close

[Album Revie] Efek Rumah Kaca – Sinestesia

3ae4346f-aebf-41bd-9662-c6c78638efa3_43

Efek Rumah Kaca – Sinestesia

Jangan Marah Records

Watchful Shot : Merah – Biru –Jingga – Putih

WARN!NG Level : [yasr_overall_rating size=”small”]

Sinestesia
Sinestesia

Datang, menantang, lalu hengkang. Itulah kelakuan Efek Rumah Kaca. Sempat vakum sejenak, mereka aktif kembali di awal tahun 2015 kemarin, menyapa dan mengambil perhatian kancah, lantas tiba-tiba kini sudah bersiap angkat kaki lagi usai meninggalkan sebuah contoh album bagus. Jagoan yang arogan atau memang belantika tengah butuh teladan? Dan selagi mereka hibernasi pun mungkin kita masih dibuat sibuk menggali substansi melimpah dari album bertajuk Sinestesia ini.

Dua album Efek Rumah Kaca sebelumnya, Efek Rumah Kaca (2007) dan Kamar Gelap (2008)—yang merupakan album lokal terbaik untuk masing-masing tahunnya—hanya berselisih satu tahun dan punya karakter estetis yang tak jauh berbeda. Sehingga, bisa dibilang Sinestesia mengandung sensasi sebuah album kedua. Sensasi yang didasari rasa penasaran dan kebutuhan akan pembuktian.

Sinestesia lantas menjawab lebih. Pembuktian paling kontan adalah bahwa Efek Rumah Kaca ternyata bukan hanya sebuah band pop yang menjadi lebih mulia gara-gara lirik cerdas. Mereka kini meninggalkan patron aransemen minimalis, dan menyusun bangunan musikal yang lebih premium dari kaprahnya musik pop konvensional. Ini menjelaskan bahwa Pandai Besi ternyata bukan sekedar proyek pelarian jenuh, melainkan fase progresif. Lebat, meruah, namun kali ini tetap mudah dicerna. Saya pikir promosi peringatan bahwa lagu-lagu di dalam album ini “..bisa menimbulkan kebosanan dan kelelahan..” yang tercantum di artwork seakan malah meremehkan bakat Efek Rumah Kaca sendiri dalam meramu melodi-melodi bersahabat. Kendati materi Sinestesia dirajut panjang dan melibatkan gerak aransemen yang lebih eksploratif, namun sensibilitas pop di dua album sebelumnya hampir tak tersunat sama sekali. Bahkan, entah bagaimana album ini terdengar indah. Indra pun dibuat tertukar.

Menilik departemen lirik, Sinestesia cenderung melukiskan isu-isu berskala makro: politik, kodrat hidup-mati, atau toleransi beragama. Tidak ada pengambilan topik sederhana namun mengejutkan lagi seperti “Jatuh Cinta Biasa Saja”, “Kenakalan Remaja di Era Informatika” atau “Banyak Asap di Sana”. Akan tetapi, kompetensi penulisan lirik Cholil (vokal/gitar) memang telah berada di level yang sanggup mengimbangi pergumulan perspektif dan opini publik yang sudah banyak meluncur ke wacana-wacana besar tersebut. Apa yang ia suarakan tetap terasa baru namun mewakili.

Ada banyak hal—gimmick atau capaian—yang unik serta fenomenal dalam mengiringi rilisnya Sinestesia. Termasuk juga satu yang seharusnya tidak perlu, yakni bungkus fisik yang fotogenik namun mengecewakan di tangan. Tak ada yang salah dengan sentuhan The Popo atau karya fotografi berbasis warna dari duo The Secret Agents. Hanya saja eksekusi metode tempelan kemasannya yang aneh kian meyakinkan bahwa konsisten pada model jewel case Kamar Gelap dan Efek Rumah Kaca yang sederhana rasanya akan jauh lebih baik.

