close

Album Internasional Terbaik 2019

album terbaik

10. Cage the Elephant – Social Cues

Empat album sebelumnya, Cage The Elephant kelihatan mondar-mandir mencari jati diri. Blues rock, garage rock, punk rock, psychedelic rock, semua dicoba sampai akhirnya lebih gampang melabeli musik mereka dengan gelar “mirip The Pixies”. Sejenak kemudian, mereka tampaknya memutuskan rehat mencari, memilih berdiskusi untuk merumuskan pondasi musik yang paling pas. Lahirlah Social Cues. Tak heran jika isi album ini sebenarnya justru aliran musik rock paling regular di era senjakala music rock saat ini, yakni rampaian indie rock dan alternative rock. Sama sekali tak istimewa secara warna musik, namun Cage The Elephant sudah punya resep terbaiknya. Album ini seutuhnya enak; catchy di tiap menit. Cage The Elephant tidak sedang berambisi mengejar Vampire Weekend atau Arctic Monkeys yang kian edan eksplorasinya. Kedengaran mendaifkan bila disebut mereka sekadar bermukim di zona nyaman, karena mereka bisa membangun zona itu menjadi amat nyaman pula untuk kita semua.

9. slowthai – Nothing Great About Britain

Album debut slowthai ini adalah rilisan paling punk di tahun 2019. Musik slowthai adalah anomali dari skena rap Inggris yang didominasi grime ala Dizzee Rascal atau drill rap yang semuanya itu menurut slowthai adalah “gang shit”. Seperti kelakarnya di single “Inglorious”, “I’m a solo wolf, lone wolf, eating up that gang shit.” Corak musiknya pun memang seperti punk walaupun tulang punggungnya produksi elektronik. Flow-nya pun kasar, dan agresif seperti penyanyi punk kebanyakan. Banyak referensi pop culture dalam lirik slowthai. “Inglorious” merujuk film Quentin Tarantino Inglorious Basterds yang bercerita tentang pasukan Amerika yang memukul Nazi menggunakan pentungan baseball. Ya, fasis yang baik adalah fasis yang mati, bukan? Referensi memukul Nazi ini bisa kita ubah konteksnya dengan segala hal yang berlaku sebagai penindas, atau dalam kasus ini kondisi politik Inggris Raya yang kacau balau. Sebab, kita kadang lupa bahwa hal yang paling penting dari suatu negara bukanlah struktur masif yang menciptakan aturan, melainkan masyarakat yang menyusun keberadaan negara itu sendiri. 

 

8. Tool – Fear Inoculum

 

Boleh dibilang, Tool dibebankan ekspektasi tinggi oleh khalayaknya. Discography perfeksionis (kalau tidak mau dibilang sempurna) yang lampau hampir membuat para penggemarnya rela menunggu 10.000 hari demi album baru. Ternyata kita tidak perlu menunggu selama itu untuk merasakan materi terbaru mereka lewat title track “Fear Inoculum”. Sejak menit-menit pertama lagu yang sekaligus juga sebagai lagu pembuka album ini, pendengar dituntun pelan memasuki semesta berisi tetabuhan suara logam, dan drum bercorak Timur Tengah. Instrumen-instrumen lain marambat laun bak mendung membangun momentum, masuk merangsang reseptor-reseptor di otak. Rasanya luar biasa.

Waktu adalah persoalan yang rumit. Album ini menolak tergesa. Tool melahap jangka album 13 tahun dengan karya sepuluh lagu (dalam album versi digital) berdurasi 86 menit. Adam Jones (gitar), Justin Chancellor (bas), dan Danny Carey (drum) saling mengisi dengan leluasa, namun tak tampak sekadar jamming. Sementara Maynard James Keenan (vokal) malah terhitung sangat minimal kemunculannya. Ia membiarkan musiknya berkisah jauh lebih banyak daripada peran vokalnya. Album ini tidak sekompleks album-album Tool sebelumnya, atau berusaha untuk memiliki gimmick progressive rock yang ruwet seperti band-band lain yang sok canggih. Orientasi durasi panjang tanpa bebunyian njelimet di album ini agaknya malah menyediakan ruang selapangnya bagi pendengar untuk merespons detik per detiknya dengan akal dan rasa. Keenan memberi saran bahwa album ini perlu didengarkan secara berulang dan sabar. Jika tabah menunggu tiga belas tahun pun sanggup, mengapa tidak?

