close

Album Of The Year 2014

aoty
artwork: Faida Rachma
artwork: Faida Rachma

Words: Editor WARN!NG

Tahun 2014 merupakan tahun dimana kita dipaksa sadar akan era dimana kita berpijak. Pink Floyd merilis album terakhir, Motley Crue mencanangkan tur terakhir, penyakit kanker mengisyaratkan Tony Iommi untuk membubarkan Black Sabbath, Lou Reed (ternyata) sungguhan telah tiada, Slayer bukan lagi Slayer, Red Hot Chilli Peppers mulai doyan naik panggung tanpa kabel (Superbowl?), KISS makin gemar berolok-olok daripada bermusik, AC/DC kehilangan tandem gitaris terbaiknya, dan yang terburuk, U2 tak lagi punya niat menjual album.

Tahun 2014, kita dibuat menyesal untuk tak terlahir lebih awal. Kita berada di masa dimana legenda pujaan berantre mendekati ujung karirnya. Namun, warisan mereka ternyata belum berujung. Generasi hanya berganti. Jack White mungkin masih punya beberapa dekade sebagai maestro dan Laura Jane Grace kian bersemangat dengan topik radikalisme segar bersama Against Me!, yang belum sempat banyak diperbincangkan para sesepuh punk rock. Simak juga muka baru seperti St Vincent, The War On Drugs, Lana Del Rey, atau White Lung. Mereka belum kenal Rock N Roll Hall of Fame atau apa, namun kini nama-nama itulah yang bertanggung jawab atas karya-karya terbaik di tahun ini.

Di kancah lokal, tahun ini kita beruntung tak harus terus menerus hanya mendengar lagu kampanye. Tren folk masih berlangsung dengan segala eksplorasinya. Aliran pop jazz yang beberapa tahun belakangan makin basi dan menjemukan, sukses didefinisikan ulang oleh Tulus dan Maliq & D’Essentials. Pun jika karya musisi Jogja cukup dominan di daftar ini, semoga—dan kami yakin—bukan karena pendekatan primordialisme yang menjijikan, melainkan apresiasi pantas pada produktifitas Kota Pelajar yang memang beranjak mekar bersemi di tahun ini.

Maka, simpan lebih rapat The Dark Side of The Moon, Paranoid, Joshua Tree, dan Back in Black kesayangan Anda. Tongkat estafet telah beralih, dan Anda hanya butuh rak album yang baru.

 

10. Misery Index : The Killing Gods

misery index
misery index

Inilah jawaban kemana kuartet asal Baltimore ini membawa musiknya, menuju ke titik kesempurnaan Misery Index. The Killing Gods menyuguhkan deathgrind yang catchy, buah hibrida riff death metal dan hardcore yang seimbang. Semakin kencang, juga melodius. Sebuah album yang cocok untuk dijadikan pemacu kegilaan, coba saja putar album ini sambil berkendara!

ulasan album ini–> Misery Index – The Killing Gods

 

9.White Lung – Deep Fantasy

white lung
white lung

Dengan drummer dan vokalis perempuan, White Lungmenunjukan jender tidak berkolerasi terhadap kemampuan memainkan punk rock ngebut. Sejak lagu pertama, “Drown With The Monster”, telinga kalian tak akan diberi jeda untuk santai sampai lagu terakhir. Monoton? Tentu tidak, karena mereka tak hanya asal kebut-kebutan dibawah tiga menit, Deep Fantasy sukses pula menghasilkan sound yang melodius pada tiap lagunya.

 

8.Manic Street Preachers – Futurology

manic street preachers
manic street preachers

Di usia mereka yang hampir seperempat abad, Futurology menjadi bukti bahwa Manic Street Preachers masih bisa dipercaya sebagai sebuah band dan sebagai sebuah perspektif. Futurology memunculkan musik retro-futuristis yang lebih eksperimental dan lirik yang masih mengajak kita berpikir bahwa dunia tidak baik-baik saja. Masa depan masih cerah untuk mereka. Tua masih jauh bung!

ulasan album ini –> Manic Street Preachers – Futurology

 

7. Damon Albarn – Everyday Robots

damon albarn
damon albarn

Dari seorang kreator proyek musik berandalkan futuristisme seperti Gorillaz, Albarn tiba-tiba malah membawa topik nature versus technology di album solo perdananya. Tak semata dari segi lirik, ia juga sengaja membangun atmosfir sayu dari pertengkaran antara unsur mutakhir elektronik dengan instrumen kodrati seperti gitar akustik, biola, piano, kora (semacam kecapi dari Afrika) dan segala perangkat untuk ‘memanusiakan’ Gorillaz. Pada akhirnya Everyday Robots masih menampilkan Albarn yang sama: seorang penanti distopia yang brilian.

