close

[Album Review] Anti Flag – American Spring

anti flag
American Spring
American Spring

Anti flag – American Spring

Spinefarm Records

Watchful Shots: “Sky Is Falling”, “The Great Divide”, “Brandenburg Gate”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Daniel Lyxzen (Refused/ The International Noise Conspiracy) pernah mengatakan, ia harus menjelaskan pandangan politisnya ketika mengokupasi Amerika, dibanding ketika mereka berada di panggung Eropa. “Politik seperti terpisah dengan masyarakat,” tambahnya. Tentu itu merupakan pernyataan mengejutkan buat saya yang tinggal di Indonesia. Jika benar, tentu kondisi tersebut harus direspon.

Adalah Anti Flag yang mencoba turut berkontribusi lewat album penuh kesembilan mereka. Lewat American Spring, kuartet asal Pittsburg ini tetap lantang memberi peringatan bahwa dunia tidak baik-baik saja. Peringatan itu, tanpa basa-basi langsung disuguhkan pada lagu pertama, “Fabled World”. Disuguhkan dengan hook-hook catchy macam “We live in fabled world, of terror day and night”, “Fabled World” mengingatkan bahwa saat ini kita masih hidup berdampingan dengan teror. Disambung dengan “The Great Divide”, punk rock ngebut yang cocok untuk membakar pit, mengingatkan pada hit “Press Corpse” dalam For Blood and Empire. Pun begitu dengan isinya, pernyataan bahwa ada pemerasan dari kelas borjuasi, beserta ajakan untuk perang kelas, semakin mengokohkan sikap mereka sebagai band sayap kiri.

“Brandenburg Gate” menjadi nomor yang paling mencuri perhatian. Lagu ini bak hibrida The Clash dan Rancid, dimana Tim Armstrong—yang hadir sebagai musisi tamu—juga sukses membuat semarak lagu ini. Selain itu lagu ini juga diterjemahkan secara bernas dalam bentuk video klip, bahkan menjadi video klip terbaik mereka.

Total ada 15 lagu, dan semua yang terbaik ditumpuk pada empat lagu pertama. Single kedua “Sky Is Falling” menjadi klimaks album rilisan Spinefarm Records ini. Lagu berdurasi 4 menit 11 detik ini muncul sebagai respons terhadap kebijakan Amerika Serikat tentang program drone. Jika Muse—yang baru saja merilis album—bercerita tentang perang drone dalam satu album, di sini Anti Flag merangkumnya secara padat dalam satu lagu.

Arena rock demi memberikan ruang untuk koor masal, disajikan pada nomor “All of the Poison, All Of The Pain”, lengkap dengan bagian-bagian clapping hand. Selain itu, American Spring banyak diisi nomor-nomor pop. Simak “Without End” yang turut menghadirkan Tom Morello, “Set Yourself on Fire”, lalu “Low Expectation”. Ya, beberapa lagu itu didominasi dengan mid-tempo dalam takaran band punk rock.

Keseluruhan, tak banyak yang berubah secara musikalitas. Album ini bahkan sulit dibedakan dengan album-album sebelumnya. Bisa dianggap minim eksplorasi maupun improvisasi, tapi juga bisa dikatakan konsisten. Keduanya pun tak masalah, karena Anti Flag bukanlah sekedar band untuk dinikmati sambil lalu. Namun juga untuk dicermati pesan yang disampaikan. Karena membaca liriknya saja, tanpa mendengar harmoni nadanya, kita sudah bisa mendapatkan hal-hal penting sekaligus menarik.

Konsistensi Anti Flag selama lebih dari 20 tahun, tanpa bosan berkutat dengan isu sosial politik, jika dikaitkan bisa jadi mengamini pernyataan di paragaraf pertama. Ya, bahwa Amerika sendiri belum melek politik. Maka, ikhtiar yang dilakukan, patut ditiru oleh musisi-musisi yang hidup di negara buta politik.  Sebagai penutup, mengutip nomor “To Hell With Boredom” yang sarat makna, “To hell with apathy/ the old world behind you comrade!”. [Tomi Wibisono]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response