close

[Album Review] Besok Bubar – The Ultimate

besok bubar
besok bubar
besok bubar

Besok Bubar – The Ultimate

Demajors

Watchful Shot : Babi – Salah tangkap

[yasr_overall_rating size=”small”]

Diiringi gairah kemelut resensi film dokumenter Kurt Cobain, dua unit grunge terbaik nasional merilis album baru. Bedanya, sementara yang satu mencoba hal baru dengan meredakan kebisingan lewat gitar akustik, kursi kayu, dan sensasi MTV Unplugged, yang satu lagi mencoba hal baru dengan mengeksplorasi kebisingan itu sendiri. Besok Bubar sudah menjadi salah satu yang tergaduh di “Senjata Pemusnah Massal” pada album Besok Bubar (2011), namun itu belum cukup. Memilih tetap destruktif, mereka kembali dengan The Ultimate, album ketiga yang lebih thrashy dan membuat pengang.

Artwork serba babi dan foto bajaj di fisik cakram padat The Ultimate memperkuat citra kusut dan grungy dari Besok Bubar. Faktanya, produksi sound dan penyusunan materi di dalamnya justru terdengar lebih rapi. Sensibilitas grunge yang dekil dan rusuh dibekam oleh sound serta elemen-elemen trash metal dan alternative metal. Ada aroma TAD, Malfunkshun, dan “Negative Creep” yang bisa menyenggol mereka yang sekarat bosan karena Nevermind dan Pearl Jam tak hentinya menjadi referensi kudus grunge nasional. Latar belakang cadas Rega Vanjiwara yang resmi menjadi drummer tetap Besok Bubar memang nampak banyak berperan. Simak deretan nomor “Provoke”, “Anak Manja ibukota” dan “Tanpa Batas” yang menurutkan anasir-anasir metal seperti double bass drumming dan heavy breakdown. Eksplorasi yang oke meski sayangnya di beberapa momen terdengar kebablasan dan seperti hanya memaksakan identitas metalnya, misalkan bagian bridge “Tanpa Batas”. Tapi, entah jika mereka memang sudah mengantisipasinya lewat lirik: “Tak ada salahnya berpikir merdeka / Beda dan bebas, kreasi tanpa batas”.

Untungnya Besok Bubar tak kebablasan mengubah gaya vokal serak antagonis Amar yang kadung berkesan dan mudah dikenali. Kepiawaiannya menulis lirik secara umum memang bukan yang terbaik, namun ia punya karakter penulisan yang menarik dan mengandung zat-zat apatisme ala generasi X yang politis masa bodoh tanpa menjadi bodoh. Ada pendekatan serampangan dengan indikator keseriusan, seperti beberapa yang menggelitik: “Aku punya hadiah, cermin untukmu, lihat dirimu” atau “Coba berpikir realistis, tanpa harus menuduh. Tak berarti semua salah Amerika”. Berdedikasi dalam menyebarkan bau busuk riwayat ibukota, agak menakjubkan juga mereka bisa menahan membahas topik lagu “Berlalu Lintas” sampai album ketiga ini. “Yang melawan arah lebih galak daripada yang tidak lawan arah,” dan “Traffic light cuma pajangan / maju tak gentar terobos terus,” bunyinya.

Barisan materi di The Ultimate memang tak sedinamis album Besok Bubar, namun beberapa nomor tetap mencuri perhatian. Ada “2D” yang digarap dengan sentuhan grindtrash yang bengal atau “Ruang 1X2” yang menarasikan kisah kepahlawanan toilet. Lagu menarik lain adalah “Salah Tangkap” yang sudah dirilis sebagai single sejak tahun 2012 silam. Lewat komposisi yang lebih groovy dan kalem, serta lirik yang renyah (“Tidak disangka, kau pun bisa jadi tersangka”), lagu ini berpotensi jadi favorit. Satu lagi, percakapan satir di ending-nya benar-benar kocak [Soni Triantoro].

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response