close

[Album Review] Barefood – Milkbox

C5vVo2AVUAIF54y

Review overview

WARN!NG Level 8.3

Summary

8.3 Score

Label: Anoa Records

Watchful Shot: “Grown Up,” “Amelie,” “Sugar,” “Biru”

Year: 2017

Seorang puan, anonim, bersandar di atas sebuah bangku kecil. Ia mengeksplorasi kunci-kunci gitar Fender Jazzmaster di atas pangkuannya, menundukkan kepala. September, kurang lebih empat tahun lalu kenampakan ini hadir. Muka depan dari Sullen E.P. yang sempat menjadi primadona di kalangan pemburu rilisan fisik. Kabar burung mengatakan bahwa cakram padat dan harga dari seisi-isinya sempat melambung tinggi. Tiga kali lipat di atas harga awal, mendengar kabarnya memicu gelengan kepala, juga perasaan lega mengingat salah satu kepingnya terselip rapi bersama teman-temannya di rak CD penulis.

Butuh sekitar tiga tahun lebih setelahnya, Milkbox lahir, dan mendengarkannya secara keseluruhan berarti juga merontokkan secara genap anggapan personal terdahulu bahwa Barefood adalah unit one-hit wonder lewat “Perfect Colour”-nya di Sullen E.P. Pernyataan yang baru saya sadari terlampau dini, juga terlalu kurang ajar.

Banyak kebaruan yang ditawarkan Barefood lewat debut album panjangnya ini. Puan yang mula-mula bergitar, kini terlihat berdiri dan terlampau haus. Diminumnya susu yang keluar dari ujung kotak putih di tangan kanannya: hingga tertumpah-tumpah di sekitar dagu, leher, hingga membasahi bajunya. Penerjemahan yang cukup eklektik atas tajuk kotak susu yang secara harfiah diemplementasikan lewat rupa kover albumnya.

Selaras dengan visualnya, emosi yang ditumpahkan Barefood pada Milkbox juga mengucur secara ritmik; mengalir cukup deras di awal, mengapung-apung tenang, lalu hanyut di ujungnya. Secara material, Barefood telah menyuguhkan segala ‘apa’ yang dimiliki sebuah band untuk nantinya tetap ada dalam keadaan otentik. Materi-materi nostalgik yang paling tidak akan terus bisa dinikmati oleh generasi Y dan Z dalam beberapa tahun ke depan, katakanlah pada: lirik sing-able, repetisi reffrain, dan kunci-kunci gitar sederhana.

Konstituen yang membentuk Milkbox menyiratkan banyak komponen impor di dalamnya: secuil-secuil dari lajunya Floral Green dan meruangnya sendu yang mengawang-awang dari Hyperview milik Title Fight, gelapnya Tired of Tomorrow milik Nothing –yang akhir Januari lalu penampilan di Jakartanya dibuka oleh Barefood, sampai-sampai unsur trompet emo-revivalist laiknya American Football di “Biru.”

Kebaruan kentara lainnya ada pada nomor instrumental “Soda.” Mengalir dinamis dan meledak sewaktu-waktu, mengingatkan pada hasil-hasil keluaran di Vol. 1 milik veteran pop yang berada di bawah naungan mistar sama Anoa Records, The Sastro. Juga keputusan untuk menghadirkan “Hitam” dan “Biru” –yang datang cukup menarik, dua lagu berbahasa Indonesia yang kali pertama mereka telurkan alih-alih tetap melaju kencang dengan lirik-lirik berbahasa Inggris sedari awal.

Mengalami Milkbox juga berarti dihadapkan pada kenyataan tidak adanya kemungkinan yang pasti tentang bagaimana panorama yang akan muncul atas imaji ketika mendengarkannya. Ia terlalu acak untuk berjejer berurutan secara konseptual, ragam dari lanskap-lanskap suaranya begitu saja muncul, menyempil dari satu narasi ke narasi lain sebelum salah satu di antaranya habis dimakan durasi di tiap lagunya. Kabar buruknya: tidak akan ada klimaks. [WARN!NG / Dwiki Aprinaldi]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response