close

[Album Review] Aurora – All My Demons Greeting Me as a Friend

Aurora

Review overview

WARN!NG Level 8.9

Summary

8.9 Score

 

Label: Decca – Glassnote

Watchful shot: “Home”, “Black Water Lilies”, “Wisdom Cries”

Year: 2016

Akhir-akhir ini saya dibuat terpukau dengan kehadiran sosok Angel Olsen dan juga Kristine Leschper. Keduanya tak dapat dipungkiri mampu menghadirkan perasaan takjub kala pamornya menerobos bangsal keterikatan diri. Mereka meracik kreasi yang membuat nurani bertekuk lutut akibat kejut fluktuasi; memainkan ketegangan di samping kemahirannya dalam menyelipkan terma. Tak berlebihan jika mendapuk keduanya sebagai nyala panas yang bakal berlangsung lama.

Namun, mereka tak sendirian. Ketika cuaca malam menusuk pori-pori kulit dengan hembusan siklon kebisuan, tikas impresi teringat akan satu nama; Aurora Aksnes. Personanya merupakan kewajiban yang tak bisa ditunda kali ke sekian. Kial sariranya memendam kehendak serta ilat yang menyakal. Sepintas ia bak dikurung dalam terungku personalitas kendati pucuknya mengangkangi sonder aras.

Jika Olsen atau Leschper menangguhkan atmanya dalam entitas dawai, Aurora memacu kayuhnya pada kuil elektronik. Berbekal otoritas lantang yang mengingatkan St. Vincent di periode Strange Mercy, ia mendambakan ambisi yang kelewat ekstensif di tiap lagamnya. Hal serupa yang mengaminkan keselarasan bagaimana ketiganya membela rekahnya lubuk dengan begitu cendayan.

Tetapi, Aurora mempunyai distingsi yang bahana. Ia menyuntikan gradasi bernas, dubius, sekaligus moderat di sebilang jengkal ekspresi. Tersimpul kesenyapan yang teramat bujur maupun interlokusi sengap di balik potretnya yang masih berumur duapuluh tahun. Alhasil, ia beruntung melenyapkan syak wasangka yang tak menemui konklusi dari setiap fragmen pengembaraan.

All My Demons Greeting Me As A Friend memuat wahana yang menghubungkan segala keresahannya dalam sepasang partikel. Demi melahirkan vista yang estetis ihwal penyesalan, ia menyambut simpatik oponen di kapitanya; telatah kecurigaan, kegeraman, histeria, sampai pesimistis pada taraf tertentu. Ia memeluk, tak sebatas merangkul. Ia mencipta, bukan sekedar membuat.

Apabila Anda mengira albumnya hanya bisa dihayati tatkala kebuntuan terai menyergap, segera koreksi perlahan. All My Demons Greeting Me As A Friend berbicara definisi mondial. Setiap kerangka diraihnya tanpa harus memaksakan petala yang berstrata ganda. Putar “Conqueror” dengan pengarahan sentimentil sehabis ia bergumam kalut. Atau pasang “Warrior” di penjuru geladak untuk melanturkan kesukaan. Tak cukup? “Murder Song (5, 4, 3, 2, 1)” bakal menjajal asral daripada yang terbesit di beranda parasnya.

Albumnya terbagi atas dua partisi yang sama-sama memiliki karakter kuat. Belasan track berbaris runtut dengan penguasaannya menancapkan anekdot. Skenario ia gubah serapi mungkin. Bahkan sesekali ia menerbitkan twist yang mengesankan meski terkadang membiarkan klimaks tersimpan rapi di perapian; sebelum meletus tanpa pernah kita duga. Walaupun demikian, bukan berarti ia mudah ditebak. Hanya dirinya yang mengerti kapan tibanya naskah dibubarkan serampangan.

Katerdal All My Demons Greeting Me As Friend dikembangkan literal oleh perkakas favoritnya. Elusifnya mesin synth, paradigma science fiction, persistennya metrum drum machine, hingga instalansi yang mengeluarkan bunyi antik laiknya minimoog Gary Numan. Semuanya dililit tanpa cela, menyatu bak sirkulasi kumparan yang bergetar stabil. Dengan kompetensinya, deru bentala Nordik terdengar menggairahkan semenjak Björk meledakan Vespertine di permulaan milenium (2001). Merayap setapak, menghidupkan suasana kegemilangan.

Berkali-kali ia menggoyahkan syahwat dengan sesuatu yang pretensius. Iringan orkestrasi ala Sigur Rós tersampaikan multi faseti; membelah angkasa lengkingan vokal yang kadung meluncur tinggi. Norwegia faktanya mempengaruhi warna musikalitasnya yang bergelimang kemurungan, terkujur kaku lembah cuaca minus. Tak percaya? Mainkan “Running With The Wolves” di tengah semilir angin yang kencang, niscaya menghantarkan kesyahduan tak berbekas.

Kiranya tak eksesif kalau puja-puji dipercikan terhadapnya. Kemunculan balada “Home”, “Black Water Lilies”, serta “Wisdom Cries” semakin menebalkan anggapan tentang keistimewaannya. Menggemparkan kemelut identitas menjadi aforisme kepercayaan yang terlahir kembali di samping mendorong perkasa gebrakan avant-garde yang pilu, travesti, dan berubah kordial selang beberapa detik kemudian.

Bukan tak mungkin, perlu rentang waktu cukup lama untuk sekedar melupakan martabatnya. Ditunjang kecakapan yang mumpuni, Aurora masih memberi kesempatan kerumunan untuk menyimak kisaran spektakelnya. Alpha, beta, dan omega tak berarti krusial di hadapannya karena tanpa kuantum keabadian, ia masih bisa menjaga kerapuhan. Akhirnya kita harus merenung tentang apa yang terjadi pada jagat raya; merawat ketiadaan bukan berarti bertekuk lutut pada kedudukan. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

1 Comment

Leave a Response