close

Album Metal Indonesia Terbaik 2016  

best album

Mau di tahun berapa pun, musik metal selalu tampak menarik dan menyenangkan bagi sebagian besar penggemarnya. Setahun kemarin, scene musik metal di Indonesia juga membara dan penuh gairah melahirkan rekaman-rekaman musik yang apik.

Itu tidak lepas dari upaya label-label rekaman dalam negeri yang makin rajin dan sigap merilis album yang kadang di luar dugaan. Daftar katalog album dari label rekaman macam Hitam Kelam, Brutal Infection, atau Armstretch kerap menarik minat fans musik ekstrim metal. Bahkan ada beberapa label asing yang jeli dan nekat merilis album milik band Indonesia yang bagus. A good thing.

List berikut ini memuat 20 album rekaman terbaik kategori metal yang dirilis sepanjang tahun 2016. Nyaris semuanya berhasil mematok standar karya yang jauh lebih baik–kalau tidak bisa dikatakan tinggi–dalam hal teknis produksi musik, konsep dan tema (lirik) yang kuat, hingga kemasan yang makin keren dan artistik. Sebagian juga semakin cerdas, aktual dan relevan dalam merespon kejadian di sekitar. Tentu, perihal kondisi bangsa dan dunia akhir-akhir ini. Ya, bukankah memang untuk itu musik keras tersebut diciptakan?

Daftar ini hanya memuat rekaman berformat fisik, berupa album penuh maupun mini album (EP). Dengan penuh rasa hormat, terpaksa tidak ada format kompilasi atau antologi di sini. Karena itu album keren seperti kompilasi Organize! dan Burning All The Gold-nya Ghaust tidak masuk, namun tetap wajib untuk disimak. Sungguh, dua album tersebut bagus dan penting. Di luar ini, rasanya banyak telinga metalhead yang menikmati dan mudah jatuh hati pada albumnya Detention, Bin Idris, atau bahkan Senja Dalam Prosa. Ya, itu juga album-album yang menarik.

list by: Samack

 

  1. Paranoid Despire – Nebulous (Hitam Kelam Records)

Dari sudut kota Surakarta tiba-tiba muncul unit musik yang menarik tahun ini. Paranoid Despire menggeber irama death metal yang tight dan intense dengan produksi sound yang cukup cemerlang pula. Nebulous memaparkan sembilan nomor di mana musik death metal yang oldschool mampu dibungkus dalam kemasan yang modern dan segar. Komposisinya cukup mantap, dinamis dan kompleks. Setiap track memuat komposisi teknikal yang tidak enteng juga. Nebulous adalah opsi yang patut dilirik serta diperhitungkan.

 

  1. Hand of Hope – Dekadensi Dunia (Haum Entertainment)

Scene musik cadas kota Malang patut berharap banyak pada band ini. Debutnya cukup menjanjikan. Menabur irama metal dan nada hardcore dalam satu genggaman tangan yang erat dan pas. Paling gampang, menurut penulis, ini seperti mendengarkan Beyond Coma and Despair-nya Burgerkill. Keras dan penuh tenaga, juga sekaligus gelap. Kredit terbesar layak disematkan pada skill drummer-nya yang dahsyat. A new hope.

 

  1. Panic Disorder – Daimonion (Genesis Production)

Bisa dibilang, unit death metal asal Jakarta ini baru membayar tuntas 22 tahun karirnya lewat album ke-empat. Daimonion terdengar kokoh dan tereksekusi lebih baik daripada diskografi mereka sebelumnya. Album yang sarat dengan tebaran riff tajam dan tremolo picking yang sanggup membawa kuping kita kembali ke era 90-an – ketika kaset Pierced From Within (Suffocation) selalu ada di atas tape-deck setiap metalhead yang taat. Dan kita sangat paham di mana hook-hook menarik itu biasanya tersemat.

 

  1. Pargochy – Tribe (Armstretch Records)

Medan menyimpan daya ledak yang cukup tinggi lewat album ini. Tribe berisi sembilan track yang digeber dengan gagah dan penuh percaya diri. Disokong dengan permainan gitar yang penuh presisi dan blastbeat drum yang sadis. Secara musikal, Pargochy condong pada pakem death metal khas Amerika Serikat – sebut saja Malevolent Creation, Monstrosity, Cannibal Corpse, dan Suffocation. Sisi menariknya, mereka tetap bangga mengusung kearifan lokalnya melalui tembang “Batak Tribe”, serta “Outro” yang menggunakan Hasapi, salah satu alat musik tradisional khas Batak Toba. Tuak setempat mungkin sekeras ini juga. Horas, Bah!…

 

  1. Dead Vertical – Angkasa Misteri (Three Sixty Music / Demajors)

Mereka cuma butuh tiga orang untuk menggeber musik seketat apa yang termuat dalam Angkasa Misteri. Hanya sedikit ruang yang tersisa untuk menarik napas. Sebelas nomor dipacu kencang dalam irama death/grind yang banyak disisipi potongan gitar sarat groove dan breakdown. Itu bikin album terbilang ini cukup moderat bagi telinga penyuka musik death metal hingga grindcore. Sekilas mereka seperti sukses meracik pola-pola musikal yang biasa dimainkan oleh Extreme Decay, Rajasinga, Dead Squad, atau bahkan Forgotten. Angkasa Misteri telah menunjukkan bagaimana musik death/grind bisa dipacu dengan intens, sekaligus memiliki aneka manuver musikal yang tak terduga.

