close

[Album Review] Amelia Ong – Self Titled

amelia-ong
Amelia Ong - Self-titled
Amelia Ong – Self-titled

Amelia Ong – Self-titled

Label                  :  Demajors, 2015

Watchfull shot :   “My Prayer”, “Crowded House”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Tidak banyak penyanyi jazz perempuan tanah air dewasa ini yang mampu menelurkan karya dalam bentuk konsistensi. Sebut saja Dira Sugandi, Monita Tahalea sampai Sierra Soetodjo adalah beberapa pengecualian yang mampu menepiskan argumen di atas. Selebihnya? Mungkin hanya numpang lewat belaka atau sekedar bermain dalam format festival yang tidak berlangsung lama.

Lalu muncul nama Amelia Ong yang hadir di belantika musik jazz pada tahun 2015 dengan sebuah debut album bertajuk Self Titled; sekaligus pembuktian bahwa ia siap mendobrak dominasi papan atas yang seakan mengalami stagnasi jangka panjang.

Albumnya adalah wujud dari gambaran kesenangan; terdiri dari tujuh buah lagu yang hampir semuanya diciptakan oleh dirinya sendiri (kecuali nomor lama “Someone to Watch Over Me” ciptaan George dan Ira Gershwin). Dari sini dapat kita lihat, selain suaranya yang khas dengan kelembutan vokal bak Emilie-Claire Barlow ia juga dianugerahi bakat untuk menciptakan komposisi nada dan suara: kombinasi sempurna. Dalam proses pengerjaan albumnya ini, ia juga dibantu oleh Sri Hanuraga yang bertindak sebagai pengarah instrumen. Hasilnya? Anda pasti tidak akan kecewa.

Nomor pertama dibuka dengan lantunan “11 2 3”. Jemari Sri Hanuraga memacu keritmisan tuts organ yang membawa suara Amelia Ong mengudara dengan centilnya. Sedikit dibumbui pop gurih, tak mengurangi esensi romantisme yang menurut saya dibawakan secara bijaksana (When the rhytm gets to you//Your soul will fly so high). Selanjutnya ada “My Prayer” yang sarat vibrasi berat; Hanuraga memasang nada rendah dan kemudian ditimpali ketukan bas Kevin Yosua yang seksi. Lantas Amelia Ong meneduhkan suasana bersama vokalnya yang menyayat. Tensi kembali berubah tatkala “Crowded House” dimainkan. Progresi rancak sudah terlihat dari awal perjumpaan. Porsi improvisasi yang besar muncul di tengah lagu; tenor sax Dennis Julio begitu memikat, saling timpal-menimpal dengan melodi Hanuraga yang konjugatif. Kualitas Amelia Ong kembali hadir setelah sebelumnya tertutup aksi para musisi tamu di nomor “Crowded House”. Adalah “Someone to Watch Over Me” yang sendu serta “In My Eyes” yang bias makna pencarian diri. Dan pada akhirnya, Amelia Ong menutup kisah ceritanya secara melankoli sembari berujar; “When you say that you love me no more. Lord I regret all..”

Keberadaan album ini cukup menggambarkan apa isi benak Amelia Ong. Bahwa dengan hasrat yang dimilikinya, ia membuat beberapa ragam karya yang berwarna; tak hanya gembira, kadang ia juga merasa jatuh akan kemuraman. Namun dibalik arti filosofis di setiap komposisi, rilisannya juga dapat berbicara lebih jauh; tentang ambisi, impian dan pembuktian Amelia Ong di kancah musik dalam negeri.  [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.