close

Album of The Year 2015

polos album
polos album
Artwork: Hariyo Pamungkas

Rap—begitu banyak kata, namun begitu sedikit yang dikatakan,” tukas Keith Richards pada New York Daily News, perihal geliat musik hip hop yang kian mendapat tempat prestisius di tahun ini. “Apa yang dilakukan secara mengesankan oleh rap adalah menunjukan bahwa begitu banyak orang buta nada di luar sana. Yang mereka butuhkan hanya beat drum dan seseorang yang berteriak, lalu tiba-tiba mereka bahagia. Terdapat pasar yang begitu besar untuk orang-orang yang tidak bisa membedakan satu nada dengan yang lain.”

Mungkin keluhan itu bisa dipahami sebagai gerutu orang tua yang terlunta-lunta oleh kemajuan zaman. Atau, ini hanyalah kefrustasian atas masa di mana band mulai kehilangan ruang panggung-panggung top dunia. Apa saja band papan atas yang lahir selama setengah dekade belakangan? Nol. Terdapat banyak band menarik, namun tak ada yang punya kelas satu panggung dengan barisan diva seperti Adele, Katy Perry, Taylor Swift, Lorde, atau Sam Smith (curiga juga yang ini diva). Ada kerinduan melihat Coldplay mencuri piala Grammy Award dari incaran Beyonce dan Jay-Z, atau Nevermind (Nirvana) menjungkalkan Michael Jackson di Billboard. “Saya tidak kuat hidup di dunia di mana Ed Sheeran bisa main di Wembley,” giliran Noel Gallagher berkeluh kesah.

Tahun 2015 seakan lebih buruk dari sebelumnya. Selain hanya segelintir kugiran baru yang mencetak karya superior, band-band senior seperti Coldplay dan Muse lagi-lagi merilis album jelek. Bahkan lagu “Pedestrian At Best” yang terdengar bagai famili garage rock revival faktanya juga merupakan karya solo. Bisa dibilang grup band paling menuai euforia tahun ini ialah (mendiang) Nirvana dengan nostalgia berlebihan pasca tayang film dokumenter Montage of Heck—rilisnya album Montage of Heck: Home Recording menjadi bukti bahwasanya eksploitasi yang dibiarkan bisa berujung absurd.

Namun, sejatinya tak ada masalah secara esensial atas estetika konten musik dunia, di luar polemik kelestarian kiprah anak-anak band. Ini hanya soal tren. Para musisi tunggal tetap mampu mewarnai industri dengan karya-karya bernasnya. Dan jika tahun ini tak ada sosok solois pop anyar yang melejit jauh seperti tahun-tahun sebelumnya, Adele telah kembali dan sekali lagi mengajarkan bagaimana cara menyanyi untuk dibayar jutaan orang.

Dari tren hip hop sendiri, sepertinya mereka tidak benar-benar buta nada. Kami punya tiga eksponen hip hop yang tercantum dalam lis karya musik terbaik tahun ini. Dua di antaranya punya kualitas musikal yang lebih berisi dari sekedar “beat drum dan seseorang yang berteriak….” sementara satu lagi punya wacana lirik yang tersusun dalam banyak kata demi jutaan yang terkatakan.

 

10. Kacey Musgraves – Pageant Material

unnamed1

Senggakan pembuka pada Pageant Material bagai siratan atas apa yang akan Anda temukan di keseluruhan album: biduan nashville sound yang lepas dengan vokal yang bening dan percaya diri. Kedua single-nya, “Dime Story Cowgirl” dan “Biscuits” hanyalah cuplikan dari sekujur materi yang menyenangkan. Termasuk di bagian midtempo seperti “Late To The Party” dengan lirik naratif, “Let’s promise when we get in that we’ll try to get right out / Fake a couple conversations, make the necessary rounds / These kinda things just turn into ‘who’s leaving here with who?’” Pageant Material membuat kita percaya tak ada yang perlu ditakuti. Seperti apa kata “Die Fun”: “So let’s love hard, live fast, die fun”.

9. Hiatus Kaiyote – Choose Your Weapon

Choose-Your-Weapon-Hiatus-Kaiyote

Berulang kali orang masih bicara ihwal raihan nominasi Grammy Awards—atas nomor “Nakamarra” di tahun 2013 silam—ketika mendengar nama Hiatus Kaiyote tanpa banyak yang sadar mereka telah merilis lagi album menawan. Choose Your Weapon membangun medan soul versus jazz dengan parit-parit eksperimental ringan. Ada groove-groove Funkadelic yang sengit di “Swamp Thing”. Di sisi lain, “Shaolin Monk Motherfunk” laksana kumpulan biksu trippy yang tengah bertarung dengan rombongan penari samba.

8. Rae Sremmurd – SremmLife

Rae-Sremmurd-SremmLife-Album-Artwork

Duo kakak-beradik Khalif “Swae Lee” Brown and Aaquil “Slim Jimmy” Brown ialah eksponen anyar paling bertalenta dari gelimang laras hip hop tahun ini. Vokal berwarna anom dari keduanya yang paralel sukses membuahkan hook-hook apik [Simak larik repetitif “Somebody come get her, she’s dancin’ like a stripper” – “Come Get Here”] dengan karakter musik trap yang solid. Rae Sremmurd (dibalik dari nama label mereka, EarDrummers) menjadi mesin rap yang perkasa sejak album perdana.

7. Deafheaven – New Bermuda

deafheaven-newbermuda-560x560

New Bermuda ialah kelangsungan pesona dari album Sunbather yang dihujani banyak anugerah album metal terbaik di tahun 2013 dan mendaulat Deafheaven sebagai punggawa teratas aliran musik blackgaze. Materi berupa lima lagu panjang ini menerjang dengan ombak riff ganas serta vokal yang mencabik-cabik dalam relung atmosfir yang dreamy. Sebuah paket musik cadas yang gemilang dalam bermain-main dengan kebisingan yang gelap. Menenggelamkan sekalian menghanyutkan.

6.  Miguel – Wildheart

miguel-wildheart-album-cover-tracklist-560x560

Dibalik tongkrongan dan pose yang problematis antara seksi atau cabul di kovernya, Miguel bernyanyi “I’m talking, lips, tits, clit, slit, lips, tits, clit, slit” dan “I want to fuck like we’re filming in the Valley” di “The Valley”, nomor R&B psychedelic yang menyinggung industri porno. Inilah bagaimana R&B biasa menunjukan rasa cinta pada kaum hawa. Namun, Miguel bisa lebih berbahaya. “Coffee” atau “Waves” mustahil tak memakan korban. Sejak “Beautiful Exist”, komposisi artsy di Wildheart membuat R&B bukan lagi monopoli kakek-kakek telat puber.

 

Next: Album of The Year [5-1]

 Go Check:

Song of The Year 2015
Indonesian Album of The Year 2015
Indonesian Song of The Year 2015
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response