah terjebak dalam pikiran berbelit-belit yang tak mudah ia alihkan. Selain komposisi musik yang memang tidak simpel, apalagi monoton, lagu-lagu seperti “Rehat”, “Jakarta Jakarta”, atau “Rancang Rencana” ditulis bagai monolog antara dua sosok dalam satu kepala, walau penyampaiannya kebanyakan tetap tampak berusaha sederhana. Sampai di nomor kedelapan, “Saudade” memberi kejutan aransemen yang memesona dengan lirik sastrawi: “Dikatakan oleh angin yang menghasilkan gelombang / Jadilah besar bestaari dan manfaat untuk sekitar” / ”Dikatakan awan hitam sebelum datangnya hujan / Biarlah aku dikutuk dan kau yang dirayakan”.

Indah.

Kunto Aji mengaku bereksperimen memasukan frekuensi suara yang unik (396 Hz) yang bisa mengeluarkan racun dan pikiran negatif di Mantra-Mantra. Kuping saya tak cukup berwawasan untuk bisa mengenali frekuensi itu (jika itu memang bisa dibedakan), tapi kok kita benar-benar merasa jauh lebih baik ketika mendengar album ini. Bisa jadi sekadar karena musiknya bagus.

DAFTAR LENGKAP ALBUM, LAGU & FILM TERBAIK 2018 BISA DIBACA DI TERBAIK-TERBAIK 2018

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response