close

[Album Review] Biffy Clyro – Ellipsis

biffy-clyro
Ellipsis
Ellipsis

 

Label: 14th Floor Records

Year: 2016

Watchful shot: “Wolves of Winter”, “Herex”, “Flammable”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Mengambil keputusan pindah dari label independen untuk kemudian melanjutkan sepak terjang di bawah bendera mayor merupakan pilihan yang besar sekaligus krusial. Ada banyak hal yang dipertaruhkan pada transisi ini. Lupakan sejenak idealisme bersangkutan yang mungkin didengungkan sedari awal; indie harga mati. Nyatanya, faktor bisnis yang melibatkan angka ekonomis berupa statistik penjualan kaset, melebarkan sayap pemasaran, menjangkau basis massa yang masif, serta beragam kemungkinan yang mampu diraih seperti halnya perikatan brand ataupun pencapaian lintas disiplin lainnya, adalah sejumput alasan mengapa jalur umum itu lebih menarik minat. Meski dasarnya tentatif juga di ruas kenyataan.

Setiap pilihan yang diambil pastinya memiliki resiko tersendiri, termasuk migrasi label. Jika berhasil melewati bermacam jenis halangan, tentu bakal berbuah menyenangkan. Akan tetapi bagaimana dengan kebebasan kreatif yang dijalankan? Apakah para musisi bisa mengangkangi ekspektasi direksi perusahaan yang kadang bertindak di luar nalar demi memuluskan target pundi-pundi kebanyakan? Mari singkirkan asumsi yang berkeliaran dan tatap lenggangnya perjalanan Biffy Clyro yang terbukti sahih di kehidupan dua dunia.

Biffy Clyro merupakan trio pengusung alternative rock/experimental yang berasal dari Kilmarnock, Skotlandia. Beranggotakan Simon Neil (gitar), James Johnston (bass), dan Ben Johnston (drum), mereka bercita-cita laiknya pemuda lokal pada sumbu normalnya; tampil menawan dengan gaya ugal-ugalan, memuja Burning Airlines maupun Lightning Bolt sebagai idola dan dewa manusia, hingga tekad mengokupasi panggung pub kecil yang ramai akan tenggak bir seharga tiga lembar.

Harapan mereka mulai terbit sejalan antusiasme yang sukses ditiupkan di kalangan penikmat irama kencang. Aksi mempesona yang terkesan bernas, liar, serta penuh totalitas menancap yakin di kepala; di samping kejeniusan memadukan sound progresif ala Rush dan terkadang memoles grunge yang kacau seperti milik Nirvana. Bakat terpendamnya lantas membuat Beggars Banquet merekrut ketiga begundal ini. Intuisi tajam dari label mengarahkan Biffy Clyro ke kawah pengkultusan yang belum pernah dibayangkan sebelumnya dengan menghasilkan rentetan karya menyegarkan; Blackened Sky (2002), The Vertigo of Bliss (2003), dan Infinity Land (2004). Tak ayal, nama mereka sudah terekam padat di ekosistem luas; mendatangkan eksistensi tawaran bermain yang datang silih berganti.

Beberapa tahun berselang, Biffy Clyro mengambil langkah besar. Beggars Banquet yang berandil dalam melancarkan ekspedisi mereka pun ditinggal secara hormat sebelum kemudian bersekutu dengan 14th Floor—sebuah label yang berafiliasi langsung kepada raksasa Warner Studio. Kuasa produktifitas mereka masih menggebu imaji lewat lepasnya Puzzle (2007), Only Revolutions (2009), sampai Opposites (2013). Satu bukti terpaparkan: kreatif juga butuh dahaga dan rasa lapar yang menggelora.

