close

Album Metal Indonesia Terbaik 2016 (10-1)

best album

sambungan dari Album Metal Indonesia terbaik 2016 (20-11) 

list by: Samack

  1. Avhath – Hymns (Disaster Records)

Hanya butuh empat track dalam durasi tidak lebih dari 15 menit untuk menegaskan kalau Avhath bukan unit musik yang kebetulan ada dan lalu menjadi hype di zona ‘kegelapan’. Mereka bisa meramu black metal, hardcore, dan d-beat punk dalam serangan kilat yang mematikan. Paling tidak ada dua lagu pertama yang bisa mewakili statemen tersebut. Sisanya, dua lagu terakhir yang cukup untuk meregang nyawa dalam komposisi blackgaze yang panjang dan monoton. Hymns bisa menjadi penting karena alasan-alasan tersebut. Soal durasi memang terlalu singkat. Tapi untungnya, masih layak diputar kembali sejak awal dan selalu bisa menemukan hal baru dari sana.

 

  1. Warmouth – Pariah (Samstrong Records)

Jogja masih menyimpan tenaga blackened hardcore-punk seperti yang biasa kita dengar dari katalog label Deathwish Inc atau Southern Lord. Atau kalau anda tumbuh di era 90-an, dua album awal Entombed adalah referensi yang sakral. Pariah berisi intensitas tinggi yang terbentuk dari kecintaan mereka akan musik hardcore, metal dan grindcore. Terdengar cukup dinamis dan eksplosif, meski masih sarat juga dengan nada-nada yang depresif. Vokal yang purba dan bunyi bass yang tebal mampu mengisi celah yang ditinggalkan oleh gitar dan drum. Sementara ini, Pariah adalah rute paling gelap, becek dan berliku yang bisa anda telusuri dari jalanan Jogja yang selalu ramai di akhir pekan.

 

  1. Speedkill – Buas (Sang Hitam Records)

Buas menangkap hasrat thrash metal untuk selalu meledak-ledak dan penuh momen kesenangan. Bait-bait anthemik disusun dalam kerangka musik cadas yang terjangkit pengaruh besar Metallica, Exodus, hingga Motorhead. Mereka bahkan sampai mengundang rima Morgue Vanguard (Homicide) dan teriakan Daniel Mardhany (Dead Squad) dalam satu kolaborasi lagu yang menawan. Album ini menyerang dari segala lini dan meletup di beberapa bagian. Seperti molotov yang dilempar anak thrash yang berkaos band dan berjaket kulit ke tengah pit. Dan suasana menjadi tidak terkendali. Sikaaat!…

 

  1. Warhammer – Visual Antagonism (Brutal Infection)

Album ini perihal perang dan pertempuran. Soal death metal yang dipacu dalam tempo sedang namun penuh desingan peluru dan amunisi. Pantas saja kita mendapati riff yang rapat dan solo gitar yang bertebaran. Mendengarkan Visual Antagonism adalah pengalaman seru bagi kuping yang pernah digempur oleh Bolt Thrower, Benediction, Pestilence, Carnage, atau bahkan Morbid Angel. Tidak banyak unit death metal lokal yang (berani) memainkan racikan seperti ini. Dibalut jaket kulit dan sabuk peluru yang ketat, Warhammer memilih lepas dari stereotip yang ada serta melancarkan agresi musikal yang membabi-buta. Dan kadang perang itu bisa mereka menangkan.

 

  1. Proceus – Proceus (Hitam Kelam Records)

Diluncurkan langsung dari kota Bogor, selepas tengah malam. Album kedua milik unit black metal asal kota hujan ini melantunkan komposisi mistik yang apik. Menyeramkan. Dingin sekaligus gelap. Dilingkupi nuansa atmosferik dan nada-nada yang depresif. Tujuh nomor yang termuat di album selft-titled terdengar berimbang dan memiliki aura kelam yang serupa. Proceus adalah pilihan yang adil bagi pria paruh baya yang masih suka memutar koleksi CD Emperor dan hipster muda yang doyan menawar vinyl Nachtmystium di jaringan eBay. Bahkan seekor gagak pun bertengger bangga di atas album ini.

 

  1. Hellcrust – Kalamaut (Armstretch Records)

Penulisan lirik yang bermutu adalah senjata rahasia bagi musik yang baik pula. Kalamaut berhasil memiliki dua klasifikasi langka tersebut. Album ini sangat berbeda dengan rilisan debut mereka sebelumnya. Hellcrust sekarang boleh melaju sebagai salah satu unit death metal yang tajam, vokal dan menantang. Mendengarkan Kalamaut mungkin mampu memicu adrenalin dan menambah kegeraman pada lingkungan sekitar. Persis seperti yang mereka sumbarkan, “Kami selayak hulu ledak yang mencari panas, menghantui setiap sinis dengan ancaman maha ganas, api tersulut berkobar berdansa liar menyambut Kalamaut…”

 

