close

[Album Review] Beirut – No No No

packshot
Beirut – No No No
Beirut – No No No

 

Label: 4AD [2015]

Watchful shot: ‘Gibraltar’ – ‘No No No’

[yasr_overall_rating size=”small”]

Penantian panjang tidak selalu berujung manis, begitulah refleksi pertama saya ketika mendengar album ini. Sudah empat tahun setelah The Rip Tide, saya menunggu album ini dan hal tersebut bukanlah waktu yang singkat.

Beirut menjadi salah satu grup musik yang saya nantikan bukan semata karena kekaguman pada kejeniusan Zach Condon dalam bermusik,lebih dari itu Beirut bagi saya tidak pernah gagal untuk menyajikan hidangan yang beragam serta berporsi besar bagi telinga pendengarnya. Nick Petree, Paul Collins, Kyle Resnick, Ben Laz, dan Aaron Arntz merupakan orang-orang hebat yang dapat konsisten untuk tampil live sebaik saat rekaman. Mereka bukanlah orang-orang yang mudah datang lantas menghilang begitu saja.

Pada saat debutnya tahun 2006 dalam Gulag Orkestar, Beirut mengguncang dunia dengan “Elephant Gun” dan “Postcards from Italy”. Selanjutnya pada 2007 The Flying Club Cup hadir,secara serta merta pula “Forks and Knives (La Fête)” dan “Nantes” menjadi hits. March of the Zapotec/Realpeople Holland EPpun menjadi kenangan manis 2008 karena menyajikan balkan-folk serta electronic music dalam satu meja dengan sangat indah. Terakhir 2011, The Rip Tide juga begitu menarik dengan “Santa Fe”, “East Harlem”, dan “Goshen”. Hal tersebut yang membuat ekspektasi saya sebagai pendengar sangat besar kala mendengar Beirut akan meluncurkan album baru.

Akhir tahun 2015, saat No No No tersaji di meja makan, dengan single yang berjudul sama “No No No”.  Single berirama musim semi dan liriknya bercerita tentang cinta pada pandangan pertama ini sangat tepat mengobati kerinduan pendengar pada Beirut. Selanjutnya nomor “Gibraltar” menjadi hidangan yang perlu diwaspadai karena kuncinya yang soulful, sentuhan ringan drum, dan menyatu dengan vokal Condon yang catchy.  “Gibraltar” bisa dibilang menjadi adiksi karena kita dapat menikmati ledakan energi Condon di dalamnya.

Setelah dua nomor tadi, semuanya seperti masakan yang gagal sejak dari resepnya. Nomor “At Once” merupakan irama polos, berjalan lambat dan tidak berkembang dan seperti frustasi. Kemudian “Perth” yang berusaha mengembalikan suasana ceria dengan garis organ yang funky tapi terdengar sia-sia. Adapun “Pacheo” terdengar sangat mirip dengan “At Once”, ibarat lotek dan gado-gado jika keduanya digabungkan akan sangat membaur.  “Fener” juga  tidak istimewa walaupun beberapa harmoni vokal yang menawan dan sedikit gangguan synth nakal.

“As Needed” seharusnya menjadi sesuatu yang fenomenal karena dalam nomor ini kita tidak akan menemukan lirik. Sayangnya full instrumental tersebut mengambang begitu saja, ramuan orkestra dan petikan gitarnya bukan sesuatu yang membuat lagu ini layak dipuji. Sementara “August Hollad” menjadi lagu dengen mid-tempo yang akan hilang begitu saja dalam ingatan setelah didengarkan.

Secara keseluruhan No No No tidaklah istimewa jika didengarkan secara sepintas. Sembilan lagu di dalamnya seharusnya menjadi obat penawar rindu tetapi malah hambar kala dikecap oleh pendengar. Upaya Beirut dalam menyuguhkan sajian yang beragam dan memuaskan seperti pada album-album sebelumnya  sepertinya jatuh jauh terlalu menyedihkan. Pemilihan nama No No No benar-benar  menggambarkan isinya yang sangat “tidak-tidak-tidak” memuaskan. [Contributor/Sekar Banjaran Aji]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response