 

7. James Blake – Assume Form

 

James Blake sedang jatuh cinta. Headspace dan mood baiknya tergambar jelas dalam album ini. Kehadiran Jameela Jamil di hidup James kini menghadirkan kontras dari tiga album ke belakang yang murung itu. Namun, James Blake di sini tetap lah pionir seperti dalam musikalitasnya di album yang dulu. Berkolaborasi dengan berbagai artis kontemporer mulai dari Beyonce, Kendrick Lamar, Jay-Z, dan Frank Ocean sepertinya telah membuka cakrawala produksi musik elektroniknya. Assume Form bergerak pada spektrum yang lebih maksimalis, dan corak synth yang lebih garang. Kolaborasi dalam album ini juga tidak tanggung-tanggung, karena menggaet para inovator musik kontemporer seperti Metro Boomin, Travis Scott, Moses Sumney, Andre 3000, dan tentu saja Rosalia. 

Assume Form mengalir melalui premis rasa orang yang sedang jatuh cinta. Lagu seperti “Can’t Believe The Way We Flow”, “Are You In Love”, dan “I’ll Come Too” berisi lirik-lirik orang kasmaran. Bahkan (1) single “Don’t Miss It” yang melankolis tentang depresinya, “The world has shut me out / If I give everything I’ll lose everything,” adalah ucapan terima kasih mengenai bagaimana pasangannya bisa menumbuhkan kepercayaan dirinya lagi, “When you get to hang out with your favourite person every day / When the dull pain goes away.” Bahkan (2) penutup album “Lullaby for My Insomniac” dibuat dalam makna literernya sebagai pengantar tidur bagi sang pacar yang sering insomnia, “If you can’t / I’ll stay up, I’ll stay up too / I’d rather see everything as a blur tomorrow / If you do.” Dasar bucin.

 

6. Tyler, The Creator – Igor

Penyekat-penyekatan genre sering membuat kita bingung. Pop sering dikambinghitamkan sebagai sell out yang berkonotasi dengan ‘musik buruk’. Fallout itu tidak terjadi pada Tyler, The Creator; pop itu bahkan mekar sejak album Flower Boy (2017) dengan corak indie pop. Igor sebagai sebuah karya utuh bahkan turut serta membalikkan ekspektasi pendengar setianya. Album ini hadir sebagai kisah musikal utuh mengenai si tokoh, Igor. Moniker Igor hadir dengan estetika wig pirang ala Mary J. Blige, dan setelan jas pastel yang jauh dari gambaran Tyler sebagai skater urakan yang terjaga sejak era Odd Future. Tyler berusaha tidak saja menghadirkan musik, tetapi pengalaman estetika yang lengkap mulai dari visual, audio, dan yang terpenting, narasi.

Seperti sebuah kisah musikal, album ini dimulai dengan theme song, “IGOR’S THEME”, dengan lirik, “Got my eyes open”. Secara sonik album ini seperti fusi produksi bombastis dari album Cherry Bomb (2015), dan lirik yang bisa dibilang lebih menye daripada Flower Boy. Sebaris lirik “IGOR’S THEME” tadi bisa menjelaskan bangun keseluruhan album ini. Tyler (sebagai Igor) sadar bahwa ia sudah terlalu sayang dengan pasangannya, seperti katanya dalam “EARFQUAKE”, “Don’t leave, it’s my fault”, sebab “Oh, you make my earth quake”. Hingga ia tersadar bahwa ketergantungan, begitu pula kecemburuan dalam hubungan itu terlalu mengekang, seperti ucapnya lirih di “PUPPET”, “I’m your puppet, you control me / I’m your puppet, I don’t know me.” Kisah ini ditutup dalam upaya resolusi Igor untuk menjalin hubungan normal dengan kekasihnya sebagai teman, walaupun “I DON’T LOVE YOU ANYMORE”, tetapi “ARE WE STILL FRIENDS?”

 

5. FKA twigs – MAGDALENE

If I walk out the door, it starts our last goodbye”, bunyi lirik pembuka MAGDALENE dalam lagu “Thousand Eyes”. Mendengarkan album ini seperti melihat seorang perempuan tertatih-tatih di pinggir jurang. Rapuh bak patung kaca. Tak mungkin lagu-lagu seemosional ini lahir dari seseorang yang tak pernah patah hati, dan terkapar karenanya. Kisah kasihnya dengan Robert Pattinson yang kandas di musim panas 2017 menjadi landasan kreasi album ini. Seni adalah mekanisme swaterapi baginya.

Eksperimen atmosfer adalah mainan favorit twigs. Namun, dibanding album sebelumnya LP1 (2014), MAGDALENE lebih banyak bersandar pada ruang kosong. Selain demi menyemai efek dramatis, langkah ini juga memberi ruang bagi vokal sopran akrobatiknya untuk lebih bebas berkumandang. Coba dengar “Sad Day”, seketika membuat hari kita temaram, merawat perasaan bersalah sepanjang waktu, dan resah akan apapun yang bisa berujung buruk. “Sad Day” akan mengingatkanmu pada sayatan-sayatan luka dalam jejak rekam asmara kita. Jika belum cukup mendung, lanjutkan sampai lagu pamungkas, “Cellophane”. Ambyar.

