close

[Album Review] Balance and Composure – Light We Made

balanceandcompsure_lightwemade_900

 

Watchful shot: “Call it Losing Touch,” “Mediocre Love,” and “Afterparty”
WARN!NG Level: !!!!
Label: Vagrant records
Year: 2016

Setelah disuguhkan oleh album The Things We Think We’re Missing di tahun 2013, band kelahiran Pennsylvania, Balance and Composure akhirnya memilih 7 Oktober 2016 untuk menjadi hari lahirnya Light We Made. Jika di album sebelumnya kita akan mendengarkan bebunyian agresif di barisan awal tembang seperti yang dilakukan “Parachute” dan “Lost Your Name”. Kali ini Light We Made memberikan kesan tenang dengan kehadiran irama-irama bersih dan ringan. Apabila sebelumnya band ini memiliki kompatriot seperti Basement, Into It. Over It., Tigers Jaw, dan Turnover dalam mengguncang ranah alternative rock, yang mengejutkan kali ini B&C memutuskan untuk bergabung dengan Vagrant Records, label dimana Dashboard Confessional dan The 1975 bernaung. Hal ini seolah-olah menunjukan ambisi mereka yang mungkin bergeser. Keadaan penggemar mereka dimana ketika Balance and Composure sedang tampil dan stagedive adalah hal biasa yang terjadi dalam pertunjukan mereka mungkin akan berkurang intensitasnya seiring dengan berubahnya alunan lagu-lagu baru mereka yang menurut saya hanya akan mampu membuat mereka bergoyang, tak lagi menciptakan gairah untuk melompat.

Walaupun terkesan berubah drastis, B&C sendiri tidak menganggap bahwa kelahiran Light We Made muncul sebagai bentuk perombakan total identitas mereka. Mereka berargumen bahwa mereka masih bisa membawakan lagu-lagu baru mereka tersebut dengan setup live mereka di tahun 2013. Diawali oleh Midnight Zone dan diakhiri oleh Loam album ini berisikan 10 lagu yang semuanya memiliki karakteristiknya masing-masing, baik dari percikan drum yang menggairahkan di awal, kemunculan drum elektrik dan keheningan yang dibawa oleh melodi gitar di tengah lagu yang bagi beberapa kalangan mungkin membuat mereka bertanya “Apa B&C ingin memperluas segmentasi pasar mereka dengan menelurkan album ini?” dan “Apakah mereka masih bisa dikatakan senada dengan Title Fight sebagaimana Wikipedia menghubungkan jenis musik B&C dengan beberapa band semacam itu?” yang mungkin hanya Jon Simmons dan Tuhan yang tau jawabannya.

Terlepas dari itu semua, Light We Made sendiri merupakan album yang pas untuk didengarkan bagi kalian yang sedang merasa cemas dan membutuhkan ketenangan jiwa. “Let your feelings show, It’s easier than you would ever know,” penggalan lirik dari nomor “Afterparty” yang di titik tertentu mengajak orang yang mendengarkan untuk mengandalkan kemampuan intuisinya dalam melayang-layang di ruang hampa udara. “Penetrate so suddenly and then you slip into me” yang sebelumnya muncul di awal lagu juga membuat seseorang yang mendengarkan B&C akan menyelami semakin dalam alur lagu tersebut tanpa berusaha untuk melawan. Hal lain yang bisa ditangkap adalah lagu ini seakan-akan melegitimasi seseorang untuk menjadi lemah dan terbungkus oleh keputusasaan dengan cara yang tegas, tegas dalam artian lirik dari lagu ini tidak berlebihan tapi tetap mampu menunjukan sisi ke-melankolia-an dari lagu itu sendiri. Kemudian dentuman drum “Mediocre Love” yang mengingatkan saya akan The Temper Trap, muncul sebagai amunisi B&C yang saya anggap mendukung aura ketenangan yang juga diusung artwork album Light We Made yang menggambarkan sesosok mahluk lemah dengan mata terpejam dan dikitari aura merah muda, warna cinta yang sederhana dan medioker.

Dilanjutkan dengan “Fame” di barisan ke-8 dalam album anyar ini, “Fame” seperti beberapa lagu yang lain juga memasukkan ‘you’ dalam tubuh dari lagu tersebut. “You never showed me who you are, you never took me to the bottom” tanpa tahu siapakah engkau yang dimaksudkan di situ, alunan gitar ringan Erik Petersen dan Andy Slaymaker mampu meneruskan daya dorong album ini. Daya dorong yang mampu menerbangkan imajinasi manusia akan dunia percintaan yang menjurus kepada keingintahuan seseorang terhadap jiwa seseorang yang tak pernah membawanya ke dalam dasar sumur afeksi. Dengan alunan ringan dan sedikit agresif, “Is It So Much To Adore?” menyusul sebagai bagian dari album tersebut, membawa darah yang hangat dan langit biru bersamaan dengan ‘you’ yang Balance and Composure usung untuk meyakinkan bahwa bagaimana cinta memang mendominasi pemikiran mereka sekalipun cinta itu ditujukan kita tidak tahu kepada siapa, kapan, dan apa tujuan dari cinta tersebut.

Berbicara mengenai proses promosi album ini, dalam rangkaian tur promosi album mereka di akhir tahun ini, Balance and Composure akan menebarkan virus Light We Made dengan menggandeng unit rock Amerika Serikat, Foxing, dan band indiepop asal Philadelphia, Mercury Girls. Ketika belum bisa menyaksikan live performance dari sebuah band tentu yang bisa saya lakukan adalah menonton fullset video dari sebuah band di Youtube. Begitu pula dengan B&C dan Light We Made, saya sangat menunggu-nunggu unggahan video live performance mereka untuk bisa menilai lebih lanjut bagaimana sesungguhnya citra baru unit rock alternatif ini ketika mereka mengokupasi sebuah panggung. Hal tersebut bisa menggiring saya pada rasa penasaran yang kian menjadi-jadi dan tentu hasrat untuk menonton mereka langsung. Seperti yang sudah dilakukan The Things We Think We’re Missing (2013) beberapa tahun terakhir terhadap saya. Terlepas dari kejutan yang dimunculkan oleh Simmons dan kawan-kawan berikan melalui Light We Made, bagi saya tetap saja Balance and Composure akan menjadi salah satu inisiator dalam perkancahan musik, khususnya dalam lingkaran band-band muda alternative rock. [Kontributor: Bagus Rachmandtiyo]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response