close

Album Indonesia Terbaik 2016 (5-1)

album indo

Back to:

Album Indonesia Terbaik 2016 (10-6)

rajasinga

5. Rajasinga – III

Label: Negrijuana Productions / Omuniuum / Lawless / Strain Eyes

Dalam cengkeraman Rajasinga, grindcore tak hanya ngebut sampai tujuan. Kita akan diseret melewati rute penuh pengkolan, jalan berlubang, atau apapun yang bisa kita nikmati tiap kegilaannya. III punya lagu berdurasi sekuku ala Napalm Death, atraksi gitar slide bluesy, atau colongan riff “Smell Like Teen Spirit”. Walau sangat eksploratif, tapi substansi pesan yang mereka bawa justru konkret, misalnya lewat lirik “Orang pintar, tapi tak berpijar / Masalah kami di negri ini!” atau “Rumah sakit, untuk yang berduit / gele-gele belum legal, sakit masih mahal”. Bahkan sebuah nomor plesetan pancasila berbunyi “Kemanusiaan yang suram dan tiada!” dan “Kerakyatan yang dipimpin oleh entah siapa / dalam persekongkolan dan keragu-raguan” pun terasa bukan sekadar intermezzo. Rajasinga masih (izinkan tetap meminjam tajuk album kedua mereka) kurang ajar!

 

 

tulus

4.Tulus – Monokrom

Label: Tulus Co. / Demajors

Monokrom adalah kepastian dari karakter Tulus di album sebelumnya yang fenomenal, Gajah (2014). “Pamit” bahkan menunjukan perkembangan aransemen yang mencolok lewat alunan orkestra megah yang sanggup tetap terdengar bersahaja. Sisanya, tetap lagu-lagu yang melenakan, merayu bibir untuk bersenandung. Selain “Ruang Sendiri”, “Tukar Jiwa” adalah contoh kejelian Tulus memilih perspektif lirik asmara: “Aku kehabisan cara tuk gambarkan padamu / Kau di mata dan pandanganku / Seandainya satu hari bertukar jiwa / Kau akan mengerti dan berhenti bertanya-tanya” Terasa santun dan sewajarnya, alih-alih mendramatisir nestapa. Hampir selalu ada kebijaksanaan dalam konflik yang ia sampaikan. Selama Tulus masih menatap ke depan, langkah raksasanya akan sulit dirobohkan.

 

libertaria

3.Libertaria – Kewer-Kewer

Label: Self Released / DoggyHouse Records

Marzuki Mohamad alias Kill The DJ adalah figur yang gemar menggunakan musik sebagai medium untuk bicara dengan masyarakat. Mulai dari “Jogja Istimewa”, “Jogja Ora Didol””, sampai segala ikhtiarnya mengantarkan Jokowi ke Istana. Jelas perlu putar otak untuk melakukannya seefektif mungkin. Jika dulu harus melarutkan bahasa Jawa ke musik hip hop, kali ini ia menciptakan aliran musik sendiri yang terdengar hantam kromo, yakni post dangdut elektronika. Begitu juga kolaboratornya: mulai dari Riris Arista yang memang biduan dangdut tulen, Farid Stevy Asta sebagai kesayangan remaja artsy, sampai Glenn Fredly. Satu lagi upaya memperantarai kelas, dan hasilnya ternyata tak sewagu konsepsinya. Tanpa mengurangi apresiasi terhadap aransemen garapan Balance yang berhasil memperbaiki pandangan saya terhadap dangdut elektronik (oh, musik koplo itu sampah hanya karena selalu digarap sembarangan), kepekaan lirik adalah aset pokok Libertaria. Ada wacana besar yang ditawarkan di tiap goyangan “Orang Miskin Dilarang Mabuk”, “Interupsi” dan “Citra Itu Luka”. “Citra itu mahal cantik itu luka / Hidup sibuk untuk mengejar yang fana” bisa diselundupkan ke lagu-lagu Efek Rumah Kaca. Sementara “Rakyat sedang sibuk  repot dan tak punya waktu / maka ngurus negara kami wakilkan kepadamu / kami ingatkan bahwa rakyat itu majikan / anggota dewan statusnya hanyalah pembantu” seharusnya didendangkan Rhoma Irama di rezimnya. Wajar jika Marzuki menganggap dangdut adalah solusi negara, karena sedari Orde Baru pun rakyat bergoyang tak pernah bisa dikalahkan.

