close

Album of The Year 2015 (II)

no thumb

Back : Album of The Year 2015 (10-6)

5. Donnie Trumpet and the Social Experiment – Surf

26987eaa17ab4b4d7e6f97da27fd486797f9abcc8830bc69175eb31b041190ef_large

Pentrompet Nico Segal alias Donnie Trumpet telah bersekutu dengan Chance The Rapper–dalam The Social Experiment—dan menghasilkan kolaborasi idiosinkrasi yang sedemikian cemerlang. Sebuah kolektif lintas rona (hip hop, jazz, pop, soul) yang menempatkan semua pada tempatnya, termasuk ruang-ruang senyap yang nyaman. Materi Surf secara utuh mengalir teduh dan hangat. Menyuguhkan penjelajahan musikal mengesankan, hingga di sesi-sesi rehat seperti “Question” atau solo tiup “Nothing Came to Me”. Surf menyiratkan bahwa tahun 2015 belumlah klimaks dari laju kembang musik hip hop.

 

4. Grimes – Art Angels

b91c652ff948fbfa4ec34ee7bf93186c1f79d260

Art Angels adalah empat belas nomor dengan kadar eksperimental lebih dari 90 persen. Hati-hati memabukkan. Album ini adalah campuran bebunyian elektronik lawas, anthem video game tahun 90’an, hook-hook menohok, dan vokal dreamy yang dalam sekejap bisa berubah dari raungan ke notasi-notasi genit yang provokatif. Coba putar “California”, “Kill V.Maim” atau “World Princess” untuk mengalami sebuah kekacauan yang catchy. Sebuah album yang terlalu memusingkan untuk ditulis genre-nya, alih-alih bolehlah ia dilabeli post-pop.

 

3. Courtney Barnett – Sometimes I Sit and Think, and Sometimes I Just Sit

SIJS-2400

 

Courtney Barnett mengajak kita mengobrol di album ini. Topiknya apa pun jadi. Tentang kelaparan di atas plafon (“An Illustration of Loneliness (Sleepless In New York)”), pertimbangan membeli rumah berharga murah (“Depresston”), atau menghindari makanan non-organik (“Dead Fox”). Ia dipercaya sebagai penulis lagu berotak encer hanya dengan modal omong kosong ala naskah film Quentin Tarantino. Impresi yang dicari, bukan konklusi. Termasuk jika Anda terkesima mendengar “Pedestrian at Best” tanpa tahu apa yang sebenarnya ia bicarakan, itu bukan salah Anda.

2. Adele – 25

adele-announces-25-release-date-cover-art

 

Teenage Dream dan 1989 digemari orang karena punya banyak hits. Sementara jutaan orang membeli 25 hanya semata ingin mendengar Adele bernyanyi, terlepas seburuk-buruknya tidak ada hits di dalamnya (yang sayangnya itu tidak mungkin terjadi: “Hello”, “Send My Love [To Your New Lover]”, “All I Ask”, “Sweet Devotion”). Itulah mengapa kiprah penjualan dan reputasi 25 dipercaya memupuk intensi laku konsumen musik untuk kembali membeli album fisik. Entah berapa lama utopia sesaat itu dapat bertahan, akan tetapi balada-balada pelumat hati dan vokal karunia dewata selalu ditakdirkan bernafas panjang. Sebagian mengkritisi 25 karena seperti ketakutan meninggalkan formula kedigdayaan 21. Namun, setialah pada kredo bahwasanya tidak semua adalah “hal-hal yang tidak boleh diulang” dalam sebuah proses kekaryaan. Maksud saya, apa salahnya seorang penyanyi pop terbaik di generasinya mengulangi lagi album pop terbaik di generasinya?

1. Kendrick Lamar – To Pimp a Butterfly

5c45787f8bcd449a46bc3d1b50e65cc8.640x640x1

“I” merupakan lagu rap renyah yang paling dirayakan di penghujung tahun 2014, namun membuat dipertanyakannya niatan Kendrick Lamar untuk menjadikan hip hop lebih berarti. Tak lama, “The Blacker The Berry” rilis dan seketika menghamparkan pagar penyekat tegas antar etnis warna kulit. Pigmen adalah asas instropeksi kita semua! To Pimp of Butterfly berisi rap menghunjam-hunjam dan spoken words yang merongrong untuk didengar. Lantun pembuka “Every nigga is a star” menjadi peringatan bahwa jutaan kulit hitam yang merekam musik hip hop di tahun 2015 hanya akan berakhir di tong sampah. Apalagi tak ada yang sehitam album ini. Simak lirik-lirik perjuangan identitas seperti “King Kunta” atau “Nigga, we gon’ be alright!” pada “Alright” yang bahkan menjadi anthem sejumlah gerakan protes kaum Afrika-Amerika. “How Much a Dollar Cost” pun menjadi pilihan paling aman untuk jadi lagu favorit seorang Barrack Obama. Datanglah era di mana dunia lebih butuh Tupac Shakur dibanding Jay-Z, Kanye West dan Eminem. Mungkin terlalu muluk untuk mendapatkan empati dari sawo matang dan sekitarnya, namun To Pimp of Butterfly mengingatkan siapa pun bahwa musik secara historis adalah bahasa terbesar kulit hitam.

 

Go Check :

Song of The Year 2015
Indonesian Album of The Year 2015
Indonesian Song of The Year 2015
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response