close

Album Internasional Terbaik 2018

Our Property Facilities

10. Mitski – Be The Cowboy

Hasil gambar untuk be the cowboy

Banyak yang tidak tahu bahwasanya karier musikus blasteran ini bermula dari kepiawaian dan utak-atiknya memainkan piano. Maklum, karena lampu sorot memang baru tiba ketika ia mulai ‘melipir’ ke indie rock bengal di album ketiga (Bury Me at Makeout Creek) dan keempatnya (Puberty 2). Belum terlambat, Be The Cowboy, album terbaiknya dibuka dengan cumengkling bunyi piano yang panjang, sebelum disambut elemen-elemen rock yang lebih elegan. Patrick Hyland selaku produsernya mengatakan bahwa “untuk kebanyakan lagu, kami tidak melapisi vokalnya dengan vokal tambahan atau harmoni, ini semua demi mendapatkan atmosfer ‘seseorang yang sedang tampil di atas panggung sendirian’.” Langkah itu berhasil. Toh ketika ia melantunkan lirik-lirik seperti “Sorry, I can’t take your touch / It’s just that I fell in love with a war” dalam “A Pearl”–sebanyak apapun personil di atas panggung–perhatian kita tak akan meleset darinya.

 

9. Snail Mail – Lush

Hasil gambar untuk snail mail lush

Tongkat estafet indie rock diambil oleh seorang remaja tanggung yang baru lahir saat Pavement sudah rilis album kelima dan Napster sudah menjadi hantu industri. Lindsey Jordan, nama asli Snail Mail, tahu apa saja kekuatan aliran musik ini–termasuk wacana kebosanan dan sakit hati–lalu membuatnya terdengar modern. Coba dengar “Pristine” yang terdengar familiar sekaligus segar. Yang menarik, ia banyak bermain gitar dengan mode clean, membuat lagu-lagunya terdengar lebih manis namun sekaligus lantang sebagai curhatan. Lush menjadi respons lain juga terhadap maraknya film-film coming-age di AmerikaKeresahan remaja memang tak pernah usai, dan Snail Mail menyemainya dalam bentuk peremajaan indie rock yang apik.

 

 

8. DJ Koze – Knock Knock

Hasil gambar untuk dj koze knock knock

Sejak era Kraftwerk, Jerman selalu mengantungi progresivitas tangguh di jagat musik elektronik. DJ Koze pun bukan nama anyaran meski ia baru rilis tiga album penuh. Dan Knock-Knock adalah yang paling berhasil membuatnya bersinar. Komposisinya kaya raya. Saya pikir seorang cendekiawan musik elektronik (jika orang seperti ini ada) pun tak mudah memetakan lalu meletakkan isi album ini dalam beberapa aliran musik saja. Mendengarkan Knock Knock seperti memaksa seorang DJ masuk ke toko musik umum lalu memintanya mengolah sampling dari rekaman-rekaman yang ada di sana secara acak. Kolaborator vokal di album ini tak banyak saya kenal–kecuali suara Justin Vernon di “Bonfire”–namun sepertinya tak ada yang “numpang” sia-sia. Album ini membuat musik elektronik menjadi terdengar sangat cerdas, alih-alih musik untuk para pemalas dan tombol-tombolnya.

 

7. Soccer Mommy – Clean

Hasil gambar untuk clean soccer mommy

Mengomentari film remaja Eight Grade (2018), seorang profesor bernama Julianna W. Miner menulis bahwa 22 persen remaja terus bergelut dengan depresi dan kecemasan, bahkan remaja perempuan di 2015 memiliki tingkat bunuh diri tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Era media sosial membuat kompetisi citra makin mudah menyudutkan mereka yang tertinggal. Maka ketika Sophie Alison, nama asli Soccer Mommy menyanyikan “i wanna be that cool” dalam “Cool”, itu bukan sesuatu yang terdengar sepele. Begitu juga kompleksitas asmara “in the summer,  You said you loved me like an animal” pada “Still Clean”. Ia beberapa kali menggunakan hewan sebagai metafora, menunjukan kerisauan sekaligus spontanitas. Dengan karakter yang sebelas-dua belas, Clean tahun ini sukses mengungguli album Courtney Barnett. Salah satu faktor determinannya mungkin adalah pengaruh musik Top 40 kecintaannya guna menemukan melodi-melodi yang membuat kita jatuh cinta untuk mendengarkan ocehannya yang biasanya tak diseriusi di meja makan.

