close

[album review] Belle and Sebastian – Girls in Peacetime Wants To Dance

Belle and sebastian
Belle and sebastian

Belle and Sebastian – Girls in Peacetime Wants To Dance

Records Label: Matador Records

Watchful Shot: Piggy In The Middle Politican’s SilenceNobody’s Empire

[yasr_overall_rating size=”small”]

Membicarakan politik dan renungan personal sambil menari gila di tengah dentuman musik disko elektronik, inilah isi album kesembilan Belle and Sebastian. Di umurnya yang hampir 20 tahun, mereka sebenarnya sudah tidak punya kewajiban menjajal warna musiknya. Karakter sudah terbentuk, dan kita semua sudah setuju untuk menjadikan Belle and Sebastian salah satu band wajib dengar di setiap rilisan barunya. Namun di album ini, mereka bermain-main dengan irama disko, funk dan musik elektronik. Terdengar agak aneh dibanding Belle and Sebastian di Write About Love (2010), The Life Pursuit (2006), atau Dear Catastrophe Waitress (2003).

Jika ada kontes memilih lagu pembuka paling jitu, saya akan memberikan piala untuk Belle and Sebastian yang menempatkan “Nobody’s Empire” di muka. Di tulis di ranjang Stuart Murdoch yang harus istirahat karena menderita Chronic Fatigue Syndrome (CFS), lagu ini merangkum cerita personal Murdoch dan pandangan sinisnya tentang keadaan politik dunia. “If we live by books / and we live by hope / does that make us targets of gunfire? //,” tanyanya.

Secara lirik, gaya penulisan Murdoch yang komplek dan ringan masih terasa. Kalimat-kalimat tentang bom, protes, perang dan ketidakpuasannya terhadap politisi menyebar di 12 lagu di album ini. Isu ini sebelumnya telah mereka munculkan di “The Eighth Station of the Cross Kebab House”, lagu hasil perjalanan mereka ke Israel dan Palestina tahun 2005. Di Girls In Peacetime Wants To Dance, ada “Allie”, “The Party Line”, dan “Politician’s Silence” yang lugas menyuara dengan isu politis.

Diangkatnya Ben H. Allen (Animal Collective, Washed Out) sebagai produser bisa jadi merupakan faktor besar berubahnya musik mereka ke arah Europop. Dengarkan “The Party Line” yang sangat kental dengan irama disco-funk. Belum lagi “Enter Silvya Plath”, menonjolkan irama trippy disko tipikal yang biasa ditemui di klub-klub malam. Murdoch juga berduet dengan Dee Dee Penny (Dum Dum Girls) di antara musik “Play For Today” yang berdentum-dentum. Bukan arah yang terlalu cocok untuk band yang terlanjur digelari junjungan band indie-pop oleh sekte hipster veteran atau yang kekinian.

Beruntung ada “Perfect Couple”, “Today (This Army’s For Peace)”, “Piggy In The Middle” yang bisa melunasi kerinduan terhadap gaya lama Belle and Sebastian. Bagi saya, betotan bass dan tiupan terompet yang menggoda di “Piggy In The Middle” adalah bagian terbaik untuk bergoyang jika memang mereka mengajak menari seperti di judul albumnya. Sementara permainan senar dalam balutan balada pelan di “The Everlasting Muse” lebih menyerupai musik bossa nova yang sudah di-upgrade.

Malah nomor-nomor di ujung album yang membuat saya benar-benar menari , atau paling tidak mengangguk-angguk di tempat duduk. Sedang nuansa EDM-ish yang dijejalkan di awal menuju ke tengah sepenuhnya gagal. Atau anggap saja, setelah istirahat selama lima tahun, Belle and Sebastian terlalu rindu berdansa sampai tidak peduli musik yang menggerakkan mereka, yang penting gerak di lantai dansa. [Titah Asmaning]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.