close

Album Internasional Terbaik 2016 (5-1)

album inter

Back to:

Album Internasional Terbaik 2016 (10-6)

 

david bowie

5.David Bowie – Blackstar

Label: ISO / Columbia / Sony / RCA

Blackstar mengangkasa di tangga lagu Inggris sebelum kabar duka Bowie diumumkan. Artinya, bukan semata momentum kehilangan yang membuat album ini begitu dirayakan tahun ini. Seakan mendamba keabadian, ada unsur klasik sekaligus futuristik di dalamnya. Komposisi art rock yang dipengaruhi oleh album terbaik tahun lalu, To Pimp a Butterfly dari Kendrick Lamar. Beberapa legenda hidup mengalami demistifikasi sosok dan karya yang dilucuti usia (sebut saja Robert Plant), tapi Bowie adalah lain. Dahulu, ia menguasai dunia dengan undangan memasuki dimensi-dimensi terasingnya, dan kini ia meninggalkan kita semua dengan tinggalan yang tetap mirakel. Bahkan di tiap ketukan drum di Blackstar, terdapat atmosfer elusif yang membuat kita merasa makin tersesat. Kian kemari tanpa ujung, lagi cahaya.

 

 

car seat headrest

4. Car Seat Headrest – Teens of Denial

Label: Matador

Sejatinya tak ada yang baru dari karakter musik yang dibawakan Teens of Denial. Kita belum terlalu lama kehilangan gaung indie rock merisaukan semacam The Libertines, The Strokes, atau juga intro “Vincent” yang mengingatkan pada “Marque Moon” dari Television. Tapi musik seperti ini memang rasanya tak boleh sekalipun absen, dan tahun ini Car Seat Headrest mewakilinya dengan sangat baik. Lirik-lirik resah besutan Will Toledo (vokal) merangkum optimisme dan pesimisme yang saling berunding dalam gaya tutur sempoyongan dan penuh metafora cerdas, seperti racaunya: “And then I saw Jesus/ And he said ‘Who are you to go against the word of my father? And Who are you?  the scum of the earth’” dalam “(Joe Gets Kicked Out Of School For Using) Drugs With Friends (But Says This Isn’t A Problem)”. Jika sesuatu yang memabukkan belum mampu menjawab kebutuhan remaja gelisah, Teens of Denial bisa jadi pelarian kedua.

 

 

beyonce

3. Beyonce – Lemonade

Label: Parkwood / Columbia

Beyonce tidak lagi hanya melibatkan setimbun elemen musik, namun juga kehidupan pribadinya dalam pendekatan eksperimen di album teranyarnya. “You can taste the dishonesty, it’s all over your breath”, lantunnya pilu membuka Lemonade. Jay-Z selingkuh dengan oknum yang disebut dengan nama samaran “Becky with the good hair“, dan Beyonce menyanyikan semuanya secara cukup detail sebagai reportase maupun curahan emosi. Nomor “Hold Up” sukses menggunakan interpolasi chorus Yeah Yeah Yeahs, “They don’t love you like i love you” untuk membahasakan perasaan di fase ternaifnya. Tak ada ampun bagi Jay-Z, “Who the fuck do you think I am? / You ain’t married to no average bitch boy…… And keep your money, I’ve got my own” dari “Don’t Hurt yourself” berkembang hingga “Me and my baby we gone be alright / We gon’ live a good life / Big homie better grow up”  dari “Sorry” sebagai puncak paruh awal album ini yang jika dilakukan oleh musisi Indonesia mungkin akan jadi makanan empuk Kapanlagi.com atau akun Lambeturah. Memang tidak ada single yang terbilang sukses besar, “Formation” mentok hanya bercokol di 10 besar Billboard 100. Lemonade adalah terobosan, sebuah album pop arus utama yang tidak cocok didengar terpisah per lagu (kecuali “Formation” itu sendiri). “All Night” misalnya, hanya akan membuat hati berderai-derai jika didengarkan tepat setelah 10 lagu sebelumnya. Selebritas Beyonce (dan Jay-Z) adalah sebuah trofi kemenangan industri, dan Lemonade berhasil mereproduksinya menjadi karya yang juga menang secara artistik. Baik dalam perpektif seni paling adiluhung atau komodifikasi paling jahat, Lemonade adalah inovasi yang cemerlang.

 

 

bon iver

2. Bon Iver – 22, A Million

Label: Jagjaguwar

Suara-suara itu menyerupai nyala api yang bergelayut di atas lilin, berjuang melawan angin untuk tetap hidup. Meredup, menerang, Kadang terasa menjauh, mendekat. Bon Iver bukan menggunakan mesin untuk menghidupkan musiknya, melainkan malah menggunakan musiknya untuk memberikan kehidupan pada mesin. Dalam 22, A Million, kita seakan bisa mendengar robot yang bernafas, bahkan mungkin menangis di “29 # Strafford APTS” atau menggeligis di “21 M♢♢N WATER”. Ternyata kita bisa seintim itu dengan sampling, loops, autotune atau manipulasi-manipulasi lain. Seperti rapalan lirik Justin Vernon (vokal) yang acap mengarungi ketidaktahuan atas apa yang akan datang, perkawinan folk yang organik dengan perangkat keras-perangkat lunak ini pun adalah pertanyaan untuk masa depan. Seberapa jauh lagi telusur artistik bisa memanusiakan musik elektronik?

 

white lung

1.White Lung – Paradise

Label: Domino  

Cuma butuh 13 detik pertama untuk menumbuhkan prasangka bahwa Paradise akan jadi album terhebat tahun ini. “Dead Weight” menubruk gendang telinga dengan dahsyat, sebuah peringatan bahwa melakukan aktivitas lain pada 28 menit ke depan hanya akan berakhir dengan kacau balau. Hampir seluruh lagu di Paradise seperti rudal yang melesat dari jet-jet pembunuh massal. Unsur melodik menjadi pembeda utama dibanding tiga album pertama unit punk rock asal Kanada ini. Jelas, melodik yang ini tak terasosiasi dengan istilah lemah apapun. Laksana membungkus tornado dengan angin pusar. Punk rock megah tanpa perlu didukung iringan opera ala American Idiot atau 21st Century Breakdown. Jika Anda masih bebal, silahkan hadapi Mish-Way Barber (vokal): “Ada sikap sangat bodoh yang hanya dimiliki oleh para penganut punk, karena entah bagaimana menjadi seorang penulis lagu yang lebih baik malah dianggap tidak keren.” Sikap alotnya juga terukur dari lirik-lirik yang sengit namun genial. Feminis juga perlu cinta! “Kiss Me When I Bleed” berkisah tentang wanita kaya yang jatuh cinta dengan tukang sampah, pahit tapi mencecar (“I will give birth in a trailer / Huffing the gas in the air / Baby is born in molasses / Like I would even care”). Bersamaan dengan semangat feminisme yang makin dirayakan, suara-suara perempuan telah banyak mengokupasi ranah music rock hari ini seperti Warpaint, St. Vincent, atau Courtney Barnett. Dan Paradise membuat fenomena itu berdengung lebih ribut dari sebelumnya. Valid, 13 detik yang paling bisa dipercaya tahun ini.

album internasional terbaik 2016 | design by: Hariz Ghifari                                                                                                                                
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.