close

Album Internasional Terbaik 2016

album inter

 

Seolah satu ruang redaksi selalu pulang semobil mendengarkan playlist CD Player yang sama, hampir seluruh kritikus dan redaktur media (tanpa terkecuali media yang tengah kalian baca ini) serentak memilih To Pimp a Butterfly dari Kendrick Lamar sebagai album terbaik di tahun 2015 lalu. Konsensus cita rasa dari telinga yang berbeda-beda bisa terseragamkan. Jika Anda tanya kenapa, jawaban kami adalah karena albumnya memang bagus. Sebagai salah satu bukti yang membuat kami merasa pilihannya dilegitimasi, Anda bisa menemukan banyak musikus yang mengaku tahun ini dipengaruhi langsung oleh album rap yang memestakan konteks pergerakan Black Live Matters tersebut saat menggarap rilisan, termasuk dua di antaranya yang paling dirayakan, yakni David Bowie dengan Lazarus dan Beyonce dengan Lemonade.

Jadi inilah sebenarnya fungsi senarai seperti ini. Bukan sekadar apresiasi atas apa yang terbaik dari yang terbaik, tapi juga sebagai dokumentasi perihal sampai mana capaian artistik peradaban kita dan bagaimana kemudian kita meresponsnya di tahun berikutnya. Menjadikannya sebagai pijak barometer untuk mengetahui produk budaya apa yang layak didaur ulang, dikotak-katik, atau justru dibunuh untuk melahirkan kembali karya-karya baru  yang mewakili keresahan zaman.

Syahdan, sampai mana kita di tahun 2016? Ada yang sudah terbocorkan di paragraf awal. Seperti legenda-legenda lainnya, David Bowie memang sudah saatnya berkalang tanah. Tapi bedanya dengan deretan pahlawan gugur lainnya adalah ia meninggalkan sesuatu yang membuat kita seakan baru pertamakali mengidolakannya. Sementara itu Beyonce merilis karya progresif yang membuat Britney Spears, Bruno Mars, Lady Gaga, dan solois lain yang merilis album tahun ini (kecuali Rihanna dengan Anti) seperti pedagang yang sudah buntu dan susah diajak maju. Tren maraknya vokal-vokal perempuan yang memperlantang musik rock juga masih menjalar-jalar, bahkan berada di titik yang belum pernah sekonfrontatif sebelumnya.

 

Drive By Truckers

10. Drive-By Truckers – American Band

Label: ATO

 

Selain mengusung titel album yang cocok sebagai label musisi pengiring kampanye Donald Trump, unit country rock ini juga berasal dari Alabama, teritori militan dari pendukung Partai Republik, superioritas kulit putih, dan presiden anyar Amerika Serikat tersebut. Namun, Drive-By Truckers datang membelot bermodal hipotesis bahwa menjadi miskin itu bencana, namun menjadi kulit hitam berarti sedikit lebih buruk. Patterson Hood (vokal) bicara, “Kami sebagai kulit putih ragu untuk bicara tentang perbudakan dan isu rasial karena kami pihak antagonis, maka kami berpura-pura tidak terjadi apa-apa, sampai sesuatu terjadi tepat di depan wajah. Saya merasa jika memulai sebuah dialog akan lebih baik daripada tidak sama sekali, walau dialog itu sedikit panas dan tidak akan mengenakkan.” Persis, American Band memanaskan dan menciptakan hawa tidak enak lewat lirik-lirik lugas anti-segregasi (yang berarti anti-Trump… dan anti Alabama?). Mereka mengutuk bendera konfederasi sebagai simbol rasisme pada “Darkened Flags On The Cusp of Dawn”, dan berlagu “If you say it wasn’t racial / When they shot him in his tracks / Well I guess that means that you ain’t black” pada “What It Means”. Kendati gugur secara politis, namun American Band terbukti lebih nyaring daripada sejumlah musik kampanye Hillary Clinton.

