close

[Movie Review] 3

maxresdefault(1)

Director           : Anggy Umbara

Cast     : Cornelio Sunny, Abimana Aryasatya, Agus Kuncoro, Donny Alamsyah

Durasi  : 110 menit

Studio : MVP Pictures (2015)

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

3
3

“Bagaimana jika ini atau itu terjadi?” Pertanyaan simpel itu yang biasanya mendorong imajinasi seorang sutradara. Caranya menerka jawaban akan situasi tersebut yang nantinya akan berakhir menjadi satu narasi utuh. Dalam 3, Anggy Umbara mencoba meramal apa jadinya jika Indonesia dikuasai oleh pemerintahan liberal yang begitu opresif terhadap agama. Premis yang sedikit melipir mirip V for Vendetta.

Anggy Umbara mengalirkan pertanyaan tersebut lewat tiga tokoh utama, Alif, Lam, dam Mim. Ketiganya dibesarkan di satu padepokan sebelum akhirnya mengambil jalan hidup yang berbeda-beda. Dikemas dengan penuh aksi futuristik dan mencoba menggasak isu sosial-budaya, 3 menjadi tontonan yang jarang ditemukan dari perfilman Indonesia. Sekarang pertanyaannya.. Sebenarnya banyak pertanyaan yang bisa diajukan terhadap film ini.

Belum genap 10 menit film dimulai, Anggy Umbara begitu menekankan “kemampuan bela diri di atas rata-rata” bahkan hingga di teks prolognya. Latar belakang 3 pun diraba melalui potongan-potongan klip berita. Aksi tak terputus dari Alif begitu memikat dengan perpaduan long-take dan slow motion ala Zack Snyder, setidaknya untuk 30 detik pertama. Setelah itu, adegan tersebut terasa cheesy dan membosankan. Segala macam efek spesial saling tumpuk menumpuk, menodai apiknya koreografi pertarungan. Beberapa adegan lain yang berpotensi mencengangkan sekejap kehilangan daya tariknya karena terlalu bergantung pada efek spesial.

Ranah psikis Alif kemudian dibedah dengan begitu eksplisit lewat dialog dengan atasannya. Flashback masa muda Alif semakin membantu. Kini semua motifnya terpapar jelas. Untuk sebuah film yang terasa begitu beroposisi dengan pemikiran banal, 3 terasa diktatoris dalam setiap dialognya. Tidak ada ruang berpikir yang disediakan untuk penonton. Pengaluran yang kurang rapih dan konflik-konflik insignifikan sepanjang 3 pun ujungnya runtuh tertimbun rumitnya naskah itu sendiri.

Motivasi Lam dan Mim juga gamblang terasa. Sebenarnya, tak ada satupun karakter yang memiliki kedalaman dan gravitas yang cukup untuk mengikat penonton dalam narasi. Semua terasa berlebihan atau tidak penting sama sekali. Sebagian karakter sampai terasa konyol dan tidak bisa dimengerti. Mencoba mengerti keadaan Jakarta di tahun 2036 lewat interaksi setiap karakternya pun terasa sia-sia. Rasanya seperti mendengar cekcok antara anak-anak Perspektif dan preman FPI.

Dari sisi lain, tetap saja sulit untuk mendapatkan gambaran utuh terhadap Jakarta di tahun 2036 versi Anggy Umbara. Kesan yang didapat bukanlah futuristik maupun dystopian, hanya janggal. Satu hal bisa dipahami dengan mudah sebagai masa depan jika mengakar kepada nilai-nilai kekinian dan secara bersamaan membuahkan nilai-nilai baru yang masih konseptual. Sementara yang terlihat di 3 adalah telepon genggam dan komputer berbentuk sebingkai kaca, dengan antarmuka yang minimalis. Sudah. Itu saja. Ada pula mobil-mobil yang dimodifikasi eksteriornya dan gedung-gedung pencakar langit yang terlihat seperti masterplan Agung Sedayu Group. Kedua hal itu sama sekali tidak membantu untuk membangun gambaran yang utuh, justru sebaliknya.

Secara keseluruhan, 3 terasa seperti kliping film-film sci-fi dan laga. Ada beberapa adegan yang mengingatkan kita kepada berbagai judul film, mulai dari The Raid hingga The Matrix. Substansi yang sejatinya provokatif tidak tersampaikan lantaran desain produksi yang kurang autentik dan naskah yang tidak kongruen. Ambisi besar dan ide cerita menarik 3 akhirnya terkemas sebagai jiplakan generik dari versi terbaiknya sendiri. [WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.