close

[Album Review] Angel Olsen – My Woman

My Woman

Review overview

WARN!NG Level 8.8

Summary

8.8 Score

 

Label: Jagjaguwar

Watchful Shot: “Intern”, “Never Be Mine”, “Not Gonna Kill You”

Year: 2016

 

Di dalam intonasinya tersimpan kegetiran yang teramat. Walaupun dikaburkan optis yang tanwujud, fonetiknya masih terdengar pekat; menandakan gejolak hatinya di ambang kepiluan, tak sempurna. Terbesit keputusasaan, kemasygulan, kesia-siaan tak berujung kala etiketnya yang mencela konsepsi percintaan dan terlebih mengutuk kenyamanan untuk berujar semua baik-baik saja. Saat ngarai kejatuhan bersiap menampungnya, ia melakukan perbantahan; menggambar eksposisi yang terbentuk atas konjungsi riff bernas, hembusan synth yang dalam, hingga pembelokan ritme yang menjaring praduga.

Nyatanya, keganjilan yang ia lukiskan menyimpan bara sentimentil. Tak ingin nampak jelas mata, ia sengaja meleburkannya dalam gatra yang muram. Keindahan yang diharapkan bukan bersifat seperti kebanyakan. Dirinya cenderung lebih suka menolak mentah-mentah kaidah kebahagiaan dan membuat aturan serta tatanan sendiri menurut apa yang diimajinasikan. Satu hal yang kentara; keinginan mendapatkannya masih membuncah. Dan lewat My Woman, ia berusaha sedikit terlelap agar tak terlampau meyakinkan.

Jika Burn Your Fire for No Witness merupakan bagian yang menyempurnakan perjalanan seorang Angel Olsen, maka My Woman adalah ibtida di mana ia merusak lantas membangun kembali tautan citra kerapuhannya. Ia tak peduli seberapa penting Burn Your Fire for No Witness berpengaruh pada lingkaran sanubarinya. Di luar dugaan, Olsen justru menapaki tangga ekspektasi yang berkeliaran di orbit terlarang. Apakah timbul masalah? Tentu tidak karena ia mampu merobohkan bilik ketidakmungkinan yang membiaskan kuasanya.

My Woman menyediakan kemegahan tiada dua. Dengan tata suara yang disusun dari detail-detail mencengangkan, Olsen mencurahkan desain bertaraf eksepsional; adonan mandolin medio 1960, impresi pedal yang glamor, dan outro yang nyaring laiknya mahakarya David Gilmour. Cukup siapkan mimbar pementasan dan kelak Olsen akan menggemparkan seisi pangsa bersama kehanyutan yang mengharukan.

Diawali dengan “Intern”, vokal Olsen bersanding subtilnya synth juga choir yang sayup-sayup melambat. Memasuki refrain, buaiannya meninggi kontras sembari berkata mengenai sangkala penyudah; sebelum solo synth pendek yang berat mengetuk mazbah. Di “Never Be Mine” deram gitarnya sedikit kasar, eksentrik, dan berdistorsi rapat seolah aroma Camera Obscura memenuhi jari-jari lentiknya. Kemudian lengkingannya mengungkap tabir kejujuran di “Shut Up Kiss me” yang ditelan ambient. Ia memberontak, ia berteriak.

Tak lama setelahnya, rona garage bersekutu hook surf California yang merayap di bawah “Give It Up”. Rentaka kaulnya meluncur lekas ketika ia melantangkan In my arms and fast asleep//In my arms and all my dreams. Beruntung, kemesraan dihasilkan lewat koalisi down stroke simplistis serta bass line yang giur. Intensitas tak dikendurkan tatkala “Not Gonna Kill You” diputar. Olsen tetap menjaga gelegak kemarahannya dengan bantingan keras yang melemparkan memorabilia.

Sejatinya Olsen tak ingin meluapkan afeksinya kelewat batas. Simak bagaimana “Heart Shaped Face” merobohkan akuan. Lengkingan nafasnya menghunuskan cenangkas kesepian dan penyesalan. Di lain sisi, tuas clean dipilihnya menemani tiupan pelita yang mendayu. Sarat gendam revival, menenggelamkan obstulen psikadelia. Konstelasi peredus nan otentik hadir dalam “Those Were the Days” yang menurunkan tempo penjamuan. Menyertakan sentuhan classical-jazz ala Billie Holiday, ia mengajak bernostalgia ke masa lampau secara iterasi.

Dengan sigap, Olsen telah menjalankan prosesi kenikmatan yang berdiri pada tungku keboyakan. Entah memikirkan atau tidak, Olsen membungkusnya dalam balut lamunan kecerlangan. Bersama wacana ceritanya sekaligus jentera pengingatnya, ia berburu tamasya yang pelik untuk dijelajahi seutuhnya. Terkadang ia berceloteh karau bak Stevie Nicks, namun sesekali berlumpur detonasi serupa Kim Gordon.

Albumnya adalah transplantasi kemurnian yang mungkin hanya bisa dilakukan segelintir pihak. Goresan tunanya, rekaan kecilnya, serta relung keunikannya tak jadi senjata mematikan yang meruyupkannya ke jurang kebimbangan. Dengan sarwa My Woman, pandangannya menatap ke tentangan. Tanpa sedikit pun kehilangan perhatian, ia memejamkan netra dan membiarkannya memeluk sahaja penantian. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response