Saya tak ingin mengingkari persepsi—atau anda sebut fakta juga tak jadi soal—bahwa lintasan baru yang ditempuh Biffy Clyro menghasilkan kesuksesan berskala. Sebut saja membuka rangkaian tur Muse, menikmati Glastonbury, Download dan tentunya Leeds Festival, hingga menghadapi 130.000 tatap mata kala berbagi arena bersama Foo Fighters di suatu musim panas. Di lain sisi, album mereka merajai UK Chart, terjual banyak di pasaran, dan menggondol beragam penghargaan bergengsi regional maupun internasional. Kiranya tak berlebihan apabila penyematan rock star pantas ditautkan setelah menjalani proses 6 tahun yang berkesinambungan.

Lalu pertanyaan penting muncul: apa perbedaan mendasar dari musikalitas band yang sudah berpindah haluan ini? Satu hal pasti; warna musik Biffy Clyro tak segarang era The Vertigo of Bliss yang mereka umumkan dengan dominasi distorsi kasar dan keberanian memainkan pola riff liar. Hasilnya? Teriak lantang saling berpacu dan berlari serabutan. Namun yang terjadi sekarang adalah kecenderungan mereka untuk berada di zona aman dengan harmonisasi mainstream yang dapat ditebak garisnya. Saya tak lagi bisa mencumbui gerak-gerik brutal Blackened Sky yang masyhur itu karena segalanya berubah cukup signifikan. Sampai tiba waktunya Ellipsis sedikit melambungkan asa yang sudah berpendar.

Ellipsis menjadi jawaban atas masa hiatus mereka yang diambil dalam rentang waktu 2015. Sama halnya dengan band lain, Biffy Clyro juga mengalami apa yang disebut kebosanan akibat intensitas bermain di luar batas kewajaran. Agar tak kehilangan momentum, kevakuman mereka tetap diisi dengan mempersiapkan dan memproduksi materi yang kelak memberi bekal kontribusi bagi album terbaru. Alhasil jadilah 11 (sebelas) komposisi yang merepresentasikan kelahiran kembali Biffy Clyro bersamaan terbitnya ilustrasi visual putih yang polos, posisi mendengkur bak John Lennon, serta warna putih yang beresensi filosofis.

“Wolves of Winter” membuka tirai keseluruhan album. Tempo dialirkan dengan konstruksi riff yang baku menjadi ciri khas dari nomor ini. Vokal Simon meliar tajam segaris pada manifestasi lirik yang bergumam perihal rasa khawatir terhadap krisis marabahaya. Kemudian “Friends and Enemies” menyambung setelahnya. Karakter pergeseran ritme yang kasat mata—seakan disamarkan dentuman klasik ala Drive Like Jehu—adalah upaya Biffy Clyro untuk menonjolkan ketegasannya. Lalu “Animal Style” meneteskan cairan alami yang kental nuansa Seattle Grunge dengan sedikit tambahan ramuan post pembaharuan. Tiga nomor berikutnya mungkin melukis gambaran bagaimana mereka berada di kanvas pop yang menjabat erat. “Re-Arrange” mencatat buku yang berisikan transkrip pembangkangan, menuangkan dosis berlebih lewat “Herex”, serta menawar kemuskilan mimpi melalui “Medicine”. Sedangkan “Flammable” diberkati raungan efek menggelegar yang sekilas mengingatkan Queens of the Stone Age dan ensiklopedia post-hardcore miliknya.

Kebangkitan kedua Biffy Clyro tak selalu berujung memuaskan. Noda yang bermunculan tak bisa ditampik menorehkan kekecewaan mendalam. Agaknya masih sulit untuk lepas dari progresi yang bias; mendekati patron membosankan semakin membuat pertanyaan di kepala berkumpul menyemarakan rasa heran. Simak ketika “On a Bang”, “Small Wishes”, atau “People” yang seyogyanya mampu menggelorakan anthem klasik yang bernafaskan sayatan gitar menyeramkan, solo panjang nan membius kesadaran, maupun pukulan drum bertenaga dengan ketukan cepat, sampai konsol mesin beragam yang menimbulkan bebunyian sureal justru tergantikan dengan track tak naratif, kosong, dan bahkan terlampau terpetakan kaku. Alih-alih pulang membawa jati dirinya satu dekade silam, Biffy Clyro semakin meninggalkan jauh dari rumah yang merawatnya. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.