close

Album Indonesia Terbaik 2016

album indo kotak

Arena adu jitu album terbaik Indonesia tak begitu bergejolak dan sengit seperti tahun lalu, tapi sekam kompetisi tetap menyala hangat sepanjang tahun. Tak ada lagi nama-nama kanon yang seolah punya mantra ampuh untuk merangsek ke nomor-nomor wahid. Selain beberapa band dengan hiatus panjang yang akhirnya kembali dengan kejutan seperti The Trees & The Wild dan Tika & The Dissidents, beragam musik segar muncul dalam spektrum yang luas. Band-band semacam Elephant Kind, Rajasinga sampai Tulus dan Raisa pun menunjukkan tajinya.

Sementara itu, gelombang yang lebih bergairah muncul dari kancah hip-hop nasional. “Dat $tick” milik Rich Chigga seperti jadi genderang kebangkitan genre yang dulu hanya dikenal orang melalui Iwa K. Tak berselang lama, Young Lex dan gerombolan Youtubers hits turut meramaikan dengan bermacam lagu dan kontroversi. Pentolan hip hop pergerakan Ucok Homicide pun muncul dengan reinkarnasinya, Bars of Death. Seperti pemantik, mereka membangkitkan demam hip hop nasional.

Di antara semuanya, musik-musik dengan semangat politis pun tetap tajam menyoroti dunia yang tidak baik-baik saja. Bukti bahwa musisi tak buang muka melihat realita, pun makin asyik dengan musik yang tak marah-marah melulu. Dengarkan Libertaria yang kritis dengan post-dangdut elektroniknya, atau paduan suara Dialita yang mampu meluruhkan hati kita semua. Sebagai pamungkas, senarai Album dan Lagu Indonesia Terbaik 2016 versi WARN!NG ini adalah apresiasi kami terhadap mereka yang dengan gigih mencoba memetakan kekuatannya sendiri di arena yang riuh tahun ini.

 

 

dentum dansa bawah tanah

10.V/A – Dentum Dansa Bawah Tanah

Label: Pepaya Records & Studiorama

Ketika ranah independen mulai membosankan, maka gelombang elektronik yang dikelola dengan begitu intens dan menyenangkan menjadi alternatif sajian yang tidak dapat dilewatkan begitu saja. Papaya Records bersama 14 (empat belas) musisi elektronik dari lintas genre menciptakan serangan perlawanan—atau jika ingin disebut pembebasan juga tak mengapa—bernama Dentum Dansa Bawah Tanah. Sebuah album kompilasi di mana deep house yang melantai atau ketukan groove memikat yang mengalun seirama mampu tumbuh secara harmonis. Selintas, kompilasi ini mengingatkan keberadaan Jakarta Movement ’05 yang meroketkan nama Agrikulture hingga HMGNC. Akan tetapi, Dentum Dansa Bawah Tanah bukan sekedar tumpukan komposisi yang menautkan Sunmantra, Rei, Settle, Duck Dive, sampai Future Collective belaka. Ia hadir menegaskan status perombakan tatkala dunia EDM dibanjiri rasa bebal meski meraih kuantitas besar, deretan line up yang bergengsi, maupun hingar bingar festival yang tak terkendali. Bahwa sesungguhnya musik elektronik dapat dinikmati bermodalkan perangkat seadanya, ruang yang tak terlampau luas, dan Anda bisa mengenakan kaos band indie, celana lusuh, ataupun sepatu belel bermerek Converse. Terpenting: suasana intim tetap terjaga tanpa sekat yang memisahkan.

 

 

raisa

9. Raisa – Handmade

Label: Juni Records

Satu bukti lagi bahwa independensi adalah kebutuhan progresivitas untuk musisi hari ini, termasuk mereka yang berkiprah di tataran industri arus utama. Handmade yang digarap mandiri melalui label Juni Records (sama dengan album perdana Barasuara) adalah album terbaik Raisa sejauh ini. “Jatuh Hati” lebih dulu menaklukan tahun 2015, sementara “Kali Kedua” kian meningkatkan kecurigaan bahwa Dewi “Dee” Lestari punya bakat seperti Eross Candra dalam menggarap lirik pop yang mandraguna. Puas juga mendengar Raisa bernyanyi dengan didukung produksi aransemen yang modern dalam “Sang Rembulan” dan “Nyawa dan Harapan”. Handmade tahun ini sukses menyunggi Raisa untuk mengimbangi Tulus sebagai agen tembang radio paling kompeten.

 

 

tika & The Dissident

8.Tika & The Dissident – Merah

Label: Demajors

Dirilis tepat saat Hari Perempuan Internasional, Tika & The Dissident memungkasi 7 tahun penantian album baru. Mengangkat berbagai isu sosial dalam lirik politis dan musik yang lebih beragam, Merah terdengar seperti seorang perempuan dewasa yang pintar. Tahu bagaimana menggabungkan jazz, blues, rock, dan sedikit punk dengan baik dan jitu. Kegiatan Kartika Jahja di bidang femiinisme sendiri memeberikan kontribusi kuat dalam lahirnya “Tubuhku Otoritasku” dan “Pukul Rata”. Dua lagu feminisme yang terdengar tidak marah-marah seperti stereotip kebanyakan orang tentang gerakan ini. Dengarkan pula lirik “I’ve grown out of your ism/ won’t fit in your little box/ wouldn’t say i’m left or right/ i’m just grateful that i ain’t you/ grateful that you ain’t me/ trying to unlearn the fight/’ di nomor “Unlearn The Fight” yang menunjukkan kedewasaan sikap mereka. Selama 34 menit, meskipun tidak merepresentasikan diri sebagai band feminis, Merah berhasil mempertegas bagaimana perempuan dan manusia menyikapi berbagai isu.

 

 

mondo gascardo

7. Mondo Gascaro – Rajakelana

Label : Ivy League Music

Dua tahun meninggalkan salah satu band paling berbakat di negeri ini, Mondo Gascaro menunjukan bahwa ia baik-baik saja. Sebebas angin menerbangkan dirinya pada terpaan ombak selaba yang dirayakan oleh harmonisasi vokal yang elok dan silir semilir suara sesi strings. Selain pengaruh The Beach Boys, warna musik Sore sendiri (seperti yang diharapkan) terpatri secara sah di Rajakelana. Hanya saja jika Sore merengkuh eksotisme urban, maka Rajakelana menawarkan atmosfer pesisir yang diejawantahkan di antaranya melalui penggunaan instrumen-instrumen tropikal seperti alat petik asal wilayah kepulauan di Jepang pada “Butiran Angin”. Hikmah dari perpisahannya, hari ini kita jadi punya dua sumber musik sebagus ini.

 

6. Elephant Kind – City J

Label : Frisson Entertainment

Bersama kontribusi dari seorang Lee Buddle, kualitas produksi suara City J memang mumpuni. Namun, jika hanya itu, Elephant Kind tidak akan lebih dari barisan kolektif pop urban electronic hambar yang hanya bermodal keluaran sound jernih, punya synthesizer, dan vokalis bersuara bagus. Elephant Kind menyandang materi yang memang solid dan impresif, itu persoalannya. Mereka gemerlap seperti Phoenix atau Two Door Cinema Club dalam “Beat The Ordinary” dan “Keep It Running”, rancak menyerupai Vampire Weekend (“Love Ain’t Rockies”), dan mengerucut pada beat-beat R&B di “Montage”. Harga rilisan fisiknya kemahalan? Selalu ada cara untuk setiap album yang bagus.

 

Read More:

Album Indonesia Terbaik 2016 (5-1)

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response