 

6. American Pleasure Club – A Whole Fucking Lifetime of This

Hasil gambar untuk a whole fucking lifetime of this

Sam Ray mengubah nama bandnya dari Teen Suicide menjadi American Pleasure Club pada akhir 2017. Alasan yang kita bisa terima adalah nama itu membatasinya untuk hanya membuat lagu-lagu depresif. Ia ingin lebih ceria kendati tetap introspektif. Motif-motif itu cukup terjelaskan di A Whole Fucking Lifetime of This, dan membuat kita bersyukur karena hasilnya menggembirakan. Meski variatif, namun folk dan elektronik adalah dua bahan masak utama di album ini. Keduanya jelas bukan aliran musik yang mudah disantap bersama, seperti gudeg dan kuah rendang. Namun, Ray tak bermaksud membuat menu baru, ia menyajikan keduanya secara bergantian dalam satu acara makan bersama, dan anehnya tidak menyiksa lidah. Entah itu “Florida (Voicemail)” yang nikmat atau “Sycamore” yang punya potensi jadi lagu terbaik di album terburuk Kanye West tahun ini.

 

5. Kacey Musgraves – Golden hour

Hasil gambar untuk kacey musgraves golden hour

Bahkan, lagu-lagu terbaik di album ini: “Slow Burn”, “Butterfly” hingga “High Horse” sebenarnya tidak punya kejutan musikal berarti. Malahan, Pageant Material (2015) masih lebih punya insiatif eksplorasi dalam beberapa aspek. Kejutannya adalah justru karena kita ternyata bisa mendengarkan album yang terdengar serba sewajarnya ini berulang-ulang tanpa memunculkan pengap di kuping. Melodi-melodinya tidak ambisius dan meliuk-liuk, namun menenteramkan. Komposisinya adem dan sedap. Untuk Anda yang letih dan merasa payah dalam urusan duniawi, Golden Hour adalah salah satu–dari sedikit hal–yang paling bisa membuat kita bahagia tahun ini.

 

4. Kali Uchis – Isolation

Hasil gambar untuk kali uchis album

 

Musik Latin sedang mencuri sorot dan melakukan invasi ke industri musik pop yang lebih luas sejak “Despacito” menjadi fenomena. Beberapa lagu hits tahun ini dari penyanyi Amerika ternama seperti Ariana Grande sampai Cardi B pun meminjam pengaruh latin. Sementara Kali Uchis, dengan sensibilitas bawaan darah Kolombia-Amerika-nya justru tak mau terjebak di kloter pasar musik Latin Pop ini. Seksinya pembawaan melodi khas Latin diimbangi dengan unsur soul, jazz, R&B, hingga doo-woop dan reggaeton. Sebuah album pop dengan keinginan memasukan segudang aliran musik seperti ini terbiasa gagal, tapi Isolation bisa menunjukan keluwesannya yang luar biasa dalam mengakomodir eksplorasi itu. Bahkan, kekayaan musikal ini sudah terangkum misal hanya didengarkan per lagu saja, coba simak “Miami”, “Just a Stranger”, atau “Nuestro Planeta”.

 

 

3. Janelle Monae – Dirty Computer

Hasil gambar untuk janelle monae dirty computer

Setelah cemerlang ambil peran di dua film nominasi Best Picture di Oscar 2017, Moonlight dan Hidden Figures (meski mungkin Anda tidak mengenalinya), Janelle Monae kembali untuk menggarap album modis ini. Dirty Computer adalah sebuah album pop yang amat bernyali dalam medan lirik dan musik. R&B dan funk adalah fundamennya, namun Monae asyik berinovasi dengan bebunyian antik tanpa mengintervensi catchyness, misalnya “Make Me Feel” yang mendapat olah tangan dari Prince sebelum meninggal (dan memang terdengar sangat Prince). Oiya, lagu itu tentang biseksual, yang mana bukan barang baru. Dirty Computer banyak angkat suara soal “non binary, gay, straight, queer  yang telah melalui masa-masa sulit dengan identitas seksual mereka, bergelut dengan perasaan terasing dan terisak hanya karena menjadi unik.” Di luar perkara gender yang personal bagi Monae, Dirty Computer adalah perayaan nilai-nilai liberalisme yang berani dalam musik pop canggih yang terantar masuk ke nominasi Album Terbaik di Grammy.