 

 

kanye west

9. Kanye West – The Life of Pablo

Label: GOOD / Def Jam / Rock-A-Fella 

Sampai di album ketujuhnya, Kanye West belum sempat merilis album dengan mutu biasa-biasa saja, (oke, kecuali kepicikan lirik-lirik Watch The Trone. Pengaruh buruk Jay-Z!). Apalagi untuk album yang memang tidak digarap dengan biasa ini. The Life of Pablo diproduksi dengan sistem “rilis dan revisi” (jika istilah ini pernah ada) dengan 18 lagu yang tidak terdengar kohesif satu sama lain. Bahkan kita mungkin bisa mengatur ulang sendiri urutan track-nya agar terdengar lebih rapi. Namun, tema besar The Life of Pablo memang perihal proses serta instabilitas. Dan di antara kekacau-balauannya, reputasi West sebagai rapper dengan kemampuan meramu aransemen yang belum ada bandingannya makin menonjol. Tiap lagu punya ornamentasi menawan yang memungkinkannya untuk berdiri sendiri, termasuk melankolia apik: “Real Friends” dan “Wolves”. Dan tepat di tengah kekacau-balauannya lagi, terselip satu nomor freestyle bertajuk “I Love Kanye”: “See, I invented Kanye, it wasn’t any Kanyes / And now I look and look around and there’s so many Kanyes / ….. / And I love you like Kanye loves Kanye” Kejemawaannya masih berstatus sah. Apapun yang ia buat, sulit untuk tidak mencintainya.

 

 

radiohead

8. Radiohead – A Moon Shaped Pool

Label: XL

Setelah masa The King of Limbs lepas ke pasaran, banyak yang berkata karir band alternative-rock asal Britania ini bakal kandas begitu saja. Bukan tanpa sebab pendapat tersebut muncul ke permukaan jika melihat kondisi di mana pola kreatifnya tak lagi menyenangkan, visi yang dicanangkan tak jelas ke mana arahnya, dan akhirnya karya-karya yang diciptakan sekedar memenuhi target operasional belaka. Selayang kritik, rasa sesal, hingga sumpah serapah bermunculan; menanyakan apa yang sejatinya terjadi. Lima tahun berselang, mereka hadir kembali membawa sebuah kotak berjudul A Moon Shaped Pool yang kelak bisa Anda sebut sebagai mahakarya di samping OK Computer atau Kid A. Kejeniusan Thom Yorke berbicara banyak dengan menyusun altar kebangkitan yang terdiri atas orkestrasi sempurna, metafor makna yang luar biasa, serta konjugasi instrumen mengesankan yang menebalkan kecemerlangan pikirnya. Kualitas memang terbukti tak pernah ingkar janji.

 

 

anderson park

7. Anderson Paak  – Malibu

 Label: Steel Wool  / OBE/ Art Club / Empire

Tak perlu menjadi fans fanatik hip hop untuk menikmati pesona rapper menjanjikan bernama Anderson Paak. Di kala Kendrick Lamar masih butuh nafas untuk menggarap album baru dan Drake sibuk mencari formula tepat dalam meramu kemasyhurannya, ia muncul membawa sesuatu yang langka: menghidupkan kembali nafas boom bap yang sempat mencuat di medio 90-an. Album anyarnya, Malibu, merupakan pencerahan tiada banding. Sebuah kesepakatan besar yang terilhami kharisma Dr. Dre. Harmoni gospel yang disemayamkan memuat saran perenungan, jemari tangannya mencumbui tuts organ yang bergemuruh, serta suaranya mencabik rasa iman bersama lapisan karakter yang meliar di akhir perjumpaan. Apabila sulit memercayainya, segera simak “Put Me Thru” atau “The Waters” yang merangsang kulminasi perasaan Anda setapak demi setapak.

 

 

skeleton

6. Nick Cave & The Bad Seeds – Skeleton Tree

Label: Bad Seed Ltd.

Nick Cave biasa bicara tentang ajal. Namun, kali ini bukan imajinasinya yang memancingnya bicara, melainkan emosi. Lirik di album ini diubah dalam sesi rekaman pasca putranya tewas jatuh dari tebing. “All the things we love, we lose,” ucapnya dalam dengung noise yang getir di “Anthrocene”. Alasan Skeleton Tree menjadi album duka yang luar biasa adalah karena gelegak nestapa yang siap tertumpah tidak membengkalaikan sisi artistiknya, tapi justru berkelindan. Sejak “With my voice / I am calling you” melantun dari “Jesus Alone”, suara Cave yang menggigil terus muncul dalam ruang minimalis berlatarkan disonansi dan ambience yang garau, seakan ia melagukannya di hadapan makam yang berlumpur. Bahkan beberapa melodi vokal sengaja tidak selaras dengan time signature-nya. Kendati juga Cave memilih menggunakan alegori dibanding narasi dalam mengisahkan elegi-elegi itu, kita tetap mahfum benar seberapa berkabung suasana hatinya.

 

Read More:

Album Internasional Terbaik 2016 (5-1)

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response