Boleh jadi Efek Rumah Kaca memang tengah menjaga jarak dengan kesederhanaan. Mereka menciptakan perubahan musikal yang besar dan membicarakan hal-hal besar di Sinestesia. Materinya saja berisi enam lagu berdurasi panjang yang masing-masing terdiri dari dua dan tiga komposisi yang sebenarnya juga layak berdiri sendiri (disebut fragmen). Sehingga tiap lagu sejatinya bisa diulas sebanyak satu artikel resensi sendiri lewat beragam perspektif pembahasan. Kesimpulannya, ini album yang menawan, dan jika masih butuh rincian, berikut ulasan masing-masing lagu yang “dipadatkan” secara paksa:

Merah:

Lagu ini bicara politik, topik yang serupa bola panas untuk Efek Rumah Kaca. Tatkala Slank sudah didomestikasi dan Iwan Fals berdagang kopi, Efek Rumah Kaca masih menyandang reputasi politis yang dianggap paling sehat. Sehingga, nama baik itu dipertaruhkan mentah-mentah di lagu dengan fragmen awal bertajuk “Ilmu Politik” ini. Runtuh segalanya andai mereka tak mampu menyampaikan buah pikir yang hebat dengan cara yang hebat dari topik lagu itu. Tapi, nyatanya mereka lebih dari selamat. “Merah” adalah lagu lokal terbaik beberapa tahun belakangan. Tidak ada fragmen lemah. Liriknya berlapis-lapis dan berjebah makna, lengkap dengan beberapa larik terbaik yang pernah diciptakan Cholil.

“Ilmu Politik” seperti makanan empuk baginya untuk merangkai larik-larik pendek dan bertumpu pada rima tipikalnya (“Lalu dukung mereka / Cendekia jadi pertapa / Politik terlalu iblis / Dan kita teramat manis.) Sementara “Lara di Mana-Mana” menyambung dengan peragaan khas Efek Rumah Kaca untuk bagaimana marah secara ramah. Atmosfir komposisinya juga sangat krusial membangundinamika mood lagu. Sehingga, begitu alunan khas timur tengah sebagai intro fragmen “Ada-Ada Saja” muncul, kita seakan dilabuhkan ke ujung perjalanan panjang. Naik-turun nuansanya benar-benar mengalir, menjembatani, serta integralistik. Dan meski larik seperti “Fatalis, main yang aman-aman / Seolah apolitis, takluk pada keadaan” itu mengesankan, justru “Semoga masih bisa bahagia” yang membuat saya merinding. Kalimat sederhana yang biasa hanya jadi basa-basi di lagu-lagu lain itu bisa begitu bergelora di lagu ini. Mengandung kritik satir sekaligus kegetiran. Bahwa dunia kian kacau, polah kita kian kacau, dan ya, semoga setidaknya kita masih bisa bahagia. Dahsyat.

 

Biru:

Kiprah akbar yang dilakoni Efek Rumah Kaca di tahun ini patut diakui tak lepas dari lagu ini. Fragmen pertama, “Pasar Bisa Diciptakan” menjemput kuantitas unduh yang ekstra ketika dirilis sebagai single. Bahkan, jargon “pasar bisa diciptakan” kian populer—dan kerap dipelesetkan—di masyarakat. Secara musikal, “Biru” mungkin memang yang paling menakjubkan yang pernah digarap Efek Rumah Kaca. Intro gitar yang meraung-raung itu terdengar orisinil untuk melatari melodi vokal yang lemah lembut sebelum disambut refrain anthemic. Permainan bas Adrian Yunan Faisal juga begitu prima, terutama di fragmen “Cipta Bisa Dipasarkan.”

Sayangnya, menurut saya justru “Biru” adalah titik nadir dari departemen lirik di Sinestesia. Di luar komplikasi gagasan dalam “Pasar Bisa Diciptakan” yang dianggap tumpang tindih dengan visi kapitalisme, naga-naganya topik tersebut justru akan lebih jitu andai disuguhkan lewat pendekatan semantik yang lebih realis, bukan imajinatif seperti “menembus rimba” atau “membangun kota”. Apalagi “Cipta Bisa Dipasarkan” yang terlampau melangit. Penggunaan kata “cahaya”, “sinar”, “binar” dan “terang” terlalu standar—untuk ukuran Efek Rumah Kaca—sebagai metafora capaian atau keberhasilan.