  1. Dead Squad – Tyranation (M8 Records / Demajors)

Di sini, Daniel Mardhany dkk tampak semakin matang dibanding dua album terdahulu mereka. Proses produksi yang panjang, santai, dan mahal itu akhirnya mencapai hasil yang cukup memuaskan. Eksplorasi musikal mereka terdengar dalam porsi yang pas, tidak berlebihan. Sekalipun mereka mengundang musisi tamu lintas genre – Dewa Budjana dan Andra Ramadhan – pola dasar musik Dead Squad tetap terjaga. Tyranation juga terdengar semakin efektif dan seperti banyak menoleh pada referensi ‘oldschool’ – mulai dari Fear Factory, Sepultura, sampai Monstrosity. Cerdiknya, aransemen sekompleks itu bisa disuguhkan secara nyaman di telinga. Pada standar ini, Dead Squad tampak semakin serius dan mapan di garda depan kancah death metal Indonesia.

 

  1. Fromhell – March On Gravitation (Naturmacht Productions / Eviscerated Recs)

Unit ini mungkin agak asing di telinga kita. Wajar, dua album mereka selalu dirilis oleh label asing di Eropa sana. Karir musiknya mungkin mirip dengan Kekal atau Vallendusk – yang diekspos lebih banyak oleh media asing daripada konten media lokal yang makin seragam. Tanpa perlu mendebatkan perihal standar ‘go international’, March On Gravitation memang merupakan album yang istimewa. Terdapat enam track dibungkus topik sci-fi dalam konsepsi black metal yang cukup melodik. Berbalut synth, koor dan petikan akustik di beberapa bagian. Ada sensasi yang progresif dan kemegahan yang hakiki di setiap celah. Epik adalah kata yang kudunya tidak mudah disematkan, tapi album ini memang cukup layak menyandangnya.

 

  1. AK//47 – Verba Volant Scripta Manent (Vitus Records / Resting Hell)

Apa yang lebih berfaedah dari album musik grindcore dengan muatan tema literasi? Selain menyenangkan, album ini mampu mencapai taraf yang menggugah bagi pendengarnya. Verba Volant Scripta Manent adalah salah satu karya musikal terbaik yang pernah lahir dari kota Semarang. “Secara musikal, kami terinspirasi dari album-album crust/hardcore punk seperti Driller Killer, Totalitar, dan Warcollapse yang lalu dilebur dengan grindcore yang urakan,” ujar Garna Raditya (gitar) dalam wawancaranya dengan penulis tempo hari. “Dalam tema dan lirik salah satunya juga terinspirasi dari buku Bilangan Fu-nya Ayu Utami. Cara berpikir spiritualismenya terhadap zaman menuntun kami melihat hal-hal kecil pada kehidupan sehari-hari…” Cukup jelas, negeri ini butuh lebih banyak lagi album yang cerdas seperti Vorba Valent Scripta Manent.

 

  1. Rajasinga – III (Negrijuana Records)

Ugh! Sejak awal ketika Rajasinga melakoni ritual di kala senja lewat “Stoner Magrib”, atau “Pembantai” yang menyalak geram layaknya Brutal Truth, album ini sudah menarik perhatian. “Masalah Kami di Negeri Ini” ibarat kaleidoskop singkat atau kliping headline surat kabar atas kondisi bangsa akhir-akhir ini. Morrg dkk sedang bermain-main dengan matematika saat menulis judul lagu “1/2 5 – 10”. Brengsek. They’re such a badass. “Ada?” diawali dengan solo drum singkat yang mengingatkan pada lagu klasik “Low Life” – tergantung versi mana yang anda dengarkan; Cryptic Slaughter atau Napalm Death – dengan kejutan besar berupa solo gitar yang spacey menjelang akhir lagu. Keusilan ada pada hidden track di tengah album. Tidak pernah ada keterangan lagu ketujuh, apalagi liriknya, pada tracklist yang disusun. Tiba-tiba saja ada raungan gitar plus sekumpulan kalimat versi parodi dari teks Pancasila yang maha agung itu. “Orang Gila” dengan cerdik mencuri potongan adegan dari film Si Unyil serta merampok bagian terbaik dari riff gitar “Smells Like Teen Spirit” yang sakral. Sayup terdengar sound gitar yang grungey dan solo gitar khas anak kampung di Seattle sana. Segala hashtag #TGIF memang sebaiknya dirayakan bersama “Weekend Rocker”, sebuah tembang yang menyatakan hura-hura di akhir pekan – yang makin komplit diimbuhi melodi gitar bercorak heavy metal. “Hey!” dipacu beringas dengan semangat rock n’ roll seperti yang pernah dimainkan oleh Pungent Stench, Entombed, atau bahkan Suckerhead. Lewat album yang dikemas menarik ini, Rajasinga mampu mendobrak kekakuan mazhab grindcore – dan kemudian ditafsirkan secara bebas bersama kutipan dalil-dalil rock, blues, stoner, heavy metal, doom, punk/hc, dan seterusnya. Sulit dibantah, ini paket cadas yang paling sinting dan menyenangkan di tahun 2016. Ugh! Yeah!

 

 

 

 

warningmagz

The author warningmagz

2 Comments

Leave a Response