 

4. black midi – Schlagenheim

 

Jika tidak ada yang baru di bawah sinar matahari, lalu pengalaman macam apa yang dihadirkan oleh Schlagenheim? black midi berpenampilan tak ubahnya kuartet bocah sekolahan yang sekadar main band di waktu senggang. Namun, musikalitas mereka membuat bergidik. Schlagenheim bisa jadi album rock bergitar paling forward thinking dekade ini. Musik black midi sangat jauh dari kata sederhana, mereka memainkan post-punk, space reggae, free jazz, math rock, noise dengan vokal kadang seperti mumble rap, kadang opera. Singkatnya, musik mereka bisa direduksi dalam payung avant garde.

Kesan anak sekolahan yang ben-benan memang ada benarnya, bahkan di musik mereka. Mereka bermain semau mereka, atau dalam bahasa sok intelektualnya, mereka berkesenian secara esoteris kalau tidak mau dibilang narsis. Schlagenheim dibuka dengan tembang “953” berisi riff kencang, dan breakdown drum kebinatangan terus-menerus yang merusak gendang telinga. Liriknya terdiri dari dua verses serupa monolog yang hampir pasti terlewatkan oleh ributnya suara perkusi. “This is not who you are / Not who you want to be / Not who I want you to be,” seloroh Geordie Greep sang vokalis. Nyanyinya lebih mirip racauan mantra. Apalagi di nomor “bmbmbm” yang hanya berputar-putar dengan kata-kata, “She moves with a purpose / And what a magnificent purpose,” seperti orang kesetanan. Dari semua hal absurd itu, paling tidak Schlagenheim menawarkan hal esensial berupa sebuah pengalaman. Tidak perlu bersikap pretensius untuk menjamin bahwa semua orang akan terhibur “kalau paham”, atau sebaliknya membuat setiap pendengarnya sama sekali rese. Apapun itu, pengalaman seni ini patut dirayakan.

 

3. (Sandy) Alex G – House of Sugar

 

House of Sugar masih mempertahankan corak lo-fi, dan progesi kord yang kasar dari album-album Alex G sebelumnya. Namun, album ini seperti memaksimalkan segala kemungkinan dalam ranah artistik tadi. Lantunan dreamy pop House of Sugar terkesan lebih abstrak dengan lapisan-lapisan produksinya. Ia juga lebih mengandalkan tekstur dibanding struktur lagu. Ada lagu yang hanya memiliki satu chorus, tanpa chorus, atau bahkan entah apakah itu verse, chorus, atau apapun.

Gaya penulisan liriknya pun cukup otentik. Misalnya pada “Hope” yang bercerita tentang sahabatnya yang meninggal overdosis, “He was a good friend of mine / He died /Why I write about it now? /Gotta honor him somehow”. Lagu terbaik di sini adalah “Gretel”. Sama seperti nama albumnya, lagu ini pun buah referensi dari dongeng anak Hansel and Gretel asal Jerman, tentang kakak adik yang disekap oleh penyihir di sebuah rumah yang dibangun dari roti, gula, dan kue. Alex G menggubah kisah itu dalam lirik “Gretel”, membayangkan andai tokoh Gretel menimbang moral dengan cara berbeda, lalu dengan egois meninggalkan saudaranya, Hansel sendirian bersama sang penyihir: “Good people gotta fight to exist, uh huh”, dan “Good people got something to lose, uh huh”. Ide brilian dari mana itu? Dalam aspek musik, lagu ini sama seperti lagu lainnya di album, menghadirkan banjo, biola, dan suara anak-anak untuk menyuguhkan nuansa cerita rakyat. Hasilnya pun semestinya, House of Sugar terasa naif, manis, dan surealis. Salah satu karya paling imajinatif di tahun ini.

 

2. Billie Eilish – When We All Fall Asleep, Where Do We Go?

Musik anak zaman sekarang apa sih? Pertanyaan ini pernah membayangi kita, generasi yang mungkin tulang musiknya mandek di Ed Sheeran dan Arctic Monkeys. Akhir-akhir ini fenomena generation gap mulai termanifestasi, termasuk dalam urusan musik. Coba saja tanya maba-maba di kampus, mereka akan banyak menyebut nama Billie Eilish yang sering dibaptis sebagai representasi gen-Z. Jika dulu kita masih ngotot memperdebatkan tentang bagus-tidaknya Justin Bieber, kini kita sudah sampai di era musisi yang menjadikan Justin Bieber sebagai idolanya. 

