close

[Album Review] Banda Neira – Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti

artworks-000144539150-ub5eo4-t500x500
yang patah tumbuh, yang hilang berganti
yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Banda Neira – Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti

Sorge Recods (2016)

Watchful shot: “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti” – “Sampai Jadi Debu”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Sebuah kudapan musik dari alam untuk merenungi kehidupan. Demikian kesan pertama saat mendengarkan album baru Banda Neira, Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti. Ada lima belas lagu folk yang bisa dinikmati sambil bersantai sembari minum teh di sore hari sepulang beraktivitas.

Sebelum terlalu banyak membahas alangkah baiknya kita mundur ke tahun 2012, ketika EP Paruh Waktu hadir memasuki lorong telinga kita. Kemudian dilengkapi dengan album pertama bertajuk Berjalan Lebih Jauh pada 2013. Rasanya sebutan duo nelangsa riang sangat tepat disematkan pada Ananda Badudu dan Rara Sekar karena kita bisa merasa nelangsa sekaligus riang dalam satu waktu ketika mendengarkan lagu mereka.

Saat itu saya merasa musik Banda Neira, punya kekuatan ajaib yang tidak bisa dinilai sekedar dari nada, aransemen, atau skill. Mereka ibarat sudah dapat ditebak arah musiknya, tapi anehnya tidak lantas membuat musik mereka menjadi tidak menarik untuk didengarkan. Kasusnya hampir mirip dengan Bob Dylan yang kuat soal lirik pergerakan dan King of Convenience yang selalu menghantarkan kita pada suasana tertentu. Tidak ada perubahan berarti, begitu-begitu saja. Demikian juga dengan Banda Neira, daya tarik mereka yakni ide yang tersimpan dalam lirik  menjadi kesan bagi para pendengar.

Kini, ketika mendengarkan album Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti, yang dirilis awal tahun 2016 ini anggapan saya masih sama. Banda Neira adalah duo nelangsa riang yang menawarkan ide yang tersimpan dalam lirik menjadi kesan bagi pendengarnya. Namun tidak sepenuhnya sama sebab secara keseluruhan dalam album ini, banyak sekali hal-hal baru yang dapat dinikmati. Pertama soal teknik berduet yang beragam, tidak seperti album pertama yang monoton. Caranya bernyanyi baik Rara maupun Ananda mulai dieksplor.  Kedua soal musik digarap lebih matang. Keputusan Banda Neira untuk mengajak banyak musisi dalam proses rekaman jelas membawa angin segar buat album ini. Nama-nama yang sudah tidak asing seperti Gardika Gigih, Layur, Suta Suma Pangekshi, Jeremia Kimosabe, Dwi Ari Ramlan, dan Leilani Hermiasih alias Frau merupakan sejumlah nama yang turut berkontribusi. Dan, ketiga adalah materi lagu yang lebih beragam dari album sebelumnya, mulai dari durasi lagu hingga pemilihan lirik.

Lagu pembuka album ini berjudul “Matahari Pagi” adalah lagu paling riang daripada empat belas lagu lain dari album ini. Walaupun tidak seriang dari lagu-lagu album sebelumnya, namun sebagai lagu pembuka, lagu ini cukup sejuk sekaligus teduh untuk didengarkan. Liriknya sama seperti judulnya, menggambarkan matahari pagi yang hangat dan menerangi dunia yang gelap serta hati yang dingin.

Seakan menjaga konsistensi politik, dalam album ini Banda Neira kembali membawakan lagu berunsur politik. Banda Neira mengaransemen ulang lagu milik Ida Bagus Santosa dan Amirudin Tjiptaprawira berjudul “Tini dan Yanti “. Dulu lagu tersebut menjadi  salah satu hymne para tapol saat ada di dalam penjara Pekambingan Bali. Selain konsisten dalam berpolitik, Banda Neira juga konsisten menampilkan musikalisasi puisi. Kali ini Banda Neira menyuguhkan puisi Chairil Anwar  “Derai-Derai Cemara (1949)” dengan nada nelangsa khas mereka.

Salah satu lagu yang unik berjudul “Sebagai Kawan”. Dalam penjelasan album , lirik lagu ini diambil dari sebuah orasi Adhito Harinugroho, konon kutipan tersebut pertama kali diucapkan oleh Albert Camus. “Jangan berdiri di depanku/ karena ku bukan pengikut yang baik/ Jangan berdiri di belakangku / karena ku bukan pemimpin yang baik/ Berdirilah di sampingku sebagai kawan” Namun sesungguhnya sampai hari ini dunia masih mempertanyakan,apakah benar itu kutipan Albert Camus atau penggalan lagu upacara Havdalah dalam Jewish Summer Camp.

Nama album  Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti  sejatinya diambil dari salah satu lagu dalam album ini. Lagu yang menceritakan bahwa meski kandas, tidak ada yang benar-benar tandas. Lagu  “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti”  bersama dengan lagu “Sampai Jadi Debu” menjadi dua lagu yang saya rasa wajib didengar supaya kalian tahu betapa megahnya aransemen Gardika Gigih dalam album ini.

Album ini seakan mematahkah stigma yang tumbuh bahwa Banda Neira akan begitu-begitu saja. Buktinya ada beberapa yang hilang dan kini berganti pada album ini. Jika anda pemuja lagu berbahasa Indonesia yang indah, berima tanpa miskin makna, silakan mulai mendengarkan album ini. (Sekar Banjaran Aji)

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response