ulasan album ini –> Damon Albarn – Everyday Robots

6. Swans – To Be Kind

swans
swans

Sebuah album istimewa dari dedengkot experimental rock asal New York. Sulit untuk dituangkan dalam kata, album ini membawa kita terbang ketempat tak menentu, berpindah-pindah dengan nuansa yang dinamis. To Be Kind sukses menjaga nafas Swans untuk terus bereksperimen pada tiap albumnya. Dan Michael Gira—otak dibalik swans—menyuguhkannya lebih dari dua jam. Dan hati-hatilah bagi kalian yang doyan melakukan perjalanan spiritual dengan dedaunan. Karena bad trip adalah keniscayaan. Gira memang gila.

 

5. The Black Keys – Turn Blue

the black keys
the black keys

Tatkala baru di album keenam (Brothers) dan ketujuh (El Camino) The Black Keys singgah di zona band kelas satu, tuduhan pembebek The White Stripes pun baru mencuat. Entah apa itu kemudian yang membuat mereka melakukan pergeseran musikalitas impresif yang sepintas mirip dengan album paling spektakuler tahun lalu, AM (Arctic Monkeys). Bedanya, Turn Blue punya solo-solo gitar dan—masih menyisakan—garage blues yang candu. Persamaanya, keduanya beralih lebih gelap dan lamban tanpa menjadi tabu untuk kita berdansa di dalamnya.

 

4. Jack White – Lazaretto

jack white
jack white

Berdua di The White Stripes, ia begitu bergema. Namun, kala sendirian, ia malah punya kendali penuh yang ajaib akan seantero elemen aransemen blues, folk, hip hop dan lo-fi di Lazaretto. Setiap lagu di album mengerikan ini seolah merupakan pentas dari kawanan instrumen bernyawa yang melayang dan punya kehendak sendiri. Tak karuan namun cemerlang. Lazaretto membuktikan bahwa seberapapun White dikucilkan dan diisolasi, ia selalu membuat not-not virtuoso atau keselarasan dalam bermusik makin tak ada artinya.

 

3. Against Me! : Transgender Dysphoria Blues

against me
against me

Dengan realitas bahwa mereka adalah band punk tenar yang banyak bicara tentang kaum transgender dan memang dipimpin oleh seorang vokalis pria yang berganti jender menjadi perempuan, Against Me! sudah punya modal besar untuk didengar. Namun, Transgender Dysphoria Blues tak hanya menjual itu. Bersama teriakan Laura Jane Grace yang berkobar-kobar dan pergolakan anthemic ala White Crosses, album ini bak badai kencang bagi pranata suratan hidup umat manusia. Kian lama sudah, akhirnya punk rock punya ancaman baru.

ulasan album ini–> Against Me! : Transgender Dysphoria Blues

 

2. Lana Del Rey – Ultraviolence

ultraviolence
ultraviolence

Candu akan rasa sakit, kepasrahan menjadi korban, dan hasrat untuk terus menikmatinya adalah Ultraviolence. Cerita sedih ini diwujudkan dalam album super melodramatik, lengkap dengan peran-peran yang diambil Del Rey sebagai pengisahnya. “Pretty When You Cry” mungkin bisa menerjemahkan Del Rey di album ini: semakin sedih, semakin cantik, dan semakin kita jatuh cinta padanya.

ulasan album ini –> Lana Del Rey – Ultraviolence

 

1. The War On Drugs : Lost In The Dreams

Lostinthedream
Lostinthedream

“Ini bukan rekaman band. Ini adalah rekaman solo.Saya tahu itu. (Album The War on Drugs) semuanyamerupakan rekaman solo,” ujar Adam Granduciel tentangLost In Dreams, yang terbangun dari peperangandepresi dan paranoia personalnya. Album ini menggelorabak U2 atau Bruce Springsteen dengan atmosferambience yang lebih berkaca-kaca. Ada kala vokalnyaterdengar seperti Bob Dylan. album ini juga menjadibukti, keluarnya Kurt Vile yang juga sukses dengan albumsolonya tahun lalu, bagi Granduciel menunjukantajinya, menjadikan Lost In The Dreams sebagai masterpiecedari The War On Drugs. Granduciel mampumembuat dirinya benar-benar kelihatan sebatang kara,namun begitu nyaman disana. Simak dua lagu pertama“Under The Pressure” dan “Red Eyes” sudah lebih daricukup untuk membuat album ini diberi puja-puji.

 

list -> Local Album of The Year 2014 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response