 

 

ttatw

2.The Trees & The Wild – Zaman, Zaman

Label: Black Orb Records

Salah satu kegagalan musikal paling fatal di tahun kemarin adalah Mumford and Sons yang gantung banjo demi menggarap album rock alternatif yang membosankan. Ada gejala yang sama pada The Trees And The Wild, nekat menanggalkan akar musik yang sudah persisten demi menjajaki teritori yang baru. Mujur, masih ada akal sehat dan kebijaksanaan dalam langkah radikal kuintet ini. Siratan kesejukan folkish di antara sampling dan belantara noise adalah determinan yang meloloskan mereka dari lubang jarum. Itu adalah satu dari beberapa elemen lama dari Rasuk (2009) yang tidak terjelaskan secara teknis, namun dapat dinikmati dalam atmosfer noise dan shoegaze yang meruang. Zaman, Zaman selaiknya suara-suara hutan yang riuh dan mistis dalam Princess Mononoke. Kian sering didengar, album ini sejatinya tak lebih berat dicerna daripada Rasuk. Detail aransemen mereka menyimpan hook, dan selalu datang dan pergi di saat yang tepat (coba dengar “Saija”). “Tuah/Sebak” ialah selayang salam untuk Iga Massardi, bagai versi extended cut dari “Api dan Lentera” milik Barasuara. Kita pun diantar di zaman banyak orang Indonesia mengaku bisa menikmati sebuah lagu berdurasi lebih dari dua digit dengan lirik implisit yang semata diulang-ulang. Magis. Belajar dari Mumford And Sons, berani memang bukan pangkal baik. Namun, begitu menyenangkan untuk tahu bahwa salah satu album terbaik tahun ini adalah album paling berani sekaligus.

 

 

dialita

1.Dialita – Dunia Milik Kita

Label: Yes No Wave

Tahun ini, sebuah monumen sejarah nirwujud berdiri tegak di tengah wabah bebal masyarakat ahistoris yang takut untuk mengobati lukanya sendiri. Mewujud sebuah album bertitel Dunia Milik Kita, monumen ini dibangun oleh Dialita, sekelompok ibu-ibu berusia senja yang menyatukan harapan, kenangan, trauma dan ketegaran dalam choir merdu yang kuat. Mereka menggandeng musisi-musisi muda untuk mengaransemen musiknya seperti Cholil Mahmud, Frau, Sisir Tanah dan kawan-kawan. Suara-suara yang dulu bungkam kini dinyanyikan dengan paripurna. Tak hanya indah, tapi juga lantang dan menyayat hati. Lewat kolaborasi ini, wacana sejarah ‘65 yang menjadi titik tolak mereka berhasil merangkul dua generasi, dan entah sampai berapa generasi ke depan.  Coba dengarkan “Ujian”, “Di Kaki-Kaki Tangkuban Perahu”, “Viva GANEFO”, atau “Lagu Untuk Anakku”, maka album ini secara langsung juga berfungsi sebagai buku sejarah yang bahkan lebih lengkap dari bendel-bendel kurikulum pendidikan pikun itu. Dunia Milik Kita, beserta seluruh unsur yang membentuknya sekali lagu menjadi pemantik wacana konflik krusial yang dari dulu berusaha kita lupakan, bukan sembuhkan.

 

 

album indonesia terbaik 2016 | design by: Hariz Ghifari
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response