Jingga:

“Hilang” tetap merupakan lagu yang cemerlang meski sebagai fragmen pertama di “Jingga” tak lagi berdaya kejut lantaran sudah dirilis lebih dahulu di tahun 2010. Ornamen anyar di versi “Jingga” ini adalah koor mencekam di bagian verse atau bisikan “hilang” yang menggidikan di akhir. Selanjutnya, pendengar dituntun ke plot-plot yang makin kelam, yakni “Nyala Tak Terperi” yang teduh dan komposisi instrumental “Cahaya, Ayo Berdansa”. Khidmat adalah yang disasar oleh “Jingga”, dan mereka berhasil.

Hijau:

Saya bernapas lega mengetahui Efek Rumah Kaca tidak sempat berpikir hambar dan klise dengan mengisi tema narasi “Hijau” dengan persoalan lingkungan. Mereka hanya membawa kosakata seputarnya untuk membungkus urgensi respons sosial yang memang butuh segera dilagukan. Perihal persebaran informasi yang kini mulai membutuhkan saringan dan bak sampah. Bagian paling menggugah adalah penyulut sing along “Kita konsumsi sampah / kita produksi limbah”di fragmen kedua, “Cara Pengolahan Sampah”. Di sisi lain, “Keracunan Omong Kosong” selaku fragmen pertama yang menyajikan rock alternatif ala Smashing Pumpkins mungkin memberi varian di tubuh Sinestesia, namun ada sensasi seperti lagu ini salah tempat. Lebih cocok masuk Kamar Gelap.

Putih:

Nomor temaram dengan persandingan fragmen bertajuk “Tiada” dan “Ada” ini mengusung penulisan lirik yang menjurus spiritual. Bagian verse dinyanyikan Cholil dari sudut pandang seorang insan yang baru saja hilang hayat, diiringi rapalan Adrian sebagai narator. “Saat berkunjung ke rumah/ menengok ke kamar ke ruang tengah / hangat, menghirup bau masakan kesukaan / Dan tahlilan dimulai.”Siapa tidak bergetar batinnya mendengar Cholil melafalkan “Akhirnya usai juga” dan “Kini aku lengkap sudah”.Lantas,ia menyambung “Dan kematian, keniscayaan/ Di persimpangan, atau kerongkongan / Tiba-tiba datang, atau dinantikan” lewat transisi vokal dari falsetto. Persoalan ajal dikupas tuntas secara syahdu. Ini lebih mengena dibanding kebanyakan lagu-lagu metal yang belum habis mengeksploitasi subjekkematian.

Kemudian, “Ada” yang melukiskan masa kelahiran atau mula kehidupan dibangun dramatis dengan rias suara serbuk peri. Sejauh ini mungkin baru lagu ini yang tidak terdengar norak dengan efek suara itu. Vokal latar pun bertebaran dengan formasi peletakan yang tepat. Di penghujung lagu, bagian “Tentang akal dan hati / Rahasianya yang penuh teka-teki”adalah klimaks nan mempesona.

Kuning:

“Kuning” terdiri dari “Keberagamaan” dan “Keberagaman.” Pesan dan idenya jelas. Sama seperti “Hijau”, gagasan yang dibawa amat menanggapi zamannya (“Terjerembab demi akhirat / Akalnya lenyap, hati berkarat.”) Secara warna musikal, “Kuning” tak cukup menonjol dibanding lima lagu lainnya. Unsur idiosinkrasinya adalah flute yang cukup banyak muncul, meski tak terlalu mencuri perhatian. Namun, layer gitar yang mencekam cukup menggelar nuansa yang tepat. Sinestesia adalah album yang sangat relevan sebagai reflektor perangai zaman serta kehidupan, dan mereka memilih mengakhirinya dengan lirik “Berarak beriringan / Berseru dan menyebut..Dia..” [WARN!NG /Soni Triantoro]

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.