close

[Album Review] Band of Horses – Why Are You OK

band of horses
band of horses
band of horses

Label                     :               Interscope (2016)

Watchful Shot   :               “Dull Times/The Moon”, “Solemn Oath”

Rating                   :               !!! 1/2

Apakah yang lebih menarik selain menikmati sepotong senja dengan iringan musik plat hitam yang meneduhkan? Syukur bisa menempati balkon yang menghadap langsung pelataran Sungai Riverside; saat permukaannya tenang lantas mengadu tawa riang sekumpulan anak kecil dari sisi seberang. Saya pikir keriaan semacam itu adalah menu sempurna bagi kita yang termakan fananya keseharian. Terlebih musik yang keluar dari mesin pemutar menjadikan suasana emosional sebagai latar persembahan. Tentu, ini berkah yang tak dapat diingkari. Sembari membicarakan kehidupan yang semakin sureal bersama pasangan atau  mungkin teman dekat juga sahabat, saya sarankan masukkan Band of Horses ke dalam daftar tunggu playlist Anda.

Tahun 2016 memberikan momentum bagi gerombolan asal Seattle yang mengusung tema alternative-rock ini. Sebulan lalu, album terbaru mereka yang berjudul Why Are You OK resmi rilis ke pasar bebas. Karya kelima semenjak kemunculan Everything All the Time di 2006 silam. Masih berkutat seputar pencarian diri, menjalani kebingungan hati sampai mencumbu memori lampau. Sebuah warna yang tercipta dari tekstur vokal lirih dan riasan harmoni menentramkan.

Why Are You OK dibuka dengan nyanyian penyambutan sepanjang tujuh menit. “Dull Times/The Moon” menjadi repertoir terlama di antara track yang lain. Intonasi vokal Bridwell terkadang menghanyutkan ketukan langkah drum milik Barrett dengan bagian-bagian yang begitu ganjil. Namun di lain sisi juga memuluskan melodi Monroe seperti pada “Contry Teen”. Bill masih memerankan posisi yang abadi; permainan bass teratur pada baris ketiga mengingatkan sentuhan midasnya di Infinite Arms. Sedangkan Ramsey sempat berkata bahwa petikan gitarnya terdengar lebih menukik saat “Even Still” diperdengarkan ke khalayak ramai. Alhasil “In A Drawer” pun tak ubahnya institusi kosong yang terisi ramainya kocokan gitar; lebih fleksibel tatkala dimensi pop canggung muncul malu-malu dari bilik notasi. Lalu “Casual Party” merupakan anthem wajib yang menghidupkan pesta kelulusan; tempo kencang namun terkontrol dan justifikasi irama rave seakan menguasai setengah konstruksi lagu. Berharap malam melupakan tenggakan bir juga setelan jas yang terlambat kembali. “Solemn Oath” tak ubahnya komposisi yang menyegarkan. Penuh riff energik yang terselip ucapan berontak di tiap kata puitik. Nomor favorit saya tasbihkan pada “Whatever, Wherever” dan “Barrel House”. Dua track yang terbentuk atas sensibilitas baroque di era ’80. Dinyanyikan lewat tune rendah yang memicu penggambaran natural. Akan terasa tepat bila diputar saat pesta barbeque di kebun belakang; menyoal salam perpisahan yang mampu menulis gores keintiman.

Band of Horses menyelami kekacauan dalam debat mengenai makna dari apa yang sudah digariskan pada masing-masing lagu ciptaannya. Mereka mencampuradukkan fakta, fiksi juga fantasi antara yang sesungguhnya terjadi dengan apa yang dicanangkan lewat imaji. Coba tengok “Throw My Mess” yang terlihat pelik meski kenyataannya memikat. Dalam suatu fase, Band of Horses perlu keluar dari perangkap yang bermunculan; mengurangi kegemarannya dalam dialektika syair bantahan versi tertentu atau justru menciptakan argumentasinya sendiri dan menempatkannya pada titik elementer bermusik mereka; merekonstruksi dobrakan melalui jejak populis. Secara sadar maupun tidak, Band of Horses menerima medan pertempuran yang dibuka oleh roman keberhasilan Infinite Arms. Keterpakuan dan keterpukauan pada hal inilah yang menjadi bumerang bagi karir panjang mereka kelak.

Ada pembagian masa dimana Band of Horses mengalami pasang-surut yang mengiringi perjalanan mereka sebagai keutuhan band. Menampakkan diri di era Everything All the Time, mulai bermain menjadi pembuka tajuk utama setelah Cease to Begin, diserang kegundahan Grammy untuk Infinite Arms, tertelan stagnasi lewat Mirage Rock dan membangkitkan diri dalam Why Are You OK. Kapasitas yang tidak main-main kala lima buah karya studio dihasilkan selama 10 tahun eksistensi. Dan nampaknya mereka tetap baik-baik saja. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response