 

2. Arctic Monkeys – Tranquility Base Hotel & Casino

Hasil gambar untuk arctic monkeys album tranquility base hotel & casino

Sampai pada AM (2013), rasanya kita memang tidak bisa menebak lagi album Arctic Monkeys selanjutnya akan seperti apa. Dan ketika Tranquility Base Hotel & Casino akhirnya rilis, segala di album ini yang belum pernah kita dengar itu tidak benar-benar mengagetkan. Jika ada yang komplain bahwa AM terlalu terkesan sebagai album solo Alex Turner (sungguh komplain yang kuno ~), begitu pula album ini. Masih memfasilitasi keflamboyanan Turner, kini sedikit jazzy, dan makin jauh dari musik lantai dansa yang gemerlap. Mereka membawakan lounge pop, jenis musik chill yang sudah ada sejak 1920 dan biasa diputar untuk membuat betah para tamu hotel dan kasino. Maka lagu-lagu di album ini memang tak berkena untuk sing-along, apalagi jejingkrakan. Untungnya, agar tidak terdengar tua dan tetap relevan untuk khalayak budaya pop, mereka mengemasnya dengan narasi sains fiksi terpadu: lirik-liriknya berkisah seputar sebuah hotel di tempat pendaratan Neil Amstrong di bulan dengan ragam sudut pandang karakter berbeda, mulai dari resepsionis, tamu, sampai penjaja taco. Konsep multi-perspektif ini terimplementasi sampai pada cara bernyanyi Turner yang berbeda-beda pula untuk membedakan tiap karakter. Wow, industri musik tidak akan pernah kurang darah selama Arctic Monkeys masih ambisius.

 

  1. Cardi B – Invasion of Privacy

Hasil gambar untuk cardi b invasion of privacy

Cardi B adalah jelmaan hikayat star is born yang sebenarnya di semesta hiburan masa kini. Dalam ungkapan lain: ia menunjukan cara populer yang ideal di era media sosial. Dalam ungkapan lainnya lagi: jika saja Awkarin benar-benar bisa ngerap dan lagunya bagus.

Kisah Cardi B adalah kisah drama yang dibarengi talenta.

Kisah Cardi B adalah american dream berarak prahara moral, seorang penari telanjang kelahiran Bronx yang kini menjadi mahkota hati industri musik. Sebuah otobiografi berharga jutaan dolar yang terangkum di lagu “Get Up 10” dengan instrumen piano dramatik: “Look, they gave a bitch two options: strippin’ or lose / Used to dance in a club right across from my school”. Namun, ada ribuan kisah seperti itu yang berumur pendek. Maka Invasion of Privacyadalah pembuktian jika meroketnya “Bodak Yellow” bukan sekadar penyegaran industri. Album ini lalu muncul dengan lagu-lagu impresif lain seperti “Drip”, “I Like It”–perpaduan terbaik dan mungkin terlaris dari rap dan latin pop–“Be Careful”, dan lain sebagainya.

Kisah star is born memang sering bicara bakat, dan Cardi B kaya akan itu. Ia punya aksen tebal yang membuat rapper manapun akan rela menjual mobil-mobil ferrari-nya untuk mendapatkannya. Dalam dunia rap, kita mengenal teknik flow, delivery, dan kualitas content, tapi ada satu yang sulit diubah: warna suara. Cardi B pun punya itu, mengingatkan pada Eminem yang juga diberkahi warna suara yang membuat apa yang keluar dari bibirnya menjadi terdengar lebih penting dari rapper lainnya. Oh, tapi faktor determinannya adalah bagaimana Cardi B memberdayakan fitrahnya itu, menggunakan keduanya dengan pelontaran yang agresif dan terkadang akrobatik. Lihat kontrol rima yang mengagumkan di “Bartier Cardi” (“Cardi took your man, you upset, uh / Cardi got rich, they upset, yeah / Cardi put the pussy on Offset [Cardi].”)Invasion of Privacy membuat kita yakin bahwa Cardi B terbentuk begitu komplit: sensasi, pemasaran, karunia, dan perjuangan.

Tahun ini tiba-tiba saya seperti lumrah sekali mendengar rapper perempuan di nomor-nomor hits dunia. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh Lauryn Hill pada 1998, dan apalagi Nicki Minaj. Sepuluh tahun terakhir, suara perempuan memang sudah dominan di kancah musik pop dan rock, tapi Cardi B membabat alas baru: hip-hop untuk perempuan. Dan masih dari jalanan.

 

 

DAFTAR LENGKAP ALBUM, LAGU & FILM TERBAIK 2018 BISA DIBACA DI TERBAIK-TERBAIK 2018

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response