 

  1. Straight Out – Phobia (Armstretch Records)

Phobia masih suka menebar banyak riff dan solo gitar yang memang selalu jadi andalan Straight Out selama ini. Musik metal yang dimainkan secara melodik dan penuh harmoni seperti ini memang terdengar ‘manis’ di telinga. Pipink dkk menambah taburan bumbu yang pahit lewat topik lagu seputar retorika kaum zionis, teori konspirasi, serta misteri iluminati. Album yang unggul dalam skill dan musikalitas. Untuk bangsa yang suka fobia akan segala hal, album ini cukup sigap dalam mengusung tema. Tentu saja, daripada mempermasalahkan gambar mata uang Rupiah baru dengan asumsi-asumsi yang salah kaprah tersebut.

 

  1. Gunblasting – Memoar (Wasted Rockers Recordings)

Terdapat berbagai macam keonaran dalam album milik unit math/chaotic hardcore ini. Teror musik keras yang ‘patah-patah’, juga balutan riff gitar khas southern rock. Semuanya dikemas dengan berisik dan tepat. Telinga yang mengamini The Dilinger Escape Plan, Everytime I Die, Botch, atau Converge mungkin bisa sepakat dengan materi album Memoar. Sulit untuk memilih tenang pada lagu “Somber Horizon”, “Octopuz Aritmethic”, atau “Luminal Lullaby” yang turut mengundang solo gitar Andre Tiranda (Siksa Kubur). Memang, selalu ada kericuhan pada setiap ujian di kelas matematika.

 

  1. Cloudburst – Crying of Broken Beauty (Samstrong Records)

Tak perlu lampu sorot yang terang untuk merespon album milik kuartet chaotic-hardcore / noisecore asal Jogjakarta ini. Crying of Broken Beauty sudah sepantasnya dipotret dalam cahaya yang remang cenderung gelap demi sensasi audio yang lebih maksimal. Track seperti “Restless Piledriver” atau “Madness Touch” menyimpan hulu ledak yang besar di beberapa bagian. Terdengar rusuh sekaligus penuh letupan. Terkadang bunyi gitar pun bisa diseret dengan lambat dan berirama sludgy di sana-sini. “Harakiri Rhapsody” dimainkan dalam tempo kelam dan dijaga oleh ketukan drum yang konstan. Tidak benar kalau Jogja selalu tampak selow, tenang dan romantik – sebab di situ juga terdapat rasa panik dan kegusaran.

 

  1. Taring – Orkestrasi Kontra Senyap (Grimloc Records)

Taring seperti punya waktu yang lebih banyak untuk menulis musik dan merekam album yang seharusnya sudah mereka kerjakan sejak dulu. Hasilnya adalah materi musik metallic hardcore yang tergarap matang dibalut dengan konsep cerita yang cukup kuat. Orkestrasi Kontra Senyap membuktikan ada eksplorasi yang lebih jauh pada struktur lagu mereka. Campur tangan produser Agung Hellfrog (Burgerkill) juga tampak ada pengaruh yang signifikan – mulai dari progresi kord sampai ketukan dari balik set drum. Vokalis Hardy semakin bisa bernyanyi dengan baik pada narasi personal yang ia ciptakan sendiri. Dengan curahan penuh emosi, ia sigap melantunkan bait-bait tentang Ibu, gairah bermusik, hingga stori hidupnya yang, katanya, turut serta ‘mematangkan derita dan murka’. Taring telah tumbuh lebih tajam dan mencapai evolusi musikal yang pantas mereka dapatkan tahun ini.

 

  1. Damnation – The Prophet Revenge (Internal Brutality Recs)

The Prophet Revenge yang dirilis oleh label rekaman asal Rusia ini menyajikan materi yang bengis dalam hasil produksi yang apik. Tidak seperti album brutal death metal lokal lainnya. Damnation seperti berhasil mencapai standar yang baik dalam penulisan musik jenis ini. Kalau mau jujur, itu memang tidak biasa. Sebagian besar pelaku di genre musik ini kerap gagal dalam kompisisi musik maupun hasil produksinya. Selaku wali yang sudah menempuh karir lebih dari limabelas tahun, Damnation membalaskan dendam itu melalui The Prophet Revenge. Tuntas dan lunas. Tigabelas nomor yang ada di album ini bisa diwakili oleh kata-kata sederhana macam buas, barbar, gigantik, membunuh, atau frase apapun yang paling seram dan jahat yang bisa kita temukan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Camel dkk juga seakan ingin menapaki root musikalnya tatkala mengkover “Pluit Phobia” (Rotor) dan “Pierced From Within” (Suffocation). Konon kabarnya, The Prophet Revenge bakal segera dirilis oleh label lokal untuk pasar Indonesia.

 

bersambung ke list 10-1 album metal terbaik indonesia 

warningmagz

The author warningmagz

1 Comment

Leave a Response