close

[Album Review] Animal Collective – Painting With

animal-collective

Label: Domino
Year: 2016
Watchful shot: “Hocus Pocus”, “The Burglars”, “Golden Gal”

Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding meremas secuil fantasi aneh dengan iringan harmonisasi noise yang dibalut halus bersama irama pop subtil dan renyah. Atau mungkin tambahkan pula dalam catatan Anda bahwa melewati jurus-jurus handal dari skema baku eksperimental yang bertumpu pada dominasi mesin synth dibalik dinding maupun sekat elektronik adalah pengalaman tanpa dua. Menggelegar, mencabik indera, bahkan meraba titik kepekaan sampai batas tertinggi.

Saya bukan tipikal pendengar musik yang kompleks; melibatkan perangkat teknis rumit, formulasi absurd dari susunan notasi yang entah  bagaimana mendeskripsikannya, atau melodi yang kacau namun merangsang seduh klimaks tiada tanding. Akan tetapi, setelah momentum mempertemukan diri dengan kolektif post-modernisme bernama Animal Collective lewat karyanya yang berjudul Feels (2007), pikiran ini seolah bangkit melempar persepsi ketidaksukaan dan berkata dalam benak; kejutan terbesar kancah yang tak bertuah sedang berdiri di depan mata.

Ketertarikan saya terhadap Animal Collective dilandasi faktor pembawaan konsep bermusik yang tertata rapi. Mereka memainkannya dengan kaidah, konstruksi cara, serta sejumput pedoman resmi di dalam fase berproses yang sudah dirintis sedari masa puber di Baltimore. David Portner selaku dedengkot adalah contoh dari representasi sebuah dogma zaman; menegaskan bunyi yang keluar melalui perkakas pabrik itu sejatinya terus berkembang tanpa harus kehilangan marwah identitasnya. Maka, Portner pun turut serta mengajak rekan-rekan masa sekolahnya seperti Noah Lennox, Josh Dibb, serta Brian Waltz untuk meramu sejumlah materi segar yang kelak memaksa Uncut Magazine menyebutnya sebagai “…..the landmark American albums of the century so far”.

Apakah penyematan pujian kepada mereka merupakan pernyataan berlebih? Saya pikir tidak. Animal Collective sampai sejauh ini mampu membuktikan bahwa kapabilitas mereka melampaui segala duduk ekspektasi yang ada. Segala batasan berani mereka dobrak dengan menyajikan garis lintas genre yang menghubungkan satu cerita ke cerita lainnya secara intens dan megah dalam skala cukup masif. Anda pernah mendengarkan perpaduan folk yang dikocok raungan bunyi ambient? Jika belum, coba simak Here Comes Indian yang mereka lepas di tahun 2003. Atau mungkin Anda bertanya-tanya bagaimana hasilnya apabila hook populer yang berlarian dikombinasikan tetes kimiawi dari ramuan psychedelic? Jawabnya cuma satu: memercikan konstelasi unik yang jarang terlintas di telinga.

Animal Collective tergolong produktif menelurkan karya. Selama rentang 16 (enambelas) tahun masa karir yang dimulai semenjak medio 2000, total sudah 21 buah rilisan mereka hasilkan yang terbagi atas penahbisan album studio, live sessions, EP, sampai visual sinematik berupa ODDSAC (2010) yang mendapatkan kehormatan diputar di Sundance Film Festival. Perjalanan mereka tak dapat dikata sempurna. Munculnya sejumlah prahara yang menaikan gelombang konflik dimulai dari hancurnya perjalanan tur pada 2002, keluarnya Dibb dari keanggotaan, sampai melepas jemari anonim karena unsur gimmick yang tak perlu. Tapi apakah kehidupan mereka tenggelam ditelan lubang kehancuran? Saya menyangsikannya.

Angka 2016 menjadi panggung gerombolan ini untuk kembali unjuk gigi. Selepas mengalami fase bosan dan kejenuhan, mereka memutuskan balik kandang dengan mencumbui dapur rekaman. Memulai rutinitas yang biasa dilakukan meski prioritas tidak lagi berada di urutan atas. Album baru setelah masa penantian 4 tahun pun dikebut, dikejar, dan digarap militan. Seolah kesempatan terakhir dalam membuktikan kepada khalayak: menyinggahi ruang antusias yang belum sempat dicapai di masa lampau.

Hasilnya adalah sebuah album kesepuluh bertajuk Painting With. Portney sendiri menyebutnya album fundamental dengan citarasa ambient yang berkurang; mengibaratkan layaknya album The Ramones di masa kemunculan pertama, penuh keliaran yang cenderung kasar dan menyenangkan. Dominasi modular synth memberikan pijakan menyeluruh bagi kelangsungan duabelas komposisi di dalamnya. Tak ayal, bayangan tentang kehebatan pencapaian Sung Tongs (2004) dan Strawberry Jam (2007) pun menyeruak di belakang.

Saya mengkategorikan Painting With ke dalam dua versi. Pertama, versi mengesankan. Kedua, versi membosankan. Versi pertama sudah saya isi bersama nomor-nomor semacam “Hocus Pocus” yang kental atmosfer drone futuristik hasil olah rasa dari dedengkot The Velvet Underground, John Cale. Lalu “The Burglars” yang sarat ketukan rapat nan penuh perhitungan. Di lagu tersebut terhilat jelas Avey Tarey leluasa memainkan konsol kesayangannya dengan khidmat. Kemudian jangan lupakan “Golden Gal” yang memancing gelak penasaran atau “Spiling Guts” yang cocok diputar tatkala beradu kaliber pistol dengan Vincent Vega di ruas jalanan sepi Los Angeles pertengahan 1993.

Jika yang disebut di atas merupakan beberapa contoh versi mengesankan, maka yang saya tulis di bawah ini menjadi preferensi kebosanan dari Painting With. Rasa bingung menggelayuti otak ketika menyaksikan “FloriDada” didapuk sebagai single utama. Entah mengapa nada-nada yang dikeluarkan tidak konstruktif dan cenderung runyam. Seakan tertahan oleh keraguan yang dibuat atas dasar ketakutan. Tak berhenti sampai situ, “Natural Selection” serta “On Delay” lebih mengkhawatirkan. Pola-pola yang biasa mereka gambar justru menjadi bumerang bagi kedinamisan suara, improvisasi, juga karakter kunci lekukan kreatif.

Pada suatu titik akhirnya saya musti mengambil kesimpulan; Painting With tidak terlalu memberikan pengalaman eksperimental laiknya album-album Animal Collective terdahulu. Walaupun demikian, bukan berarti album ini layak untuk diacuhkan begitu saja. Tetap ada beberapa track nostalgia yang membawa pendengar menjelajah memori-memori abstrak dari panorama tak beraturan maupun lanskap keseimbangan yang terbiaskan cahaya suram. Apabila muncul kerinduan untuk melodi panjang yang diselipkan, pukulan ritmis dan penuh jebakan, sampai perpindahan ekstrem antara satu dimensi dengan dimensi lainnya yang mengguncang iman, Anda tak sendirian. Dan Painting With sayangnya belum mampu melepaskannya. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response