Bagi yang mengikuti Lana Del Rey dan Lorde, sebenarnya musik Eilish jauh dari kata revolusioner. Ia menyerap hampir semua unsur dominan musik kekinian, mulai dari hip hop khususnya trap, indie pop, electronic, industrial, synth-pop, dance-pop, autotune, serta preferensi tekstur dan atmosfer daripada notasi dan melodi. Hanya Eilish berhasil mengunyah semuanya untuk dikemas lewat pendekatan penulisan lagu dengan tajuk konversasi gelap masa kini semacam, “All The Good Girls Go To Hell”, “Bury A Friend”, atau “Wish You Were Gay”. Belum lagi “Bad Guy” yang anthemic

When We All Fall Asleep, Where Do We Go? adalah salah satu album terbesar di Amerika pada tahun ini. Eilish menjadi artis termuda dalam sejarah yang mendapatkan nominasi di empat kategori utama Grammy. Ia adalah orang pertama yang lahir setelah abad ke-21 yang berhasil membuat album yang menempati ranking satu di Amerika. Keempat belas lagunya di album ini (artinya semua, kecuali nomor “Goodbye”) masuk peringkat Hot 100. Menjadikannya perempuan pertama yang melakukannya. Dari data-data itu, kita tahu bahwa jika masih bersikeras tidak mau mendengarkan Eilish, maka bersiaplah menjadi tidak relevan. Berhenti mencari-cari musik baru, dengarkan saja playlist nostalgia sampai mati.

 

1. Lana Del Rey – Norman Fucking Rockwell

Tanpa Lana Del Rey, dekade terakhir akan sungguh lain. Julukan empunya “hollywood sadcore” mungkin hanya miliknya seorang. Namun, karakter musikal dengan reverb, guitar fuzz, vokal meratap, dan aransemen yang atmosferik lagi sinematik tertinggal sebagai jejak yang mengundang duyun-duyun pengikut. Ia menebar pengaruh pada Lorde, Halsey, album terbaru Beyonce, dan terakhir adalah Billie Eilish. Bila model ini masih menjadi koridor penting di industri pop, bisa jadi Taylor Swift tidak akan lagi didengar di tahun-tahun mendatang. 

Mulai dari Born To Die (2012) yang masih sedikit meraba-raba, lalu dimatangkan di Ultraviolence (2014), kemudian dua album Lana Del Rey berikutnya jadi semacam karya pengawet status quo. Namun, di ujung dekade ini, ia mengharapkan sesuatu yang agung, maka Norman Fucking Rockwell! adalah kreasi penghabisan untuk naik kelas. “Goddamn manchild / You fucked me so good that I almost said ‘I love you’”, bunyi lirik pahit khasnya menjadi awalan album yang semena-mena. Dua lagu pertama, “Norman Fucking Rockwell!” bersama “Mariners Apartment Complex”, sudah menunjukan taji, lalu diringkus pesona tak terbantahkan  “Venice Bitch”. 

Lompat ke “Doin’ Time”, Lana Del Rey menggubah lagu reggae rilisan Sublime di tahun 1996. Ini adalah contoh kualitas sentuhan Lana Del Rey tatkala banyak kritikus menganggap pilihan lagu itu amat tepat dan berhasil “disihir” hingga sungguh terdengar seperti tidak mungkin ada di album musisi lain, bahkan kendati kita tahu musik Lana Del Rey terhitung autentik. Album ini lalu ditamatkan secara epik justru dengan sederhana, duet vokal-piano di nomor “Hope Is a Dangerous Thing for a Woman Like Me to Have – but I Have It”. Suara Lana Del Rey sendiri sudah mempersembahkan efek meruang dan dramatis, apalagi dengan lirik aduhai seperti, “Hello, it’s the most famous woman you know on the iPad / Calling from beyond the grave, I just wanna say, ‘Hi, Dad’”. 

Pada esensi karya Lana Del Rey, kita bisa menemukan estetika, kultur, dan personal. Di Norman Fucking Rockwell!, ia menyelipkan sejumlah referensi budaya pop klasik, termasuk tokoh-tokoh yang membuatnya terhubung, seperti pujangga feminis Sylvia Plath atau Norman Rockwell. Yang disebut terakhir adalah pelukis masyhur dan prolifik, tapi jarang dipandang sebagai pelukis serius lantaran karya-karyanya identik dengan produk kitsch dan industri borjuis, seperti Coca-Cola dan Kolonel Sanders. Lana Del Rey agaknya merasa terwakili oleh riwayat Rockwell. Ia belum terlepas dari gelayut perasaan inferior, bahkan kendati ini adalah albumnya yang paling ambisius secara artistik. Lebih banyak instrumen, lebih kental aroma psychedelic-nya, lebih kaya fantasi visual, pendeknya: lebih indah. Andai dekade ini serupa galeri seni, dan album ini adalah lukisan, maka ia akan terpajang di dinding dan ruangan yang paling semarak.

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.