close

[Album Review] 70’s Orgasm Club – Electric Love

Electric Love

Review overview

WARN!NG Level 7.7

Summary

7.7 Score

Label: Corduroy Groove Records

Year: 2017

Watchful shot: “Lawan!”, “Plastik Fantastik”, “Angelic Wing Machine”

Memori kepala saya merekam funk sebatas pada James Brown, Marvin Gaye, Herbie Hancock dengan Head Hunters-nya, serta zaman keemasan Bruno Mars di tangga Billboard yang prestisius. Selebihnya? Maaf saja mungkin tidak sedalam pemahaman terhadap aliran lain. Meski akses pengetahuan minim, funk adalah musik yang menyenangkan. Konstruksi lagu-lagu funk merupakan salah satu yang terbaik di eranya. Atribut penuh corak, pub pinggiran New Jersey, sampai nada-nada yang merasuk sensor goyang tanpa adanya pembredelan menjadi ciri khas tersendiri. Bayangkan bagaimana panasnya tubuh ketika “Jungle Boogie” ciptaan Kool and the Gang diputar; memaksa motorik beradu di altar dansa.

Lalu tiba masa di mana atensi atau keinginan menjelajahi funk kembali bergairah pasca kehadiran 70’s Orgasm Club. Lupakan sebentar nostalgia terhadap Funky Kopral yang pernah menghebohkan jagat musik dalam negeri karena kehadiran personil berstatus superstar (Bondan Prakoso? Iman J-Rocks?), karena kali ini 70’s Orgasm Club—atau Anda bisa menulisnya dengan singkatan—membawa sensasi tak kalah segar.

Membicarakan 70’s Orgasm Club tak bisa dilepaskan dari sosok Anto Arief yang berdiri sebagai konduktor. Gitaris kancah Bandung yang sudah tamat malang melintang di pelbagai proyek mulai dari Tesla Manaf hingga Tulus ini memiliki ribuan ide kreatif; di mana sebagian besar porsinya tercurahkan untuk 70’s Orgasm Club. Tahun 2011 menandai kiprah mereka yang meyakinkan. Album mini bertajuk Supersonicloveisticated dilepas ke publik dan meraih apresiasi yang baik di belakang. Sayangnya, lahirnya EP tersebut sekaligus menandai perpisahan dua personilnya, Endy dan Rio yang ingin berfokus mengurus keluarga.

Anto tak tinggal diam. Semesta memberinya lampu hijau untuk membangkitkan 70’s Orgasm Club dengan masuknya Galant Yurdian dan Gantira Sena yang ditemukan di sela-sela obrolan kafe Kota Bandung. Semenjak itu, konsentrasi mereka terpusat dan memutuskan meneruskan kiprah yang telah dibangun sedari dulu. Alhasil, album penuh berjudul Electric Love dirilis pada Februari 2017. Menegaskan predikat pasukan funk di tengah gempuran band-band youngster yang kian membabi buta.

Electric Love memuat 9 (sembilan) nomor dengan bumbu yang beragam. 70’s Orgasm Club secara baik menggabungkan banyak racikan serta menempatkan funk ke posisi layak dengar bersama isian-isian instrumen yang mengasyikan. Dukungan dari musisi tambahan seperti Faishal Muhammad Fasya (keyboard/synthesizer), Brury Effendi (trumpet), Pangestu Bhawana (biola), Ayla Adjie (perkusi), dan Bonny Buntoro (saksofon) perlu diberi penghormatan sebab telah sukses menyemarakan keseluruhan track Electric Love.

“Angelic Wing Machine” membuka jalannya album. Raungan gitar Anto di awal menyibak tirai perkakas lain; intensifnya tiupan terompet dan tepukan perkusi yang rancak di samping ia meracau bersama syair-syair penuh logika. Di “Funky Thang” alunan biola yang halus terselip di balik penurunan tempo. Samar-samar mengingatkan kepada nomor “It’s Your Thing” dari Isley Brothers. Sedangkan lewat “Yellow Mellow” dan “Satu Cinta”, 70’s Orgasm Club mengajak untuk menikmati cumbu rayuan asmara dengan ritme padat dan harmoni brass section yang seksi.

Pada “Nongkrong 70” semua terlihat jelas. Kerapatan permainan bass line—yang sesekali menunjukan variasi slap—beradu bersama kritikan Anto kepada kepalsuan identitas. Atmosfer mulai tak terkendali di nomor “Lawan.” Keliaran tiap bunyi tak dapat ditahan. Kombinasi mixolydian mode, melodi blues scale, sampai gebukan yang ritmis membuat fase bahagia bukan lagi mitos. Kemudian tiga track berikut “Electric Popsicle”, “Shout!”, dan “Plastik Fantastik” menuntun ke malam penutupan yang meriah. Didominasi kocokan dawai Anton yang repetitif seperti menyaksikan Rufus and Chaka Khan menyajikan “Tell Me Something Good” di mimbar Honeycut.

Secara garis besar, Electric Love tidak mengecewakan. 70’s Orgasm Club berhasil mengobati kerinduan—sekaligus mungkin memenuhi ekspektasi yang tertunda—barang sekian tahun. Mereka membungkus lapisan funk dengan resep yang bisa dibilang inovatif dan original. Tak cuma memunculkan pakem pada kebanyakan, melainkan bersedia menaburi menu utama dengan percikan blues, soul, dan bahkan orkestrasi New Orleans.

Namun bagi saya, walaupun Electric Love mempunyai sound yang kaya dan memang hal tersebut tidak dapat dibantah kehadirannya kala sukses memberikan pandangan berbeda bagi para pendengar, tapi harus diakui Supersonicloveisticated lebih terasa mengalir dari satu pijakan ke pijakan lainnya. Mereka, melalui EP tersebut, memberanikan diri untuk menyalurkan hasrat yang menggebu dengan mengaduk batasan atas melodi-melodi panjang, liukan bas maut nan bergizi, maupun hentakan tak tertebak tiada dua. Jadinya? Serangkaian lima nomor yang bisa menjaga intimasi dan mood sekalian.

Ada semacam beban yang dipikul 70’s Orgasm Club saat menyusun repertoar Electric Love. Entah soal menjaga kesolidan format atau memilih bumbu yang pas guna memenuhi harapan lidah khalayak. Itu pula yang membuat Electric Love terbentur koridor keleluasaan. Meski demikian (satu hal yang pasti) di tangan 70’s Orgasm Club funk tetap berlari tak jauh dari lintasan; menggoyangkan sekujur badan lantas menghapus penat di kepala. Nikmati saja. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response