close

[Album Review] Barasuara – Taifun

1440x1440sr
barasuara
barasuara

Barasuara – Taifun

Label: Juni Suara Kreasi

Watchful Shot : Nyala Suara – Sendu Melagu – Api dan Lentera – Hagia

WARN!NG Level: [yasr_overall_rating size=”small”]

Menjelang akhir tahun 2014, sebuah program musik di kanal Youtube melakukan tugasnya dengan baik. Mereka menyajikan sesuatu yang memantapkan maklumat bahwa pribumi berhenti butuh MTV. Tak lagi-lagi Payung Teduh atau Maliq & d’Essentials, namun sesosok laki berbatik yang memimpin sesi performa rock setengah jam yang membahana. Warna gambar yang abu temaram seperti antitesis dramatis dari musiknya yang benderang penuh rona. Materi yang seperti ingin meledak dari layar. Akun videonya pun kebakaran komentar-komentar panik. Khalayak kelabakan mencari label tepat akan musik yang mereka dengar tersebut, dari melayangkan nama Mew sampai Franz Ferdinand (???). Saya sendiri juga punya beberapa nama referensi, namun lebih meyakinkan untuk menyebutnya musik bagus saja.

Barasuara dan Taifun adalah penawar rasa iri saya tiap mendengar band-band rock mancanegara yang tak pernah kesulitan menciptakan aransemen yang marak plus royal pada detil. Musik rock padat dan kaya rasa. Nyali diimbangi kapasitas merakit banyak unsur dengan pertanggungjawaban komposisi yang pas. Materi Taifun menerjangkan bertubi-tubi manuver elemen musik yang berdaya kejut dengan sound prima. Hibrida alternative rock, post rock, gospel, tribal, hingga riff-riff hard rock. Tidak ada curiga mereka sembarang mencampur-aduk, karena terbukti semua terkemas rapi, cermat dan berakhir melodik di telinga.

Iga Massardi (vokal/gitar) sejatinya seperti sudah menciptakan bakal sensasi itu di The Trees And The Wild. Mungkin kali ini rekan-rekannya lebih punya jam terbang. Dan ketika konsekuensi natural supergrup adalah harus memilih antara saling menahan ego atau hancur lebur, Barasuara memilih untuk tidak memilih. Mereka berhasil tanpa perlu kelihatan menahan ego. Begitu indahnya tak harus banyak mengalah untuk menciptakan musik yang catchy. Bahkan, tetap menancapkan karakter kuat Barasuara sendiri. Dan semua hal-hal itu bisa tunduk dalam kotak durasi yang ideal (Lagu paling panjang adalah “Menunggang Badai”, lima menit). Ini laksana sebuah utopia untuk sebuah band.

Contoh terbaiknya adalah “Sendu Melagu.” Pola pukulan Marco Steffiano (drum) yang atraktif dan bergelora tidak terdengar menzalimi nyawa balada di lagunya sendiri, termasuk semilir lantunan syahdu Puti Chitara dan Cabrini Asteriska. Kendati Marco memang terkadang overplay ketika di panggung, namun yang ia suguhkan di rekaman Taifun tidak terasa berlebihan selain demi memenuhi kebutuhan gaung eksplosif ala Barasuara.

Jika pun pada akhirnya di antara Anda ada yang khilaf dan jenuh dengan Taifun, setidaknya pasti mengalami kesan pukau di awal. Taifun adalah salah satu album lokal yang punya kemampuan impresi pertama yang terdahsyat. “Nyala Suara” selaku nomor pembuka bagai trailer yang tak tanggung-tanggung. Ibarat quicky di toilet kantor ormas agama. Orgasme cepat atau mati.

Wujud lagu juga berubah-ubah bagai jilatan api. “Hagia” menyajikan pola verse-refrain tunggal yang beratmosfer relijius—merujuk juga pada sleeve album berdesain salib. “Bahas Bahasa” mengingatkan pada Matajiwa, sementara “Menunggang Badai” menghadirkan senyawa dance ala kreasi Faris RM dan musik Nusantara 80-an. Sementara “Taifun” sebagai perhentian yang tenang bahkan juga tak kalah dari musik-musik folk-etnik terbaik beberapa tahun belakangan.

Barulah pasca memutar 4-5 kali, kita akan menemui apa artinya tak ada gading yang tak retak. Selain “Bahas Bahasa”, lirik di lagu-lagu lain seperti seret substansi. Sebenarnya jelas pesannya ketika membaca liriknya langsung (yang sayangnya harus sengaja mencari di internet. Adalah blunder tidak menurutkannya di rilisan), namun beda cerita di telinga. Pemaksaan memadankan rima—sepertinya demi konsep mantrais— berujung terdengar kaku dan menjemukan dengan pemilihan diksi yang samar untuk penyampaian makna. Larik-larik pendek dan bertumpu pada rima cuma untung-untungan jika Anda bukan Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca).

Bisa jadi gading Barasuara tak seretak itu. Namun, kian jernih akan kian jelas retak. Musik Barasuara yang kadung mendegam-degam pada akhirnya membuka jalan bagi pendengar untuk berekpetasi dengan wacana-wacana yang dinyanyikan. Apalagi Taifun rilis bersanding periode dengan album Silampukau dan Efek Rumah Kaca yang tiada banding kekuatan liriknya.

Akan tetapi, menyimak materi Taifun tanpa tendensi menguliti hidup-hidup pada akhirnya tetap berlabuh pada rasa pesona. Taifun hanya berisi sembilan lagu, namun punya kandungan berjebah yang terkemas apik. Sebuah paket kedigdayaan yang ringkas. Masih berkobar-kobar, dan kelihatannya belum akan padam dalam waktu yang lama. [WARN!NG / Soni Triantoro]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.